ALDEBY

ALDEBY
|50.| Jealous?


__ADS_3

"Ri, lihat Aldef nggak?" tanya Beby pada Fahri yang tengah sibuk dengan kamera di tangannya.


"Tadi gue lihat dia ke restoran seberang," jawab Fahri.


"Thank's." Beby bergegas menghampiri ke tempat di mana Aldef berada. Tak butuh lama, Beby telah berada di restoran yang Fahri maksud.


Bola matanya menjelajah ke segala sudut, mencari sosok Aldef. Restoran yang cukup luas ini membuat Beby harus sedikit lebih menajamkan indra pengelihatannya.


Memang benar, Aldef ada di sana. Meski hanya mendapati wajah lelaki itu dari samping, namun Beby yakin betul bahwa pemilik hidung mancung itu adalah pacarnya.


Beby yang semula berjalan cepat untuk menghampiri Aldef, mendadak berhenti melangkah saat menyadari ada seorang gadis yang duduk di depan pria itu. Sebenarnya, Beby kurang yakin akan otaknya yang mentransfer sinyal tentang nama gadis di hadapan Aldef. Tapi, jepit rambut berbentuk bunga matahari yang terpasang di rambutnya membuat Beby yakin.


Alih-alih menghampiri mereka dengan maksud melabrak, Beby lebih penasaran tentang apa yang tengah mereka bicarakan. Maka dari itu, Beby memutuskan untuk duduk di meja berisi dua kursi yang tak jauh dari sana. Setidaknya, gendang telinga Beby dapat menangkap lumayan jelas pembicaraan Aldef dan Celine.


"Kamu belum cerita ke Beby soal kita?"


"Mending kita balik sekarang. Kamu juga masih jam kerja, 'kan?"


Sayangnya, hanya sebatas itu yang Beby dengar. Lalu, Aldef dan Celine keluar dari restoran itu. Memang hanya 'itu', tapi cukup membuat Beby bertanya-tanya.


"What the hell? Aku-kamu? Kita? Apaan coba maksudnya?"


Beberapa menit berlalu, Beby masih termenung di posisi semula. Berbagai kemungkinan memenuhi kepalanya. Mulai dari positif ke negatif, negatif ke positif, hingga akhirnya Beby menemukan titik netral.


Kedua sudut bibirnya tertarik lebar saat memikirkan kemungkinan itu.


"Iya. Aldef pasti mau ngasih gue surprise. Bentar lagi, kan, gue ultah. Dia pasti minta bantuan Celine. Terus, tadi mereka pasti tahu kalau gue nguping. Iya. Pasti gitu!"


Beby beranjak dari posisinya. Ia memesan segelas milkshake taro extra es batu sebelum meninggalkan restoran.


Baru sampai di gerbang sekolah, sosok Aldef tiba-tiba muncul di hadapan Beby.


"Lo dari mana?" tanya Aldef dengan raut muka khawatir.


Beby diam sejenak. Rasanya, sangat tidak pantas jika ia mengaku bahwa telah menyadari rencana Aldef untuk surprise ulang tahunnya. Beby pun memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.


"Habis beli ini," jawab Beby seraya mengangkat minuman favoritnya. "Lo dari mana aja, sih, Al? Tadi kata Fahri lo ada di restoran seberang sama Celine, tapi gue cari ke sana nggak ada."


Aldef bergeming. Ia berusaha mencerna maksud di balik ucapan Beby. Pasalnya, lelaki itu sudah menyiapkan beragam alasan yang masuk akal jika memang Beby melihatnya bersama Celine. Beruntung, sebab dugaan Aldef salah.


"Iya, tadi. Udah balik tapi."


Beby menatap Aldef lamat-lamat. Dugaannya benar, Aldef sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ada yang lo sembunyiin dari gue, ya?"


"Hah? Eng-nggak."


Daripada Beby melanjutkan aksinya mengintrogasi Aldef, lelaki itu cepat-cepat meraih telapak tangan Beby. Lalu, Aldef menyeret langkah Beby kembali ke ruang make up.


Beby yang mengekori langkah Aldef diam-diam tersenyum seraya menatap lurus ke tangannya yang berada dalam genggaman Aldef. Beby jadi tak sabar untuk menanti hari ulang tahunnya.


***


'Pyar!'

__ADS_1


Suara nyaring akibat mangkuk di tangan gadis berambut panjang itu mengusik ketenangan seantero kantin. Lelaki yang berada tepat di samping gadis itu refleks meraih tangan sang gadis yang terkena tumpahan kuah panas.


"Jalan nggak usah pakai nabrak, bisa?" kesal si lelaki pada gadis yang menjadi tersangka penabrakan.


"Maaf, gue buru-buru."


"Udah. Gue nggak apa-apa, kok."


"Nggak apa-apa gimana? Ini tangan lo ketumpahan kuah panas, By!"


"CUT! CUT!"


Beby menghela napas berat. Manik matanya menatap kesal ke arah Daren. "Lo daritadi salah sebut mulu, ya."


Daren memperhatikan semua orang yang menatap kesal ke arahnya. "Sorry. Bisa minta break sebentar?"


"BREAK SEPULUH MENIT!" teriak Fahri, mewakili seluruh kru yang bertugas.


"Lo ada masalah?" tanya Beby. "Udah tujuh kali take ulang, lho, kita."


"Sorry, By. Gue cuma lagi nggak enak badan aja. Sejak semalam, sih."


"Udah makan siang?"


"Makan dikit tadi dia," sahut Tristan yang turut bergabung di meja Daren dan Beby.


Beby berdiri dari kursinya. Punggung tangan Beby bergerak menyentuh kening Daren. "Agak panas, sih. Mau udahan aja? Dilanjut besok."


Daren yang terkejut dengan sentuhan Beby seolah merasakan sekujur raganya membeku. Bahkan, lidahnya pun terasa kelu.


"Ren?"


"Ren? Lo nggak apa-apa, 'kan?"


"Ren?"


"Daren!"


"Hah? I-iya. Nggak apa-apa."


"Bener?"


"Iya. Kita lanjut syuting."


Duhhh!!! Masa iya gue baper? Inget, Ren! Beby udah punya pacar. Sadar!


Sementara itu, Aldef yang sejak tadi mengawasi sang pacar di belakang kamera, dapat merasakan ada sesuatu yang mengganjal dari Daren. Tapi, Aldef tak ingin berburuk sangka. Yang harus ia lakukan mulai sekarang adalah selalu menemani Beby. Ke mana pun gadis itu pergi.


"Ngelamun aja, Mas," ucap Lola, membuat Aldef menoleh sejenak. "Kenapa? Lo khawatir Daren baper, ya, sama Beby? Tenang aja. Selama Beby maunya sama lo, nggak akan ada yang bisa ngerebut Beby. Kecuali, kalau Beby sendiri yang milih berpaling. Ya, menurut gue, nggak ada istilah merebut dan direbut. Karena seorang tamu, nggak akan bisa masuk kalau nggak dibukain pintu sama tuan rumah."


"Ngomong apaan, sih, lo? Sok tahu!" Suara lain yang tiba-tiba menyahut membuat Lola menoleh.


"Kiran? Ngapain lo ke sini?"


Kiran mengangkat dua buah kresek dalam genggaman tangan kanan dan kirinya. "Bawain kalian camilan."

__ADS_1


"Wahhh!!!" Lola berseru girang. "Let's go!"


Lola dan Kiran bersama-sama mengambil posisi terbaik untuk menyantap makanan yang Kiran bawa.


Jika Lola dan Kiran telah membaur bersama yang lain menikmati makanan sore itu, berbeda dengan Aldef yang masih terdiam merenungi kata-kata Lola.


Aldef merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Bagaimana bisa ia takut kehilangan Beby, sementara masih ada kepingan-kepingan Celine di hatinya?


***


Setelah memastikan tak ada telinga yang akan mendengar, Celine menekan tombol answer pada ponselnya yang sejak tadi bergetar.


"Hallo?"


" .... "


"Kayaknya, sih, iya. Dari gerak-gerik dia hari ini."


" .... "


"Iya-iya. Nanti gue ingetin."


" .... "


"Oh, udah ditransfer? Okay. Thank's, Far!"


Celine menutup sambungan telepon seraya tersenyum lebar. Memang tak mudah berjalan untuk mencapai tujuan yang Fara inginkan, tapi sepadanlah dengan bayaran yang Celine terima. Dengan begitu, Celine tak perlu cemas soal jadwal cuci darah Poppy. Setidaknya, adik Celine itu bisa bertahan hingga ada pendonor ginjal untuknya.


"Far? Far siapa?"


Celine terlonjak kaget mendapati sosok pria yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Daren?"


"Far siapa?"


"Nguping lo, ya?"


"Nggak sengaja denger. So, Far siapa?"


"Bukan urusan lo."


"Lo nggak ada niat buruk, 'kan?"


"Bukan urusan lo!"


Celine melengos pergi. Meninggalkan Daren yang menatap lurus ke arah punggung Celine. Kedua matanya menatap penuh selidik pada gadis berambut lurus itu.


"Sejak awal datang, itu cewek mencurigakan banget."


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2