
Celine mengempaskan sling bag ke atas sofa dengan kesal. Kejadian di apartemen Aldef-lah penyebabnya.
"Al, apa bisa, kita mulai semuanya dari awal lagi?"
Kedua mata Aldef membulat sempurna. Setelah semua yang terjadi, Aldef tak menyangka pertanyaan macam itu keluar dari mulut Celine.
Untuk waktu yang lumayan lama, mereka sama-sama diam dengan bola mata yang saling terkunci. Aldef menatap Celine bingung, sementara Celine menatap Aldef penuh harap.
"Kenapa? Kamu udah nggak suka, ya, sama aku?"
"Suka."
Bodoh! umpat Aldef pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia refleks mengucap satu kata mematikan itu.
Ekspresi Celine yang semula harap-harap cemas, kini berubah ceria. Ekspetasi akan jawaban Aldef yang sesuai harapannya kian membuat Celine melambung.
Celine menyentuh punggung tangan Aldef. "Berarti, kita bisa, 'kan? Kita bisa mulai dari awal lagi, 'kan? Aku janji. Kali ini, aku nggak akan ninggalin kamu tanpa pamit."
Aldef menjauhkan tangannya dari sentuhan Celine. Senyum merekah yang semula membingkai bibir gadis itu seketika sirna. Manik matanya melirik sejenak ke arah tangannya yang kini kosong.
"Aku suka, Cel. Aku suka karena kamu masih Celine yang aku kenal. Celine yang pantang menyerah dan ceria. Celine yang murah senyum." Jeda sejenak. "Tapi, kata suka di sini bukan berarti aku menjamin kembalinya kata 'kita' di antara kamu dan aku.
"Kita, udah lama selesai, Cel. Kita selesai di saat aku mutusin buat move on dari kamu. Atau mungkin, saat kamu ninggalin aku. Kita selesai sampai di sana."
"Tapi, Al—" Butuh usaha keras untuk Celine berkata-kata. Rentetan kalimat Aldef bak belati yang menusuk-nusuk hatinya tanpa ampun. Hingga dadanya terasa sesak sebab kehabisan darah yang tak terlihat. "Kamu bilang, aku masih bisa mengandalkan kamu. Kamu bilang, aku bisa cerita apapun sama kamu."
"Karena aku menghargai apa yang sudah berlalu," jawab Aldef tanpa ragu. "Aku ngelakuin itu sebagai bukti bahwa aku emang udah move on. Aku udah biasa aja di dekat kamu."
Bohong! teriak sebuah suara di telinga Aldef. Lelaki itu mengakui, bahwa nama Celine masih kerap melintasi jalur pikirannya. Bahkan, saat ia sedang bersama Beby.
"Lagi pula, kenapa kamu baru muncul saat aku udah jadi milik orang lain?" lanjut Aldef yang menusuk telak di hati Celine.
Untuk kesekian kalinya, Celine mendengkus keras.
"Kalau bukan karena Fara, ogah banget gue nangis-nangis depan Aldef! Anjlok, dah, harga diri gue sebagai mantan!"
Nyatanya, kacamata Aldef yang menunjukkan bahwa Celine masih gadis manis yang dulu ia kenal adalah salah.
Salah besar!
***
Karena hari ini Miko tak ada jadwal kuliah, ia terpaksa turut nimbrung bersama Aldef, Beby dan orang-orang yang menurut Miko bocah. Demi membunuh rasa bosan, Miko memilih untuk bermain game.
"Lo yakin mau nunggu gue sampai selesai kelas, Kak?" tanya Beby untuk kali kesekian.
"Hm," jawab Miko singkat.
"Nggak mau pulang aja? Gue bisa sama Aldef nanti."
"Nggak."
Beby menghela napas berat. Bagi Miko, Beby adalah makhluk paling keras kepala sedunia. Tapi menurut Beby, Miko-lah orangnya.
"Udah nggak apa-apa. Biarin aja," bisik Aldef yang duduk di samping kanan Beby. Kini, posisi mereka berada di hadapan Miko. Tepatnya, meja berisi empat orang di sudut selatan kafetaria Universitas Pelita.
Beby menyeruput milkshake taro di hadapannya. Karena Miko ada di dekat gadis itu, topik obrolan Aldef dan Beby menjadi terbatas.
Ponsel Aldef yang tergeletak di atas meja menarik perhatian Beby.
"Al, boleh pinjem HP nggak?"
"Uuummm ...." Indra pengelihatan Aldef mendapati Miko melirik ke arahnya. Aldef tersenyum kecil seraya menjawab, "Boleh."
"Asyikkk," seru Beby seraya mengambil alih ponsel Aldef. "Ini boleh buka apa aja, 'kan?"
__ADS_1
Untung saja, Aldef sudah menghapus pesan dan riwayat panggilan bersama Celine.
"Boleh."
Beby melempar senyum sesaat. Untuk kebanyakan perempuan, mungkin mereka akan membuka aplikasi WhatsApp saat memegang ponsel pacarnya. Tapi, Beby lebih tertarik pada Instagram. Lalu, ia membuka DM.
Kening Beby mengernyit heran saat melihat puluhan chat yang tak terbaca. Beby menoleh ke arah Aldef.
"Al, lo nggak pernah cek DM, ya?"
Aldef spontan menggeleng. "Kenapa?"
"Coba lihat." Beby memperlihatkan layar ponsel Aldef. Lalu, keduanya saling melempar tatapan terkejut. "Lo dapat tawaran endors, Al!"
"Coba sini." Aldef mengambil alih ponselnya dari tangan Beby. Ibu jarinya bergerak pelan menggilir room chat ke bawah. Ada dari sebulan yang lalu. Tepatnya, saat Aldef dan Beby viral dalam video yang berlatar kolam renang.
"Sky," panggil Aldef pelan. Tatapannya tak beralih dari layar ponsel. "Gue nggak nyangka bisa se-terkenal ini."
Beby tertawa renyah. "Ambil beberapa, Al. Lumayan, tuh."
Sementara obrolan Aldef dan Beby seputar endors berlanjut, Miko yang sejak tadi memasang telinga berulang kali mendesah pasrah. Ia merasa apa yang terjadi ini tidak adil.
Miko yang sudah bersama Beby sejak gadis itu lahir, tak pernah sekalipun mendapat tawaran endors. Jangankan endors, DM saja mayoritas hanya dari mahasiswi di kampus!
"CIYEEE!!!"
Sorakan itu membuat lamunan Miko seketika buyar. Sejenak, Miko menatap ke seisi kafetaria. Ternyata, sorakan itu ditujukan pada dua makhluk bucin di depannya.
Merasa tak tertarik, Miko beranjak dari kursinya. "Gue tunggu di mobil," ucapnya singkat pada Beby.
***
Lokasi syuting hari ini berada di salah satu sekolah menengah atas yang cukup terkenal akan prestasi dari siswa-siswinya. Karena latar utama webseries berjudul Friendzone ini berada di sekolah.
"By, lima belas menit lagi take, ya," ucap salah seorang kru pada Beby yang tengah berbincang santai bersama Aldef dan yang lain.
Tatapan Beby beralih pada Aldef yang tengah sibuk dengan ponselnya. "Jadi ambil yang aksesoris tadi?"
Aldef mengangguk. Ia menyetujui saran Beby untuk mengambil endors berupa aksesoris couple. Beby pun bersedia menjadi model endors bersama Aldef.
"Cuma gelang, ya?"
"Ada gelang sama kalung," jawab Aldef.
"Bagus, deh."
"ANNYEONG, BEBY!!!"
Teriakan bernada cempreng itu berasal dari gadis berambut panjang yang baru saja datang.
"Berisik!" tukas Miko seraya melempar tatapan tajam ke arah Lola.
"Dih! Ngapain si Miki di sini?" Lola menatap Miko sinis. Gadis itu mengambil posisi duduk berjarak dua kursi dari samping kanan Miko.
"Nama gue Miko!"
Malas menanggapi laki-laki menyebalkan itu, Lola mengalihkan pandangan ke arah Beby. Gadis itu lantas tersadar bahwa Beby dan pacarnya diam-diam menggosipkan dirinya. Terbukti dengan mereka yang tampak menahan tawa.
"Ngapain kalian ketawa-tawa?!" sungut Lola kesal.
"Nggak ...," balas Beby di sela-sela tawanya. "Kalian berdua cocok aja kalau dilihat-lihat. Ya, kan, Al?"
"Banget!" sahut Aldef.
"Idih! Ogah banget gue sama si Miki."
__ADS_1
"Siapa juga yang mau sama cewek lemot kayak lo," kata Miko, tak terima dengan ucapan Lola.
"Beby?" Suara bariton dari belakang Beby itu membuat semua pasang mata tertuju ke satu arah. Daren dalam balutan seragam putih abu-abu khas murid SMA, seperti yang Beby kenakan. "Udah dari tadi?"
"Lumayan, sih. Lo baru datang, Ren?"
"Iya. Bentar lagi kita take, 'kan?"
Beby mengangguk.
"Bella, Rafi, take!"
Mendengar perintah itu, Beby dan Daren kompak menyiapkan diri untuk scene pertama. Kini, tinggallah Aldef, Lola, dan Miko di sana.
"Gue mau cari makan siang dulu, ya, Kak," ucap Aldef.
"NGGAK!"
Aldef menatap heran pada Miko dan Lola yang menyahut dengan kompak.
"Lo di sini aja!"
Lagi-lagi, Miko dan Lola kompak bersuara.
Sadar akan kecanggungan yang menyergap, Miko berdeham. "Gue ikut lo aja."
Aldef yang sejak tadi berusaha mati-matian untuk menahan tawa mengangguk singkat. "Oke."
***
Lebih dari 20 scene berjalan mulus. Untuk tiga jam ke depan, Beby dipersilakan untuk istirahat. Gadis itu berjalan menuju toilet.
"Hai, By."
"Hai, Celine," balas Beby sembari tersenyum ramah. Manik matanya tertarik pada sesuatu yang terpasang di rambut Celine. "Itu jepit lo?"
"Ini?" Celine menyentuh jepit rambut di sisi kanan poninya. "Iya. Kenapa emang?"
"Beli di mana?"
"Lupa, sih. Udah lama banget soalnya. Lo mau?"
Beby tersenyum singkat. "Nggak. Kalau gitu, gue duluan, ya?"
"Oke."
Seraya berjalan menjauh dari Celine, pikiran Beby tak henti memikirkan jepit rambut milik Celine. Ya. Jepit rambut berbentuk bunga matahari yang sama persis dengan miliknya.
"Nggak mungkin punya Celine, 'kan?"
*
*
*
EMANG DASAR SI CELINE NGGAK TAU DIRI :')
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️