
Beby menarik napas dalam-dalam usai menutup pintu apartemennya. Mungkin mulutnya bisa menampik rasa kesal atas apa yang telah Aldef lakukan, tapi tidak dengan hatinya. Tak pernah sedetikpun Beby tak mencoba percaya pada Aldef. Tapi semakin Beby mencoba, kenyataan semakin berkata lain.
Gadis itu melangkah gontai menuju kamar. Sampai di meja makan, langkah Beby terhenti. Sebuah kertas berwarna kuning menyita perhatian Beby.
Semua pisau di rumah ini udah gue buang, jadi lo nggak perlu khawatir. Jangan lupa sarapan, udah gue bikinin nasi goreng kesukaan lo tadi.
-Miko
Beby terkekeh geli. "Tumben banget, nih, orang main surat-suratan. Biasanya juga ngomel lewat telepon."
***
'PLAK!'
"Jadi, selama ini lo yang nyebarin video itu, Jan?! Lo yang bikin gue dituduh main suap?! Kenapa, Jan?! Kenapa lo lakuin itu?! Padahal, jelas-jelas lo tahu kalau yang gue lakuin di video itu nggak lebih dari transaksi jual-beli!"
"Karena gue mau bikin lo musuhan sama Rafi."
"Kenapa? Lo suka sama Rafi?"
"IYA! GUE SUKA SAMA RAFI. KENAPA?! SALAH KALAU GUE USAHA BIAR COWOK YANG GUE SUKA BISA LIHAT KEBERADAAN GUE? Selama ini, yang Rafi lihat cuma lo, Bel!"
"Tapi nggak gini caranya, Jan."
"Terserah lo!"
"CUT!"
"Awh!" Lola memegang pipi kirinya tepat setelah kata 'cut!' meluncur dari sutradara.
"Kenapa lo?" tanya Beby heran.
"Pakai nanya lagi! Lo punya dendam apa, sih, sama gue? Pakai tenaga dalam banget namparnya."
"Jinjja?" (Beneran?) Beby melangkah mendekat, mengamati lebih dekat bekas tamparannya di pipi Lola. "Hehehe. Mian. Nggak sengaja." (Maaf.)
Lola hanya mendengkus kesal sebagai balasan. "Makan dulu, dah. Laper gue. Mau bareng nggak?"
Beby menggeleng. "Lo duluan aja. Gue mau ke toilet dulu."
"Oke."
Lola dan Beby mengambil langkah berlawanan arah. Lola berkumpul bersama para kru dan pemain, sementara Beby menuju ke toilet.
Sampai di tempat tujuan, Beby menyalakan kran air, lalu membasuh wajahnya beberapa kali. Setelah itu, Beby kembali mendongak. Tanpa mematikan kran air, manik mata Beby menatap lurus pada pantulan wajahnya di cermin.
Jujur, akal Beby terus memikirkan tentang Aldef. Sekeras apapun ia berusaha, rasa cemburu itu tetap merajalela. Beby tahu yang ia rasakan memang wajar. Malah gadis itu bersyukur. Karena dengan cemburu, artinya Beby benar-benar mencintai Aldef. Tapi di sisi lain, Beby pun tak ingin dicap sebagai pacar posesif. Aldef pun tak melakukan kesalahan apapun. Selama lelaki itu jujur, tak akan ada masalah besar, 'kan?
"Ne! Gwenchanna. Aldef cuma ngambil HP, terus sekalian ngantar Celine pulang. Palingan juga Aldef nganter Celine karena emang searah," (Ya! Nggak apa-apa) ucap Beby untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Berlandaskan keyakinan itu, Beby keluar dari toilet. Gadis itu siap bergabung dengan yang lain untuk makan siang. Tapi, seseorang yang kini menjadi pusat perhatian di depan sana, seolah meruntuhkan keyakinan Beby secara perlahan.
"Itu Celine ke sini sama pacar lo tahu." Tanpa menoleh pun, Beby tahu siapa pemilik suara yang datang dari arah kanan ini: Lola. "Lo tahu kalau Aldef bakal ke sini sama Celine?"
__ADS_1
Beby menoleh ke arah Lola. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. "Tahu, kok."
Mengabaikan Lola, Beby kembali mengambil langkah. Niatnya untuk bergabung dengan yang lain ia urungkan. Beby memilih untuk menenangkan diri di ruang make up. Pas sekali, tak ada seorang pun di sana.
Beby duduk di salah satu kursi. Menyandarkan punggungnya yang entah mengapa terasa remuk. Gadis itu menengadah, matanya terpejam rapat. Beby lapar. Sangat. Tapi, napsu makannya sedang berkelana entah ke mana.
"By ...."
Suara bariton dari samping kiri itu lantas membuat Beby menegakkan badan. "Deren?"
Daren mengulurkan nasi kotak. "Makan siang lo."
Beby tersenyum kecil. "Thank's."
"Ngapain di sini? Bukannya gabung sama yang lain."
"Lagi mau bikin video endors."
Bohong. Jatah endors Beby hari ini sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Anggi yang sedang berbaik hati hanya mengambil lima endors untuk Beby hari ini. Mengingat kondisi Beby yang belum sepenuhnya pulih.
"Oh ... lo tahu kalau Aldef ke sini sama Celine?"
Lagi-lagi pertanyaan itu.
Beby hanya menjawab dengan anggukan singkat dan senyum simpul.
"Sky?"
Hanya ada satu orang yang memanggil Beby dengan sebutan itu. Dan memang benar, Aldef datang. Tadi, Aldef melihat keberadaan Beby yang datang dari arah toilet. Namun, gadis itu malah meneruskan langkah ke ruang make up tak lama setelah melihat dirinya dan Celine.
Mendengar hal itu, Daren yang semula duduk di samping kiri Beby berdiri. "Kalau gitu, gue cabut dulu, ya. Jangan lupa makan siangnya."
Sepeninggalan Daren, Aldef mengambil posisi di samping kiri Beby. Paham benar bagaimana suasana beberapa detik ke depan, Beby membuka nasi kotak di pangkuannya.
"Gue bisa jelasin, Sky."
Tanpa menoleh ke arah Aldef, Beby mengangguk singkat. Pertanda bahwa gadis itu mempersilakan sang pacar menjelaskan apa yang ingin dijelaskan.
"Dari awal gue emang niat ke sini buat nyamperin lo," kata Aldef. "Di jalan, gue lihat Celine sama Poppy lagi nyegat taxi. Waktu gue tanya, ternyata Poppy mau nganter Celine ke lokasi syuting. Gue nggak tega, Sky. Mangkanya, gue suruh Poppy balik. Lagian, tujuan gue sama Celine, kan, sama-sama ke sini."
"Sky, please. Lihat gue." Aldef hendak menyentuh tangan Beby, namun gadis itu mengelak.
"Gue lagi makan."
"Lo nggak marah, 'kan?"
Beby menggeleng. Tapi, hal itu tak membuat Aldefm merasa lega.
"Lo cemburu?"
Pertanyaan itu lantas membuat Beby mendongak. Aktivitas makannya seketika terhenti. Tanpa dijawab pun, Aldef mengerti maksud di balik tatapan Beby.
Lelaki itu terkekeh pelan seraya mengacak puncak kepala Beby gemas. "Sumpah, ya! Pacar gue ini gemesin banget kalau lagi cemburu."
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan ekspresi Aldef, Beby masih setia dengan bibirnya yang mengerucut sebal.
"Tenang aja, Sky. Gue sama Celine udah selesai sejak tiga tahun yang lalu. Gue punya lo sekarang."
"Beneran?" tanya Beby.
"Mau bukti?"
Ditanya seperti itu, Beby lantas mengangguk. Dan yang terjadi berikutnya, membuat jantung Beby hampir loncat dari tempat asal. Aldef tiba-tiba berdiri dan mengecup singkat pipi kirinya.
"Udah gue tandain," ujar Aldef sembari mengulas senyum berjuta makna. "Mau disuapin nggak?"
"Nggak!" sahut Beby cepat. "Gue masih kezel sama lo!"
"Uluh uluhhhh ... lagi kezel, ya, Sayang?" Aldef terbahak, merasa geli dengan kalimatnya sendiri. "Nanti lo ada kelas nggak?"
Sembari mengunyah nasi kotak jatah makan siangnya, Beby menggeleng.
"Mau nonton nggak?"
"Assalamualaikum Calon Imam?"
"Waalaikumsalam, Sayang."
"IH!"
"Kenapa? Oh, lo nanya barusan?" Aldef tertawa. "Nggak. Kali ini gue mau ajak lo nonton beneran. Nonton bioskop. Gimana?"
"Lo nggak ada kelas emang?"
"Ada."
"Lah? Kok, malah ngajak gue nonton?"
"Bolos sekali nggak apa-apa kali. Biar pacar gue yang satu ini nggak kezel lagi."
"Lebay!"
***
Semua scene Beby tuntas saat waktu menunjukkan pukul 14.35. Gadis itu pamit ke toilet usai sepakat dengan Aldef, bahwa mereka akan pergi menggunakan satu mobil saja: milik Aldef. Sementara mobil Beby akan ditinggal di sini.
Tanpa diduga, Beby bertemu Celine di dalam toilet. Celine yang berlagak tak melihat kehadiran Beby bergegas pergi. Beby pun tak berniat menghalangi Celine. Sampai terdengar sebuah suara dari mulut Celine.
"Haduhhh. Semalaman tidur ditemenin cogan, bikin nagih."
Semalaman?
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️