ALDEBY

ALDEBY
|15.| Gwenchanna


__ADS_3

Tepat pukul 07.14, Beby terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Seperti ada puluhan batu gunung yang menghantam kepalanya. Beby memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengenyah pening yang mendera.


Setelah dirasa lumayan ringan, Beby yang semula berbaring mengubah posisi menjadi duduk. Gadis itu terdiam sejenak. Mengamati pakaiannya yang masih sama seperti semalam. Memorinya secara otomatis menerka apa yang telah terjadi.


Beby ingat. Baik raga maupun jiwanya tak siap bertemu orang yang ada di Lomera Cafe kemarin. Satu pertanyaan yang terus terngiang di kepala Beby sejak saat itu: bagaimana lelaki itu bisa kembali?


Beby menarik napas dalam-dalam, memasok paru-parunya yang semula terasa sesak. Kemudian, tangannya bergerak meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ada banyak notifikasi yang masuk. Kebanyakan dari ibunya. Tapi entah mengapa, dari sekian banyak notif yang ada, Beby malah mengharapkan notif dari orang yang sama sekali tak menghubunginya.


Hari ini Beby ada kuliah pagi, lalu siangnya dilanjut pemotretan di studio FS hingga sore hari. Anggi sudah mengingatkannya sejak kemarin. Endorsment pun banyak yang masuk. Beby tak boleh menjadi sosok yang lemah.


Sebesar apapun badai dalam diri, jangan sampai badai itu menguasai dan mengendalikan diri kita.


Mengingat kalimat yang satu itu, Beby beranjak dari kasur, meregangkan otot-ototnya yang kaku sejenak, lalu bergegas menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama untuk Beby menuntaskan acara mandi paginya.


Setelan blouse putih polos dan celana kulot plisket warna krem yang menjadi pilihan outfit Beby hari ini. Gadis itu memberi sentuhan make up natural di wajah cantiknya. Lalu, mengumpulkan rambutnya yang panjang menjadi satu ikatan.


Kemudian, Beby melangkah menuju lemari pakaiannya. Gadis itu membuka laci di dalam sana, tangannya bergerak mengambil botol kaca yang tersimpan apik. Beby mengambil sebutir, kemudian menelannya bulat-bulat.


Bagaimanapun, Beby merasa sangat membutuhkan isi dalam botol kaca itu sekarang.


Sembari menenteng sling bag putih yang berisi handphone, dompet, dan dua bolpoin, Beby melangkah menuju pintu kamarnya.


Tepat saat pintu terbuka, sosok Miko dalam balutan kemeja kotak-kotak dan celana jeans hitam menyambut Beby. Menurut gadis itu, Miko mulai masuk kuliah hari ini.


"Mau ke mana lo?" tanya Miko seraya melayangkan tatapan yang tak biasa pada Beby. Pria berumur 25 tahun itu seolah melucuti raga Beby dengan manik matanya.


"Kuliah," jawab Beby santai. "Terus siangnya ada pemotretan di FS."


"Lo nggak inget yang terjadi semalam?"


"Ingat. Kenapa emang?"


"Kenapa lo bilang?" Miko maju selangkah. Menatap Beby dengan sarat heran sekaligus intimidasi. "Setelah yang terjadi semalam, lo mau pergi sekarang?"


"Ya, emang kenapa, sih, Kak? Gue udah baik-baik aja."


"Beby! Lo itu ke-triger kemarin!" Jeda sejenak. "Sekarang gue tanya, apa yang ngebuat lo bisa separah itu kemarin? Dan kenapa bisa ada video lo dan Aldef yang viral? Terus, kenapa lo bisa pulang sama Kiran? Bukannya pagi-pagi lo berangkat bareng Aldef? Ke mana, tuh, bocah?"


"Nanti aja, ya, jelasinnya. Gue ada kelas pagi, nih."


"Beby!" Miko menghela napas keras. Memejamkan mata sejenak untuk menetralisir emosi yang membuat darahnya mendidih. "Oke. Lo bisa kuliah dan kerja hari ini. Tapi lo bareng gue. Nggak ada Aldef, Kiran, atau siapapun itu yang mendampingi lo kecuali gue. Ngerti?"


"Ngerti, sih. Tapi, emang kuliah lo sampai siang juga?"


"Masalah itu, gue atur nanti."


Daripada terus adu mulut dengan sang kakak yang sudah pasti enggan mengalah, Beby pun mengekori langkah Miko layaknya bocah usia lima tahun yang berjalan bersama ibunya.


***


Dalam perjalanan menuju Universitas Pelita, bola mata Beby terus menatap kosong ke arah jendela mobil. Kepalanya sibuk mereka ulang kejadian semalam. Laki-laki itu, bagaimana bisa dia ada di sana? Bukankah seharusnya dia ada di ....


"BEBY SKYLA AMANDA!"


Suara keras yang memekakkan telinga itu sukses membuat Beby terlonjak kaget. Ia menatap kesal ke arah Miko. "Apaan, sih, Kak? Nggak usah teriak-teriak kenapa?!"


"Habis lo dipanggil dari tadi nggak nyahut-nyahut." Miko melirik ke arah ponsel Beby yang berada di pangkuan si pemilik. "Tuh! Ada telepon dari mama."


Beby mengekori arah pandang Miko. Dan ternyata benar, ponselnya bergetar sebab ada panggilan masuk dari sang mama. Beby mengatur napas sejenak, lalu menekan tombol answer.


"Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikumsalam, Beby. Kamu itu kemarin dari mana aja, sih? Semalaman Mama terus-terusan kepikiran kamu, lho. Tengah malam waktu Mama telepon, malah Miko yang angkat."


Manik mata Beby melirik ke arah Miko, lalu kembali menatap lurus ke depan dua detik berikutnya. "Maaf, ya, Ma. Semalam aku capek banget. Kemarin juga sibuk seharian, jadi nggak sempat angkat telepon Mama."

__ADS_1


"Terus? Yang lagi viral itu, beneran kamu?"


Beby kembali menoleh ke arah Miko yang juga tengah menatapnya. "Uuummm ... iya, Ma."


"Dia siapa? Pacar kamu? Kamu udah putus sama Arka?"


Arka. Sekali saja nama itu disebut, namun mampu menyumbat saluran pernapasan Beby.


"Bukan, Ma. Cuma teman."


"Tapi kamu nggak apa-apa, 'kan? Di video itu, teman kamu nolongin karena kamu tenggelam, ya?"


Seulas senyum terbit di bibir Beby. "Gwenchanna. Mama nggak perlu khawatir, ya." (Nggak apa-apa)


"Jinjja? Apa perlu mama ke sana?" (Serius?)


"Nggak usah, Ma. Lagian, di sini, kan, ada Kak Miko."


Terdengar helaan napas lega di seberang sana. "Ya udah kalau gitu. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Titip salam buat Miko. Kalau ada apa-apa, langsung kabari Mama."


"Iya, Ma."


"Oh, iya, By. Satu lagi."


"Kenapa, Ma?"


"Jangan lupa bilang makasih ke teman kamu itu. Kalau dia nggak nolongin kamu, bisa jadi kamu kenapa-napa."


Beby terdiam sejenak. Awalnya, Beby mengira Maya akan menunjukkan reaksi yang sama dengan dirinya usai menonton video itu. Tapi ternyata, Beby salah.


"Iya, Ma. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kenapa?"


Pertanyaan singkat dari Miko itu berhasil menyeret Beby dari lamunan.


"Nggak kenapa-kenapa."


Mobil merah milik Beby akhirnya menyatu dengan deretan mobil-mobil lain milik mahasiswa dan mahasiswi Universitas Pelita.


Sebelum turun dari mobil, Miko berkata, "Nanti kuliah gue sampai sore. Kalau emang lo mau kerja, lo bisa bawa mobil ini. Tapi kalau nggak, lo tunggu gue sampai selesai kelas, setelah itu kita pulang."


Beby menatap Miko lamat-lamat. Seulas senyum manis hinggap di bibir Beby. "Gue bisa pergi sendiri. Lo nggak usah khawatir, ya, Kak. Gue baik-baik aja."


Miko mengangguk. "Oke. Nanti lo sharelock di mana tempat lo kerja. Selesai kelas, gue jemput."


"Nggak usah—"


"Nggak usah ngebantah. Turutin aja."


Gadis di samping Miko itu mengerucutkan bibir, kesal dengan sikap protektif sang kakak. Namun, tak ayal akhirnya Beby menurut juga. "Iya."


***


Semua orang sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan saat Aldef yang baru saja bangun keluar kamar.


"Eh. Anak gadis mama udah bangun," sambut Fitri saat melihat Aldef berjalan ke arah meja makan.


"Pangeran, nyenyak tidurnya?" Kali ini Putri yang berkomentar dengan nada sinis.


Aldef melirik ibu dan kakak tirinya dengan malas. Tangannya menarik kursi di samping Putri dan duduk di sana.


"Aldef, lama saya nggak lihat kamu. Apa kabar?" Kalau sapaan yang bernada hangat ini bersumber dari lelaki paruh baya di hadapan Aldef: Farhan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik, Om," balas Aldef seraya melempar seulas senyum ramah ke arah Farhan. "Om sendiri gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, baik juga." Farhan pun melempar senyum yang tak kalah ramah pada anak sambungnya.


"Lo jam segini baru bangun, nggak kuliah?" tanya Putri. Kini, mereka berempat sedang menikmati sarapan masing-masing.


Aldef menggeleng. "Hari ini, sih, free."


"Terus, lo nggak ada niat balik ke apartemen?"


Pertanyaan itu lantas membuat kedua alis Aldef bertaut. "Lo ngusir gue?"


"Iya," jawab Putri tanpa ragu.


"Putri, jangan gitu sama adiknya," timpal Farhan.


"Tuh! Dengerin!" Aldef pun tak mau kalah.


Melihat perdebatan di meja makan pagi ini, Fitri tertawa renyah. Hal itu membuat tiga pasang mata di sana lantas mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Kenapa, Ma?" tanya Aldef.


"Nggak apa-apa. Mama cuma seneng aja. Biasanya, nggak pernah ada perdebatan di meja makan ini pagi-pagi. Pas banget hari ini papa dan Putri berangkatnya nggak terlalu pagi."


Aldef melempar senyum manis ke arah sang ibu. "Aku bakal sering-sering nemenin mama sarapan lain kali, ya."


"Nggak usah repot-repot. Ada gue sama papa," sahut Putri.


"Putri!"


Gadis berpakaian serba putih khas perawat itu tersenyum nyengir ke arah sang papa. "Iya, Pa. Maaf."


Acara sarapan pagi itu berakhir dengan Farhan dan Putri yang pamit untuk berangkat kerja. Aldef pun ikut melenggang dari tempatnya. Lelaki itu berniat untuk mandi.


Setelah pamit pulang dengan Fitri, Aldef bergegas meninggalkan rumah orang tuanya. Di dalam perjalanan, Aldef berpikir untuk menelepon seseorang.


"Hallo, Ri? Beby ada jadwal pemotretan hari ini?"


"Ada. Jam satu siang."


"Thank's."


Senyum Aldef merekah begitu sambungan telepon singkat itu berakhir. Ia semakin tak sabar untuk sampai ke lokasi tujuan. Meski waktu masih menunjukkan pukul 09.45.


Semalam, Aldef sudah merenungkan semuanya. Lelaki itu pun telah mengambil keputusan untuk bagaimana ia harus bersikap pada Beby selanjutnya.


***


Sesuai kesepakatan, Beby mengendarai mobilnya menuju studio FS usai kuliah. Sampai di tempat tujuan, Beby mengirim share location ke nomor WhatsApp Miko.


Hari ini, Beby tak menemukan keberadaan Aldef di kampus. Memang, biasanya Beby akan melihat laki-laki itu di kafetaria. Mengingat usai kelas Beby langsung tancap gas menuju FS, tak heran bila bola matanya tak menemukan sosok Aldef.


Baru saja keluar dari mobil, langkah Beby dihadang oleh dua pasang kaki. Gadis itu mendongak perlahan. Rahangnya mengeras saat melihat siapa pemilik kaki-kaki yang mengadangnya.


"Mau apa kalian?"


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2