
Waktu menunjukkan pukul 21.07 saat Beby keluar dari gedung kantor FS Agency. Reading hari pertama memang sangat menguras tenaga dan waktu. Namun Beby mengakui, bahwa dirinya sungguh excited akan project webseries ini.
Kaki jenjang Beby melangkah santai menuju studio 3. Sesekali ia tersenyum pada kru atau teman sesama model yang berpapasan dengannya. Awalnya, Lola mengajak Beby pulang bersama naik mobil Daren, tapi gadis itu menolak. Beby terbayang wajah Aldef yang tengah menunggunya di ruang editing.
Tapi, saat Beby sampai di sana, ia tak menemukan keberadaan Aldef. Sosok Fahri muncul saat Beby menoleh ke belakang.
"Ri, lo tahu di mana Aldef?" tanya Beby.
"Ya mana gue tahu. Kan, gue daritadi ikut reading bareng lo. Lagian, yang pacar Aldef itu lo kali, bukan gue."
"Iya juga, sih," gumam Beby.
"Gue cabut duluan," ujar Fahri yang dijawab anggukan oleh Beby.
Gadis berhoodie abu-abu itu meraih ponsel di dalam sling bag putih miliknya. Lalu, Beby mendial nomor Aldef.
Satu panggilan, tak terjawab. Dua panggilan, tak terjawab. Hal yang sama terus berulang hingga panggilan kelima. Terdengar nada sambung, tapi tak ada seorang pun yang menjawab.
Di mana Aldef sebenarnya?
^^^Me:^^^
^^^Al, lo di mana? Gue udah selesai, nih.^^^
Tepat saat Beby usai menekan tombol send, suara Ana yang khas menyita perhatiannya.
"Kok, belum pulang?" tanya Ana.
"Lo lihat Aldef nggak, An?"
Ana mengangguk. "Udah pergi dari tadi."
"Pergi?" Kedua alis Beby bertaut heran. "Pergi ke mana?"
"Kalau itu eike juga kagak tahu. Yang jelas, Aldef pergi sambil gendong Celine yang pingsan."
***
Rencananya, Aldef akan membawa Celine ke rumah sakit terdekat. Namun, sebuah suara menyapa gendang telinga Aldef di tengah fokusnya membelah jalanan Ibu Kota.
"Al ...?"
"Hm?" Aldef menoleh sejenak.
Celine memegang pergelangan tangan Aldef. "Anterin aku pulang."
"Loh? Ini aku mau bawa kamu ke rumah sakit."
Celine menggeleng cepat. "Nggak usah. Aku nggak apa-apa. Mau pulang aja."
Aldef menghela napas sejenak. "Oke. Di mana rumah kamu?"
__ADS_1
Celine pun menyebutkan alamat rumah kontrakan yang kini ia tinggali bersama Poppy. Lima belas menit kemudian, mobil Aldef terhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan dominasi cat warna coklat muda.
"Masuk dulu, ya?" ajak Celine.
Sebenarnya, Aldef ragu untuk menerima. Bagaimanapun, Celine adalah bagian dari masa lalunya. Hingga hari ini pun, Aldef masih merasakan rasa yang sama di dalam hatinya saat menatap kedua bola mata Celine.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Aldef menerima ajakan Celine. Mereka melangkah beriringan memasuki pekarangan rumah yang bebas pagar. Baru sampai di depan pintu, Aldef dan Celine disambut oleh seorang gadis berambut sebahu.
"Kak Aldef?"
Aldef yang disapa begitu hangat malah merasa heran. Bola matanya menatap gadis berbalut sweeter merah jambu lamat-lamat. Wajahnya memang tampak familiar. Tapi ..., siapa?
Tiba-tiba, Celine tertawa pelan. "Kamu lupa sama adik aku, Al? Dia Poppy. Yang dulu sering kamu temenin main."
Ah! Aldef ingat sekarang. Poppy adalah gadis yang ia temui pada malam hari, saat Aldef dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuanya.
"Beda banget kamu sekarang, ya," ucap Aldef seraya tersenyum ramah.
"Iya, dong. Makin langsing, kan, aku?" kata Poppy penuh percaya diri.
Aldef hanya mengangguk singkat. Sejujurnya, postur tubuh Poppy jauh dari kata langsing. Lebih tepatnya, terlalu kurus. Pipi tembam yang menjadi ciri khas gadis itu pun menghilang. Hal itulah yang membuat Aldef tak mengenali Poppy saat pertemuan pertama mereka.
"Ayo masuk, Al," ajak Celine. "Ada yang mau aku omongin sama kamu. Di kafe kemarin, kan, kita nggak sempat ngobrol banyak."
Memang. Pertemuan Aldef dan Celine di kafe kemarin malam memang sangat singkat. Saat itu, Aldef belum siap mendengar penjelasan apapun tentang kepergian Celine yang tiba-tiba.
Aldef, Celine, dan Poppy memasuki rumah minimalis itu. Celine mempersilakan Aldef duduk di sofa ruang tamu, sementara Poppy melenggang pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Tak lama kemudian, Celine kembali dengan dua gelas susu coklat hangat.
"Makasih," balas Aldef sopan.
Hening. Keduanya saling tatap cukup lama. Seolah bola mata mereka saling berbincang. Menyuarakan apa saja yang tak sempat tersampaikan di masa lalu.
Celine terkekeh, memecah kesunyian yang begitu pekat menyelimuti ruang tamu rumahnya.
"Kamu nggak berubah, ya, Al. Tatapan kamu, muka kamu, senyum kamu. Semuanya masih sama. Kamu masih Aldefra Mahardika yang aku kenal dulu."
Aldef diam. Kesan pertama tentang Celine yang berada dalam kepala Aldef pun sama. Gadis itu tidak berubah sama sekali. Tawanya masih membuat Aldef merasa candu.
"Aku minta maaf, ya," lanjut Celine. "Karena udah ninggalin kamu waktu itu."
"Kenapa?" tanya Aldef. "Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu mutusin aku lewat surat? Kenapa nggak ngomong langsung?"
"Belum saatnya kamu tahu. Nanti, ya, aku pasti kasih tahu kamu."
Aldef hanya manggut-manggut. "Terus, kenapa baru sekarang balik?"
Celine memalingkan muka. Indra pengelihatannya menatap dengan sarat menerawang. Memorinya memutar kembali kejadian 1 tahun yang lalu.
"Mama dan papa meninggal karena kecelakaan. Aku jadi hidup berdua aja sama Poppy. Kita berdua yang nggak pernah ngerasain hidup susah, jadi kaget banget waktu ditinggal mama papa. Belum lagi, aku harus biayain cuci darah Poppy yang nggak murah."
"Poppy sakit?" tanya Aldef.
__ADS_1
Celine mengangguk seraya tersenyum getir. Tangannya dengan cepat mengusap air mata yang tanpa ia sadari membasahi pipinya. "Udah lama Poppy divonis gagal ginjal. Tapi, semenjak ortu meninggal, kondisi Poppy jadi jauh lebih memburuk."
Celine menoleh, menatap Aldef dengan sendu. "Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain Poppy, Al. Aku takut banget kalau dia pergi. Aku juga jadi orang paling sakit tiap kali nemenin dia HD."
"Sssttt!!!" Aldef bergerak membawa Celine dalam dekapannya. Rasanya, Aldef turut merasakan kesedihan yang Celine alami. "Jangan sedih, ya. Kamu masih punya aku."
Celine melepas pelukannya. Gadis itu menatap Aldef lamat-lamat. "Beneran, aku masih punya kamu?"
Aldef mengangguk pelan. "Kalau ada apa-apa, nggak usah sungkan buat minta bantuan aku."
Seulas senyum lebar terbit di bibir Celine. Dua detik berikutnya, gadis itu kembali melebur dalam pelukan Aldef. "Makasih, Al. Makasih karena kamu selalu bisa jadi yang paling aku andalkan."
Dan malam itu, Aldef menghabiskan waktu lebih lama bersama Celine. Cerita random dari A sampai Z tak henti mengalir dari keduanya. Terlebih, tentang kenangan mereka semasa SMA dulu.
Keduanya sama-sama hanyut. Sampai Aldef lupa, bahwa ada seorang gadis di luar sana yang tengah menunggu kabar darinya. Gadis yang kini memiliki status sebagai pacarnya.
***
Aldef tiba di lobby Apartemen Golden saat waktu telah menunjukkan pukul 22.17. Saat berdiri di depan lift, ia bertemu Miko.
"Lo sendiri aja?" tanya Miko seraya celingukan ke kanan-kiri, mencari seseorang.
"Iya," jawab Aldef heran. "Kenapa emang? Tumben lo nanya gitu ke gue."
"Tadi pagi lo berangkat sama adek gue, 'kan? Lo anter dia pulang duluan? Atau gimana?"
"Oh ... adek lo ...."
Kedua mata Aldef membulat begitu menyadari ada yang salah. Miko yang melihat reaksi berlebihan Aldef pun merasa heran.
"Kenapa?" tanya Miko. "Beby udah di rumah, 'kan? Gue hubungi dari tadi nggak aktif soalnya."
****! umpat Aldef pada dirinya sendiri. Ia lantas berlari cepat menuju parkiran mobil. Bagaimana bisa Aldef melupakan Beby?!
"Kalau sampai Beby kenapa-napa, mati lo!" ancam Miko saat berhasil mengejar Aldef.
*
*
*
UDAH MULAI ADA PERCIKAN API, NIH. 😏
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️