
"Ini aku."
'Tut!'
Sambungan telepon terputus setelah dua kalimat itu. Aldef mencoba memanggil kembali, namun tak ada yang menjawab.
Sekarang, apa yang harus Aldef lakukan?
***
Hari—Minggu—ketiga Beby di rumah sakit. Selalu ada hikmah di balik musibah. Mungkin, itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Beby saat ini. Selama di rumah sakit, ia jadi memiliki banyak waktu istirahat dan santai bersama keluarga.
Kata dokter, sore ini Beby dibolehkan pulang jika kondisinya stabil. Maka dari itu, Billy dan Maya pamit pulang hari ini. Indra beserta istrinya sudah pulang terlebih dahulu kemarin sore.
"Kamu beneran nggak apa-apa mama tinggal?" tanya Maya sembari menatap putrinya dengan cemas.
Beby tersenyum lebar. "Nggak apa-apa, Ma. Kan, ada Kak Miko yang siap jadi supir Beby selama dua puluh empat jam."
"Mulutnya," sahut Miko ketus, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
"Maaf, ya, By. Mama sama papa nggak bisa nemenin kamu lebih lama. Papa harus kerja soalnya," ujar Maya tulus.
Gadis itu kembali tersenyum lebar. Kedua tangannya memeluk erat tubuh sang ibu. "It's okay, Ma. Beby ngerti, kok. Beby janji, liburan semester kali ini, Beby bakal pulang ke Surabaya."
"Jinjja?" Maya melepas pelukannya. Bola matanya menatap Beby dengan cemerlang.
"Iya, dong," jawab Beby sambil tersenyum lebar.
"Owhhh ... My Beby ...."
"Ekhem!" Billy berdeham, membuat pandangan Maya dan Beby mengarah padanya. "Bisa gantian, Ma?"
"Oh, iya." Maya tersenyum nyengir. Ia bergegas menyingkir dari samping Beby. Memberi kesempatan pada sang suami untuk memeluk Beby.
"I love you, By," ujar Billy di sela-sela aksi pelukan mereka. "Kamu akan selalu jadi 'Beby' buat Papa. Cepet sembuh, ya, Sayang."
Billy memang tipe orang yang bicara seperlunya. Tapi sekali ia bersuara, kata-katanya mampu membuat sang lawan bicara terenyuh—atau sebaliknya—sebab Billy selalu melontarkan sebuah kata dari hati.
"Nado saranghae, Appa." (Aku juga sayang ayah). Gadis itu memeluk sang ayah semakin erat. Bola matanya yang entah sejak kapan terasa panas, tak kuasa menahan gumpalan air mata di sana.
"Lho, kok, nangis?" tanya Billy sesaat setelah ia melepas pelukannya.
Beby hanya menggeleng cepat sambil meringkuk kembali dalam dekapan sang ayah.
"Cengeng banget, sih," ejek Miko tiba-tiba. Membuat Beby lantas melepas pelukannya, lalu mengoleskan cairan bening yang mengalir dari hidungnya pada lengan Miko. "Beby! Jorok, ih!"
"Bodo!" balas Beby seraya menjulurkan lidah.
"Kalau ada apa-apa, langsung kabari Mama, ya?" ujar Maya. "Sering-sering telepon Mama. Makan tepat waktu. Shalat tepat waktu. Jaga kesehatan. Istirahat yang cukup. Arraseo?" (Mengerti?).
Beby tersenyum lebar. "Arraseo, Eomma." (iya, Ma).
Lalu, Miko dan Beby mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Assalamualaikum," ucap Billy dan Maya secara bersamaan.
"Waalaikumsalam." Beby dan Miko pun menjawab secara bersamaan pula.
Tak lama setelah kepergian Billy dan Maya, telepon Miko berdering. Pria itu menatap Beby usai melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. "Gue angkat telepon dulu."
Kedua mata Beby memicing. "Dari siapa? Gebetan, ya?" goda Beby.
"Ngaco!" balas Miko sambil beranjak keluar dari ruang rawat sang adik.
"Dari pacar, ya?!" seru Beby sebelum Miko benar-benar menghilang di balik tembok. Gadis itu terkekeh geli melihat reaksi kakaknya tadi.
'Tok tok tok!'
Baru saja Beby akan meraih ponselnya dan melanjutkan drama korea yang sejak kemarin ia tonton, ketukan pintu yang tak tertutup mengurungkan niatnya.
"Assalamualaikum."
Beby terpaku sejenak melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. "Waalaikumsalam."
"Boleh masuk?"
Masih dengan tatapan terkejut, Beby mengangguk pelan. Sosok pria bertubuh jangkung dalam balutan hoodie hijau lumut memasuki ruang rawat Beby. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk seulas senyum menawan yang memaksa Beby turut tersenyum.
__ADS_1
"Gue denger, hari ini lo boleh pulang, ya?"
Yang ditanya hanya mengangguk.
"Berarti, lo udah sembuh, dong?"
Lagi-lagi Beby mengangguk.
Aldef tersenyum lebar. "Sendirian aja? Nyokap-bokap lo ke mana? Kak Miko?"
"Papa-mama udah pulang." Akhirnya, Beby bisa bicara lancar. "Kak Miko lagi terima telepon."
"Mau jalan-jalan nggak? Lo pasti bosan, kan, di sini?"
"Ke mana?"
"Taman?"
Melihat gerak-gerik Aldef yang tak mencurigakan, Beby mengangguk setelah berpikir sejenak. Mendapat anggukan dari Beby, Aldef bergegas mengambil kursi roda di sudut ruangan.
"Ngapain pakai kursi roda?" tanya Beby dengan kening berkerut.
"Biar lo nggak capek. Ayo naik!"
"Nggak perlu kali, Al."
Aldef menatap Beby lamat-lamat. "Nurut aja bisa nggak?"
Beby menghela napas sejenak. "Iya-iya."
Usai memastikan Beby duduk dengan benar, Aldef membawa gadis itu keluar ruangan. Sampai di persimpangan koridor, Beby merasa heran sebab tak mendapati sosok Miko di mana pun. Siapa seseorang yang Miko telepon hingga ia harus pergi jauh?
Ah! Masa bodoh dengan Miko. Mungkin memang benar, kakaknya itu tengah dilanda asmara. Beby senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana seorang Miko Algahfa saat bucin.
Satu lagi yang membuat Beby heran: ia tak mendengar suara Aldef sama sekali sejak keluar dari ruangan.
"Al?"
"Kenapa, hm?"
Beby rasanya ingin pingsan mendengar suara Aldef yang rendah dan dalam itu. Benar-benar membuat mabuk kepayang.
Beby berdeham sejenak sebelum menjawab. "Soal kakak lo ...."
"Udah, Sky," sahut Aldef sebelum Beby menyelesaikan kalimatnya. "Gue nggak mau bahas itu."
Gadis berambut panjang itu jadi semakin heran. Rasanya, seperti ada sesuatu yang Aldef ketahui, tapi Beby tidak. Entah apa itu.
Sampai di taman rumah sakit, Aldef berhenti mendorong kursi Beby tepat di depan sebuah kursi berbahan besi. Aldef memposisikan diri duduk di sana, sementara Beby tepat di hadapan Aldef.
"Al, gue boleh nanya sesuatu?"
"Kalau soal Putri, nggak boleh."
Beby terkekeh pelan. "Bukan. Bukan soal kakak lo."
Satu alis Aldef terangkat. "Tanya apa?"
"Kenapa kemarin lo nggak ke sini? Sibuk, ya?"
Jujur, seperti ada air gunung yang mengaliri batin Aldef saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Beby. Pria itu memicingkan mata, menatap gadis itu hadapannya penuh selidik. "Lo kangen, ya, sama gue?"
"Ck!" Beby berdecak kesal. "GR lu!"
Aldef tertawa kecil. "Iya. Gue sibuk. Sorry kemarin gue nggak datang."
Sebenarnya, bukan itu jawaban dari pertanyaan Beby. Nyatanya, kemarin Aldef tak ada kegiatan selain kuliah. Selesai kuliah pun ia langsung kembali ke apartemen, tak menghampiri Fahri ke studio FS seperti biasa. Kemarin, Aldef menggunakan 90% waktunya untuk memikirkan sebuah keputusan yang akan ia laksanakan hari ini.
"Sky, gue punya sesuatu buat lo."
"Apa?"
Aldef mengambil sesuatu dari dalam tas ransel cokelat tua yang sejak tadi melekat di punggungnya. Sebuah kotak berwarna biru langit, dengan hiasan awan-awan putih pada tutup kotaknya. Aldef mengulurkan kotak itu pada Beby.
"Apa, nih?" tanya Beby sembari mengamati kotak di tangannya dengan tatapan penasaran.
"Buka aja."
__ADS_1
Satu alis Beby naik, tangannya siap membuka kotak pemberian dari Aldef. Namun, Beby mengurungkan niatnya tepat saat kotak itu sudah sedikit terbuka.
"Tunggu, deh," kata Beby.
"Kenapa lagi?"
"Lo ngasih gue kado dalam rangka apa? Ini bukan hari ulang tahun gue."
Aldef tertawa ringan. "Emang kalau mau ngasih gift ke orang yang gue sayang harus di hari ulang tahunnya doang?"
Deg!
Rentetan kalimat yang keluar dari mulut Aldef itu sukses membuat jatung Beby berdetak kencang: 'orang yang gue sayang'. Ah! Ingin sekali Beby menampik sebuah kenyataan bahwa rasa sayang yang Aldef maksud adalah dalam konteks persahabatan.
"Sky?"
"H-hah?"
"Kenapa bengong? Buka, dong," ujar Aldef sambil melirik sejenak kotak di pangkuan Beby.
Beby mengangguk singkat. Sebuah hoodie merah marun dengan simbol finger love di dada kiri menyambut indra pengelihatan Beby begitu kotaknya terbuka. Gadis itu mendongak, menatap Aldef yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Suka?" tanya Aldef.
"Suka," jawab Beby sembari tersenyum manis. "Makasih."
"Sama-sama." Aldef mengucap kata itu sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala Beby.
Sial! umpat Beby dalam hati. Pasalnya, gerakan kecil dari tangan Aldef itu memberi efek besar pada debaran jantungnya.
"Gue punya satu lagi buat lo." Pria itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak warna hitam dengan pita biru dongker yang ukurannya jauh lebih kecil dari kotak pertama.
"Apa lagi ini, Al?" tanya Beby sambil mengambil alih kotak kecil yang Aldef ulurkan.
"Buka."
Beby menghela napas sejenak. Gadis itu sungguh tak dapat menembus apa yang ada di hati dan pikiran Aldef. Pria itu benar-benar misterius.
Jika ada di posisi Beby, apa yang akan kalian lakukan, wahai para kaum hawa?
"Al ...." Refleks, Beby membekap mulutnya sendiri begitu melihat isi kotak hitam kecil pemberian Aldef. Bagaimana tidak? Sebuah kalung emas berbandul bintang dengan sentuhan permata warna biru muda yang tampak sangat memukau.
Aldef yang sejak tadi mengamati ekpresi Beby terkekeh pelan. Pria yang semula bersandar di punggung kursi itu kini mencondongkan badan. Jari telunjuknya dengan lembut mengangkat dagu Beby. Membuat mereka saling bersitatap.
"Al ... ini ...." Speechless. Itulah kata yang tepat untuk mendefinisikan bagaimana Beby saat ini.
"Sky." Masih dengan posisi yang sama, Aldef menyebut nama itu dengan nada serius. Sungguh. Detak jantung Beby semakin tak terkondisikan.
Mampus! Bisa pingsan beneran gue kalau Aldef terus-terusan kayak gini!
"Sky."
Sepertinya, Aldef ingin Beby bersuara.
"Ya?" Hanya kata itu yang mampus meluncur dari mulut Beby dengan lancar.
Bola mata Aldef menyelami mata coklat Beby semakin dalam. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling tatap. Mengutarakan kata-kata dari hati yang tak lolos dari indra pengecap.
"Beby Skyla Amanda, mau nggak jadi pacar gue?"
*
*
*
AKHIRNYA ... 😌
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1