ALDEBY

ALDEBY
|4.| Kita Putus


__ADS_3

..."Kamu hanya orang yang belum usai dengan masa lalunya dan butuh pelampiasan."...


...***...


"Jadi, ini alasan kamu menghindar dari aku selama ini, Ar?"


Di depan sana, Arka dan seorang perawat yang sejak tadi mengekorinya tampak mengambil posisi di salah satu meja kantin. Dari yang Beby lihat, sepertinya mereka sedang beristirahat.


Beby diam di tempat. Menyaksikan keakraban tak biasa antara sang pacar dengan perempuan lain, sekaligus berusaha menetralisir rasa sesak yang mulai menggerogoti relung hatinya. Sekeras apapun Beby mencoba, matanya tetap saja terasa panas. Tak lama kemudian, cairan bening yang semula berkumpul di pelupuk mata, tumpah begitu saja.


Tatapan Beby beralih pada martabak manis dalam genggamannya. Gadis itu menghela napas sejenak, lalu mengusap jejak air mata di pipinya. Dua detik berikutnya, Beby menata langkah menuju meja tempat Arka berada.


"Arka," panggil Beby, membuat kedua orang yang tengah duduk berhadapan di sana kompak memusatkan bola mata ke arahnya.


"Beby?" Melihat siapa yang datang, Arka beranjak dari posisi duduk. 


Jelas sekali ketegangan yang terpancar dari tatapan Arka begitu manik matanya berserobok dengan milik Beby. Pasalnya, gadis itu selalu memberi kabar terlebih dahulu jika berniat untuk menemuinya. Dan sudah pasti, Arka mengerahkan seribu satu alasan untuk mengurungkan niat Beby.


"Dia siapa, Sayang?" tanya si perawat yang turut berdiri di hadapan Beby.


Sayang?


Kedua bola mata Beby menatap Arka lamat-lamat, meminta penjelasan secara non-verbal. Jadi, inikah kesibukan yang Arka maksud selama ini?


"Dia ... " Arka menatap Beby dan gadis berpakaian putih di hadapannya secara bergilir. "Dia ... temen aku."


"Oh ... teman." Si perawat itu mengulurkan jabatan tangan ke arah Beby. "Kenalin, gue Putri, pacarnya Arka."


Sekali lagi, Beby merasa seperti ada belati kecil nan tajam yang menusuk tepat di bagian jantungnya. Oksigen yang memasok paru-paru mendadak lenyap. Dinding-dinding ruangan tempat Beby berpijak seolah merebut habis sisa tenaganya. 


Rasanya ... sakit sekali.


Beby memejamkan mata sejenak, memohon pada air matanya untuk tidak tumpah sekarang. Saat Beby kembali membuka mata, kedua sudut bibirnya mengulas senyum lebar—yang dapat dipastikan kepalsuannya.


"Beby," ucap Beby seraya membalas jabatan tangan Putri.


"Ngapain ke sini?" tanya Arka.


Lagi-lagi, Beby unjuk senyuman lebar yang membuat hatinya terasa remuk. Tangan Beby yang menggenggam kantong kresek diangkat hingga sejajar dengan wajahnya. "Cuma mau ngasih ini." Tatapan Beby beralih pada dua piring nasi goreng di atas meja. "Tapi, kayaknya, kalian udah makan. Jadi, gue bawa balik aja, ya?"


Tanpa basa-basi lagi, Beby bergegas melenggang dari hadapan Arka dan Putri. Namun, belum ada satu langkah Beby meninggalkan tempat, Putri bertanya, "Nggak mau makan bareng kita?"


Jika Beby kembali bersuara, dapat dipastikan pertahanan yang telah ia bangun susah payah akan segera runtuh. Maka dari itu, Beby hanya menjawab dengan gelengan singkat dan seulas senyum tipis. Sebelum benar-benar beranjak dari tempatnya, bola mata Beby sempat bersitatap dengan milik Arka.


Tapi, jika sudah seperti ini, apalagi yang bisa Beby lakukan selain pergi?


Meraung-raung di hadapan Arka yang sudah jelas-jelas telah berpaling darinya? Yang benar saja! Otak Beby masih sangat waras.


Semakin jauh Beby melangkah, semakin deras pula air mata yang merembes ke pipinya. Selama ini, tak pernah sekali pun Beby tidak mencoba untuk mengerti Arka dengan segala kesibukannya. Tapi ternyata, keputusan Beby untuk bertahan hanyalah suatu kebodohan. 


Tangan Beby sudah menggapai pintu mobil, namun sebuah tangan lain menghentikan gerakannya. 


Saat Beby menoleh, indra pengelihatannya menangkap sosok Arka dengan balutan kemeja hijau lumut. Melihat wajah Arka, air mata Beby yang belum sempat mengering, kini kembali deras. 


Beby tak sanggup lagi berpura-pura.


"Aku bisa jelasin," ucap Arka seraya meraih satu tangan Beby lainnya. 

__ADS_1


Beby berniat menepis cengkeraman tangan Arka, namun lelaki itu tak mengizinkan niat Beby terealisasikan.


"Lepas," tegas Beby.


"Dengerin aku dulu."


"Lepas!" 


Arka tahu—sangat—bahwa apa yang baru saja terjadi begitu menyayat hati gadis di hadapannya. Terbukti dengan tatapan penuh rasa sakit yang terpancar dari manik mata Beby. Oleh karenanya, Arka mengalah. Ia melepas genggaman tangannya pada pergelangan Beby.


"Dengerin aku dulu, ya? Aku bisa jelasin semuanya," mohon Arka.


Beby tertawa sumbang, disertai air mata yang terus mengalir dari indra pengelihatannya. "Haha. Jelasin apa? Jelasin kalau kesibukan kamu selama ini itu karena selingkuh? Jelasin kalau Putri adalah alasan kamu terus-terusan menghindar dari aku?"


"Nggak, By. Bukan gitu."


Tangan Arka kembali meraih pergelangan gadis di hadapannya, namun Beby lebih sigap untuk menepis sentuhan Arka.


"Terus apa, Ar?!" Alih-alih berteriak marah, suara Beby malah terdengar parau dan menyedihkan. "Kalau memang kamu udah nggak sayang aku, kenapa kamu nggak putusin aku aja? Kenapa harus ada orang ketiga? Kamu tahu? Rasanya sakit, Ar!"


"Putri bukan orang ketiga!" bantah Arka.


"Oh, ya?" Lagi-lagi, Beby tertawa sumbang. "Terus apa? Apa sebutan untuk cewek yang masuk di tengah-tengah hubungan orang lain? Pelakor?"


"Beby!" Bentakan itu semakin terasa menghimpit saluran pernapasan Beby, membuatnya terasa akan tumbang saat itu juga. "Cukup! Bisa nggak dengerin aku dulu? Sekali aja!"


"Apa lagi, Ar?! Apa lagi yang perlu aku dengerin dari mulut kamu setelah semua ini? Apa?!"


Tanpa mengatakan apapun, Arka merengkuh tubuh Beby. Tentu saja gadis itu berusaha keras untuk mengelak, namun emosi yang menguras habis tenaga Beby membuatnya berakhir pasrah.


Bukannya mereda, hujan yang membasahi pipi Beby akibat awan hitam dalam hatinya yang tak terbendung semakin deras. 


"Lepas," pinta Beby dengan suara bergetar.


"Nggak," bantah Arka. "Aku nggak akan lepasin."


Beby menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dalam tiga hitungan. Ia mengumpulkan sisa tenaga dalam dirinya untuk terbebas dari pelukan Arka. Saat merasa dirinya cukup kuat, Beby mendorong bahu Arka dengan kedua tangan mengepal. 


Tapi nyatanya, Arka enggan menyerah. Pria itu kembali mengambil langkah lebih dekat untuk meraih Beby.


"Stop!" pekik Beby saat Arka mengambil langkah pertama. 


Kecewa, sedih, muak, sesak, semua rasa itu bagaikan angin ****** beliung yang memporak-porandakan hati Beby. Terima atau tidak, nyatanya ia sudah tidak lagi bertahta di hati lelakinya.


"Aku sayang kamu, By," ucap Arka, membuat kedua telinga Beby terasa panas. 


"STOP!" Kali ini, Beby berteriak. "Kamu bahkan nggak mengakui aku sebagai pacar kamu di hadapan Putri. Berani kamu bilang cinta? Laki-laki macam apa kamu, Arka? Hah?!"


Jarak yang semula tersisa tiga langkah, akhirnya Arka kikis juga. Ia tidak peduli jika Beby menusuk belati sekalipun ke arahnya. Arka hanya ingin menatap wajah Beby lebih dekat.


"Putri itu cinta pertamaku," ucap Arka. "Dan kamu ... aku sayang kamu, By."


"Tapi kamu juga masih sayang Putri?" sarkas Beby. Gadis itu memberi penekanan pada kata 'masih'. "Iya, 'kan?!"


"Aku ...."


Skakmat! Habis sudah kalimat pembelaan yang siap Arka luncurkan. 

__ADS_1


"Terus, kamu mau milikin aku sama Putri?" Beby tertawa miris. "Gila!"


"Bukan gitu—"


Beby mengangkat telapak tangannya tepat di hadapan Arka, memberi tanda bahwa ia tak ingin lagi mendengar satu kata pun dari mulut pria itu. 


"Lucu ya, Ar." Beby tertawa getir. "Dua tahun lalu, kita ketemu di rumah sakit ini. Kamu yang malam itu harusnya udah pulang, malah milih buat nemenin aku, ngajak aku ngobrol, dengerin cerita-cerita aku. Kamu bahkan ngasih aku kalimat-kalimat motivasi yang sampai sekarang masih jelas di ingatan aku.


"Dan gara-gara kejadian itu, aku baper sama kamu. Aku kira, kamu adalah orang yang dikirim Tuhan untuk bikin aku pulih dari keterpurukan. Tapi ternyata aku salah. Kamu hanya orang yang belum usai dengan masa lalunya dan butuh pelampiasan."


Kata-kata itu meluncur bagaikan aliran sungai dengan debit air yang sangat cepat. Menghantam tepat ke inti hati Arka yang tak mampu lagi bersuara. 


Bibir Arka sudah terbuka, siap meluncurkan kata-kata yang dia harap bisa menenangkan Beby. Namun, gadis itu kembali bersuara.


"Dan sialnya, aku yang jadi korban pelampiasan kamu."


Jujur, Beby ingin sekali menyudahi segalanya dengan segera enyah dari tempat terkutuk ini. Namun, Beby harus menyelesaikan semuanya malam ini juga. Arka dan Beby, selesai sekarang juga. Harus!


"By—"


"Dengerin!" pungkas Beby. "Dengerin aku." Gadis itu menghela napas sejenak. "Perselingkuhan adalah sesuatu yang dilakukan secara sadar. Atau mungkin, selama ini hati kamu memang nggak sepenuhnya buat aku?"


"Tapi Putri itu—"


"Aku nggak peduli siapa Putri!" bentak Beby. "Mau Putri cinta pertama kamu, cinta monyet, I don't care! Kalau kamu nggak mau mutusin aku, aku yang bakal mutusin kamu."


"By—"


"Kita putus," ucap Beby telak. "Jangan pernah ganggu aku lagi."


"Tapi, By—"


"Kita. Putus."


Tak ingin lagi bersitatap dengan Arka, Beby cepat-cepat pergi. Namun, Arka lagi-lagi menahannya. Pria itu dengan lancang memeluk Beby dari belakang, membuat perasaannya semakin tak keruan.


"Maaf," bisik Arka di sela-sela isakan Beby yang sialnya kian terdengar jelas. "Maaf, By. Maaf."


Beby mengatur napas sejenak. Saat dirasa cukup dirinya mengumpulkan tenaga, dia melepas pelukan Arka dalam sekali sentakan. 


Tanpa sepatah katapun, Beby memasuki mobilnya dan meninggalkan area rumah sakit.


Rumah sakit. Sebuah tempat di mana orang-orang menyembuhkan rasa sakit. Namun, hal itu tak berlaku untuk Beby. Alih-alih mendapat penanganan, ia malah menerima rasa sakit yang begitu hebat.


Arka yang melihat mobil Beby hilang di persimpangan hanya bisa menatap nanar ke arah sana. Tepat pada detik itu, setetes air mata yang mewakili bongkahan rasa sakit dalam hatinya dengan lancang terjun membasahi permukaan pipi Arka.


"Maafin aku, By."


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2