
Hari ini, Beby tak ada jadwal kuliah. Ia hanya menghabiskan waktu dengan rebahan sembari maraton drama korea di salah satu platform. Urusan endors pun sudah teratasi sejak jam 10 tadi. Itu semua berkat Anggi yang datang membatunya sebelum pergi ke butik.
Sebuah notifikasi WhatsApp membuat aktivitas Beby terhenti sejenak. Gadis itu mengarahkan pandangan ke arah ponselnya yang tergeletak di atas kasur.
"Ah! Nanti aja deh."
Beby pun melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Sejak 10 menit lalu, Beby tak henti mengacak-acak seisi kamarnya. Ia mencari hoodie abu-abu—kado ulang tahun dari Kiran tahun lalu—yang kini menjadi hoodie favoritnya. Saat kamarnya telah bertransformasi menjadi kapal pecah, barulah Beby menyadari sesuatu.
Gadis berkaos putih polos lengan pendek itu meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, lalu mendial nomor seseorang.
"Hallo, An? Hoodie gue warna abu-abu ketinggalan di ruang make up nggak?"
"Yes. Eike simpan di ruang make up."
Nah, kan, benar!
"Oke. Thank's."
Usai memutus sambungan telepon, indra pengelihatan Beby beralih pada jam dinding di sudut kamarnya: pukul 14.25. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum bertemu Kiran di toko buku. Oleh karena itu, Beby memutuskan untuk mengambil hoodie miliknya terlebih dahulu.
Beby meraih kunci mobil serta ponsel miliknya. Gadis itu membaca notifikasi yang masuk beberapa menit lalu.
Kak Miko:
Nanti jangan lupa jemput gue di bandara jam 9 malam.
^^^Me:^^^
^^^Y.^^^
***
Padatnya jalanan Ibu Kota membuat Beby baru sampai di Fresh and Star—biasa disebut FS—pukul 15.32. FS Agency ini terdiri dari lima studio dengan sebuah kantor agency di tengah-tengahnya. Masing-masing studio terdapat dua ruang make up dan dua ruang editing, lengkap dengan toilet. Bangunan yang tingkat di FS Agency hanyalah kantor. Tak lupa pula sebuah kafetaria bergaya minimalis tepat di sudut selatan kantor.
Untuk Beby, ia biasa di studio tiga.
Gadis itu melangkah cepat menuju ruang make up dan mengambil hoodie miliknya yang semula tersampir di kursi depan meja rias.
Jarak antara studio FS dengan tempatnya janjian bersama Kiran cukup jauh. Belum lagi kemacetan yang sudah menjadi rutinitas. Mengingat hal itu, Beby buru-buru keluar usai memastikan hoodie abu-abu melekat apik di tubuh rampingnya.
'Bruk!'
Sebab tergesa-gesa, tanpa sengaja Beby menabrak Ana yang sedang membawa beberapa pakaian untuk para model.
Ana adalah seorang MUA senior di FS Agency. Keahliannya dalam melukis wajah dan selera fashion sudah tidak diragukan lagi. Tapi, Ana ini ....
"Aduh! Hati-hati, dong. Sakit, nih, pundak eike," omel Ana pada siapapun yang baru saja menghantam bahu kanannya.
Ya. Ana adalah seorang waria.
"Duh ... sorry, ya, An," balas Beby. "Gue lagi buru-buru. Bye, An!"
Tanpa menghiraukan Ana, Beby bergegas melesat keluar. Hal itu bertepatan dengan Aldef yang baru saja keluar dari mobil.
***
Di tempatnya berdiri, Aldef menyipitkan kedua mata, memastikan bahwa yang tertangkap oleh indra pengelihatannya adalah benar.
"Ngelihatin siapa?"
Suara bariton dari samping kiri itu membuat Aldef tersadar. Ia menoleh dan mendapati Fahri yang tengah sibuk mengutak-atik kamera dalam genggamannya.
"Itu siapa, Ri?" tanya Aldef.
Mendapat pertanyaan itu, Fahri lantas mengarahkan pandangan ke titik manik mata Aldef terfokus. Tampak seorang gadis berhoodie abu-abu dengan rambut dikuncir seperti buntut kuda baru saja memasuki mobil merah.
__ADS_1
"Yang baru aja masuk mobil merah?" Fahri memastikan orang yang ia dan Aldef maksud adalah sama.
Aldef mengangguk. "Iya."
"Oh ... itu Beby, model di sini."
Seperti yang Aldef duga.
"Model?" Kedua alis Aldef bertaut heran. "Sejak kapan?"
"Udah sejak gue resmi jadi fotografer, dua tahun lalu."
"Kok, gue nggak pernah ketemu dia?"
"Ya gimana mau ketemu. Orang tiap ke sini lo nongkrongnya di ruang editing."
Aldef diam. Apa yang Fahri katakan memang benar. Selama dua tahun lebih mengenal Fahri yang notabene adalah ahli waris Fresh and Star Agency, hampir tiap hari Aldef menghabiskan waktu di ruang editing FS.
"Tawaran lo masih berlaku nggak, Ri?" tanya Aldef.
"Tawaran soal lo jadi model buat bahan lomba fotografi gue?"
Aldef mengangguk cepat. "Iya, yang itu."
"Masih," jawab Fahri enteng. "Gue belum nemu model cowok yang pas selain lo."
Kedua sudut bibir Aldef menukik tajam. Membentuk seulas senyum berjuta makna. "Gue terima tawaran lo."
Manik mata Fahri yang semula fokus pada kamera dalam genggamannya, beralih cepat ke arah Aldef. "Serius lo?"
"Iya. Tapi ...."
"Tapi, apa?"
"Gue mau, Beby yang jadi pasangan gue."
Fahri menatap sahabatnya dengan sarat penuh kecurigaan. Dua detik kemudian, Fahri mengulurkan jabatan tangan. "Deal?"
***
"Lo dari tadi muter-muter mulu, nyari buku apa, sih?"
Entah sudah keberapa kalinya Beby menanyakan hal itu pada Kiran. Bukannya menjawab, sahabatnya itu terus saja berkata, "Sabar."
"Masalahnya, udah sejam lo muter-muter doang! Pegel gue!"
"Itu dia!" Kiran melangkah cepat menghampiri buku paket incarannya, tanpa menghiraukan ocehan Beby. "Akhirnya, dapat juga buku ini."
"Buku apaan, sih, itu? Gede dan berat banget kayak cobaan hidup gue," ucap Beby sambil melirik ke sampul buku dalam dekapan Kiran.
"Ini buku rekomendasi dari kakak tingkat gue. Katanya, mahasiswa jurusan Management Bisnis itu butuh banget buku ini," jelas Kiran, yang kemudian melangkah santai ke arah kasir untuk menyudahi kegiatan di toko buku.
Sambil mengekori langkah Kiran, Beby bertanya, "Pak Gino sibuk, ya? Tumben banget lo minta gue temenin. Biasanya juga ditemenin calon suami."
"Iya." Begitu langkah mereka terhenti di depan kasir, Kiran bergegas menyerahkan buku miliknya untuk dibayar. Sembari menunggu, gadis itu mengalihkan pandangan ke arah Beby. "Dua hari ini dia lembur. Ada project yang harus diurus katanya."
"Lagian, lo ngapain kuliah, sih?" tanya Beby, membuat kedua alis Kiran bertaut heran. "Maksud gue, masa depan lo, kan, udah jelas-jelas cerah sebagai calon istri seorang Gino Fernando, gitu. Seorang CEO di GM Group, sultan yang hartanya nggak akan habis tujuh turunan."
Kiran tertawa pelan mendengar pola pikir sahabatnya itu. Kisah cintanya dan Gino memang terdengar klise, bermula dari perjodohan. Gino yang sudah berumur 32 tahun dan Kiran yang baru 21 dijodohkan dengan kedua orang tua mereka.
Awalnya, Kiran menolak mentah-mentah. Namun karena Gino menunjukkan cintanya dengan aksi nyata, Kiran pun luluh.
Kiran mengambil alih buku yang sudah dibayar dari tangan mbak-mbak penjaga kasir. Mereka pun melanjutkan obrolan sembari melangkah beriringan menuju parkiran.
"Emang lo kira, gue kuliah biar bisa kerja terus dapat uang banyak, gitu?" tanya Kiran.
"Of course!" jawab Beby yakin. "Kalau bukan untuk dapat kerjaan bagus dan hidup terjamin, buat apa orang kuliah?"
__ADS_1
Sebelum melanjutkan obrolan, Beby dan Kiran terlebih dahulu memasuki mobil. Topik ini cukup menarik bagi keduanya.
"Bukan," kata Kiran, sesaat setelah mobil merah yang mereka tumpangi meninggalkan area toko buku. "Gue kuliah bukan untuk itu."
Tanpa menoleh ke arah Kiran, Beby membalas, "Terus? Karena apa? Gelar?"
"Gue percaya, kalau kecerdasan anak itu sembilan puluh persen menurun dari ibunya. Gue mau punya anak-anak yang cerdas nantinya. Maka dari itu, gue pengin mencerdaskan diri gue dulu."
Beby manggut-manggut seraya tersenyum bangga, takjub dengan alasan Kiran. "Boleh juga lo."
"Lo sendiri, kenapa kuliah?"
Beby tertawa renyah. "Buat menyibukkan diri."
"Wow! Alasan yang sangat menakjubkan." Jeda sejenak. "Tapi, kenapa lo ambil jurusan Sastra Indo? Passion lo, kan, modelling."
"Maksud lo apa ngomong gitu?"
"Maksud gue, lo narsis."
Melihat sahabatnya terbahak-bahak, Beby berdecak kesal. "Haish!"
Tiba-tiba, ponsel dalam genggaman Kiran bergetar. Beby yang sempat melirik ke layar ponsel sahabatnya itu mendapati tulisan 'My King' di sana.
"Ya, Kak?"
" .... "
Kiran menoleh ke belakang, membuat Beby refleks mengekori arah pandang sahabatnya melalui kaca spion. Tampak sebuah mobil hitam yang sangat familiar di mata Beby.
"Oke." Suara Kiran kembali terdengar. "Iya. Iya aku turun sekarang."
Layar ponsel yang sudah menjauh dari daun telinga Kiran memberi tanda bahwa obrolannya dengan seseorang di seberang sana telah berakhir.
"Pak Gino?" tanya Beby.
Gadis di samping kirinya mengangguk lesu. "Berhenti sekarang, ya. Kak Gino ada di belakang. Dia mau gue pindah mobil."
"Terus, gue gimana?"
"Sorry," ucap Kiran seraya melayangkan tatapan menyesal. "Kalau gue nggak nurutin kak Gino, bisa ngamuk dia. Lo tahu sendiri, tuh, orang kalau marah gimana. Sebelas dua belas, lah, sama hulk."
Beby terkekeh pelan. "Durhaka lo sama calon suami."
"Bodo amat!" cibir Kiran.
Saat dirasa mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di pinggir jalan, Kiran kembali berkata, "Gue doain, semoga lo cepat dapat titik terang soal hubungan lo sama Arka."
Sebenarnya, Beby kurang yakin akan hal itu. Tapi, demi membuat sahabatnya tenang, Beby mengangguk sembari tersenyum singkat.
***
Tatapan Beby beralih sejenak pada seporsi martabak manis—makanan favorit Arka—yang ia beli dalam perjalanan tadi. Beby berharap, setelah melakukan usul dari Kiran, hubungan asmaranya bersama Arka yang sudah terjalin selama dua tahun dapat menemukan kehangatan kembali.
Baru saja Beby akan melangkah ke resepsionis dan menanyakan keberadaan Arka, manik matanya menangkap sosok yang ia cari dari arah berlawanan.
Arka tampak menyusuri koridor bersama seorang perawat. Dari yang terlihat, Arka dan perawat itu seperti akan menuju ruang UGD. Namun, terlepas dari semua itu, hati Beby memerintahkan langkahnya untuk bergerak mengekori sosok yang ia lihat. Ternyata, mereka sedang menuju ke kantin.
Betapa terkejutnya Beby saat ia melihat si perawat dengan berani mengecup permukaan pipi Arka. Terlebih, Arka membalasnya dengan kecupan yang mendarat di kening si perawat.
"Jadi, ini alasan kamu menghindar dari aku, Ar?"
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!
Thank you ❤️