
Aldef dan Beby kompak berhenti melangkah begitu mereka sampai di depan pintu unit apartemen masing-masing. Membiarkan Miko masuk terlebih dahulu.
"Kalau butuh bantuan gue, telepon aja. Oke?" ucap Aldef seraya menatap khawatir ke arah Beby.
"BEBY! MASUK!"
Teriakan Miko dari dalam membuat Beby cepat-cepat memasuki unit apartemennya. Sebagai balasan, gadis itu menyatukan ibu jari dan jari telunjuk untuk membentuk simbol 'oke' ke arah Aldef.
Di dalam, Beby menemukan Miko yang tengah duduk dengan tampang serius di sofa ruang tengah. Ekspresi yang selalu Miko tunjukkan saat akan mengintrogasi seseorang, khususnya Beby.
"Duduk," pinta Miko seraya menepuk permukaan sofa di samping kanannya.
Sebelum duduk, Beby yang teringat akan ponselnya memilih untuk men-charge terlebih dahulu. Setelah selesai, baru Beby siap duduk di kursi panas.
"Kenapa tadi lo bisa sama Aldef?"
Beby membasahi bibir bawahnya yang entah sejak kapan mengering. Gadis itu memberanikan diri membalas tatapan Miko yang terasa mengintimidasi. "Tadi gue ketemu dia di FS."
"Kok, bisa?"
Beby mengedikkan bahu, pertanda bahwa ia pun tak tahu pasti tentang alasan mengapa Aldef ada di studio FS siang tadi. "Aldef, kan, temen dekatnya Fahri. Ada perlu sama Fahri, mungkin? Gue juga nggak tahu pasti."
"Terus, soal video lo yang viral itu?"
Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Beby. Jika sudah begini, ia harus menceritakan kronologinya secara runtut. Bisa salah paham kalau Beby cerita setengah-setengah.
"Bisa nggak, mukanya nggak usah serius-serius amat?" protes Beby.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Miko terbahak-bahak. Membuat Beby lantas mengernyit heran. "Jadi, dari tadi lo takut?" Miko masih tertawa puas. "Oke-oke. Gue biasa aja, nih. Buruan cerita."
"Haish. Jinjja!" (Sial!) kesal Beby.
Sebelum mengawali cerita, Beby berdeham. Membasahi kerongkongannya yang siap bekerjasama dengan mulut dan otak untuk menyuarakan cerita di balik video viral itu.
"Jadi, waktu itu posisinya lagi makan siang. Gue pamit sama semua orang ke toilet. Kata mbak Anggi, toilet yang terdekat ada di dekat kolam renang. Ya udah, gue ke sana. Tapi, pas keluar dari toilet, gue ketemu Fara."
"Fara?" sela Miko. "Fara sahabat lo waktu SMA?"
Beby mengangguk. "Ternyata, Fara itu saudara kembarnya Fahri. Dan project gue bareng Aldef waktu itu, harusnya punya dia."
"Terus? Lo tenggelam gara-gara Fara?"
Sekali lagi, Beby menghela napas berat. Kepalanya mengangguk singkat. Membuat Miko lantas memejamkan mata untuk menetralisir gejolak emosi yang tiba-tiba naik.
"Awalnya, gue sama Fara sempat debat," lanjut Beby. "Gue juga nggak punya niat untuk nanggapin dia. Tapi dia kayaknya dendam sama gue. Buktinya, dia masih ingat kelemahan gue."
"Oke, sekarang biar gue simpulin." Miko yang semula bersandar, kini menegakkan badan. Manik matanya menatap lurus ke mata cokelat Beby. "Lo tenggelam gara-gara Fara, dan Aldef nolongin lo dengan ngasih CPR."
Beby mengangguk, membenarkan kesimpulan Miko.
"Tapi, kenapa harus Aldef?" tanya Miko lagi. "Bukannya di sana banyak kru perempuan? Anggi misalnya?"
"Gue juga nggak tahu," jawab Beby. "Tapi coba lo bayangin, deh, Kak. Kalau Aldef nggak cepat-cepat nolong gue waktu itu, mungkin kondisi gue jauh lebih parah."
Miko manggut-manggut, mengerti akan maksud ucapan adiknya. "Lo benar." Jeda sejenak. "Terus, soal lo yang tiba-tiba ke-triger kemarin? Kenapa?"
Lagi dan lagi, Beby menghela napas berat. Dari semua kejadian buruk yang menimpanya, menurut Beby, ini yang paling parah. "Karena gue ketemu Zidan."
"ZIDAN?!" Kali ini, reaksi Miko di luar batas. Pria itu sampai harus berdiri sebab terlampau kaget. "Bukannya ... bukannya dia dipenjara?"
__ADS_1
***
Setelah menguras tenaga dan pikiran akibat perbincangan dengan Miko, Beby bergegas memasuki kamar dan membersihkan diri. Usai mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama motif lorek-lorek warna biru-putih, baru Beby bisa bersantai.
Dengan handuk yang melingkar di leher belakang untuk menghalau air menetes dari rambutnya, Beby menyalakan benda pipih di atas nakas.
Ada begitu banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Dan pemenang dari nominasi itu adalah Anggi. Beby pun berinisiatif untuk menelepon Anggi saat itu juga.
"Astaganagaaaa!!! Lo bener-bener, ya! Dari tadi ditelepon nggak bisa-bisa! Lo ke mana aja, sih?! Mati suri?!"
Beby menjauhkan layar ponsel dari daun telinga, bermaksud untuk membatasi suara Anggi yang dapat merusak indra pendengarannya. "Hehehe. Iya, sorry, Mbak. Tadi HP gue lowbatt. Ini baru di rumah dan gue charge. Ada apa?"
"Barang-barang endors lo buat jatah hari ini dan besok ada di butik gue. Lo ada jadwal kuliah, 'kan, besok?"
"Iya. Jam sembilan pagi."
"Bagus. Sebelum ke kampus, lo mampir deh ke butik gue. Kan, searah, tuh."
"Emang kurir lo yang biasa antar ke apartemen gue ke mana, Mbak?"
"Lo lupa? Kurir gue biasa mulai beredar itu siang. Sementara lo harus mulai up endors yang harusnya upload hari ini."
Kening Beby berkerut heran. "Perasaan gue udah upload di story Instagram buat endors hari ini."
"Itu cuma endors makanan aja. Gue tahu lo lagi stres, mangkanya buat barang yang bisa ditunda, gue taruh sini dulu."
Barang endorsment memang biasa dikirim ke butik milik Anggi. Kemudian, ada kurir di sana yang akan mengantar ke apartemen Beby saat gadis itu sudah ada di rumah. Tapi berhubung Anggi tak berhasil menghubungi gadis itu seharian ini, Anggi memutuskan untuk menahan barang endorsment di sana.
"Pantes endors hari ini perasaan dikit banget," gumam Beby. "Ya udah, deh. Oke, Mbak. Besok pagi gue ke butik buat ambil barang, ya."
"Good. Jangan sampai lupa! Gue gorok lo entar!"
Beby terbahak. "Galak amat, sih, Mbak Manager."
"Bodo amat!"
Beby terkekeh sembari geleng-geleng kepala, takjub dengan kelakuan manager-nya yang sering bar-bar itu. Pantas saja Anggi setia menyadang status singel meski memiliki karir yang cemerlang.
Beralih dari Anggi, Beby membuka pesan masuk dari Aldef.
Aldefra Mahardika:
Kalau udah selesai ngobrol sama Kak Miko, telepon gue, ya.
Kedua sudut bibir Beby menukik ke atas. Membentuk seulas senyum berjuta makna. Gadis itu lantas menekan simbol telepon yang akan menghubungkan dirinya dengan Aldef.
Pada nada sambung pertama, panggilan Beby terjawab. Seolah memang Aldef sudah menunggunya sejak tadi.
"Hai, By," sapa Aldef yang membuat senyuman Beby semakin lebar.
"Hai, Al."
"Gimana? Lo udah jelasin semua sama Kak Miko?"
"Udah."
"Terus? Responnya gimana? Dia marah, ya, sama gue?"
"Awalnya, sih, iya. Tapi gue udah jelasin, kok. Niat lo, kan, baik."
Aldef tertawa renyah di seberang sana. "Bagus, deh, kalau gitu."
"Al."
"Hm?"
__ADS_1
"Makasih, ya."
"Untuk?"
"Untuk jadi orang yang nolongin gue. Dan selalu ada di saat gue butuh."
"Anytime, Sky."
"Sky?"
"Boleh, 'kan, gue panggil lo dengan nama itu?"
Beby berpikir sejenak. "Ya ... boleh, sih. Tapi, kenapa 'Sky'?"
"Terus apaan? Lo mau dipanggil Amanda?"
Deg!
Jantung Beby seolah berhenti berdetak saat mendengar nama itu merasuki gendang telinganya. "Ng-nggak."
"Ya udah. Biar beda, gue panggil lo 'Sky', gimana?"
"Okay!" seru Beby seraya tersenyum lebar.
***
Keesokan harinya, pukul 10.00 tepat, Celine berhadapan dengan Fara di kafe yang letaknya berada tepat di seberang studio FS.
"Jadi, apa keputusan lo?" tanya Fara, to the point.
"Gue terima tawaran lo," balas Celine yakin.
Fara tersenyum puas. "Bagus."
"Seperti kata lo kemarin, gue boleh minta gaji berapa pun yang gue mau, 'kan?"
"Of course! Sebutin aja."
"Tiga puluh juta. Per minggu"
"Uhuk! Uhuk!" Cappucino yang tengah Fara minum, sukses membuatnya tersedak. "Lo gila, ya?!"
Satu alis Celine terangkat. "Katanya, 'berapa pun'."
"Iya. Tapi nggak segitu juga! Tiga puluh juta, berarti seratus dua puluh juta tiap bulan. Morotin gue itu lo namanya! Gaji model di FS aja nggak ada setengahnya itu!"
"Kalau lo nggak mau, ya udah."
Fara menghela napas berat. "Tiga puluh juta per bulan."
"Lima puluh juta per-bulan. Untuk gaji bulan ini, transfer sekarang." Celine mengulurkan jabatan tangan. "Deal?"
Ibarat diberi hati, malah minta jantung. Kalimat itulah yang menggambarkan sosok Celine di mata Fara saat ini. Tapi, Celine adalah satu-satunya cara agar Fara lebih mudah membuat Beby menderita.
"Deal!" Fara membalas jabatan tangan Celine.
Kesepakatan ini, membuat Celine tersenyum puas. Gadis itu menyeruput coffe latte miliknya sebelum bertanya, "Jadi, apa aja yang harus gue lakukan?"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️