ALDEBY

ALDEBY
|72.| Harapan


__ADS_3

Keesokan harinya, Beby mengurung diri di kamar hingga waktu menunjukkan pukul 11.35. Pintu kamar yang tak pernah terkunci, kini berbeda. Gadis itu bahkan meninggalkan ponselnya di ruang tengah.


Akhirnya, Miko menyerah dengan ponsel Beby yang tak henti-hentinya bersuara. Lelaki itu membalas pesan mulai dari Anggi, Fahri, dan Daren sebagai teman sefakultas Beby. Miko mengatakan pada mereka bahwa adiknya sedang sakit dan butuh istirahat. Khusus untuk Kiran dan Lola, Miko meminta dua gadis itu untuk menghampiri Beby. Karena di saat seperti ini, Beby butuh banyak dukungan dari orang-orang terdekatnya.


Setelah itu, barulah ponsel Beby tenang. Dan Miko bisa sedikit bernapas lega. Namun, ada satu hal yang terasa janggal. Dari sekian banyak pesan dan misscall, tak ada satu pun nama Aldef di sana. Mungkin, Aldef dan Beby sedang bertengkar. Atas dasar anggapan itu, Miko memutuskan untuk tidak menghubungi Aldef.


Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Miko. Lelaki itu terjaga semalaman untuk mencari informasi tentang kedua orang tuanya. Miko juga terus berkomunikasi dengan Indra via pesan. Selain berdoa dan menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk, tak ada yang bisa Miko lakukan.


Permintaan Billy pada Miko untuk menjaga Beby, rupanya adalah permintaan terakhir sang ayah. Tanpa sadar, setetes air mata meluncur ke permukaan pipi Miko. Tuhan memang pengatur skenario terhebat, dalam sekejap keadaan berubah. Rasanya, baru kemarin mereka sekeluarga berkumpul.


Tatapan Miko beralih pada pintu kamar Beby. Rasanya, sudah cukup laki-laki itu memberi waktu sendiri untuk sang adik. Miko beranjak dari posisi duduknya. Meski terasa berat, Miko menyeret langkah kakinya.


"By ...." Miko mengetuk pintu kamar Beby. "Makan dulu, yuk. Gue udah bikinin nasi goreng kesukaan lo, nih. Udah siang, By. Nanti lo sakit kalau nggak makan."


Hening. Tak ada sahutan apapun dari dalam. Lagi-lagi, Miko menghela napas berat.


"Lo percaya gue, kan, By? Semua yang terjadi itu udah diatur. Nggak ada gunanya lo ngurung diri di kamar. Jangan bikin mama sama papa sedih, By."


"Lo ingat, 'kan, semalam? Nggak ada nama mama ataupun papa di daftar korban tewas yang ditemukan. Itu artinya, ada kemungkinan kalau mama sama papa selamat. Mereka pasti marahin gue kalau tahu lo sakit karena nggak makan. Mereka pasti nyalahin gue karena nggak becus jagain lo."


"Lo tega, By? Lo tega kalau—"


Pintu kamar Beby terbuka. Menampilkan wajah dalam balutan rasa cemas. Ekspresi datar yang Beby tunjukkan, tak dapat menyamarkan kekalutan dari indra pengelihatan Miko.


"Lo nggak bohong, 'kan, Kak?"


Suara serak Beby terasa seperti pisau tumpul yang menyayat pelan hati Miko. Ia turut merasakan sakit yang Beby rasakan. Adiknya itu pasti menangis semalaman.


Beby mendekap kedua bahu Miko. Manik matanya menatap lurus ke netra sang kakak. "Mama sama papa pasti selamat, 'kan? Mereka nggak mungkin ninggalin kita, 'kan? Mereka pasti baik-baik aja, 'kan? Iya, 'kan, Kak?"


Miko tak dapat lagi membendung rasa sesak yang menghimpit saluran pernapasannya. Melihat air mata Beby yang berlinang, membuat hal yang sama terjadi pada Miko.


Lelaki itu menarik sang adik ke dalam dekapannya. Berharap dengan cara seperti ini, Beby dapat merasakan bahwa Miko benar ada untuknya.


"Kak, jawab gue, dong. Yang lo bilang tadi bener, 'kan? Mama sama papa pasti selamat, 'kan, Kak?"


Miko menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Ia melepas pelukannya, lalu menatap Beby dengan seulas senyum menjanjikan. "Kita makan dulu, ya. Lo pasti laper, 'kan?"


Beby mengusap jejak air mata di pipinya. Ia mengangguk kecil sembari tersenyum ke arah Miko. "Iya. Habis makan, kita ke bandara, ya? Kita cari informasi lagi. Siapa tahu, mama sama papa udah nunggu jemputan."


Tak ada yang bisa Miko lakukan selain mengangguk. Kini, ia hanya bisa berharap atas keselamatan orang tuanya. Meski tipis, setidaknya Miko memiliki harapan itu.


***


Dari informasi yang Daren dapatkan dari Kiran, pesawat yang membawa kedua orang tua Beby dinyatakan hilang semalam. Kiran mendapatkan informasi itu dari Miko. Mengingat kemarin, Beby sempat cerita pada Kiran tentang tujuan keberangkatan orang tuanya ke Singapura.


Maka dari itu, sore hari usai kelas, Daren dan Kiran bersama-sama menuju apartemen Beby. Di lobby, mereka bertemu Lola.


"Lol!"

__ADS_1


Si pemilik nama lantas menoleh ke sumber suara. Lola mendapati Daren dan Kiran di depan lift.


"Kalian mau jenguk Beby juga?" tanya Lola.


Kiran mengangguk. "Udah dapat kabar dari kak Miko?"


"Kabar apaan? Si Miki cuma nyuruh gue datang buat nemenim Beby."


"Miki?" sahut Daren dengan kedua alis bertaut heran.


Ketiganya memasuki lift sebelum melanjutkan obrolan.


"Maksud gue, Miko," ralat Lola.


"Lo manggilnya nggak pakai 'kak'? Spesial banget kayaknya," ujar Kiran.


"Haish! Itulah pokoknya!" seru Lola. Daren dan Kiran menimpali dengan kekehan geli.


Tak lama kemudian, mereka sampai di unit apartemen Beby. Miko lantas mempersilakan Kiran dan Lola langsung ke kamar Beby. Sementara Daren, Miko menahannya di ruang tamu.


"Lo sama Beby berdua aja, Kak?" tanya Daren sesaat setelah mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Mereka ditemani oleh dua cangkir teh hangat.


"Kenapa emang?"


"Aldef?"


"Nggak tahu. Nggak ada kabar sejak semalam. Lagi berantem kali mereka."


***


Daren:


Aldef ada di FS?


^^^Me:^^^


^^^Nggak. Udah beberapa hari, tuh, bocah nggak nongol. Kenapa?^^^


Daren:


Lo tahu, 'kan, kabar soal Beby?


^^^Me:^^^


^^^Iya. Dia izin sakit hari ini.^^^


Daren:


Menurut lo, Aldef di mana?

__ADS_1


^^^Me:^^^


^^^Maksud lo?^^^


^^^Aldef nggak lagi sama Beby?^^^


Daren:


Di kampus juga nggak ada kata Kiran.


Fahri terdiam sejenak. Mengabaikan pesan terakhir Daren, Fahri mendial nomor Aldef sambil bergumam, "Beneran nggak waras ini bocah."


***


Aldef, Celine, dan Poppy sedang bersiap-siap menuju rumah sakit, sebab hari ini jadwal cuci darah Poppy. Saat mereka telah memposisikan diri di mobil Aldef, ponsel lelaki itu berdering. Aldef lantas menekan tombol answer saat mendapati nama Fahri di sana.


"Di mana lo?" Suara Fahri terdengar sangat serius di telinga Aldef. "Lagi sama siapa?"


Aldef menoleh ke kiri, tempat di mana Celine berada. "Gue lagi sama ...."


"Celine?"


Laki-laki berumur 22 tahun itu menghela napas sejenak. "Kenapa?"


"Lo nggak tahu kabar soal Beby?"


Kening Aldef mengernyit heran. "Emang Beby kenapa?"


"Lo tolol apa gimana, sih?! Pacar lagi sakit malah berduaan sama mantan! Sinting lo!"


"Tunggu-tunggu. Beby sakit? Masa, sih? Kemarin gue ketemu dia baik-baik aja, kok."


"Jadi, semalam lo nggak balik ke apartemen? Lo nginap di rumah Celine? Nggak ngerti lagi gue sama lo. Kalau gue jadi abangnya Beby, udah gue bunuh lo."


'Tut!'


Fahri memutus sambungan telepon secara sepihak. Nada ketus dalam tiap kata yang Fahri lontarkan membuat Aldef heran. Pasalnya, ia melihat sendiri bahwa Beby baik-baik saja kemarin siang.


"Kenapa, Al?"


Aldef mengarahkan pandangan ke arah Celine. "Nggak apa-apa. Kita berangkat sekarang?"


Celine mengangguk semangat seraya tersenyum lebar.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2