ALDEBY

ALDEBY
|30.| Titip Salam


__ADS_3

Beby membuka kresek putih berisi minuman yang baru beberapa saat lalu sampai dengan excited. Akhirnya, indra pengecap Beby bisa kembali merasakan kenikmatan minuman favoritnya: milkshake taro.


"Al."


Aldef yang tengah sibuk menyiapkan bubur ayam untuk sarapan Beby pagi ini menoleh sejenak begitu mendengar namanya dipanggil. "Hm?"


"Ini milkshake-nya, kok, nggak pakai es batu?"


"Sengaja."


"Kenapa gitu? Kan, jadi nggak dingin," protes Beby.


"Emang sengaja biar nggak dingin, Sky." Aldef duduk di samping kiri Beby sembari menopang seporsi bubur ayam dalam mangkok dengan kedua tangan. "Lo, kan, lagi sakit, masa mau minum es?"


"Tapi, milkshake-nya jadi nggak nikmat dong, Al. Nggak seger."


Aldef tersenyum menggoda. "Minumnya sambil lihatin gue aja. Dijamin seger!"


"Dih! Ogah!" tolak Beby yang lantas menyeruput minumannya.


Mungkin, di bibir dan ekspresi Beby menolak mentah-mentah. Tapi dalam hati ... bbbrrrr!!!


"Buka mulutnya," ucap Aldef sesaat setelah Beby meletakkan gelas dalam genggamannya di atas nakas. Pria itu tengah siap dengan satu sendok bubur di tangan.


"Ngapain?" Beby menatap Aldef heran.


"Makan."


"Lo?"


"Elo, lah, Sky! Ayo cepetan. Pegel, nih, tangan gue."


Alih-alih membuka mulut seperti yang Aldef perintahkan, Beby malah mengambil alih sendok dalam genggaman Aldef. Namun, Aldef lebih sigap untuk membuat niat gadis di hadapannya tak terlaksana.


"Mau ngapain?" tanya Aldef sembari menjauhkan sendok dari Beby.


"Gue bisa makan sendiri."


"Gue suapin."


"Nggak mau."


"Kenapa?"


"Ya, nggak mau aja!"


"Yakin? Nanti kalau gue suapin cewek lain, lo marah." Aldef tertawa di ujung kalimat. Membuat Beby lantas melotot.


"Siniin makanannya!" Beby berusaha menggapai makanan di tangan Aldef. Sementara itu, Aldef malah meletakkan mangkok dalam genggamannya ke meja di samping nakas yang dapat dipastikan tak terjangkau oleh tangan Beby.


"Al! Kok, malah ditaruh meja, sih? Gue mau makan. Laper. Siniin buru—"


Wajah Aldef yang mendadak hampir tak berjarak dengan muka Beby membuat gadis itu terpaku seketika. Seolah ada tombol yang otomatis tertekan dan membuat sekujur tubuh Beby terdiam saat Aldef mendekat. Meski jantungnya berdebar tak keruan, Beby bersyukur sebab organ dalam tubuhnya itu adalah ciptaan Tuhan. Jika tidak ....


"Gue suapin, Sky. Oke?" Aldef menatap lurus kedua bola mata Beby sembari mengangguk singkat.


Layaknya orang di bawah pengaruh hipnotis, Beby pun turut mengangguk. "O-oke."


Kedua sudut bibir Aldef tertarik lebar, membentuk sebuah senyum yang dapat dipastikan membuat kaum hawa mabuk kepayang. Tanya saja Beby jika tidak percaya.


Sementara itu, Beby yang melihat Aldef mengambil kembali mangkuk di atas meja hingga menciptakan jarak di antara mereka, akhirnya bisa bernapas lega.


***


Jam 10 pagi, pintu ruang rawat Beby terdengar diketuk dari luar. Usai mempersilakan si pelaku masuk dan pintu pun terbuka, tampak sosok Anggi dengan kedua tangan yang menenteng lima buah tote bag.


"Masih inget lo sama gue, Mbak?" sindir Beby yang membuat Anggi tersenyum meringis.


"Hehehe. Sorry baru bisa jenguk. Butik lagi rame banget soalnya."

__ADS_1


Tatapan Beby beralih pada tote bag yang Anggi letakkan di atas kasur tepat samping kanannya. "Apaan, nih? Tumben lo perhatian sama gue."


"Ish. Emang kapan gue nggak perhatian sama lo?" protes Anggi. "Lo udah baikan, 'kan?"


"Lumayan."


Beby menatap Anggi sejenak, lalu tangannya bergerak mengintip satu per satu isi dari kelima tote bag itu. Entah mengapa, perasaan Beby mendadak tak enak.


"Ini buat gue semua?" tanya Beby.


Anggi mengangguk mantap. "Of course? Tapi ...."


Kan. Pasti ada sesuatu.


"Tapi apa?" Beby kembali bertanya.


"Hehehe." Cengiran Anggi tampak kian melebar. "Itu endors buat hari ini."


"WHAT?!"


Teriakan Beby itu lantas membuat gendang telinga Anggi berdengung. Sementara Aldef yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Beby dan managernya hanya tertawa pelan.


"Gila, ya, lo, Mbak?!"


"Santai dulu, dong," ujar Anggi sambil mengusap-usap kedua pundak Beby.


"Santai, santai. Ini infus aja belum copot. Bisa-bisanya nerima endors! Tega lo, Mbak."


"Udah-udah." Aldef yang semula duduk di samping kiri Beby mulai turun tangan. Pria itu berdiri, membuat bola mata Beby dan Anggi sama-sama fokus padanya. "Cuma ini, kan, Mbak?"


Anggi mengangguk. "Iya. Cuma lima itu."


"Al!" Beby hendak protes, namun tatapan hangat dari manik mata Aldef yang menggetarkan hatinya membuat Beby luluh.


"Biar gue bantu," kata Aldef.


Beby menghela napas berat. Gadis itu melayangkan tatapan tajam ke arah Anggi. Sungguh. Tega sekali wanita itu! "Oke. Gue mau terima lima endors ini. Tapi, gaji lo bulan ini gue potong sepuluh persen."


Beby sudah menduga seperti itulah reaksi Anggi. Dan Beby tidak peduli.


"Jadi nggak, nih, endors?"


Anggi berdecak kesal. "Nggak. Buat lo aja semuanya."


Kedua sudut bibir Beby menukik tajam, membentuk seulas senyum kemenangan. "Gitu, dong. Daripada potong gaji, 'kan?"


"Iya. Tapi tetap aja, gue bakal diprotes sama yang punya produk!"


Beby menaikkan satu bahu, pertanda ia tidak peduli. "Urusan lo."


"Gue balik, deh. Butik lagi rame. Assalamualaikum." Usai berkata demikian, Anggi bergegas meninggalkan ruang rawat Beby dengan raut muka kesal.


Sepeninggalan Anggi, Beby dan Aldef saling tatap.


"Lo bisa kejam juga ternyata," ucap Aldef sembari terkekeh geli.


Beby tertawa. "Kalau nggak digituin, makin nggak berperikemanusiaan, tuh, orang."


"Padahal kita tinggal bikin videonya."


Beby menaikkan kedua alis. "Iya, sih. Gampang sebenernya. Gue juga fine-fine aja. Apalagi cuma lima barang. Tapi, matrenya mbak Anggi emang harus dikendalikan, Al. Kasihan calon suaminya nanti."


"Emang mbak Anggi udah punya calon?"


"Nggak tahu."


"Ngomong-ngomong, Sky, gue penasaran, deh, tadi kak Miko pergi ke mana, ya?"


"Ada urusan sama temennya kali."

__ADS_1


"Sampai rela biarin lo cuma berdua sama gue? Rasanya, itu bukan kakak lo banget."


Kalimat Aldef barusan, membuat Beby memikirkan hal yang sama. "Iya juga."


***


"Nggak mau masuk dulu?" tanya Beby sembari menatap Aldef yang mengiringi langkahnya di sisi kanan. Mereka baru saja tiba di depan unit apartemen Beby.


"Nggak. Gue mau langsung cabut, ada urusan. Lo nggak apa-apa, kan, ditinggal sendiri?"


"Nggak apa-apa, sih, lagian bentar lagi kak Miko datang. Tadi dia nge-chat gue. Tapi, lo mau ke mana?"


"Ada janji sama Fahri."


"Di FS?"


"Iya."


"Gue boleh ikut nggak?"


"Ngapain? Lo, kan, baru pulang dari rumah sakit. Istirahat aja, ya."


"Tapi ...."


Kedua telapak tangan Aldef hinggap di bahu Beby, membuat gadis itu terdiam seketika. "Lo di rumah aja, istirahat. Nanti gue diamuk sama kakak lo kalau bawa adeknya keluar malam-malam gini. Lagian, udah seharian gue temenin, masa masih kangen?"


"Ish!" Beby meninju pelan dada Aldef, membuat si korban terkekeh-kekeh. "Siapa juga yang kangen sama lo."


"Beby Skyla Amanda. Siapa lagi kalau bukan lo?"


"Nggak! Gue nggak kangen sama lo," ketus Beby seraya melepas tangan Aldef yang masih bertengger di pundaknya.


"Bener?" Pria di hadapan Beby itu masih saja unjuk tatapan jahil.


"Iyalah!"


"Hahaha. Ya udah, gue pamit, ya," ucap Aldef sembari melambaikan tangan dan mengambil langkah menjauh. Namun, baru lima lingkah, suara Beby menahannya.


"Al!"


"Apa?"


"Titip salam buat Fahri."


Kedua alis Aldef bertaut. Lalu satu alisnya menukik ke atas. Pria itu berdesis pelan. Aldef kembali mengambil langkah mendekat ke arah Beby. "Kok, gue nggak suka, ya, dengernya."


"Kenapa emang?"


"Fahri doang yang mau lo salamin? Cru yang lain enggak?"


Beby tertawa renyah. "Lo cemburu?"


"Iya."


Jujur, pertanyaan yang baru saja Beby layangkan itu hanyalah sebuah candaan. Beby sama sekali tak menyangka bahwa Aldef akan menanggapi dengan serius.


"Tegang banget mukanya," ucap Aldef sambil mendaratkan telapak tangan di bahu kiri Beby, membuat gadis itu mengulas senyum Canggu seketika. "Ya udah, nanti gue sampaiin salam lo. Bye, Sky!"


Baru saja bebas dari sentuhan Aldef di pundak yang terasa menyetrum jantungnya, kini tangan pria itu kembali berulah. Aldef mengacak pelan puncak kepala Beby. Sudah berbuat, tidak bertanggungjawab pula! Terbukti dengan Aldef yang langsung melenggang dari hadapan Beby.


"Gila. Bukan cuma rambut gue, nih, yang berantakan. Jantung juga," gumam Beby yang bergegas memasuki unit apartemennya, sebab menyadari bahwa Aldef di depan sana tengah mengerling ke arahnya.


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2