
'TA'K!
Suara itu menguar ke seisi penjuru ruang editing sebab Aldef yang meletakkan kamera di meja dengan penuh penekanan.
"Woles, Bro!" seru Fahri seraya mengambil alih kamera di atas meja. "Anak kesayangan gue yang kedua, nih! Kalau dia luka, lo mau tanggung jawab?"
Aldef tak menjawab. Lelaki itu membanting tubuhnya ke kursi. Kata-kata Fahri tadi bagaikan angin lewat di telinga Aldef.
"Kenapa, sih, Al? Garang banget muka lo," ucap Fahri sambil mengambil posisi duduk di samping kanan Aldef.
Alih-alih menjawab pertanyaan Fahri, Aldef malah balik bertanya. "Lo suka sama Celine?"
Diam-diam, Fahri mengulas senyum penuh makna. Lelaki itu menatap lurus ke depan, bibirnya mendesis pelan, memikirkan jawaban dari pertanyaan Aldef. "Jujur, nih, ya. Celine emang cantik. Ya, emang, sih, masih cantikan Beby."
Detik itu pula, Aldef menoleh cepat. Fahri yang menyadari hal itu memutuskan untuk pura-pura tak tahu.
"Apalagi, selama Celine kerja di sini. Dia banyak bantu gue. Anaknya juga asyik diajak ngobrol. Terus, kita sama-sama suka minum kopi." Fahri menoleh, mendapati netra Aldef yang menatapnya lekat. "Celine ternyata jago ngedit foto, lho! Gue baru tahu kemarin, sih. Emang kenapa lo nanya-nanya?"
"Nanya aja." Aldef melengos.
"Kata Daren, lo break sama Beby? Kenapa?"
"Beby yang minta."
"Terus? Lo mau nyerah gitu aja? Nggak mau perjuangin dia?"
Lelaki di samping Fahri itu kembali menoleh. "Kalau gue punya cara, udah gue lakuin dari awal!"
"Ohhh!!!" Fahri berseru, seolah baru saja menyadari sesuatu. "Gue tahu kenapa muka lo garang gitu. Lo cemburu, ya, sama Daren?"
"Nggak tahu!" pungkas Aldef.
Fahri terbahak-bahak. "Ngaku aja kenapa, sih, Al? Nih, ya. Sekarang gue tanya sama lo. Lo marah nggak waktu lihat gue deket sama Celine tadi?"
Aldef menggeleng.
"Lo marah waktu Daren deket sama Beby?"
"Jelas!"
"Nah! Berarti jawabannya udah pasti. Lo cinta sama Beby, bukan Celine. Lo sama Celine, itu nggak lebih dari masa lalu."
"Terus, gue harus gimana?"
"Tunjukin, lah! Tunjukin ke Beby kalau dia itu prioritas buat lo. Tunjukin ke Beby kalau sekarang lo yakin tentang perasaan lo."
"Tapi, Beby masih marah sama gue."
"Ya, itu urusan lo! Lo yang paling tahu Beby suka apa. Pakai aja hal-hal yang dia suka buat lo beraksi."
Aldef lantas terdiam. Benar kata Fahri. Sejak awal bertemu Beby, cinta dalam hati Aldef telah sepenuhnya menjadi milik gadis itu. Aldef teringat akan kalimat yang ia lontarkan untuk Beby saat mereka duduk berdua di pinggir kolam renang.
"Putus cinta itu hal yang biasa. Apalagi putusnya karena cowok lo selingkuh. Harusnya lo happy, bisa lepas dari laki-laki yang nggak baik."
Gelak tawa Aldef menguar miris. Bisa-bisanya ia berkata demikian, tapi malah hampir melakukan hal yang sama. Aldef pun teringat kembali saat mereka bertemu di pinggir jembatan. Aldef merasa konyol, sebab saat itu ia mengira Beby akan bunuh diri. Dan hal yang paling membekas di memori Aldef adalah saat Beby menolongnya dari para begal. Kini, Aldef sadar. Beby dan Celine berbeda. Sangat. Jejak memori masa lalu yang membuat Aldef melihat kedua gadis itu mirip.
Di tengah-tengah lamunan Aldef, suara dering ponsel menguar ke setiap sudut ruang editing. Ternyata, suara itu berasal dari ponsel Fahri. Sang pemilik lantas menekan tombol answer saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Kenapa?"
" .... "
Fahri menoleh ke arah Aldef dengan tatapan terkejut. "Serius lo?"
" .... "
"Oke. Gue ke sana sekarang."
Usai sambungan telepon terputus, Fahri bergegas meraih kunci mobil dan dompetnya. "Lo ikut gue sekarang."
__ADS_1
"Gue?" Aldef menunjuk dirinya sendiri.
"Emang ada orang selain kita di sini? Cepet! Darurat!"
"Ada apa emang?"
"Ikut aja. Nanti gue jelasin di mobil."
***
"Beby nggak akan mau sama lo."
Kalimat itu terus mendengung di telinga Daren. Rasanya, ia ingin menusuk telinganya sendiri. Terlebih, ekspresi yakin yang begitu kentara saat Aldef mengucapkan kalimat itu. Daren sungguh membencinya!
"Mau pesan apa, Ren?" tanya Beby, membuat Daren lantas menormalkan ekspresi wajahnya.
Kedua anak manusia itu sedang berada di Lomera Cafe untuk mengisi perut.
"Yang paling rekomended aja."
"Oke. Kalau gitu ...."
Beby menyebut menu pesanannya pada sang pramusaji yang telah menunggu. Setelah itu, Beby memutuskan untuk memainkan ponsel. Lola sedang tak ada di kafe. Entah ke mana, Beby pun tak tahu.
"By?"
Panggilan itu membuat Beby mendongak. "Ya?"
"Gue boleh nanya sesuatu?"
Melihat ekspresi serius di wajah Daren, Beby menonaktifkan ponselnya. "Boleh."
"Ada temen gue yang lagi suka sama cewek. Tapi, cewek yang dia suka ini udah punya pacar. Menurut lo, temen gue harus gimana?"
"Uuummm ...." Beby berpikir sejenak. "Menurut gue, temen lo nggak salah, sih. Karena nggak ada yang bisa mengendalikan perasaan seseorang, 'kan? Termasuk dirinya sendiri. Tapi, jangan sampai temen lo pakai alasan itu untuk maksa cewek yang dia suka harus suka balik sama dia."
"Kalau temen gue jujur soal perasannya ke cewek itu? Boleh?"
Daren manggut-manggut. "Kalau orang itu gue dan cewek yang dimaksud itu lo, lo bakal gitu juga?"
"Hah? Maksudnya, lo suka sama gue, gitu?" Beby tertawa. "Lucu, sih, candaan lo."
"Gue serius."
Melihat ekspresi dan cara Daren menatapnya, sisa-sisa tawa di bibir Beby lenyap seketika.
"Permisi."
Untung saja, seorang pramusaji datang membawa menu pesanan mereka. Beby jadi bisa menunda topik obrolan pencipta canggung itu untuk beberapa menit kedepan, atau seterusnya.
***
Suasana di dalam mobil itu terasa amat canggung untuk Beby. Pasalnya, sejak meninggalkan Lomera Cafe, Daren seperti orang yang mendadak bisu. Terlebih, aura menegangkan yang lelaki itu pancarkan. Membuat Beby ingin turun dari mobil sekarang juga.
Beby meraih air mineral dalam botol yang tadi ia beli di Lomera Cafe. Gadis itu meneguknya beberapa kali. Setelah usai, Beby berniat mengambil tisu dari dalam tasnya untuk menghapus sisa air di mulut. Namun, Beby tak menyadari bahwa persediaan tisu di dalam tasnya sudah habis.
"Nyari apa?" tanya Daren.
"Tisu," jawab Beby tanpa menoleh ke arah lelaki di balik kemudi itu.
"Ada di dalam situ. Ambil aja."
Beby menurut. Lagi-lagi, tanpa menoleh ke arah Daren. Gadis itu sengaja menghindari tatapan Daren. Pergerakan Beby terhenti saat melihat sesuatu yang familiar di dalam sana.
Tangan Beby bergerak meraih benda yang menarik perhatiannya itu. Manik mata Beby mengamati dengan lebih teliti. Benar. Beby tak mungkin salah mengenali benda di tangannya ini.
Beby menoleh ke arah Daren. Lelaki itu menampilkan ekspresi datar. Tatapannya fokus mengarah ke depan.
"Daren, ini ...."
__ADS_1
Suara Beby membuat Daren menoleh. Tatapannya lantas mengarah pada benda dalam genggaman Beby.
Sial! Daren lupa mengamankan benda itu.
"Ini maksudnya apa, Ren?"
***
Aldef hanya bisa pasrah saat Fahri membawanya entah ke mana. Berulang kali Aldef menanyakan tujuan mereka, berulang kali pula Fahri tak memberinya jawaban pasti.
"Anjir lo, Ri! Bisa mati muda ini gue!!!" Itu pun seruan kesekian yang Aldef lontar, akibat cara Fahri mengendarai mobil bak orang kesetanan.
Aldef berdecak kesal. Laki-laki itu hanya bisa mengeratkan pegangan seraya merapalkan doa. Aldef tak ingin mati sekarang. Ia harus memperbaiki hubungannya dengan Beby.
Setelah menyalip puluhan kendaraan bermotor, sampailah mereka di sebuah jalanan yang cukup sepi. Tanpa aba-aba, Fahri bergegas turun. Meninggalkan Aldef yang masih sibuk mengatur napas.
"Gila emang, nih, anak! Niat bunuh gue!"
Di depan sana, Fahri tampak melambaikan tangan dengan gerakan cepat. Meminta Aldef segera turun. Usai menghela napas berat, Aldef pun turun dari mobil. Bersamaan dengan itu, indra pengelihatan Aldef mendapati tiga sosok yang tak asing baginya.
"Celine? Fara? Zidan?" Aldef menyebut nama ketiga orang itu. Tatapan Aldef mengarah pada Fahri. "Ri, ini maksudnya apa, sih?"
"Beby dalam bahaya," ucap Zidan, membuat Aldef lantas menoleh ke arahnya.
"Bukannya lo yang selalu bikin Beby dalam bahaya?"
"Biar gue yang jelasin," sahut Celine. Gadis itu menatap lekat ke arah Aldef. "Bukan Zidan yang bikin Beby dalam bahaya, tapi kamu, Al."
"Kenapa jadi aku?"
"Kamu ingat kata-kata terakhir yang kamu bilang ke Daren tadi?"
Beby nggak akan mau sama lo.
"Kenapa emang?"
"Gara-gara kalimat lo itu, Beby dalam bahaya," kata Fahri.
Aldef berdecak kesal. "Gue nggak ngerti! Ini maksudnya apa, sih?!"
"Daren itu sepupu gue dan Fara. Dia dalang di balik semua perbuatan Zidan ke Beby."
"Lo punya bukti apa?"
Fara mengulurkan sebuah ponsel ke arah Aldef. Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara dari ponsel itu.
"Kalau gue nggak bisa milikin Beby, dia harus mati. Dan itu, tugas lo."
Kedua bola mata Aldef membulat sempurna. Itu jelas suara Daren.
"Ada lagi," ucap Fara. Kali ini, gadis itu menunjukkan sebuah video.
Sebuah rekaman CCTV yang menunjukkan Daren dan Zidan di lorong. Mereka tampak membicarakan sesuatu.
"Itu pagi hari setelah prom-night," kata Zidan. "Pagi itu, dia minta gue datang ke hotel. Lo pasti tahulah buat apa."
Ya. Aldef tahu. Hari itu adalah hari di mana Beby mendapat sebuah trauma yang bagaikan neraka dalam hidupnya. Meski nyatanya tak ada tanda-tanda keperawanan Beby hilang, tetap saja hari itu adalah sebuah tragedi untuknya.
"Apa tujuan Daren ngelakuin semua itu?" tanya Aldef.
"Balas dendam," sahut Fara. "Sejak SMA, Beby selalu nolak Daren. Tapi, Beby pasti lupa. Karena, Daren ngerubah namanya waktu dia pindah ke sini. Nama asli Daren itu ...."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️