
Seperti yang telah direncanakan, Aldef menunggu di lorong tepat depan pintu kelas terakhir Beby. Keduanya sama-sama melempar senyum manis begitu manik mata mereka bersitatap.
"Udah lama nunggu?" tanya Beby.
"Nggak juga. Lo mau langsung pulang?"
"Gue ada pemotretan, sih, hari ini."
"Gue kira kak Miko cuma ngizinin lo ke kampus."
Beby tertawa. "Kalau soal itu, sih, gue nggak tahu. Tapi, gue emang nggak bilang kalau hari ini udah mulai pemotretan lagi."
"Nggak mau izin dulu?"
"Nanti aja, deh. Kalau izin sekarang, pasti nggak bakal dikasih."
"Ya udah kalau gitu. Berangkat sekarang?"
"Yuk!"
***
Setelah dua puluh menit menyusuri jalanan padat di Ibu Kota, akhirnya mobil Aldef memasuki area Fresh and Star Agency.
"Lo turun di sini aja, ya? Biar nggak jauh jalannya. Gue mau parkir mobil dulu."
"Ok—" Napas Beby seolah tersekat saat Aldef tiba-tiba memangkas jarak di antara mereka. Entah apa yang ingin pria itu lakukan, yang jelas, jarak ini mampu membuat indra penciuman Beby menjangkau aroma maskulin dari tubuh Aldef.
'Klik!'
Helaan napas lega sontak menguar begitu Beby menyadari bahwa Aldef hanya ingin melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.
"Kenapa? Grogi, ya, deket gue?" Pertanyaan bernada super-pede itu membuat Beby berusaha sebisa mungkin menormalkan ekspresi. Namun sial, mengapa bakat aktingnya mendadak hilang?!
"Ng-nggak!" tukas Beby.
Aldef terbahak-bahak. "Masa, sih? Muka lo merah gitu buktinya."
"Panas! Iya! Mobil lo panas. Mangkanya muka gue merah." Nah, kan. Beby salah tingkah. "Dah, ah! Gue turun dulu."
Gadis berhoodie merah marun itu bergegas turun dari mobil Aldef. Ia bahkan tak memiliki keberanian untuk menoleh ke belakang sedikit saja.
"Haduhhhh!!! Jantung gue!!!" seru Beby seraya menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Mau copot rasanya!"
"Eh, udah sembuh lo?"
Di depan ruang make up, Beby disambut dengan sosok Ana yang tengah menenteng dua buah gaun warna coklat.
Beby tersenyum manis seraya menjawab. "Alhamdulillah, udah, An. Gimana pemotretannya? Lancar?"
"Ya ... kayak biasa aja, sih. Nggak ada yang spesial. Dah, ya, eike balik kerja dulu."
"Siap!"
Sepeninggalan Ana, Beby melanjutkan langkah memasuki ruang make up. Ternyata, di sana sudah ada seseorang yang baru ia kenal beberapa hari lalu.
"Hai," sapa Beby pada perempuan berbalut sweeter putih lengan panjang yang tengah menata pakaian di kursi tepat samping kanan Beby.
Sapaan Beby sontak membuat perempuan itu berdiri menghadapnya. "Hai, Beby. Gue denger lo masuk rumah sakit."
"Iya. Sempat drop kemarin. Tapi, sekarang udah sehat, kok."
"Bagus, deh, kalau gitu."
"Sky, gue tunggu lo di ruang editing, ya!"
__ADS_1
Kalian pasti tahu siapa pemilik suara itu. Ya. Siapa lagi kalau bukan Aldefra Mahardika?
Dua orang gadis di dalam ruangan itu sontak menoleh ke ambang pintu. Dari sudut pandang Aldef sekarang, ada seseorang yang berdiri di hadapan Beby, tapi memunggungi dirinya.
"Sini, deh, Al," panggil Beby. "Ada yang mau gue kenalin sama lo."
Aldef menurut saja. Kakinya melangkah santai memasuki ruang make up. Bola matanya tak beralih dari Beby hingga mereka berdiri berdampingan.
"Kenalin, ini Celine, karyawan baru di sini."
'Deg!'
Ekspresi sumringah yang sejak tadi membingkai wajah Aldef, tiba-tiba terganti dengan ekspresi tegang. Kini, pria itu hanya berharap bahwa apapun praduga dalam benaknya bukanlah suatu kebenaran. Celine. Nama itu ....
Perlahan, Aldef menoleh. Raganya menegang seketika. Bola matanya menangkap sebuah senyum yang selama ini—masih—ia rindukan, sekaligus ia benci.
Melihat Aldef hanya diam, Celine terlebih dahulu mengulurkan tangan. "Celine. Celine Anastasya."
***
Ada yang aneh dengan Aldef. Dan Beby sangat yakin akan hal itu. Bagaimana tidak? Setelah berkenalan dengan Celine tadi, Aldef langsung pamit pulang. Padahal, awalnya pria itu mengatakan bahwa dirinya akan menunggu Beby di ruang editing.
Beby sungguh tak mengerti. Sekeras apapun ia mencari apa yang salah, hasilnya nihil. Apa mungkin, Aldef dan Celine sudah saling mengenal sebelumnya?
Ah! Beby jadi pusing sendiri.
"Belum pulang, By?"
Itu Fahri. Lima belas menit yang lalu, mereka baru saja membahas tentang project webseries yang sempat tertunda kemarin. Dan setelah berunding singkat, proses reading akan dilakukan besok, jam 2 siang.
"Iya, nih. Lo udah mau balik?"
"Belum. Oh, iya, kata Daren, mending kita bikin grup WhatsApp biar gampang koordinasinya. Dia nyuruh gue yang bikin, sih. Menurut lo gimana?"
"Bagus, dong. Lo bikin aja nggak apa-apa."
"Siap! Gue balik duluan, ya?"
"Eh? Sama siapa?"
"Gampang, lah. Nanti gue pesan taxi online aja."
"Gitu? Oke, deh. Hati-hati di jalan, ya."
Beby tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan studio 1. Gadis itu memesan taxi online selagi menuju keluar, sesuai rencana. Namun, niatnya terurungkan saat melihat mobil sedan hitam yang terparkir di depan. Itu mobil Miko.
Benar saja, kaca jendela di sisi kanan Miko turun begitu Beby mendekat.
"Masuk," ucap seseorang dari balik kursi kemudi yang tak lain adalah Miko.
Beby pun menurut. Ia memutari mobil Miko, lalu duduk di kursi penumpang. Mobil hitam itu pun lantas meluncur usai Beby mengenakan sabuk pengaman.
"Kakak, kok, tahu gue lagi di FS?"
"Tadi Aldef nge-chat. Nyuruh gue jemput lo. Lagian, kenapa lo nggak bilang dulu, sih, ke gue kalau mau pemotretan hari ini? Gue kira lo cuma mau ke kampus. Si Aldef pakai acara ninggalin lo segala lagi. Awas aja, tuh, bocah!"
Rentetan kalimat bak ocehan emak-emak yang tengah mengomeli anaknya saat enggan mengerjakan PR itu sukses diucapkan Miko dalam satu tarikan napas. Kata orang, anak hukum identik dengan jago debat. Mungkin benar. Miko buktinya.
"Kak, lo kalau ngoceh gini mirip Cheon Seo Jin, tahu nggak? Ngeselin!"
Sejenak, Miko melayangkan tatapan heran pada sang adik. "Siapa, tuh?"
"Nggak tau, ya?"
Miko menggeleng.
__ADS_1
"Orang ter-dakjal sedunia per-drakor-an. Eh. Ada yang lebih, sih. J&T namanya."
"Gue nggak paham."
"Gue juga nggak paham. Udah season tiga, kenapa si J&T belum juga kena karma? Gedek gue!"
Masih dengan ekspresi heran, Miko meletakkan punggung tangannya di kening Beby. "Depresi lo nggak lagi kambuh, kan, By?"
"Ish!" sentak Beby seraya melepas sentuhan tangan Miko di keningnya. "Nggak. Gue, tuh, lagi cerita tentang drama Korea. Mangkanya nonton biar tahu."
Malas menanggapi ocehan Beby, Miko hanya merespon dengan manggut-manggut. Tidak sadar dirikah Beby bahwa ia pun pandai mengoceh?
Getaran yang berasal dari dalam sling bag membuat Beby meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Kiran.
Kiran:
Gue lagi otw ke Lomera Cafe, nih. Lo udah kelar pemotretan, kan? Kita ketemu di sana, ya. Udah lama kita nggak curhat-curhatan bertiga bareng Lola.
Boleh juga, ucap Beby dalam hati.
^^^Me:^^^
^^^Otw.^^^
Beby menonaktifkan ponsel, lalu menoleh ke arah Miko. "Kak, anterin gue ke Lomera Cafe, ya?"
"Ngapain?"
"Mau ketemuan sama Lola and Kiran. Kangen."
"Lah, terus gue gimana?"
"Ya, terserah. Mau langsung pulang boleh, mau nunggu gue sampai kelar juga boleh."
"Emang sampai jam berapa lo nanti?"
Beby tersenyum nyengir. "Hehehe, nggak tahu."
Miko mendengkus kesal. "Pulang aja, ya?"
"Kenapa? Lo nggak mau nganter? Yaudah, turunin gue di sini. Gue bisa ke sana sendiri."
Tatapan kesal lantas melayang dari bola mata Miko untuk Beby. Yang ditatap pun tak gentar untuk membalas.
"Dasar keras kepala," ketus Miko yang akhirnya mengalah juga.
***
+62***:
Hai, Al. Aku dapat nomor kamu dari Fahri. Ternyata kalian masih sahabatan, ya. Btw, kenapa tadi langsung pulang? Padahal, aku masih kangen banget sama kamu.
Aldef menekan tombol power pada ponselnya dengan kesal, lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku. Sejak pulang dari FS Agency beberapa jam lalu, Aldef tak beranjak dari rooftop. Pikirannya benar-benar kacau. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa gadis itu kembali dengan segala aksi yang menunjukkan seolah tak ada yang terjadi?
"Kenapa harus sekarang? Kenapa lo balik di saat gue hampir seratus persen move on?"
"ARGHHH!!!"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️