ALDEBY

ALDEBY
|81.| Kamu Jahat, Ar


__ADS_3

"Pulang kerja itu bersih-bersih dulu. Mandi. Terus, langsung tidur. Bukan malah ngelamun di sini."


Putri menoleh ke arah sang ibu yang baru saja menegurnya. "Mama, kok, belum tidur?"


"Kamu baru pulang?" Fitri mengambil posisi duduk di samping kanan Putri. Mereka tengah berada di sofa ruang tengah.


Putri mengangguk singkat.


"Kenapa? Lesu gitu mukanya."


Mendapat pertanyaan seperti itu, Putri terkekeh. "Capek aja, Ma."


"Biasanya, kamu kalau capek langsung tidur, tuh. Bukan ngelamun di sini."


Gadis dalam balutan pakaian serba putih itu membenarkan posisi duduk. Ia menghadap tepat ke arah Fitri. Bola matanya memancarkan sarat keseriusan.


"Ma, aku mau tanya, dong."


"Apa?"


"Kalau misalnya mama punya pacar, tapi ternyata pacar mama masih cinta sama mantannya. Mama bakal ngapain?"


"Hhhmmm ...." Fitri berpikir sejenak. "Mama akan minta break, mungkin?"


"Kenapa?"


"Karena, nggak ada yang tahu pasti tentang hati manusia. Termasuk pemilik hati itu sendiri. Jadi, kita butuh waktu, butuh ruang untuk tahu apa yang hati kita mau. Kalau udah mantap, baru kita bisa ambil keputusan untuk lanjut atau stop."


"Gitu, ya?" Putri manggut-manggut. Mengerti maksud penjelasan sang ibu. "Satu pertanyaan lagi, Ma."


"Apa?"


"Ceritanya, Mama punya mantan. Dulu, putus gara-gara Mama ngira mantan Mama ini selingkuh. Tapi ternyata, itu semua salah. Mantan Mama sengaja bikin citranya buruk di mata Mama karena ada sesuatu yang harus dia sembunyikan."


"Apa yang disembunyikan?"


"Penyakit. Penyakit yang bikin mantan Mama bisa meninggal kapan aja."


"Emang, yang bisa bikin orang meninggal kapan aja cuma penyakit?"


"Aku tahu maksud Mama. Tapi, bukan itu yang lagi aku bahas."


Fitri terkekeh. "Oke-oke. Pertama, Mama pasti bakal nyesel banget. Karena udah kehilangan orang yang rela berkorban untuk Mama. Kedua, Mama pasti langsung minta balikan saat tahu semua itu."


"Langsung? Meskipun mantan Mama lagi sakit parah?"


"Iya. Mama pengin nebus semua waktu yang lewat. Pun dengan kesalahpahaman yang ada. Mama pengin selalu ada buat dia. Ngerawat dia. Tapi ...."


"Tapi?"


"Tapi, beda cerita kalau saat Mama tahu fakta itu, ada orang lain yang berhasil mengambil alih sepenuhnya cinta Mama."


Putri diam sejenak. Berusaha menyerap segala kemungkinan yang ada.


"Mama penasaran, deh, Put. Itu tadi bukan cerita kamu, 'kan?"


***


"Maaf, ya. Jadi ngerepotin kamu."


Aldef tersenyum simpul. "Nggak apa-apa. Daripada kamu pulang sendirian. Bahaya."


"Nggak mau mampir dulu?"


Lelaki itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Nggak, deh. Udah malam."


"Besok kamu ke FS, 'kan?"


"Iya. Habis dari kampus, aku langsung ke FS. Kenapa?"


"Nggak. Nanya aja."


"Ya udah. Masuk sana."


"Makasih, ya. Udah nganterin aku."

__ADS_1


Kedua sudut bibir Aldef menukik ke atas. "Sama-sama."


Celine turun dari mobil, lalu melambaikan tangan sejenak ke arah Aldef. Usai memastikan Celine masuk ke rumahnya dengan selamat, Aldef kembali memacu mobilnya.


Di tengah gemerlap lampu kota malam itu, memori Aldef kembali terlempar pada kejadian beberapa jam lalu. Saat Arka meminta bertemu dengannya.


"Gue nggak akan marah sama lo karena udah bikin Beby nangis. Tapi tolong, lepas dia kalau emang lo nggak cinta. Kalau nggak bisa bikin dia bahagia, setidaknya jangan nyakitin."


Kalau nggak bisa bikin dia bahagia, setidaknya jangan nyakitin.


Kata-kata itu terngiang di otak Aldef. Seketika, ia merasa menjadi manusia dengan hati membeku. Bahkan, di saat Aldef menyadari segala kekhilafannya, alam bawah sadar lelaki itu tetap enggan berhenti. Terbukti dengan dirinya yang langsung meluncur begitu Celine meminta jemputan.


'Cittt!!!'


Kaki Aldef refleks menginjak pedal rem kuat-kuat saat melihat seseorang di depan mobilnya. Sosok lelaki tuna netra berumur sekitar 40 tahunan. Tadinya, Aldef tak berniat turun. Namun, melihat pria di depan sana berhenti melangkah, Aldef memutuskan untuk menghampirinya.


"Bapak malam-malam gini mau ke mana?" tanya Aldef sesaat setelah berdiri di hadapan pria itu.


"Mau pulang, Mas. Istri saya lagi ngidam mangga muda. Jadi, saya beliin."


Kalimat itu seolah tamparan tak kasat mata untuk Aldef. Semesta seolah menunjukkan betapa bodohnya dia. Lihatlah pria ini, fisiknya tidak sempurna, namun kesetiaan dan pengorbanan untuk sang istri sungguh besar.


"Kalau gitu, saya pamit, ya, Mas. Maaf tadi nyabrang nggak kira-kira. Istri saya keburu tidur soalnya."


"Rumah bapak di mana? Mau saya antar?"


"Nggak usah, Mas. Makasih. Udah dekat, kok."


"Ya udah kalau gitu, Pak. Hati-hati, ya."


Sepeninggalan pria tuna netra itu, Aldef kembali menuju mobilnya dengan langkah gontai. Jujur, Aldef ingin sekali memperjelas perasannya sendiri.


Adakah yang bisa memberi saran untuk Aldef bagaimana caranya?


***


Beby terbangun karena mendengar suara ponsel yang berulang kali menguar di seluruh penjuru kamarnya. Gadis itu meraba ke sekitar dengan mata terpejam. Kedua mata Beby terasa seperti ditimpa batu gunung. Berat sekali.


Satu mata Beby terbuka. Gadis itu menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra pengelihatan. Waktu menunjukkan pukul 05.37. Ada 10 panggilan tak terjawab dan 25 pesan masuk.


Gadis itu menghela napas sejenak. Berusaha mengumpulkan kesadaran. Setelah itu, Beby merubah posisi menjadi duduk. Gadis berambut panjang itu membuka aplikasi WhatsApp, lalu menekan room chat teratas.


Tante Chika:


Beby, maaf kalau Tante ganggu waktu kamu. Tapi, Tante rasa kamu berhak tahu.


Tante Chika:


Maafin semua kesalahan Arka, ya.


Tante Chika:


Arka ... udah nggak sakit lagi.


Deg!


Detik itu juga, Beby mengambil kunci mobil lalu melesat keluar.


"By, sarapan ..." Miko yang tengah mengoles selai strawberry di atas roti menatap heran ke arah adiknya. "... dulu. Kenapa lagi, dah, tuh, bocah?"


Penasaran, Miko pun mengekori Beby.


"Good morning, Sky."


Kali ini, Aldef yang diabaikan oleh Beby. Gadis itu seolah tak melihat keberadaan dua makhluk yang menatap heran ke arahnya.


"Beby kenapa, Kak?" tanya Aldef dengan tatapan yang mengarah tepat pada sang pacar. Dari tempat Aldef berdiri, Beby tampak menekan-nekan tombol lift dengan cepat.


Miko menatap Aldef heran. "Mana gue tahu. Lo, kan, pacarnya."


Melihat Beby sudah memasuki lift, Aldef menoleh ke arah Miko. "Kak Miko, kan, kakaknya."


Miko memutar kedua bola mata malas. Lelaki itu kembali masuk ke apartemen berplakat 255, tak berniat melanjutkan obrolan dengan Aldef.


Sementara itu, Aldef yang awalnya berniat mengajak sang pacar olahraga bersama pagi ini, memutuskan untuk mengekori Beby. Namun, suara dering ponsel yang terselip di saku celana training Aldef mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Ya, Cel?"


***


Tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Beby, bahwa ia harus kembali ke ruang jenazah ini. Gadis itu menatap datar pada Chika dan Putri yang tengah nangis sesenggukan di koridor. Segala yang bertubi-tubi seakan menyedot habis sisa tenaga Beby. Bahkan, untuk sekadar berekspresi saja ia tak sanggup.


Beby melangkah gontai memasuki ruang jenazah. Wajah cantiknya masih tak menunjukkan ekspresi apapun. Namun, setetes cairan bening yang bersumber dari indra pengelihatan Beby menetes begitu saja, bersamaan dengan jemarinya yang menyibakkan kain putih penutup wajah Arka.


Manik mata Beby mengamati dengan seksama tiap inci bagian wajah Arka. Alis, hidung, bulu mata, pipi, mulut. Rasanya, baru kemarin Beby melihat semua itu bergerak.


"Ar, aku boleh marah nggak, sih? Aku boleh egois nggak? Kenapa aku harus tahu kalau ternyata kamu nggak selingkuh? Kenapa aku akhirnya harus tahu kalau semua yang kamu lakuin itu demi aku? Kenapa juga, aku harus tahu soal penyakit kamu?"


"Kenapa kamu nggak ngilang terus mati diem-diem? Hah? Kenapa aku harus lihat semuanya?"


"Kamu sengaja, Ar? Kamu sengaja, 'kan, bikin aku ngerasa bersalah?"


Tatapan Beby beralih sejenak pada hoodie biru langit yang membalut tubuhnya. "Kamu tahu apa yang paling bikin aku kesel? Kenapa kamu nggak nunggu? Harusnya, tunggu aku nyamperin kamu pakai hoodie ini."


Suara isak tangis memilukan mulai menguar dari mulut Beby. Gadis itu merengkuh raga Arka yang tanpa nyawa. Tangannya mengepal, memukul-mukul pelan bagian dada Arka.


"Kamu jahat, Ar ... Kamu jahat ...."


Di sela-sela pecahan tangis Beby, sebuah tangan menyentuh bahu kanan Beby. Gadis itu lantas menegakkan badan, lalu menoleh ke belakang dan mendapati sosok Chika serta Putri.


"Ikhlaskan Arka, ya, By," ucap Chika. Wanita peruh baya itu mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna silver. "Ada titipan dari Arka. Sebenernya, dia pengin ngasih langsung ke kamu, tapi nggak sempat."


Setelah Beby mengambil alih kotak kecil itu, Chika menoleh ke arah Putri. Kali ini, Chika mengulurkan sebuah kotak warna merah. "Buat kamu."


"Buat Putri, Tante?"


Chika mengangguk. "Iya. Titipan dari Arka."


Manik mata Putri mengarah pada sosok Arka. "Wahhh!!! Lo bener-bener, ya. Kalau gini jadinya, Beby bisa ngira kita beneran selingkuh, oneng!"


***


Dear, Beby


Aku cuma bisa ngasih ini buat kamu. Anggap aja, sebagai kenang-kenangan.


Di dalam botol itu, ada kertas kecil-kecil yang udah aku tulis kata-kata motivasi. Bukan kata-kataku semua pastinya. Aku nggak sejago itu : D.


Oh, iya. Maaf, karena nggak bisa ngasih langsung ke kamu. Maaf, karena kamu harus tahu tentang penyakit aku. Padahal, aku berharap kamu nggak pernah tahu.


Aku juga mau bilang makasih. Karena kamu, udah pernah cinta sama aku.


Ingat janji kamu, ya, By. Kamu harus bahagia. Dengan siapapun itu takdir kamu nanti.


-Arka


Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Beby. Gadis itu sengaja membuka isi kotak silver pemberian Arka tepat di depan makam lelaki itu.


Tangan Beby bergerak menyentuh batu nisan yang bertuliskan nama sang mantan. Meski tak dapat menampik kesedihan dalam jiwanya, Beby tak menangis. Ia sudah benar-benar ikhlas untuk kepergian Arka.


"Aku pulang dulu, ya, Ar. Tunggu aku di sana." Beby terkekeh pelan. "Entah itu satu tahun lagi, dua tahun lagi, atau mungkin lusa? Pokoknya, tunggu aja."


Beby beranjak dari posisinya. Tepat saat Beby membalikkan badan, netranya bersitatap dengan Aldef. Gadis itu tertawa getir saat melihat seseorang yang berdiri di belakang sang pacar.


"Maaf, Sky. Tadi gue ... habis—"


"Al." Beby memotong kata-kata Aldef dengan sengaja. "Setelah gue pikir-pikir, mungkin lebih baik kita break."


"Ma-maksudnya?"


"Lo tahu kenapa gue bertahan? Karena gue mau jalani semua ini sampai batas maksimal kesabaran gue. Gue mau rasa lelah gue bener-bener habis. Karena dengan begitu, gue nggak akan punya keinginan untuk balik karena tahu gimana capeknya."


"Tapi, By—"


"Tolong, Al. Gue capek. Kasih gue waktu untuk istirahat."


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2