ALDEBY

ALDEBY
|69.| Sedikit Berkurang


__ADS_3

"Ada apa?"


Pertanyaan itu meluncur dari mulut Aldef sesaat setelah ia duduk di salah satu kursi ruang editing—tepat di samping kiri Fahri. Beberapa menit yang lalu, sahabatnya itu meminta Aldef datang.


Alih-alih menjawab pertanyaan Aldef, Fahri malah kembali bertanya, "Lo habis darimana?"


"Kenapa emang?"


"Kayak bukan parfum Beby yang nempel di baju lo." Fahri menajamkan indra penciumannya. "Tapi, kayak familiar, ya, baunya."


"Apaan, sih? Bahas-bahas parfum. Nggak penting! Sekarang, lo mau ketemu gue ngapain?"


Fahri menatap Aldef dengan sarat curiga. Sebenarnya, ia sudah lama ingin membicarakan hal ini dengan Aldef. Tapi, kesibukan di lokasi syuting webseries menyita banyak waktu dan tenaga Fahri. Alhasil, baru sekarang Fahri ingin membahasnya.


"Waktu ulang tahu Beby, lo ke mana?"


"Ada urusan."


"Urusan apa yang lebih penting dari pacar lo?"


Aldef diam. Tak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa diem? Oh! Gue tahu. Gue tahu apa yang lebih penting dari Beby. Mantan lo, 'kan? Celine."


"Ngaco!"


"Aldef! Bertahun-tahun gue jadi sahabat lo, lo pikir seberapa dalam gue kenal lo? Lo nggak sadar, 'kan? Tiap hari. Tiap hari lo datang ke sini cuma mau bahas Celine. Tiap hari, Al!"


"Nggak usah sembarangan, deh."


Fahri tertawa miris. "Nih, ya, Bro. Gue cuma mau ingetin satu hal sama lo, sesuatu akan terasa lebih berharga saat kita sudah kehilangannya. Dan jangan sampai lo ngerasain itu."


"Ngaco lu!" Aldef berdiri dari posisi duduknya. "Dah, lah. Pembahasan lo nggak penting. Gue cabut."


"Tunggu." Fahri turut bangkit dari kursinya. Lelaki itu menatap manik mata Aldef lamat-lamat. "Parfum yang ada di baju lo itu, Celine, 'kan?"


***


"Satu ... dua ... tiga!"


'Cekrek!'


Beby seperti melihat gambaran keluarga kecil Indra yang begitu bahagia. Karena permintaan Shinta, Beby yang biasa jadi model, kini mendadak jadi fotografer. Sebenarnya, endors yang diminta Shinta sudah selesai. Tapi, bumil yang satu itu masih ingin dipotret.


Berkat kamera hadiah ulang tahun dari Anggi, Shinta ketagihan untuk terus difoto oleh Beby.


"Ma! Pa! Sini, deh!" seru Beby pada kedua orang tuanya yang tengah bersantai di ruang tengah.


Mendengar sang putri memanggil, Maya dan Billy lantas menuju ke tembok yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu. Pasalnya, tempat itu telah disulap menjadi studio foto mini.


"Kenapa?" tanya Billy.


Beby menyerahkan kamera di tangannya pada Indra. "Tolong fotoin aku, papa, sama mama, ya."

__ADS_1


"Ehhh!!! Tunggu-tunggu!" sahut Maya cepat. "Rambut Mams berantakan gini. Tunggu!" Wanita paruh baya itu lantas melesat ke kamar Beby. Menuju cermin panjang yang ada di dalamnya.


"Kalau gitu, sama papa dulu aja," ucap Beby.


"By ...." Billy menatap putri bungsunya lamat-lamat. "Kamu, kan, tahu Papa nggak suka yang beginian. Sama mama aja, ya?"


"Ayolah, Pa! Beby belum punya foto berdua sama Papa. Kalau sama mama, kan, banyak. Please ...."


Gadis itu memasang ekspresi puppy eyes andalannya. Dan benar saja, Billy seketika luluh. Pria paruh baya itu mengangguk, membuat Beby bersorak girang.


"Senyum, Pa," pinta Beby yang membuat Billy menghela napas pasrah. "Lihat Beby aja. Nggak usah lihat kamera."


"Satu ... dua ... ti ...."


Beby membalas tatapan Billy lengkap dengan senyuman lebar nan manis. Pergelangan tangan gadis itu melingkari tubuh kekar sang ayah. Sungguh pose yang menggemaskan!


"Ihhh!!! Kok, Mama ditinggal, sih?!" protes Maya yang lantas membaur dengan suami dan putrinya. "Gimana, Ndra? Mama udah cantik, 'kan? Nggak kalah, dong, sama Beby?"


Indra hanya mengangguk saja agar Maya cepat puas. Semua orang di ruangan itu kompak tertawa. Hanya Miko yang tak ada di sana, karena laki-laki itu belum pulang. Entah masih di kampus atau di mana.


Setelah acara foto-foto yang berlangsung sekitar 15 menit, Miko datang. Beby, Maya, dan Shinta lantas menyeret pria itu untuk ikut foto bersama. Tiga laki-laki di sana hanya bisa pasrah dengan ulah para wanita.


Selanjutnya, mereka berkumpul di ruang tengah. Para wanita tentu saja membahas tentang hasil foto tadi. Sementara para lelaki sibuk dengan urusan masing-masing.


"Oh, iya, By, minggu depan Mama mau nemenin Papa ke Singapura," ucap Maya di sela-sela perbincangan hangat mereka.


"Tumben Mama ikut," balas Beby.


Maya mengedikkan kedua bahu. "Papa yang minta."


"Takut Mama diambil orang kali," sahut Miko yang baru datang dari arah kamar. Lelaki itu mengambil posisi duduk tepat di samping kanan Billy.


"Emang Mama kucing bisa diambil orang?" protes Maya.


"Berapa lama?" tanya Beby lagi.


"Sekitar seminggu."


Tepat saat itu, seseorang menekan tombol bel apartemen Beby dari luar.


"Biar Beby aja," ujarnya sambil beranjak dari tempat.


***


Kehadiran Aldef di tengah keluarga Beby membuat suasana mendadak canggung. Terlebih, hubungan Beby dan Aldef sekarang belum bisa dikatakan baik. Tatapan tajam Miko yang seolah enggan lepas dari Aldef juga menjadi salah satu faktornya. Hanya Maya yang terus berusaha membuka obrolan. Seperti ....


"Kamu asalnya dari mana?"


"Kenapa tinggal di apartemen?"


"Orang tua kamu tinggal di mana?"


"Punya berapa saudara?"

__ADS_1


Semua pertanyaan itu dijawab singkat oleh Aldef. Berbeda dengan pertanyaan yang satu ini:


"Kenapa kamu suka sama Beby?"


Karena dia mirip Celine.


Deg!


Entah darimana suara itu berasal. Kalimat itu terdengar begitu jelas dalam telinga Aldef. Seolah dirinya sendiri yang berbicara.


"Aldef? Kok, diem?" tanya Maya.


"Karena Beby keren," jawab Aldef. "Beby cantik, baik, sabar, ramah, pekerja keras, dan pintar."


Maya tertawa renyah. "Iya, dong! Anak siapa dulu?" ujarnya bangga.


"Anak Papa," sahut Billy sambil mengusap puncak kepala Beby yang duduk tepat di samping kirinya.


Manik mata Billy menatap lurus ke arah Aldef. "Kamu tahu masa lalu Beby?"


"Soal Zidan? Tahu, kok, Om." Aldef menjawab tanpa ragu. "Beby juga tahu tentang masa lalu saya."


"Kamu serius sama anak saya?"


"Tentu."


"Kapan?"


"Ma-maksudnya, Om?"


"Kapan diseriusinnya?"


"Papa!" sahut Beby sambil mencubit lengan Billy.


"Bener, dong, pertanyaan Papa? Laki-laki itu harus punya rencana masa depan. Kalau dia udah memutuskan untuk memulai hubungan sama perempuan, nggak boleh stop di sana. Harus udah mikirin jangka panjangnya." Billy kembali menatap Aldef. "Jadi, kapan mau seriusin anak saya?"


"Kalau Beby siap sekarang juga saya mau-mau aja, Om," jawab Aldef sambil tersenyum meringis.


"Gue bunuh lo!" sahut Miko dengan kedua mata melotot.


Semua orang di ruangan itu tertawa, kecuali Miko dan Beby. Untuk Miko, siapa yang menjadi pendamping hidup Beby lebih penting daripada siapa yang menjadi pendamping hidupnya kelak. Maka dari itu, Miko enggan memikirkan soal wanita sebelum memastikan Beby berada di tangan orang yang tepat. Untuk itu semua, Miko masih memiliki banyak keraguan dalam diri Aldef.


Sementara untuk Beby, andai saja Aldef tak melibatkan Celine dalam hubungan mereka. Andai saja Aldef lebih terbuka soal Celine, mungkin keyakinan itu masih ada. Tapi, mengingat sampai detik ini Aldef belum mengakui bahwa ia menghabiskan malam bersama Celine di rumah sakit, kepercayaan Beby menjadi sedikit berkurang.


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


.


__ADS_2