
"WHAT?!" Dua kata itu membuat Putri refleks teriak. Ia menoleh ke sekeliling seraya melempar senyum menyesal pada orang-orang yang terganggu akibat ulahnya. "Lo tahu dari mana?"
"Temen kuliah gue. Dia satu SMA sama Aldef dan Celine."
Putri terdiam. Informasi mengejutkan yang satu ini, membuat ia semakin yakin bahwa ada yang tidak beres.
***
Karena Beby utang scene kemarin, ia harus menuntaskan 54 scene untuk hari ini. Terhitung 30 scene sampai istirahat karena waktu memasuki adzan magrib.
Webseries berjudul Friendzone ini sudah mencapai *******. Di mana peran Rafi dan Bella yang terlibat salah paham. Keduanya sama-sama mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Namun, malam sebelum hari itu tiba, Rafi mendapat video berisi Bella yang tampak memberi sejumlah uang pada teman kelas mereka. Entah siapa yang mengirim video itu. Yang jelas, keesokan harinya Bella terpilih menjadi ketua OSIS.
Beby menunggu kedatangan Aldef yang berkata bahwa ia akan datang sebelum adzan magrib berkumandang via chat. Tapi nyatanya, lelaki itu belum menampakkan batang hidungnya sampai durasi istirahat berakhir.
Di scene selanjutnya, Beby dan Daren akan melakukan adegan fighting.
"ACTION!"
Langkah Bella menyusuri trotoar di sekitar area sekolahnya. Karena rapat OSIS, gadis berseragam SMA itu terpaksa pulang malam. Biasanya, ada Rafi yang senantiasa siap dimintai tolong untuk mengantar-jemput Bella. Tapi entah mengapa lelaki itu mendadak berubah cuek.
Sampai di tikungan jalan yang cukup sepi, ada dua orang preman mengadang langkah Bella. Keduanya berbadan kurus. Tingginya pun hampir sama.
"Hai, adik cantik. Sini, dong, sama Abang," goda salah satu preman berkalung rantai.
"Lepasin!"
Karena karakter Bella yang lemah dalam bela diri, rasa takut mulai terasa menyergap. Bella menatap sekeliling, berharap ada orang baik yang lewat. Tapi sayang, harapan itu patah oleh kenyataan.
Seorang preman bertopi abu-abu menyentuh pergelangan Bella. Beruntung, sebab gadis itu memiliki cukup tenaga untuk melawan. Namun sayang, karena hal itu pula, si preman menggenggam pergelangan Bella semakin kuat.
"Lepasin! TOLONGGG!!! TOLONGGG!!!"
"Teriak yang keras, Cantik. Nggak akan ada yang dengar." Kedua preman itu terbahak-bahak.
Bella menangis sejadi-jadinya di sana. Sekeras apapun ia mencoba, percuma. Saat Bella berada di ambang keputusasaan, Rafi datang dengan aksi heroiknya. Lelaki itu berhasil menghajar kedua preman sekaligus. Tapi karena sedikit ceroboh, salah satu preman berkalung rantai berhasil menyandera Bella.
Preman itu melingkarkan lengannya ke leher Bella, lalu menodong pisau tepat di bawah leher gadis itu. Rafi yang melihat Bella dalam keadaan seperti itu pun lantas mengangkat tangan, pertanda bahwa ia tak akan menyerang lagi.
Di tengah keseriusan syuting itu, sesuatu yang buruk terjadi pada Beby. Karakter Bella dalam dirinya perlahan memudar. Pisau di dekatnya membuat Beby teringat kembali dengan kejadian kemarin. Gadis itu berusaha fokus, namun napasnya terasa semakin sesak.
Dialog antara Daren dan si preman pun seolah meredam. Tak sampai ke gendang telinga Beby. Pandangannya mendadak buram. Keringat dingin mulai terasa membasahi kening Beby. Sekeras apapun Beby mencoba bertahan, semuanya sia-sia.
Akhirnya, gadis itu memutar tubuh ke samping kiri. Perban penutup luka lengan kirinya tak sengaja terkena pisau yang dipegang Fiki—orang yang berperan sebagai preman berkalung rantai.
"BEBY!"
"BY!"
"ASTAGA, BEBY!"
Suara-suara teriakan itu seperti kata 'CUT!' yang harusnya diucapkan oleh sutradara. Para kru dan pemain lain bergegas menghampiri Beby yang terduduk di tanah.
__ADS_1
"By, tangan lo!" Lola berseru heboh saat melihat lengan kiri Beby penuh darah.
Beby yang merasakan perih tak sanggup berkata-kata. Ia hanya fokus menatap lukanya yang menganga lebar.
"Gue antar ke rumah sakit, ya?" tanya Daren. "Itu luka lo kelihatan lebar. Harus dijahit."
Beby hanya menjawab dengan anggukan singkat. Satu hal yang baru Beby sadari, traumanya akan kolam memang berangsur membaik, berhadapan dengan Zidan pun Beby mampu melawan. Tapi, trauma yang lain muncul.
Lola hendak membuntuti mobil Daren dengan menggunakan mobil Beby. Namun, tiba-tiba Aldef datang.
"Lol, Beby mana? Syutingnya udah selesai?"
"Sebenarnya belum. Beby lagi dibawa ke rumah sakit sama Daren. Tadi Beby kena—"
Penjelasan Lola terpotong karena Aldef pergi begitu saja. Lola menatap kesal ke arah lelaki itu.
"—pisau. Haish! Sangat tidak sopan kau, Anak Muda!"
***
Tepat pukul 16.00 Aldef keluar dari kelas terakhir. Tangannya bergerak meraih ponsel dari saku celana, lalu menelepon sang pacar dengan senyum merekah. Aldef memberitahu Beby bahwa mereka akan bertemu sebelum adzan magrib berkumandang. Pasalnya, ada sesuatu yang harus Aldef beli terlebih dahulu.
Namun, sebelum semua itu terlaksana, ponsel Aldef berdering tepat saat ia duduk di permukaan kursi penumpang taxi online. Kening Aldef mengernyit heran saat melihat nomor tak dikenal terpampang di layar ponselnya.
Sedikit ragu, tapi Aldef tetap menekan tombol answer.
"Hallo?"
"Hallo, Kak. Ini Poppy. Aku pinjam telepon rumah sakit karena handphone kak Celine lagi dicharge."
"Kak Aldef bisa ke rumah sakit sekarang? Aku butuh bantuan Kakak. Darurat. Ini penting banget."
"Soal Celine?"
"Iya."
***
Pemandangan yang Aldef lihat saat memasuki ruang rawat Celine adalah Poppy yang tampak membujuk sang kakak untuk membuka mulut. Apakah ini yang Poppy maksud 'darurat'? Ingin rasanya Aldef kembali, tapi ....
"Kak Aldef?"
... tapi Poppy terlanjur menangkap kehadirannya.
Aldef mengulas senyum singkat. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Celine menjawab dengan senyum semringah. "Hai, Al."
"Hai." Tatapan Aldef beralih ke arah Poppy. "Ada apa?"
__ADS_1
"Kak Celine nggak mau makan. Maunya disuapin sama Kakak."
Sudah kuduga, ucap Aldef dalam hati.
"Al." Kedua tangan Celine terangkat, seperti tengah mencari sesuatu. Aldef yang melihat hal itu pun berinisiatif untuk lebih mendekatkan diri. Aldef menangkap kedua tangan Celine, membuat gadis itu tersenyum senang.
"Boleh, ya, Al? Kali ini aja," kata Celine.
"Sini makanannya," ujar Aldef sembari menatap Poppy.
Poppy lantas mengulurkan mangkuk putih berisi bubur pada Aldef. Aldef yang sudah duduk di kursi samping kiri brankar menyuapi Celine dengan telaten.
Sementara itu, Celine yang merasa ada ledakan-ledakan hebat dalam hatinya berusaha mengambil kesempatan lain. Tangannya bergerak menyentuh tangan Aldef yang mengulurkan satu sendok bubur ke arahnya.
"Aku seneng, deh, Al. Ternyata, kamu masih peduli sama aku."
"Lain kali, jangan bikin Poppy makin susah. Kasihan dia. Pulang sekolah langsung jagain kamu. Belum lagi kalau ada jadwal cuci darah. Lagipula, Poppy nggak boleh capek-capek."
Mendengar rentetan kalimat itu, Poppy makin merasa bersalah. Sungguh, ia merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Memanfaatkan niat baik Aldef demi keuntungan pribadi kakaknya. Ah. Tidak. Demi keuntungannya sendiri.
"Kalau bukan Poppy, siapa lagi, Al?" lirih Celine. "Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi selain—"
"Ada aku," sahut Aldef. Terjadi keheningan cukup lama. "Dan Beby."
Perlahan, Celine berhasil mengikis rasa bersalah Aldef pada Beby. Keduanya hanyut dalam perbincangan yang berbau kenangan masa lalu. Acap kali Celine mencurahkan isi hatinya, membuat Aldef seketika merasa iba.
Aldef dapat merasakan debaran itu masih ada saat di dekat Celine—meski sangat tipis. Terlebih saat gadis itu menyentuhnya. Ia semakin hanyut akan kebersamaan dengan sang mantan. Hingga pada akhirnya, Aldef lupa bahwa ada gadis lain yang berstatus sebagai pacar tengah menunggunya.
Adzan magrib berkumandang saat Aldef tersadar dari bayang-bayang masa lalu. Lelaki itu bergegas pamit. Sesampainya di dalam taxi, Aldef berencana untuk memberi kabar pada Beby. Tapi ....
"Handphone gue mana, ya?"
Aldef terus mencari benda pipih itu. Mulai dari merogoh saku, mengeluarkan semua isi di dalam tas, namun hasilnya nihil.
"Masa hilang? Perasaan tadi gue taruh aman di tas."
***
"Gimana, Pop? Dapat?" tanya Celine antusias.
Dengan ragu, Poppy mengulurkan benda yang Celine maksud. "Kak, apa ini nggak keterlaluan?"
Celine tak menjawab. Tangannya sibuk mengutak-atik ponsel Aldef yang tadi Poppy sembunyikan. Sesuai dugaannya, ponsel itu tak pernah terkunci.
"Kamu masih ceroboh kayak dulu, ya, Sayang," gumam Celine sambil senyum-senyum sendiri.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️