ALDEBY

ALDEBY
|40.| Jangan Bahas Mantan


__ADS_3

..."Jangan bahas mantan. Kenapa? Takut ketahuan kalau yang di samping lo sekarang cuma pelampiasan?"...


...***...


Sebelum ke Dufan, Aldef mengajak Beby sarapan di sebuah warung soto ayam favoritnya.


"Dulu, gue sama Fahri dan temen-temen SMA yang lain sering banget makan di sini. Warung ini, tuh, bukanya pagi banget. Jam sebelas pasti udah habis. Telat semenit aja, nggak bakal kebagian," jelas Aldef di sela-sela aktivitas sarapannya bersama Beby.


"Emang kalian nggak sarapan dari rumah sebelum sekolah?"


"Gue, sih, nggak. Tapi, kalau si Fahri, tuh. Seringnya dia bungkus soto ayam dari sini, buat makan siang di sekolah. Padahal, mamanya bawain bekal juga buat dia."


"Jatah makan siang double, dong?"


Aldef menggeleng. "Fahri selalu ngasih bekal makan siangnya ke adik-adik kelas yang naksir sama dia."


"Pada baper, dong, mereka?"


"Jelas!" Aldef tertawa pelan mengingat kembali masa-masa SMA-nya bersama Fahri. "Sejak SMP, Fahri terkenal 'kang ghosting'."


Beby tertawa renyah. Mendengar sekilas cerita tentang masa SMA Aldef, Beby jadi teringat akan topik tentang 'masa lalu' yang ia bahas bersama Miko malam itu.


"Al, gue boleh nanya nggak?"


"Apa? Berapa kali gue bolos waktu SMA? Gue nggak pernah bolos, Sky." Aldef kembali tertawa. "Malahan, dulu gue aktif banget jadi sekretaris osis."


"Bukan. Bukan itu."


"Apa, dong?"


"Nggak apa-apa, nih, gue nanya?"


Aldef terkekeh pelan. "Iyalah. Santai aja kali sama pacar sendiri. Tanya aja."


"Lo punya ... mantan?"


Mantan.


Satu kata yang berhasil melenyapkan ekspresi ceria dalam wajah Aldef. Pria itu sampai harus menghentikan aktivitas mengunyahnya sejenak. Beby yang melihat hal itu pun merasa tak enak hati. Apa mungkin, pertanyaan Beby ini terlalu lancang?


Baru saja Beby akan melanjutkan kalimatnya agar Aldef tak perlu menjawab, lelaki itu terlebih dahulu bersuara.


"Punya," jawab Aldef dengan ekspresi datar. Ia kembali melahap soto ayam di hadapannya tanpa menatap Beby.


"Gue boleh tahu cerita lo sama mantan lo nggak? Soalnya, kan, gue udah cerita tentang masa lalu gue yang kelam ke lo. Jadi ...."


"Buat apa, sih, bahas mantan, Sky?"


Sahutan Aldef itu membuat Beby tercengang. Sepahit itukah kenangan Aldef bersama sang mantan? Atau ada yang sengaja Aldef sembunyikan darinya? Tapi, mengapa?


"So-sorry," cicit Beby.


Tanpa menoleh ke arah Beby sedikitpun, Aldef beranjak dari posisi duduknya. Lelaki itu lantas membayar sarapan mereka. Setelah selesai, Aldef berhenti sejenak di hadapan Beby. Tatapan Aldef, sungguh sulit diterka maknanya.


"Gue tunggu di mobil."


***


Miko bersama tiga teman fakultasnya—Joko, Haris, dan Rama—tengah asyik berbincang membahas segala hal yang bisa dibahas sembari menikmati camilan di salah satu kafe ter-hits bulan ini.


"Eh, lo tahu nggak, sih? Anak Sastra Indonesia yang selebgram itu?" tanya Haris dengan penuh antusias.


"Tahu, lah! Yang namanya Beby Beby itu, 'kan? Gila, sih, dia cantik banget! Gue denger, dia jadi model, kan? Tapi sayang, dia udah punya pacar." Joko pun menanggapi dengan semangat '45.


"Lo follow IG-nya?"

__ADS_1


"Oh, jelas! Gue nggak pernah ketinggalan satu pun postingan dia di Instagram."


"Kampret banget, tuh, yang jadi pacarnya. Pakai pelet kali, ya? Gue yang udah DM sejak dua bulan lalu aja nggak pernah dibalas!"


"Jangankan dibalas, dibaca pun nggak!"


"Sad-boy banget nggak, sih, kita?"


Joko manggut-manggut seraya menampilkan ekspresi melas.


Karakter dua lelaki itu memang bisa dibilang mirip. Satu-satunya yang membedakan adalah isi otak mereka. Joko, 99% cewek dan 1% kuliah, sementara Haris 99,9% cewek dan 0,1% kuliah. Bisa dibilang juga, motivasi utama mereka untuk mengambil S2 adalah 'mencari jodoh'.


Miko dan Rama yang sejak tadi menyimak obrolan dua beban keluarga itu hanya saling pandang.


"Lo tahu nggak, sih? Ternyata Beby itu punya kakak cowok." Joko kembali memulai topik.


"Oh, ya?" Dengan tidak tahu diri, Haris menyomot siomay dari piring Miko. Sang pemilik pun dengan cepat menepis tangan Haris. "Dikit doang, elah!" seru Haris seraya menatap Miko sejenak.


"Iya. Katanya, sih, kakaknya Beby itu ngambil S2 di Universitas Pelita juga."


"Serius lo?! Fakultas mana? Bisa, lah, PDKT lewat abangnya." Haris tersenyum penuh kemenangan.


Malas mendengar ocehan Haris dan Joko, Miko beranjak dari kursinya. "Gue ke toilet."


Sepeninggalan Miko, Rama menatap Haris dan Joko secara bergantian. "Ngomong-ngomong, gue kenal sama kakaknya Beby yang lagi kalian bahas."


"Oh, ya?!" balas Haris dan Joko secara bersamaan.


Rama mengangguk antusias. "Kalian juga."


"Hah?! Emang siapa abangnya Beby?" tanya Haris.


"Miko Algahfa."


"WHAT?!"


***


Masalahnya bukan di sana. Sebab Lola sendiri yang selalu minta untuk tidak ikut serta jika harus bepergian jauh, kecuali liburan. Tapi, mengapa kedua orang tuanya itu harus membawa mbak Tami yang sudah menjadi ART di rumahnya sejak Lola duduk di bangku kelas 2 SD?


Lola yang tak pernah menjamah urusan beres-beres rumah, pasti akan sangat kerepotan nantinya.


Setahun yang lalu, saat Lola bertengkar dengan sang papa perihal kafe, Beby membawanya ke apartemen. Beby pula yang memberi solusi hingga Lola dapat menyelesaikan masalahnya. Dan hari itu, adalah pertama kalinya Lola menginap di apartemen Beby.


Ah! Lola menjentikkan jari dengan senyum merekah. Gadis itu cepat-cepat merogoh saku celana jeans-nya untuk mengambil ponsel. Lola mendial nomor Beby.


"Wae?" (Kenapa?) Terdengar suara malas Beby di seberang.


"Kenapa lu? Lesu gitu suaranya."


"Lo ngapain telepon gue? Kalau nggak ada yang penting, gue tutup—"


"Iya! Iya! Iya. Ada. Ada yang penting." Jeda sejenak. "Malam ini gue boleh nginap di apartemen lo nggak? Males banget gue di rumah sendirian. Lagipula, besok kita mulai syuting, 'kan? Sekalian aja berangkat bareng. Boleh, ya? Ya? Ya? Please ...."


"Hm."


"Hm? Apaan, tuh? Boleh apa nggak?"


"Iya, boleh."


"Beneran?!" Lola berseru senang.


"He'em. Dah, ah. Gue sibuk."


"Eh, By ...."

__ADS_1


'Tut!'


Lola menatap layar ponselnya dengan kesal. "Ye ... dasar babi."


Gadis itu kembali memasukkan ponselnya ke saku celana. Tatapannya kembali mengarah pada cermin. "Duh ... jadi ada yang keriput gini muka gue. Pasti gara-gara cemberut semalaman."


Lola melangkah keluar dari toilet dengan santai. Membayangkan malam nanti yang akan ia habiskan bersama Beby, entah mengapa membuat bad-mood-nya sedikit teratasi. Asyik membayangkan bagaimana suasana nanti malam, tiba-tiba ....


'Brak!'


Lola refleks mengambil ponsel milik seseorang yang baru saja ia tabrak. "Sorry," ucap Lola seraya mengulurkan ponsel hitam kepada si pemilik.


Seorang pria dengan aroma maskulin yang memanjakan indra penciuman Lola tengah berdiri tepat di hadapannya. Alis tebal, hidung mancung, kulit putih bersih, tampak begitu pas membingkai wajahnya. Biar Lola tebak, pasti lelaki itu blasteran dari ....


"Duh, Mbak! Hati-hati, dong, jalannya!" Alih-alih membalas dengan sopan, pria berkemeja kotak-kotak di hadapan Lola malah berteriak.


Kesan pertama yang nyaris sempurna dalam otak Lola lenyap seketika.


"Saya, kan, udah minta maaf, Mas. Mas-nya juga kalau jalan jangan sambil telepon," balas Lola, masih berusaha sopan.


"Loh. Kok, Mbak, nyalahin saya, sih? Jelas-jelas Mbak yang jalan sambil ngelamun!"


"Gue udah minta maaf, ya. Lagian HP lo juga nggak kenapa-kenapa, 'kan?!" Karena si pria semakin meninggikan nada bicaranya, emosi Lola akhirnya tersulut.


"Ya, kalau nggak tulus nggak usah minta maaf! Aneh lo!"


"Enak aja bilang gue aneh! Lo, tuh! Tampang doang keren, kelakuan nol besar!"


"Ya, masih mending gue, lah. Punya tampang keren. Daripada lo, tampang pas-pasan aja SOK!"


"Mik, ngapain dah lo berantem sama cewek di sini?" Seorang pria ber-hoodie coklat muda menghampiri lelaki menyebalkan di hadapan Lola.


"Urusin, tuh, temen lo. Jangan songong jadi orang!" seru Lola yang lantas melangkah cepat menuju ruangannya.


"DASAR MUKA PAS-PASAN!"


Demi mood-nya yang lebih baik, Lola memilih untuk menulikan telinga. Satu kalimat yang terus menggema dalam jiwa Lola: 'Gue tandain, tuh, muka!'


***


Sepanjang perjalanan menuju Dufan, tak ada yang memulai percakapan baik Aldef maupun Beby. Keduanya sama-sama diam hingga mobil Aldef terparkir di area parkir Dufan.


Sebenarnya, Aldef dan Beby sama-sama tak tahan dengan keheningan ini. Tapi, mereka bingung harus mulai bicara dari mana.


"Al." Akhirnya, Beby yang terlebih dahulu membuka suara. "Maaf kalau pertanyaan gue tadi bikin lo tersinggung."


Aldef menghela napas sejenak. Ia melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke arah Beby. "Gue nggak suka lo bahas mantan. Fokus aja ke hubungan kita. Bisa, 'kan?"


Beby mengangguk pelan.


Kedua sudut bibir Aldef menukik ke atas, membentuk sebuah senyuman hangat. Beby yang melihat hal itu pun lantas turut tersenyum.


"Yuk, turun!" ajak Aldef yang dijawab anggukan oleh Beby.


Baru saja turun dari mobil dan beberapa langkah meninggalkan area parkir, seseorang mengadang mereka.


"Aldef? Beby? Kalian di sini juga?"


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2