
"Gue serius."
Napas Beby tercekat. Sekujur raganya seketika membeku. Bahkan, untuk berkedip saja Beby tak mampu. Suara Aldef yang terdengar tegas seolah menghipnotis Beby untuk tetap diam.
"HWAHAHAHA!" Tiba-tiba, Aldef terbahak sambil melepas genggaman tangannya pada bahu Beby.
Sementara itu, Beby masih menegang. Otaknya mendadak berputar lambat.
"Hei!" Aldef mengguncang bahu Beby sedikit keras. "Gue bercanda, Sky! Serius amat mukanya."
Beby yang merasa sedikit sadar hanya bisa pasrah sambil menyeimbangi tawa Aldef. Jantungnya sudah hampir lompat dari tempat asal. "Oh, hahaha!"
Dasar cowok! Nggak peka! kesal Beby dalam hati.
"Al, gue mau nanya sesuatu, dong," ujar Beby setelah beberapa saat suasana dan detak jantungnya kembali normal.
"Nanya apa?" Manik mata Aldef kembali menatap lurus ke dalam mata Beby. Tangan kirinya menopang dagu, pertanda indra pendengarannya siap mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Beby.
"Ini gue nanya lo sebagai cowok, ya."
Aldef mengangguk singkat.
"Kalau misalnya, cowok tiba-tiba nyamperin mantannya dan minta maaf, itu maksudnya apa?"
"Hhmmm ...." Aldef berpikir sejenak. "Kalau menurut gue sebagai cowok, sih, sebenarnya cowok itu masih sayang sama mantannya. Dia pengin ngajak balikan."
"Serius?"
"Iya. Emang kenapa lo nanya-nanya gini?" Jeda sejenak. "Mantan lo nyamperin, ya?"
Tanpa ragu, Beby mengangguk. "Ini rumah sakit tempat dia biasa bantu-bantu di sini. Tadi pagi, tiba-tiba dia nyamperin gue dan minta maaf."
"Dia ngajak lo balikan?"
"Nggak."
"Hufttt!!!" Aldef bernapas lega.
Hal itu lantas membuat Beby menatap heran ke arahnya. "Kenapa?"
"Hah? Nggak. Nggak kenapa-kenapa," ucap Aldef sambil tertawa pelan, menyembunyikan dusta yang bersarang di mulutnya.
"Sky, lo masih sayang, ya, sama mantan lo?"
Pertanyaan Aldef itu seperti mewakili pertanyaan Beby pada dirinya sendiri. Apa mungkin, Beby masih se-sayang itu dengan Arka?
Beby menghela napas berat. Pandangannya yang semula fokus ke arah Aldef, kini beralih lurus ke dapan dengan sarat menerawang. Seulas senyum tipis tersurat dari bibirnya. "Iya."
'Deg!'
Dari cara Beby membicarakan sang mantan, harusnya Aldef sudah menduga akan hal itu. Tapi mengapa rasanya sakit sekali?
"Mungkin." Jawaban Beby tiba-tiba berubah. "Gue nggak tahu pasti tentang perasaan gue sendiri. Gue bingung. Rasanya, masih ada yang mengganjal." Beby kembali menatap Aldef. "Tapi yang jelas, dia itu pelipur lara gue, Al. Dia yang bantu gue bangkit dari keterpurukan. Dia yang bisa nenangin gue dengan caranya sendiri. Dia juga yang nemenin gue melewati hari-hari yang berat."
Sungguh. Aldef merasa iri dengan 'dia' yang Beby sebutkan. Mengapa Aldef tak mengenal Beby sejak dulu? Mengapa baru sekarang?
"Terlepas dari dia yang udah mengkhianati gue. Entah kenapa, rasanya gue masih nggak percaya Arka bisa melakukan itu."
"Arka?" tanya Aldef.
"Iya. Namanya Arka." Jeda sejenak. "Kalau lo, punya mantan?"
Sebuah nama terlintas dalam kepala Aldef. Mengingat wajah gadis itu, membuat Aldef tertawa getir. "Sebenernya gue nggak tahu sebutannya apa. Entah dia mantan gue atau bukan. Yang jelas, dia ninggalin gue tanpa pamit, tanpa ada kata putus."
Kedua alis Beby bertaut heran. "Kenapa dia ninggalin lo?"
Aldef mengedikkan bahu. "Gue juga nggak tahu, dan nggak peduli. Kan, sekarang ada lo."
Beby tertawa. Tak tahu ucapan Aldef barusan serius atau bercanda, Beby enggan menanyakan hal itu. Berbanding terbalik dengan otaknya yang terus menebak-nebak.
"Sekarang, giliran gue yang nanya sama lo, boleh?" tanpa Aldef.
__ADS_1
"Boleh. Tanya aja."
"Tipe cowok idaman lo gimana?"
"Yang jelas, bukan kayak lo!" Beby tertawa di ujung kalimat.
Aldef tahu jawaban Beby yang satu itu hanya bercanda. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang terasa menohok inti jantungnya.
"Sky, orang gue nanya serius."
"Oke-oke." Beby berhenti tertawa. "Tipe cowok idaman gue itu—"
'Drttt drtttt'
Ponsel milik Aldef yang tergeletak di atas nakas bergetar, membuat kalimat Beby terpotong. Aldef bergegas meraih ponselnya dan menekan tombol answer.
"Kenapa? Tumben lo nelepon-nelepon gue."
" .... "
"Titipan apa?"
" .... "
"Ya udah, langsung ke sini aja kalau gitu."
" .... "
"Oke."
"Siapa, Al?" tanya Beby begitu obrolan Aldef dengan seseorang yang entah siapa berakhir.
"Kakak gue."
"Kakak?" Kening Beby mengernyit heran. "Lo punya kakak?"
"Iya. Kakak sambung. Anaknya suami mama."
Ah! Rupanya Beby tak sempat mendengar satu kalimat pun saat Aldef menceritakan tentang keluarganya di lift kemarin.
"Papa meninggal waktu gue masih kecil. Beberapa tahun kemudian, mama nikah lagi sama duda anak satu—yang sekarang jadi kakak gue."
"Ohhh." Mulut Beby membentuk huruf O. "Terus, kakak lo itu mau ke sini?"
Aldef tersenyum kecil. "Iya. Kebetulan dia kerja di sini, jadi perawat."
'Tok tok tok!'
"Nah, mungkin itu dia," ucap Aldef sembari mengarahkan pandangan ke arah pintu. "Gue buka pintu dulu, ya."
Mendapat anggukan dari Beby, Aldef beranjak dari posisinya. Gadis itu penasaran dengan siapa kakak tiri Aldef ini.
Sementara Beby menatap penasaran ke ambang pintu, Aldef yang telah berhadapan dengan Putri berinisiatif meminta sang kakak masuk.
"Masuk, yuk! Gue kenalin sama Beby," kata Aldef.
Putri menggeleng cepat. Pasalnya, gadis itu yakin seribu persen bahwa kehadirannya tak diharapkan oleh Beby. "Nggak usah. Gue cuma mau nganter titipan dari mama."
"Loh, kenapa? Sekalian jenguk Beby."
"Nggak, Al. Gue nggak enak sama temen lo."
Aldef menoleh ke arah Beby. "Lo mau kenalan sama kakak gue, kan, Sky?"
"Mau."
"Tuh!"
Putri memalingkan muka. Salah. Kedatangannya ke sini merupakan keputusan yang salah besar! Harusnya, ia minta tolong pada dokter atau perawat lain untuk memberikannya pada Aldef.
"Ayo masuk!"
__ADS_1
Karena Aldef terus mendesak, Putri pun tak punya pilihan. Gadis itu berjalan tepat di belakang punggung Aldef, membuat Beby semakin penasaran.
"Lo ngapain, sih, buntutin gue? Sini!" Aldef mendorong Putri ke arah kiri.
Kini, Beby dapat melihat dengan jelas wajah kakak tiri Aldef. Kedua bola matanya membulat sempurna. Lidahnya mendadak terasa kelu. Mengapa? Mengapa dunia bisa se-sempit ini?
"Sky, kenalin ini kakak gue, Putri namanya. Kak, kenalin ini Beby, temen dekat gue." Aldef memperkenalkan kedua perempuan di dekatnya yang masih saling menyelami bola mata.
"Putri." Putri yang terlebih dahulu sadar dan mengulurkan tangan.
Tadinya, Beby berniat membalas jabatan tangan Putri. Namun, rekaman akan bagaimana kemesraan Putri dan Arka terputar kembali dalam benak Beby. Hal itu membuat otot-otot syaraf Beby menegang. Bahkan, untuk menggerakkan tangan pun ia tak mampu.
Sebab tak kunjung mendapat balasan dari Beby, Putri menarik kembali uluran tangannya. "Kalau gitu, gue pamit, ya. Masih banyak kerjaan."
Meski ada begitu banyak pertanyaan dalam benak Aldef setelah melihat interaksi antara Beby dan Putri, lelaki itu akhirnya membiarkan Putri untuk pergi.
Sepeninggalan Putri, Aldef menatap Beby lamat-lamat. Gadis itu masih menatap kosong ke arah pintu. Bukan praduga lagi, pasti ada sesuatu antara Putri dan Beby.
"Sky?" Aldef mencoba memanggil Beby, namun gadis itu masih tak merespon.
"Sky?
"Sky!" Sentuhan yang Aldef beri di punggung tangan Beby, baru membuat gadis itu tersadar dan menoleh ke arahnya.
"Ha-hah?"
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Lo kenapa? Ada masalah sama kak Putri? Lo kenal?"
Belum sempat Beby menjawab, perhatian mereka kembali teralihkan dengan kedatangan Miko.
"Lo bisa pulang sekarang," ucap Miko pada Aldef. "Biar gue yang jaga Beby malam ini."
"Tapi—"
"Pulang, Al," ujar Beby pelan. Manik matanya menatap Aldef dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo pulang aja."
"Oke. Kalau gitu, gue pamit, ya. Lo jangan tidur malem-malem. Cepet sembuh, Sky."
Beby membalas dengan anggukan kecil dan seulas senyum tipis. Aldef yang melihat hal itu pun tak kuasa menahan tangannya yabg yang refleks mengacak puncak kepala Beby gemas. Jujur, Beby merasakan getaran hebat di hatinya saat Aldef melakukan aksi itu.
"Udah sono pulang!" ucap Miko.
Aldef terkekeh. "Iya-iya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Miko dan Beby secara kompak.
Selepas kepergian Aldef, Beby yang semula duduk bersandar mengubah posisi menjadi berbaring. Bola matanya menatap langit-langit dengan sarat menerawang. Dari yang Beby lihat, sepertinya Aldef tak tahu tentang hubungan Putri dan Arka.
"By."
Panggilan bernada rendah namun tegas itu membuat Beby menoleh ke arah Miko yang tengah berdiri di sisi kiri ranjangnya. Beby baru sadar, raut wajah Miko tampak sangat serius.
"Hm?"
"Gue mau nanya sesuatu. Tapi, lo harus jawab jujur."
"Apa?"
Miko mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel hitam yang ia bawa. "Buat apa lo nyimpan ini?"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️