ALDEBY

ALDEBY
|78.| Kangen


__ADS_3

"Hai, Celine," sapa Fahri yang datang dari arah ruang editor.


"Hai, Ri."


"Kalian kenapa bisa bareng?"


"Aldef yang nyusul tadi."


"Ohhh ...." Mulut Fahri membentuk huruf O. Tatapannya mengarah pada Aldef, menyebabkan terjadi aksi saling tatap di antara keduanya. Aldef pun menyadari adanya sarat intimidasi di balik manik mata Fahri.


Fahri kembali fokus menatap Celine. "Boleh ngobrol berdua nggak?"


"Sama gue?" Celine menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Kita ngobrol di kafetaria. Gimana?"


"Oke." Gadis berambut lurus itu menoleh ke arah Aldef. "Al, aku tinggal bentar, ya."


Mendapat anggukan dari Aldef, Celine mengekori langkah Fahri menuju kafetaria. Mereka duduk di bangku dekat pintu masuk.


"Mau minum apa?" tanya Fahri sesaat setelah mereka duduk berhadapan.


"Cappucino."


Fahri beranjak dari tempatnya. Memesan dua buah minuman yang akan menemani obrolan mereka. Tak lama kemudian, lekaki berkemeja kotak-kotak itu kembali dengan segelas es cappucino dan segelas es lemon tea.


"Jadi, mau ngomong apa?" tanya Celine, to the point.


"Lo ... kayaknya deket banget, ya, sama Aldef." Laki-laki yang duduk di hadapan Celine itu tak mampu menahan tatapan menilai dari matanya.


"Ya ... bisa dibilang gitu."


"Emang, lo ada hubungan apa sama Aldef? Selain mantan tentunya."


"Aldef sering cerita tentang gue?"


"Dulu. Hampir tiap hari dia cerita tentang lo. Tentang gimana sakitnya dia waktu lo pergi, tentang gimana kangennya dia sama lo, tentang hal-hal yang lo suka. Tapi, itu dulu." Fahri memberi penekanan pada kata 'dulu'.


Celine terkekeh pelan. "Jujur. Sampai sekarang, rasa itu masih ada. Aldef sama sekali nggak berubah. Dia, selalu berhasil bikin gue jatuh cinta."


"Lo inget, kan, kalau Aldef udah punya Beby sekarang?"


"Of course. Maka dari itu, gue nyesel dulu udah ninggalin Aldef."


"Kenapa lo nggak coba move on?"


"Maksudnya?"


Fahri yang semula bersandar, kini menegakkan badan. Lelaki itu melipat kedua lengan di atas meja. Kedua matanya menatap Celine lamat-lamat.


"Masa lo nggak tahu arti tatapan gue yang satu ini?"


***


Suasana canggung menyelimuti Aldef dan Daren di ruang editing. Demi mengalihkan hal itu, Aldef memainkan ponselnya. Tiba-tiba, ia teringat sang pacar. Aldef pun bergegas membuka room chat bersama Beby.


^^^Me:^^^


^^^Kapan balik, Sky?^^^


^^^Kangen 🥺^^^


Tak sampai berselang satu menit, Beby membalas.


My Sky:


Belum tahu.


My Sky:


Iya, tahu, kok. Gue emang ngangenin orangnya.


^^^Me:^^^


^^^Serius, Sky.^^^


^^^Kenapa nggak hari ini aja, sih?^^^


My Sky:


Gue masih pengin di sini.


^^^Me:^^^


^^^Tangan gue gatel, Sky. Pengin meluk lo.^^^


My Sky:


Lo nggak mandi kali. Mangkanya gatel-gatel 😜


^^^Me:^^^


^^^Lo udah baik-baik aja, kan, Sky?^^^


My Sky:


Udah. Gue udah jauh lebih ikhlas sekarang.


^^^Me:^^^

__ADS_1


^^^Harusnya gue nggak nurutin kemauan lo waktu nyuruh gue pulang.^^^


My Sky:


Lo, kan, harus kuliah, Al.


^^^Me:^^^


^^^Rencana balik kapan? Atau mau gue susulin ke sana?^^^


My Sky:


Nggak usah. Gue sama kak Miko aja.


^^^Me:^^^


^^^Ngomong-ngomong, lusa hari apa, ya, Sky?^^^


My Sky:


Lusa?


Hari ... Kamis?


Kenapa emang?


Aldef mengerucutkan bibir sebal. Sedikit kecewa dengan Beby yang tak mengingat hari ulang tahunnya. Baru saja Aldef akan kembali membalas pesan Beby, suara Celine mengurungkan niatnya.


"Al."


"Eh? Udah selesai ngobrolnya?"


"Anterin aku pulang, bisa?"


"Lho? Bukannya kamu mau kerja?"


"Kepalaku tiba-tiba pusing. Aku mau pulang aja."


Aldef berdiri. Tangannya bergerak menyentuh kening Celine. "Agak anget, sih, emang. Ya udah, yuk!"


Sebelum pergi, Aldef menyempatkan diri pamit dengan Daren yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya. Tepat setelah kepergian Aldef dan Celine, Fahri datang.


Lelaki itu lantas menutup pintu ruang editing. Enggan pembicaraannya bersama Daren membelai gendang telinga orang lain.


"Gimana?" tanya Daren penasaran.


"Tugas gue beres. Setelah Beby balik, giliran lo."


"Bagus."


***


"Cel?"


"H-hah?"


"Ngelamun aja daritadi. Mikirin apa, sih?"


Celine tersenyum tipis. "Nggak. Nggak mikirin apa-apa."


"Fahri ngomong macem-macem, ya? Apa? Dia ngelarang kamu deketin aku?"


"Nggak."


"Terus? Dia ngancam kamu?"


"Nggak."


"Terus apa? Nggak mungkin Fahri ngajak kamu ngobrol berdua kalau nggak ada yang penting."


"Fahri cuma ngingetin kalau sekarang kamu punya Beby."


"Cuma itu?"


"Iya."


"Oke."


Celine kembali menatap ke arah luar jendela. Sejak meninggalkan FS Agency beberapa saat lalu, akal dan batin Celine tak henti berperang.


Apa semua yang Fahri bilang emang bener?


***


Beby terkekeh geli membaca balasan terakhir Aldef. Gadis itu dapat membayangkan ekspresi kesal sang pacar dalam benaknya.


Kini, Beby dan Arka berada di sebuah studio cetak foto. Tentu saja, dalam rangka pemberian kado ulang tahun untuk Aldef. Aldef tak menjawab pesannya lagi, maka dari itu Beby menonaktifkan ponsel. Saat pandangannya beralih, Beby mendapati Arka dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa, Ar?"


"Hah? Nggak apa-apa." Arka tersenyum tipis. "Seneng aja lihat kamu happy."


Topik yang satu ini akan berakhir canggung, menurut Beby. Gadis itu mengalihkan pandangan sejenak ke arah kantong kresek di tangannya.


"Ini buat apa, sih?" tanya Beby. "Buku gambar, stiker, isolasi motif. Terus ini lagi, cetak foto. Buat apa?"


"Kado ulang tahun Aldef, 'kan?"


"Ya, terus? Bakal diapain?"

__ADS_1


"Udah, deh. Kamu nurut aja. Dijamin Aldef bakal suka."


Sebuah suara aneh membuat kedua mata Beby melotot seketika. Arka malah terbahak-bahak.


"Kamu laper, By?"


Beby tersenyum meringis. Menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Lupa kapan terakhir kali makan."


"Habis ini kita mampir ke restoran nasi goreng, ya. Itu masih makanan favorit kamu, 'kan?"


Untuk menjawabnya, Beby mengangguk singkat. Satu hal yang Beby sadari, ada sesuatu yang Arka tahu tentang dirinya, tapi tidak dengan Aldef. Rasa trauma Beby terhadap benda tajam, khususnya pisau.


***


Keesokan paginya, Beby, Miko, dan Arka berangkat ke bandara diantar oleh Indra serta Shinta. Satu jam sebelum pesawat take off, mereka sudah berada di bandara.


"Kak Shinta beneran nggak apa-apa ditinggal?" tanya Beby.


"Nggak apa-apa, By. Nanti sore ada ART dari rumah orang tua Kakak, kok. Buat nemenin sementara."


Mengingat sebelumnya segala urusan rumah tangga ditangani sendiri oleh Maya, keluarga Beby tak pernah menyewa jasa ART.


"Lagian, hari ini Indra libur, kok," lanjut Shinta. Wanita itu menoleh ke arah suaminya. "Iya, 'kan?"


Indra mengangguk singkat. Lengan kirinya melingkari leher belakang sang istri.


"Bisa romantis juga lo, Kak," ucap Miko yang lantas mendapat tatapan tajam dari Indra. Sementara yang lain tertawa geli.


"Nanti kalau mau lahiran jangan lupa kabarin, ya, Kak," kata Beby.


"Pasti, dong. Kamu harus datang pokoknya."


Beby terkekeh kecil. "Iya. Insyaallah aku datang."


Kemudian, mereka berpisah. Indra dan Shinta kembali ke rumah, tiga orang lainnya check in di Bandara Juanda. Karena pesawat belum datang, Miko, Beby, dan Arka harus menunggu di ruang tunggu.


Ketiganya duduk bersebelahan, dengan posisi Beby di tengah-tengah. Gadis itu mengeluarkan camilan berupa roti isi coklat dari dalam tasnya, lalu mengulurkannya pada Arka.


"Sarapan dulu," ucap Beby.


"Kamu aja."


Beby mengambil telapan tangan Arka, lalu meletakkan roti dalam genggamannya di sana. "Kata tante Chika, kamu nggak boleh telat makan."


Arka tersenyum kecil. Ia menerima roti pemberian Beby, lalu membuka bungkusnya. Kemudian, Arka membagi roti itu menjadi dua. "Bagi dua, ya?"


"Aku nggak laper."


"Bagi dua sama gue aja, sini," sahut Miko. Arka yang mendengar hal itu pun sedikit—sangat—terpaksa memberikan separuh rotinya untuk Miko. "Thank's"


Tepat setelah itu, ponsel Beby berdering. Panggilan dari Aldef. Sebuah senyuman jail lantas hinggap di bibir Beby. Hari ini adalah hari ulang tahun Aldef, namun gadis itu sengaja belum mengucapkan apapun. Beby ingin memberi surprise dengan langsung ada di hadapan Aldef.


"Ya, Al?"


"Udah bangun?"


"Udah. Habis olahraga. Ada apa?"


"Lo nggak lupa sesuatu hari ini?"


"Lupa sesuatu? Apaan?"


"Dahlah. Gue mau siap-siap ke kampus. Bye."


Beby menatap layar ponselnya sembari cekikikan. Puas rasanya mendengar nada menggerutu di balik suara Aldef.


"Kamu masih sama aja, ya, By," ucap Arka di sela-sela aksinya mengunyah roti. "Suka bikin orang kesel."


"Sangat," sahut Miko.


Ucapan Arka membuat Beby terkekeh. "Biar seru, dong!"


"Iya. Seru di kamu. Nggak di orang yang dibikin kesel sama kamu."


"By the way, Ar."


"Hm?"


"Boleh bagi rotinya nggak? Laper."


Arka terbahak-bahak. Lelaki itu membuka resleting tasnya sambil geleng-geleng kepala. "Beby ... Beby ...."


***


Di dalam pesawat, Beby ketiduran. Gadis itu duduk di samping kanan Arka. Tentu saja Arka yang meminta.


Manik mata Arka mengamati setiap inci wajah gadis yang ia cintai. Tangan Arka bergerak meraih kepala Beby yang menempel jendela, membawanya bersandar di bahu kanan Arka. Senyumnya mengembang semakin lebar seiring embusan napas hangat Beby yang Arka rasakan dengan seksama.


"Ar! Hidung lo!"


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2