ALDEBY

ALDEBY
|77.| Khawatir


__ADS_3

Aldef merebahkan tubuhnya di atas kasur. Setelah menempuh berjam-jam perjalanan darat, akhirnya Aldef bertemu tempat tidur yang ia rindukan.


Ponsel di dalam saku hoodie Aldef bergetar, membuat lelaki itu lantas mengambilnya. Ada nama Celine di bilah notifikasi ponsel Aldef. Sang pemilik ponsel pun bergegas membukanya.


Celine Anastasya:


Udah sampai mana, Al?


Susah tidur, nih


^^^Me:^^^


^^^Masih belum tidur?^^^


Celine Anastasya:


Belum


^^^Me:^^^


^^^Mau ditemenin call?^^^


Celine Anastasya:


Of course! : D


Badan lelah, mata mengantuk, tapi Aldef malah memilih untuk berbincang hangat bersama sang mantan.


***


Beby memasuki ruangan bernuansa klasik-modern dominasi warna coklat tua dan krem dengan langkah perlahan. Ini adalah kamar milik Billy dan Maya.


Gadis itu terpaku pada sebuah pigora berukuran sedang yang terletak di atas bufet tepat di bawah TV LED. Tangan Beby bergerak meraih pigora itu. Fotonya bersama Billy dan Maya tepat seminggu yang lalu di apartemen Beby.


Napas Beby kembali terasa sesak. Jejak air mata yang baru beberapa saat lalu mengering, kini tergenang kembali. Beby tak menyangka foto itu adalah foto terakhirnya bersama Maya dan Billy.


Beby membawa pigora dalam dekapannya ke atas kasur. Malam ini, Beby berencana tidur di sana. Gadis itu merebahkan diri menghadap kanan. Tatapan Beby melekat pada foto dalam balutan pigora di hadapannya.


"Ma, Pa, Beby izin tidur di kamar mama sama papa, ya? Anggap aja, kita lagi tidur bertiga."


"Ma, Pa, ottoke?" (Bagaimana?)


"Beby bingung, Ma, Pa. Beby bingung harus gimana setelah ini. Rasanya, berat banget nggak ada mama dan papa."


"Iya. Beby tahu ini semua takdir. Beby juga nggak mau nyalahin siapa-siapa."


"Tapi, boleh nggak, sih, Beby peluk kalian? Sekali aja."


Cairan bening mulai merembes dari indra pengelihatan Beby. "Please, peluk Beby malam ini aja. Meskipun cuma dalam mimpi. Beby kangen mama dan papa."


Malam itu, menjadi malam yang cukup panjang untuk Beby. Mulutnya terus mengeluarkan suara lengkap dengan isakan tangis. Dalam duka mendalam yang disaksikan bintang-bintang, Beby terlelap karena lelah.


Di alam mimpi, Beby bertemu kedua orang tuanya.


***


Keesokan harinya, Beby terbangun dengan mata dan kepala yang amat-sangat berat. Dapat dipastikan bahwa kedua matanya membengkak. Mengingat Beby yang menangis semalaman.


Seseorang mengetuk pintu kamar tempat Beby tidur. Setelah mempersilakan si pengetuk pintu masuk, muncullah sosok Shinta di sana.


"By, ada yang nyariin."


"Siapa, Kak?"


"Katanya, sih, namanya Arka."


Beby melotot seketika. Gadis itu lantas bangun dan turun dari kasur. Beby bahkan sampai berlari menuruni anak tangga. Meninggalkan Shinta yang dilanda kebingungan. Wanita hamil itu pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Sampai di anak tangga terakhir, manik mata Beby terpaku pada seorang pria dalam balutan kemeja abu-abu pekat yang duduk di sofa ruang tamu dengan posisi memunggunginya. Perlahan, Beby mendekati lelaki itu.


"Arka?"


Sang pemilik nama lantas menoleh. Dengan netra yang menatap lekat pada bola mata Beby, Arka berdiri.


"By ...."


"Kamu ngapain di sini? Sama tante Chika? Mana?"

__ADS_1


"Aku sendiri," ucap Arka sesaat setelah jarak antara dirinya dan Beby tinggal dua langkah. "Kamu nggak apa-apa?"


"Jawab dulu pertanyaanku, Ar. Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu di rumah sakit?"


Arka memegang kedua bahu Beby. Lelaki itu mengunci arah tatapan Beby. Memastikan tak berpaling darinya.


"Aku langsung ke sini begitu dengar kabar orang tua kamu ditemukan. Aku chat, telepon, tapi nggak ada satu pun respon dari kamu."


"Ma-maaf."


Arka membawa Beby ke dalam pelukannya. Tindakan yang tiba-tiba ini tentu saja membuat Beby terkesiap. "Aku khawatir, By. Aku takut kamu kenapa-napa."


Firasat Beby mengatakan bahwa ada yang salah di sini. Gadis itu melerai pelukan Arka. Tatapan terkejut di balik mata Beby, kini berganti menjadi tatapan curiga. "Kamu kabur, Ar?"


"Aku cuma—"


"Ar! Kamu mikir nggak, sih?! Tante Chika pasti bingung nyariin kamu sekarang!"


"Tapi, aku khawatir sama kamu, By."


"Nggak gini caranya, Ar! Lagian, ada banyak orang yang nguatin aku. Kamu nggak perlu repot-repot sampai datang ke sini."


"Ada tamu, tuh, disuruh duduk, dikasih minum. Bukan malah dimarahin."


Suara bariton dari arah tangga itu membuat Beby dan Arka kompak menoleh. Lelaki dalam balutan pakaian olahraga tanpa lengan tengah melangkah ke arah Beby dan Arka. Tangan kanan Miko masih dibalut gips.


"Hai, Ar. Udah lama nggak ketemu," sapa Miko.


"Hai, Kak. Apa kabar?" Arka tersenyum ramah.


"Ya ... begitulah. Kalian lanjut aja, ya. Gue mau jogging."


Miko melenggang pergi. Bola matanya sempat bersitatap dengan milik Beby. Meminta secara non-verbal pada sang adik untuk bersikap lebih tenang.


Selepas kepergian Miko, Beby duduk di sofa ruang tamu. Alih-alih merasa takut, Arka malah gemas melihat ekspresi kesal Beby sekarang. Rasanya, sudah lama Arka tak mendapati momen ini.


"Aku telepon mama, ya. Kamu yang ngomong," ucap Arka setelah mengambil posisi di samping kiri Beby.


Gadis itu lantas melempar tatapan nyalang ke arah Arah. "Kenapa jadi aku? Orang kamu yang kabur!"


Arka terkekeh geli. "Bercanda, By."


"Mama nelepon, nih," kata Arka yang lantas menekan tombol answer. Tak lupa, Arka juga mengaktifkan mode lodspeaker.


"Arka!!! Kamu ke mana aja, sih?! Ditelepon dari semalam nggak diangkat-angkat! Stres tahu Mama nyariin kamu!"


Suara frustasi Chika menggema di seisi ruang tamu rumah Beby. Arka menoleh ke arah Beby, sementara gadis itu masih enggan menatapnya.


"Maaf, Ma," ucap Arka. "Aku lagi di rumah Beby."


"Hah? Rumah Beby? Apartemen?"


"Rumah, Ma. Yang waktu itu pernah aku ceritain—"


"SURABAYA?! KAMU DI SURABAYA, AR?!"


Beby memejamkan mata rapat-rapat. Sudah menduga bahwa reaksi seperti itulah yang Chika tunjukkan. Arka ini benar-benar ....


"Beby mau ngomong, nih, Ma."


Kalimat itu membuat Beby seketika mendelik. Ia menoleh dan mendapati Arka yang tengah menahan tawa.


"Beby? Ini Beby?"


Gadis itu menghela napas berat. Jika sudah seperti ini, ia hanya bisa mengikuti jalannya cerita.


"Iya, Tante. Ini Beby."


***


Beberapa jam setelah kembali dari Surabaya, Fahri bergegas menuju FS Studio. Ada beberapa foto yang harus ia edit. Dan di tengah kesibukannya itu, Daren datang. Lelaki itu menduduki salah satu kursi di ruang editing.


"Aldef masih di Surabaya, ya?"


"Udah balik," jawab Fahri tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.


"Oh, ya? Di mana?"

__ADS_1


"Mana gue tahu. Di apartemennya kali."


"Itu dia."


Kata-kata Daren lantas membuat Fahri mengekori arah pandangnya. Di luar, tampak sosok Aldef dan Celine yang tengah jalan beriringan. Melihat hal itu, Fahri kembali menatap layar komputer pada detik berikutnya.


"Lo ngerasa nggak, sih, Ri? Aldef sama Celine itu terlalu dekat akhir-akhir ini. Mereka kelihatan sering jalan bareng," kata Daren. Bola matanya menatap penasaran ke arah luar.


"Mereka emang dekat dari dulu."


"Maksudnya?"


"Aldef sama Celine itu mantan."


"Oh, ya?!" Daren menggeser kursinya lebih mendekat ke arah Fahri. "Mereka nggak berencana balikan, 'kan?"


Fahri menghela napas sejenak. Ia menoleh, membalas tatapan penasaran yang Daren lontarkan.


"Gimana kalau kita bantu Aldef?"


***


Setelah berbincang dengan Chika lewat telepon. Beby langsung memesan tiket pesawat ke Jakarta secara online. Jadwal keberangkatan yang tercepat adalah pukul 05.30 besok.


"By, masih marah?" lirih Arka yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan dari Beby. Gadis itu hanya merespon dengan helaan napas keras.


"Dua hari lagi ulang tahunnya Aldef. Kamu nggak mau nyari sesuatu gitu buat dia? Aku temenin."


Dua hari lagi? batin Beby. Dirinya saja hampir melupakan hal itu. Bagaimana Arka tahu?


Beby menoleh, melayangkan tatapan heran ke arah Arka. Bibirnya sudah terbuka, siap meluncurkan pertanyaan yang berada di ujung lidah. Namun, Arka mendahuluinya.


"Nggak penting aku tahu dari mana," kata Arka. Seolah dapat mendengar isi pikiran Beby. "Mau nggak? Aku ada beberapa rekomendasi kado yang bagus, nih."


"Kenapa, Ar?"


Kening Arka mengernyit heran. "Ya, karena Aldef mau ultah. Mangkanya kita beli kado buat dia."


"Kenapa kamu ngelakuin semua ini, padahal tahu hatiku udah bukan punya kamu lagi?"


Arka bukan tidak tahu. Dari cara Beby menatapnya saja, Arka tahu apa yang ingin gadis itu sampaikan. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Arka hanya pura-pura tidak tahu.


Alih-alih menjawab, Arka malah tersenyum lebar. "Aku seneng dengernya, By. Suer!"


Bohong lo, Ar!


Seruan itu menggema di telinga Arka tepat sedetik setelah kata terakhir meluncur dari mulutnya. Memang. Arka mengakui kebenaran yang hatinya serukan itu. Sedikit bahagia karena Beby bisa sepenuhnya lepas dari Arka, tapi perih mengingat kini cintanya bertepuk sebelah tangan.


Cinta memang selalu sebercanda itu. Bahagia dan perih di saat yang bersamaan. Sungguh hebat alur skenario yang ditetapkan Sang Kuasa.


"Apa yang mau kamu lakuin?" tanya Beby.


Arka tertawa getir. "Kenapa? Kamu mau nurutin semua permintaan aku, karena waktuku udah nggak banyak?"


"Stop bicara seolah-olah kamu tahu segalanya, Ar. Keajaiban bisa aja terjadi. Bisa aja Tuhan cabut penyakit kamu."


"Aku nggak mau, By. Aku nggak mau Tuhan nyabut penyakit aku. Aku nggak mau Tuhan bikin aku sembuh. Karena aku nggak mau bikin kamu bingung nanti."


"Hidup kamu bukan cuma tentang aku, Ar. Ada tante Chika yang butuh kamu."


"Aku tahu. Mangkanya, sekarang aku lagi nyoba cari temen baru buat mama."


"Maksudnya?" Alis Beby bertaut heran.


"Beberapa hari yang lalu, ada laki-laki seumuran mama yang jenguk aku. Katanya, sih, temen kerja."


"Michinnom," (Kamu gila) ucap Beby yang lantas beranjak dari tempatnya.


"Hah? Kamu ngomong apa, By?!"


"Tunggu! Aku siap-siap dulu. Kita cari kado buat Aldef!" teriak Beby dari anak tangga ketiga terbawah.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2