
"Hai, Amanda. Apa kabar?"
Seringai senyum pria di hadapan Beby kian melebar. Bola matanya menatap kedua mata Beby dengan berjuta makna.
"Lo-lo—"
Beby ingin sekali melawan, mengempaskan tubuh pria itu hingga raganya tersungkur ke tanah. Namun, seluruh sendi Beby terasa lumpuh. Lidahnya mendadak kelu. Kedua matanya hanya mampu menguarkan binar ketakutan.
"Lo masih ingat gue, ya?" tanya pria itu seraya mengusap lembut kening Beby yang sudah banjir keringat. "Bagus deh, kalau gitu. Gue nggak perlu ingatin lagi ke lo, sedekat apa kita dulu."
"Pe-pergi," ucap Beby dengan bibir yang gemetar hebat.
"Kenapa, Manda? Lo takut sama gue?" Pria itu dengan lancang mengusap permukaan pipi Beby. Gadis itu pun tersadar bahwa air mata telah membanjiri pipinya. "Ssttt. Jangan nangis, dong. Nanti cantiknya hilang."
"Lo siapa?"
Suara Lola bagaikan air hujan yang mengguyur hati Beby. Rasanya sungguh melegakan.
Lola mengamati Beby dan pria bertopi hitam itu secara bergantian. Tanpa menjawab pertanyaan Lola, pria itu meninggalkan tempat begitu saja.
"Siapa, sih, dia, By?" tanya Lola saat dirinya sudah duduk di hadapan Beby. "Temen lo?"
"Nih, milkshake taro extra es batu. Sesuai pesanan lo." Kiran yang baru datang lantas memposisikan diri di tengah-tengah Lola dan Beby. Gadis itu menyodorkan segelas milkshake taro tepat di hadapan Beby.
Beberapa saat kemudian, Lola dan Kiran saling pandang. Merasa heran sebab Beby yang terus menunduk dalam diam, membuat mereka khawatir.
"Beby? Lo nggak apa-apa?" tanya Kiran seraya memegang punggung tangan Beby.
Dalam sentuhan itu, Kiran baru menyadari bahwa sekujur tubuh Beby gemetar hebat.
"By? Lo kenapa, sih?" Kali ini, pertanyaan itu datang dari Lola.
Perlahan, Beby mendongak. Kedua sahabatnya itu sontak terkejut melihat permukaan pipi Beby yang sudah basah.
"By? Kenapa nangis?" tanya Kiran khawatir.
"Iya. Kenapa nangis? Gara-gara cowok tadi?" timpal Lola.
"Cowok? Siapa?" Kiran menatap penasaran ke arah Lola.
"Tolong antar gue pulang."
Tak usah ditanya lagi. Yang melontarkan kalimat barusan sudah pasti Beby.
***
Waktu menunjukkan pukul 00.17 saat rasa lapar tiba-tiba melilit perut Aldef. Padahal, ia sudah makan malam bersama ibunya tadi. Mungkin, karena nasihat-nasihat Fitri yang terus terngiang di kepala Aldef. Menguras tenaganya sedikit lebih ekstra.
"Sebagai laki-laki, yang kamu lakukan udah benar. Kalau suka sama cewek, bilang suka. Harus gantle. Tapi, menurut Mama, nih, kamu terlalu buru-buru. Bagaimanapun, kamu sama dia belum lama kenal. Harusnya, kamu kasih ruang untuk kalian mengenal lebih dalam. Minimal, saling cerita tentang keluarga."
Lalu, saat Fitri memberi pendapat dari sudut pandang perempuan soal video Aldef dan Beby yang viral di sosial media.
Begini kata Fitri, "Sebagai perempuan, Mama juga pasti marah kalau ada cowok yang ngelakuin hal itu tanpa seizin Mama. Terlepas dari alasan kamu melakukannya, harga diri bagi kaum hawa itu segala-galanya. Apalagi, teman kamu itu selebgram. Banyak orang yang menyorot kehidupan pribadinya."
Aldef menghela napas berat. Kepalanya terasa pening memikirkan apa yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini. Beby. Gadis itu sukses mengusik ketenangan hidup Aldef.
Aldef keluar dari kamar tamu untuk menuju dapur. Rumah ini sendiri terdiri dari dua lantai. Dua kamar pribadi di lantai atas, dan dua kamar tamu di lantai bawah. Entah suami ibunya itu sudah pulang atau belum, yang jelas Aldef tak mendengar ada suara mesin mobil ataupun pintu yang dibuka dari luar.
Sampai di perbatasan antara ruang tengah dan dapur, langkah Aldef tiba-tiba terhenti. Cahaya lampu yang remang-remang membuatnya ragu untuk kembali melangkah. Pasalnya, Aldef melihat sekelebat bayangan putih di dekat kompor.
__ADS_1
Kedua mata Aldef memicing, berusaha mengamati sesuatu di depan sana seraya mengenyah pikiran-pikiran negatif yang bermunculan.
Saat Aldef sibuk memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba ....
"AAA!!!"
"AAA!!!"
Teriakan melengking bak tikus terjepit itu membuat Aldef refleks ikut berteriak.
'Klik!'
Lampu dapur menyala terang. Kini, Aldef dapat menangkap dengan jelas sosok bayangan putih yang tadi ia amati.
"Heh! Bocah tengik! Gue kira ada setan yang kebawa dari rumah sakit," omel seorang perempuan yang ternyata adalah kakak tiri Aldef.
"Lah. Lo yang pakai putih-putih. Kenapa gue yang disangka setan?" balas Aldef tak mau kalah.
"Ya, terus? Salah gue gitu kalau seragam perawat harus putih-putih?"
Aldef mengedikkan bahu acuh tak acuh. Pandangannya beralih pada sesuatu yang tergeletak di atas meja makan.
"Apaan, nih?" tanya Aldef seraya menarik kursi dan memposisikan diri di meja makan. Tangannya sibuk mengobrak-abrik isi sebuah kresek berwarna putih.
"Seblak."
"Serius?!"
Gadis berumur 25 tahun itu menarik kursi tepat di hadapan Aldef seraya menatap heran pada adik tirinya yang baru saja terdengar begitu antusias. "Iya. Kenapa emang?"
Aldef menunjukkan senyum penuh rayuan pada gadis di hadapannya yang tengah menuangkan seporsi seblak ke dalam mangkuk. Mata Aldef pun tampak mengerling penuh makna. "Gue boleh minta ng—"
"Ayolah Kak Puput ... Lo, kan, kakak terbaik di muka bumi. Iya, 'kan?" Aldef tak gentar mengerahkan seluruh kemampuan merayu yang ia bisa.
"Nggak! Mana ada kakak terbaik. Adek aja nggak punya."
"Kak Puput mah gitu."
"Nama gue Putri!"
Aldef tersenyum nyengir. "Kakak Putri yang cantik jelita dan baik hati sejagad raya alam semesta bumi nusantara, boleh, ya, gue minta? Please ...."
Putri yang tengah mengunyah melempar tatapan serius pada Aldef. Sementara itu, yang ditatap membalas dengan senyum dan binar mata penuh permohonan.
Gadis berpakaian khas ala perawat itu menghela napas sejenak. "Ya udah. Boleh, deh." Mendengar itu, Putri lantas mendapat senyuman lebar dari Aldef. "Tapi jangan banyak-banyak!"
Masih dengan senyum yang menunjukkan sederet gigi grahamnya, Aldef mengangguk antusias. Lelaki itu dengan cepat mengambil mangkuk lengkap dengan sendok. Lalu, Aldef mengambil alih seblak dalam mangkuk Putri. Setelah selesai, Aldef kembali di tempat.
Suara dentingan beling dan besi yang terdengar nyaring menjadi backsound acara makan tengah malam kakak-beradik tak sedarah itu. Mereka sama-sama tenggelam dalam kenikmatan seblak yang memanjakan indra perasa.
"Ngomong-ngomong, yang lagi viral itu lo, 'kan?" Pertanyaan Putri memecah keheningan yang semula begitu pekat.
"Kalau gue bilang bukan, lo percaya?" Aldef balik bertanya.
Putri menggeleng. "Jelas-jelas gue lihat muka lo di video itu."
Dengan manik mata yang tak beralih dari mangkuknya, Aldef menaikkan kedua alis. "Ya. Itu memang gue."
"Gimana reaksi Beby waktu nonton videonya?"
__ADS_1
Mendengar nama Beby disebut, Aldef lantas mendongak dan menatap Putri. "Lo tahu dari mana soal Beby?"
Putri terdiam sejenak. Memberi ruang pada otak pintarnya untuk merangkai kata-kata yang tepat. "Siapa, sih, yang nggak kenal Beby? Dia, 'kan, selebgram."
Aldef masih menatap sang kakak lamat-lamat. Jawaban Putri memang masuk akal. Tapi entah mengapa, Aldef merasa ada yang mengganjal.
***
Akhirnya Miko bisa bernapas lega. Sejak beberapa jam lalu, Miko mengerahkan seluruh tenaga untuk menenangkan Beby. Pasalnya, adik tersayang Miko itu pulang dalam keadaan kacau.
Miko pun heran. Bukankah tadi pagi Beby pergi bersama Aldef? Lalu, mengapa kembali ke apartemen justru bersama Kiran?
Yang lebih membuat Miko heran, Beby terus saja meracau dengan air mata yang mengalir deras. Hanya ada dua kata yang keluar dari mulut Beby.
"Nggak. Nggak mungkin. Nggak mungkin."
Kejadian ini ... persis seperti tiga tahun lalu. Saat-saat di mana Beby mengalami masa yang begitu terpuruk dalam hidupnya.
Miko sudah bertanya pada Kiran tentang apa yang terjadi pada Beby, namun Miko tak mendapat jawaban pasti.
Dan mungkin, Beby tertidur sebab kelelahan karena terus menangis tanpa henti.
Ponsel yang tergeletak di atas nakas tepat samping kasur Beby berdering. Itu ponsel milik Beby. Saat Miko melirik ke sumber suara, tulisan 'Mama' terpampang jelas di layar.
"Hallo, Beby? Kamu ke mana aja, sih? Mama teleponin dari tadi nggak diangkat-angkat. Itu yang lagi viral beneran kamu? Mama khawatir banget tahu, Beby."
Rentetan kalimat itu membelai gendang telinga Miko dengan brutal. "Ini Miko, Ma."
"Miko?" Nada heran terdengar di seberang sana. "Kok, kamu yang angkat? Beby mana?"
"Beby baru aja tidur, Ma. Kasihan dia kecapekan banget. Nanti kalau Beby udah baik-baik aja, biar dia sendiri yang jelasin ke Mama, ya?"
"Tapi Beby baik-baik aja, 'kan?"
"Iya. Beby aman sama aku di sini."
"Ya udah. Jagain adik kamu."
"Pasti, Ma."
"Okay. Take care, ya, Mik."
"Mama juga."
Telepon terputus.
Miko menghela napas berat usai meletakkan ponsel Beby ke tempat semula. Jemarinya mengusap puncak kepala Beby dengan penuh rasa kasih sayang yang bersumber dari hati.
"Kenapa Beby bisa ke-triger gini?"
Satu hal lagi yang begitu terasa mengganjal dalam benak Miko: soal video Aldef dan Beby yang viral di sosial media. Bukan kemungkinan, pasti ada sesuatu yang terjadi di balik video itu. Pasalnya, Miko tahu betul bahwa Beby bukan gadis yang ceroboh. Adiknya itu tidak mungkin tiba-tiba tenggelam di kolam renang.
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️