
Usai membersihkan diri, Aldef mengambil kotak P3K di dapur, lalu mengobati memar di beberapa sudut wajahnya. Tak lupa pula Aldef memberi obat merah pada kakinya.
Berulang kali ia meringis ngilu akibat rasa nyeri yang menguar dari luka-luka itu. Setelah selesai, Aldef meletakkan kotak P3K di atas nakas samping kasurnya. Pria itu kemudian menarik selimut di ujung kasur dan bergegas terjun ke dunia mimpi.
Baru dua detik matanya terpejam, bayangan sosok Beby yang membuatnya terpesona kembali muncul. Oleh karenanya, kedua mata Aldef kembali terbuka.
Lelaki itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Merasa lebih baik, Aldef pun kembali memejamkan mata. Namun, lagi-lagi bayangan akan sosok Beby tergambar jelas dalam pejaman matanya. Kali ini, tampak wajah cantik Beby yang beberapa kali Aldef lirik dari samping.
"Arghhh!!!" erang Aldef, merasa frustasi sebab bayang-bayang Beby yang enggan menyingkir dari alam bawah sadarnya.
"Kenapa jadi kepikiran terus, sih?!"
***
"Lo dari mana aja, sih? Jam segini baru pulang."
Baru saja memasuki pintu unit apartemen, Beby langsung ditodong oleh suara Miko yang terdengar protektif.
Gadis itu menatap kedua mata sang kakak lamat-lamat. Bibirnya enggan berkata-kata.
"Heh!" Miko meninju pelan bahu kiri Beby. "Kalau orang nanya tuh, dijawab. Dari mana?"
"Habis nongkrong sama Kiran and Lola."
"Sampai tengah malam gini?"
Beby melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Baru jam sebelas."
"Baru jam sebelas lo bilang?"
Gadis di hadapan Miko itu mendesis pelan. "Emang kenapa sih, Kak?"
"Lo masih belum mau cerita?"
Ah! Bisa-bisanya Beby melupakan hal itu. Miko pasti merasa penasaran setengah mati sejak melihat matanya yang bengkak kemarin.
"Gue mandi dulu. Gerah," ujar Beby yang membuat kedua sudut bibir Miko menukik ke atas.
***
"Jadi, sekarang lo jomlo?"
Beby berdecak kesal. Dari semua respon yang ada, mengapa Miko memberikan yang terdengar menyebalkan seperti itu?
"Iya. Kayak lo. Jomlo."
Miko terkekeh pelan. "Besok lo ada acara apa?"
"Uuummm ... Besok nggak ada kelas, sih. Tapi pagi-pagi gue udah harus cabut."
"Ke mana?"
"Ada pemotretan. Gue diminta jadi model buat lomba fotografi temen. Fahri namanya. Dia anak dari pemilik FS Agency."
Miko manggut-manggut.
"Kenapa nanya-nanya?"
"Nggak. Besok gue free. Kali aja lo mau diantar."
Beby menatap sang kakak heran. "Buat apa? Gue, kan, ada mobil."
Miko yang semula duduk bersandar dan menghadap televisi, kini menegakkan tubuh. Lelaki itu menghadap Beby sembari menatapnya lekat-lekat.
"Gue nggak pernah salah ngenali lo, Beby," ucap Miko. "Meskipun lo kelihatan baik-baik aja. Gue tahu hati lo hancur."
Untuk sesaat, Beby terpaku. Kata-kata Miko barusan bak anak panah yang melesat tepat mengenai hatinya.
Meski gadis itu tahu usahanya akan sia-sia, tapi Beby tetap tertawa pelan demi menutupi kesedihan dalam dirinya. "Alay lo."
Tak ingin Miko menggali lebih dalam tentang isi hatinya, Beby bergegas beranjak dari duduknya. "Dah ya. Gue tidur duluan. Bye."
Sementara itu, Miko yang masih dalam posisi sama hanya bisa menghela napas pasrah.
"Lo emang nggak pernah berubah, By. Selalu sok kuat."
***
__ADS_1
Suara dering ponsel yang menguar di seluruh sudut kamar Aldef menarik paksa pria itu dari alam mimpi. Masih dengan mata terpejam, Aldef meraih ponselnya di samping bantal, lalu menekan tombol answer dan menempelkan layarnya ke daun telinga.
"Al?" Terdengar sebuah suara di seberang sana.
"Hm?"
"Lo masih tidur?! WAH! PARAH LO!
Teriakan itu membuat Aldef lantas menjauhkan layar ponsel dari indra pendengarannya. Saat ia melihat nama si penelepon, ternyata dari Fahri.
"Nggak usah teriak-teriak, bisa, 'kan?"
"Gue nggak mau tahu, ya. Jam sembilan, lo harus udah ada di lokasi."
Aldef menghela napas sejenak. "Iya-iya. Rewel lo, ah!"
"Buruan siap-siap!"
"Hm."
Begitu sambungan terputus, mata Aldef yang masih digelayuti rasa kantuk mengarah pada jam dinding di sudut kamarnya. Sudah pukul tujuh lewat, pantas saja cahaya mentari menerobos dari celah-celah jendela kamarnya.
Aldef bangun dari posisi tidur. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha sebisa mungkin menyingkirkan rasa kantuk yang masih setia menimpa pelupuk matanya. Usai merasa cukup sadar, Aldef membuka kedua matanya lebar-lebar. Sekali lagi, ia menghela napas berat.
"Gara-gara Beby," decaknya yang kemudian melesat ke kamar mandi.
***
Karena pemotretan kali ini dalam rangka lomba fotografi yang akan diikuti oleh Fahri, lokasi pemotretan pun berada di luar studio FS. Tepatnya, di area outdoor salah satu hotel ternama kebanggaan Kota Jakarta.
Sampai di lokasi pemotretan, Beby segera digiring ke ruang make up bersama dua orang MUA dan Anggi yang mendampinginya. Gadis itu hanya bisa pasrah sepanjang wajahnya yang terus dibumbui alat-alat make up.
"Mata lo kayak orang habis nangis semalaman deh, By," ucap seorang MUA berumur 30 tahun yang Beby ketahui bernama Chika.
"Masa, sih, Kak?" tanya Beby. Percakapan mereka diiringi dengan tangan Chika yang terus melukis wajah Beby dengan alat-alat make up.
"Iya. Jangan-jangan, lo emang habis nangis semalaman ya?"
Beby hanya tertawa kecil. Tak menjawab.
"Kenapa, sih?" lanjut Chika. "Putus cinta?"
Untung saja Fahri datang. Chika jadi lebih fokus dan Beby bisa terbebas dari pertanyaannya.
For your information, Beby memang menangis semalaman. Ia tak mampu menampik rasa perih di hatinya akibat putus dari Arka. Bagaimanapun, Arka adalah laki-laki yang berkontribusi besar dalam kepulihan jiwa Beby. Selain ayahnya dan Miko.
Arka adalah cinta pertama Beby. Arka juga orang yang ada di sampingnya saat ia berada dalam keadaan terpuruk. Satu-satunya kesalahan antara Beby dan Arka hanya saat laki-laki itu mencintai Beby, namun masih ada sisa cinta dalam hati Arka untuk Putri.
Sementara Beby, ia memberikan seluruh hatinya pada Arka. Betapa bodohnya dia.
***
Tiga puluh menit kemudian, Beby telah siap dalam balutan kemeja hitam polos serta hotpants warna navy yang mengekspos kaki jenjangnya. Gaya rambut yang diikat satu menyamping dengan hiasan jepit warna-warni menciptakan kesan cute dalam wajah oval Beby. Tak lupa pula dengan kaos kaki bermotif garis-garis warna-warni yang mencapai lutut.
Lomba fotografi yang diikuti Fahri memang mengangkat tema romance-cassual. Jadi, kostum yang dikenakan sang model pun bergaya kasual.
Mengingat segala keperluan dan sang model pun telah siap, Beby bersama Anggi digiring ke lokasi pertama: taman hotel. Sampai di sana, Beby teringat ucapan Fahri bahwa tema pemotretan ini adalah romance-cassual. Itu berarti ....
"Mbak, ini yang jadi model cuma gue?" tanya Beby pada Anggi yang tengah sibuk memperbaiki rambut sahabatnya. Karena lokasinya di outdoor, rambut Beby sedikit berantakan sebab tertiup angin.
Belum sempat Anggi menjawab, Fahri datang dengan kamera dalam genggamannya. "Udah siap?"
Anggi mengangguk sebagai jawaban.
Merasa diabaikan oleh sang manager, Beby yang sudah siap pun berdiri untuk menghadap Fahri. "Modelnya cuma gue, Ri?"
"Nggak," jawab Fahri, membuat kening Beby sontak mengernyit heran. "Ada partner, kok. Temanya kan, romance-cassual, ya kali lo sendiri."
"Ada partner? Siapa?"
Fahri tersenyum lebar sembari menunjuk sesuatu di belakang Beby. "Tuh!"
Penasaran, Beby membalikkan badan. Kini, manik matanya dapat menangkap dengan jelas sosok yang dimaksud Fahri. Seorang pria bertubuh jangkung dalam balutan kaos putih lengan panjang dengan sedikit motif garis-garis warna hitam yang dilipat pada bagian lengan, celana kain warna hitam yang mencapai bawah lutut, serta rambut klimis berjambul yang telah ditata sedemikian rupa.
Beby mengamati sosok itu hingga kini mereka berdiri berhadapan. "Aldef?"
***
__ADS_1
"Aldef tangannya di pinggang Beby."
"Agak mepet!"
"Senyum, dong!"
"Yak! Bagus!"
Sepanjang proses pemotretan berlangsung, suara teriakan Fahri berulang kali terdengar. Bagaimana tidak? Beby yang biasanya bisa dua puluh foto dalam lima menit, kini mendadak kaku. Parahnya, Aldef pun tak lebih baik daripada Beby.
Fahri berdecak kesal. Lagi-lagi ia harus turun tangan untuk memposisikan gaya kedua modelnya. Pria itu meletakkan kedua tangan Aldef di pinggang Beby, lalu melingkarkan lengan Beby ke belakang leher Aldef.
"Maju dikit," ucap Fahri yang membuat Aldef dan Beby refleks menurut. "Saling tatap, ya."
Melihat posisi sang model sudah pas, Fahri bergegas kembali ke posisi semula untuk mengambil gambar objeknya. "Tahan!"
'Cekrek!'
'Cekrek!'
"Senyum!" teriak Fahri.
Beby tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi grahamnya yang tersusun rapi. Sementara itu, kedua bola mata Aldef seolah terpaku pada wajah gadis di hadapannya. Jujur, sejak pemotretan ini dimulai, jantungnya terus berpacu dua kali—ribuan kali—lebih cepat.
"Al," bisik Beby, berharap Aldef segera melakukan apa yang Fahri minta. Namun, Aldef tetap bergeming.
"ALDEF!"
Teriakan Fahri yang satu ini barulah membuat Aldef tersadar.
"Hah?"
"Senyum!"
Aldef menghela napas sejenak. Lalu, ia mengangguk ke arah Fahri.
Fokus, Al. Fokus! seru Aldef pada dirinya sendiri.
Di tengah-tengah aksi pose mereka, Beby tiba-tiba berkata, "Perasaan semalam muka lo bonyok."
Aldef terkekeh pelan. "The power of make up."
Pemotretan terus berlanjut. Perlahan-lahan, usaha Fahri untuk terus mengarahkan Aldef dan Beby mulai membuahkan hasil. Semakin ke sini, chemistry antara mereka kian terpancar. Kecanggungan yang semula terasa begitu kental pun perlahan menyurut.
Lokasi pertama selesai, lanjut ke lokasi outdoor lainnya: lapangan voli, kolam renang, dan kolam ikan.
Hingga pada akhirnya, waktu menunjukkan pukul 11.00. Sinar matahari terasa semakin terik. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak. Sejauh ini, Aldef telah berganti pakaian sebanyak tiga kali, sementara Beby empat kali.
Dari arahan Fahri, pemotretan berikutnya akan dimulai satu jam dari sekarang untuk area indoor. Sementara untuk outdoor akan dimulai pukul 15.30. Posisi matahari yang siap tenggelam akan membuat hasil foto lebih maksimal.
Selama istirahat, seluruh tim bebas melakukan aktivitas yang mereka inginkan. Tapi sebelum itu, mereka semua digiring ke restoran hotel untuk makan siang.
Beby duduk diapit oleh Aldef dan Anggi, sementara Fahri di samping kiri Aldef. Di tengah-tengah perbincangan seru mereka, Beby berniat untuk ke toilet.
"Toiletnya di sebelah mana, Mbak?" tanya Beby pada Anggi yang tengah sibuk mengunyah nasi goreng seafood di hadapannya.
Anggi yang mendapat pertanyaan itu terpaksa menghentikan aktivitas makannya sejenak. "Lo keluar dari gedung ini, ke arah kolam renang. Dari situ lo lurus aja, nanti ada tulisannya, kok. Toilet di sana yang terdekat."
Beby mengangguk paham. "Thank's."
"Mau ditemenin?" tanya Anggi yang dijawab gelengan oleh Beby.
Gadis berambut panjang itu pun melangkah santai ke luar gedung. Beby menuju kolam renang, sesuai arahan Anggi. Benar saja, dari sana, indra pengelihatannya menangkap sebuah plakat bertuliskan toilet.
Sampai di tempat tujuan, Beby bergegas memasuki salah satu bilik di toilet wanita untuk melaksanakan acara buang hajatnya. Setelah selesai, Beby keluar dari bilik toilet. Namun, baru saja pintu bilik terbuka, Beby melihat sepasang kaki yang membuatnya terdiam.
Beby mendongak. Kedua bola matanya bersitatap dengan seorang gadis berambut panjang yang tengah tersenyum ke arahnya. Meski sudah bertahun-tahun, Beby masih ingat jelas siapa sosok yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Hai, Manda."
*
*
*
Jangan lupa lika, komen, rate, dan share kalau kalian suka!
__ADS_1
Thank you ❤️