ALDEBY

ALDEBY
|67.| Surprise


__ADS_3

"Lo tahu nggak, apa yang bikin mantan lo lebih cantik dari gue?"


"Apa? Bibirnya? Rambutnya?"


Detik itu juga, Beby melepaskan tangannya dari genggaman Aldef. Melihat hal itu, Aldef lantas tertegun dengan pandangan yang mengarah pada tangan Beby.


Menu pesanan mereka datang. Beby mengucap terima kasih pada waiters yang baru saja mengantar makanan. Kemudian, gadis itu bertopang dagu menggunakan tangan kanan. Bola matanya menatap lurus pada Aldef yang tampak bingung.


"Kalau menurut gue, sih, ya, karena bibirnya," ucap Beby dengan nada santai. "Ya, 'kan?"


Aldef tersenyum tipis. Kepalanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Dan tentu saja, respon itu membuat dada Beby terasa sesak. Jadi, seperti itu posisi Beby di hati Aldef. Bukan satu-satunya, tapi yang nomor satu.


"Ngomong-ngomong, besok lo ada kelas nggak?" tanya Beby, di tengah perang batin dan cairan bening dalam matanya yang meronta-ronta ingin keluar. Kali ini, Beby memilih diam. Ia ingin tahu, sampai di mana Aldef akan menutupi semua tentang Celine darinya.


Kini, Aldef dan Beby mulai mengunyah makanan masing-masing.


"Ada. Pagi. Kenapa? Mau bareng?"


"Nggak. Habis ini antar gue balik ke lok-syut, ya?"


"Ngapain?"


"Mau ambil mobil. Besok gue ada kelas pagi."


"Bareng gue aja kalau gitu. Selesai kelas gue antar ke lok-syut."


"Nggak usah. Gue mau berangkat sendiri. Pagi banget soalnya, jam tujuh."


"Nggak apa-apa, Sky, bareng gue aj—"


"AL!" Refleks, Beby memotong kalimat Aldef dengan nada tinggi. "Please, anterin gue ke lokasi habis ini. Oke?"


"Oke."


Aldef menghela napas berat. Keanehan dalam diri Beby semakin tampak jelas. Ini pertama kali Beby menyela kalimatnya. Pertama kali pula Beby membentak. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?


Demi mengusir pikiran-pikiran negatif, Aldef kembali mengatur napas.


Beby pasti lagi PMS. Iya. Aldef meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.


***


Meninggalkan area parkir FS Agency, tangis Beby pecah di balik kursi kemudinya. Dari kaca spion, terlihat mobil Aldef yang senantiasa mengekorinya dari belakang.


Kedua tangan Beby memegang setir mobil kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Kakinya menginjak pedal gas lebih kuat, seiring dengan emosi yang terus mendesak untuk diluapkan.


Kecewa, marah, kesal, sedih, semua itu membaur bagaikan angin ****** beliung yang membuat Beby kehilangan arah. Ingin rasanya Beby meluapkan segalanya, tapi ia tak ingin kembali gagal. Cukup Arka yang lepas karena masih terikat dengan cinta lamanya. Aldef jangan.


Ponsel Beby yang tergeletak di kursi penumpang sebelah kiri membuat Beby tersadar. Nama Miko yang tertulis di layar membuat Beby lantas mrngusap kasar jejak air mata di pipinya. Gadis itu berdeham beberapa kali, memastikan suaranya tak terdengar layaknya orang menangis.


"Lo di mana?" tanya Miko. "Kenapa belum pulang?"


"Di jalan." Sial! Suara gue ....

__ADS_1


"Ya udah. Buruan pulang. Gue tunggu."


"Hm."


Beby bernapas lega begitu telepon berakhir. Ia lega karena Miko tak mencurigai suaranya yang terdengar lirih dan menyedihkan.


Bola mata Beby kembali mengarah pada kaca spion. Lalu, kakinya menginjak semakin dalam pada pedal gas.


***


Aldef membanting tubuhnya ke kasur. Menyembunyikan sesuatu dari orang terdekat kita memang terasa sangat menyiksa. Tapi bagi Aldef, lebih baik seperti ini. Kalau perlu, ia akan menggunakan seluruh sisa hidupnya untuk menyembunyikan kenyataan dari Beby. Kenyataan bahwa Aldef masih menaruh rasa pada Celine. Kenyataan bahwa lelaki itu masih mencintai sang mantan.


Ponsel yang tadi Aldef lempar ke atas kasur berdering. Nama Celine terpampang di sana.


"Hallo?"


"Al, bisa ke sini nggak?"


"Ngapain?"


"Aku pengin bubur ayam, tapi nggak ada yang bisa masakin. Poppy juga nggak mau beli. Dia takut ninggalin aku sendiri katanya."


"Oke. Aku ke sana sekarang."


***


Beby menatap pintu di hadapannya lamat-lamat. Gadis itu butuh persiapan untuk menunjukkan diri di hadapan sang kakak. Setelah dirasa cukup, Beby menekan kenop pintu unit apartemennya.


Gadis itu dibuat heran dengan seluruh lampu yang padam.


"Kak?"


"Kak Miko?"


"Ini listriknya ada yang rus—"


"SURPRISEEE!!!"


Mulut Beby seketika terbuka melihat pemandangan di hadapannya. Lampu-lampu yang semula mati, menyala secara bersamaan. Tiap sudut dinding telah dipasang hiasan-hiasan dengan warna biru yang mendominasi. Ada Billy, Indra, Shinta, Miko, dan Maya yang tengah membawa kue tart tingkat dua bertuliskan 'HAPPY BIRTHDAY' warna biru langit, titik-titik kecil seperti bintang menghiasi kue tart itu, lengkap dengan lilin angka 22 di tengah-tengah.


Beby tetap bergeming saat orang-orang itu menghampirinya. Beda dari yang lain, Maya melangkah hingga tepat di depan Beby.


"Saengil chukkae, Beby sayang," ucap Maya sambil memasang senyuman lebar. "Semoga kamu bahagia selalu, ya. Sehat dan sukses. Mama sayang banget sama kamu."


Bola mata Beby bergilir dari Billy yang berdiri di paling kiri, hingga Miko di sisi paling kanan. Kedua sudut bibirnya otomatis tertarik saat melihat wajah-wajah di hadapannya memasang senyuman tulus. Dua detik berikutnya, air mata Beby tumpah. Dadanya terasa sesak akibat haru yang tak pernah ia duga.


"Eh ... kok, nangis, sih?" Billy menghampiri putrinya. Lengan kekar pria paruh baya itu membawa Beby ke dalam dekapannya. Alih-alih mereda, tangis Beby kian pecah. Suara isakannya sesekali terdengar.


"Tiup lilin dulu, dong. Keburu habis, tuh, lilinnya," ucap Shinta yang membuat Beby lantas terkekeh pelan.


Gadis itu melepas pelukan sang papa, lalu mendekati Maya yang masih setia dengan kue tart di tangannya.


"Make a wish dulu," kata Miko yang dijawab anggukan oleh Beby.

__ADS_1


Kedua mata Beby terpejam. Tangannya terangkat dengan telapak yang menengadah. Bibirnya mulai merapalkan permohonan pada Sang Kuasa. Setelah selesai, Beby kembali membuka mata. Netranya menatap orang-orang baik yang mengelilingi Beby. Mendapat anggukan dan senyum lebar dari semua orang, Beby lantas meniup lilin angka 22 di hadapannya dengan dua tiupan.


"Mama nggak percaya kamu udah dewasa, By," ucap Maya dengan kedua tangan yang masih memegang kue.


Beby tersenyum lebar. "Aku akan selalu jadi anak kecil buat Mama."


"Papa juga?" sahut Billy.


"Iya, dong," balas Beby sambil tertawa renyah.


Lalu, malam itu, menjadi malam penutup luka yang sempurna untuk Beby. Tawa dan binar matanya menyiratkan kebahagiaan. Tak ada sandiwara dan keterpaksaan dalam hatinya.


Karena keluarga, adalah pegangan terkuat di tengah gejolak rasa dalam jiwa.


***


Malam ini, Beby merasa dirinya akan tidur nyenyak dan mimpi indah. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama, akhirnya Beby bisa merasakan kembali hangatnya dekapan Maya saat ia akan terjun ke alam mimpi.


"By?"


"Hm?"


"Gwenchanna?"


Mata Beby yang semula terpejam lantas terbuka mendengar nada bicara Maya. Gadis yang tengah berbaring dengan posisi miring ke kanan itu mendongak, menatap tepat ke manik mata sang mama.


"Kreurom. Wae?" (Tentu. Kenapa?)


"Anni. Mama cuma nanya aja. Badan kamu kelihatan lebih kurus soalnya." (Bukan apa-apa).


"Oh, ya?"


Maya mengangguk. "Bahu kamu juga, beneran gara-gara jatuh?"


Beby memang mengatakan pada keluarganya bahwa luka di bahu kiri yang Beby dapatkan adalah karena jatuh dari tangga kampus.


"Iya, Ma. Waktu itu lantainya licin. Eh, aku malah lari-lari karena takut telat masuk kelas. Akhirnya, jatuh, deh."


"Terus, Aldef apa kabar?"


Binar kebahagiaan di mata Beby lantas redup mendengar satu nama itu keluar dari mulut Maya.


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


.

__ADS_1


__ADS_2