
Sebelum menerima telepon, Miko harus pergi sejauh mungkin dari sekitar ruang rawat Beby jika pembicaraannya tak ingin terdenger. Pria itu akhirnya memilih toilet sebagai tempat yang aman. Setelah sampai di tempat tujuan, barulah Miko menekan tombol answer.
"Hallo? Gimana? Udah dapat lokasinya?"
" .... "
"Oke. Lo awasi terus, tuh, cowok brengsek. Jangan sampai lepas. Bentar lagi gue ke sana."
" .... "
"Oke. Thank's."
Telepon terputus. Miko tersenyum miring sembari memutar-mutar ponselnya. Kali ini, Miko berjanji pada dirinya sendiri, ia tak akan melepaskan laki-laki itu. Jika perlu, Miko rela mengotori tangannya agar nyawa pria brengsek itu melayang.
***
"Beby Skyla Amanda, mau nggak jadi pacar gue?"
Deg!
Sekujur tubuh Beby kaku seketika. Otot-otot syarafnya seolah mendadak berhenti berfungsi. Jantungnya? Sudah jangan ditanya lagi!
Sungguh. Beby tak menyangka bahwa dari sekian banyak pertanyaan, pertanyaan mematikan itulah yang keluar dari mulut Aldef.
Tangan Beby menutup kembali kotak hitam kecil yang tadi ia buka, lalu mengulurkannya pada Aldef. "Sorry, Al. Gue belum bisa jawab."
"Kenapa?" Kedua tangan Aldef mengambil alih tangan Beby, menggenggamnya erat. Membuat kotak hitam dalam genggaman Beby terlepas. "Kenapa belum bisa? Gue sayang sama lo, Sky. Gue cinta sama lo. Gue yakin, lo juga punya perasaan yang sama, 'kan? Gue bisa rasain itu, kok."
"Gue emang sayang sama lo, Al. Tapi untuk punya hubungan yang lebih jauh sama lo, gue belum bisa."
"Kenapa? Apa alasannya?"
"Gue masih bingung sama perasaan gue, Al. Gue nggak tahu ada siapa di hati gue saat ini. Gue nggak mau memulai hubungan sama lo, sedangkan hati gue masih ada orang lain. Gue nggak mau jadi orang jahat yang jadiin lo pelarian, Al. Gue rasa, gue belum sepenuhnya move on dari Arka."
Aldef menghela napas berat. Masuk akal. Asalan Beby memang sangat masuk akal. Tapi, bagaimana jika suatu saat nanti Beby tahu tentang Arka yang sebenarnya? Aldef takut. Sangat takut Beby akan memilih untuk kembali pada sang mantan.
"Oke," ucap Aldef setelah terdiam cukup lama. Pria itu masih menggenggam erat tangan Beby. "Gue akan tunggu lo sampai lo benar-benar move on."
Jujur, balasan Aldef membuat Beby merasa lega. "Thank's, Al, lo udah mau ngertiin gue."
"Ngomong-ngomong, lo tetap mau nerima kado dari gue, 'kan?"
Kedua bola mata Beby terarah pada tangannya yang masih digenggam erat oleh Aldef. "Ini bisa dilepas dulu nggak?"
Refleks, Aldef menjauhkan tangannya dari Beby. Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa salah tingkah. "Sorry."
Beby tertawa kecil. "Gue terima hoodie-nya aja, ya? Gue anggap ini sebagai tanda kedekatan kita. Kalau masalah kalung, gue rasa, belum saatnya gue menerima itu dari lo."
"Oke." Aldef meraih kotak hitam di pangkuan Beby. "Tapi, jangan nyesel kalau kalung ini nantinya ada di leher cewek lain."
Baru saja dibuat mabuk kepayang, diterbangkan hingga menembus langit ketujuh, kini sudah kembali diluluhlantakkan.
"Bercanda, Sky," ujar Aldef sebab melihat Beby hanya diam. "Gue pastikan, kalung ini akan melingkar di leher lo." Aldef memajukan wajahnya, menatap kedua bola mata Beby lebih dekat. "Karena, cuma lo yang pantas pakai kalung dari gue."
"Di sini lo ternyata."
Belum sempat Beby membalas kata-kata Aldef, seseorang datang menginstrupsi. Membuat Aldef lantas kembali menegakkan badan. Keduanya merasa seperti maling yang tertangkap basah.
"Ngapain lo dekat-dekat adik gue?"
__ADS_1
Ya. Orang ketiga bak kuntilanak itu adalah Miko.
"Nggak ngapa-ngapain," jawab Aldef. "Kita cuma ngobrol, kok. Iya, kan, Sky?"
Beby mengangguk. Pandangannya beralih pada tas ransel hijau lumut di punggung Miko. "Mau ke mana? Kuliah? Ini, kan, hari Minggu."
"Gue ada urusan. Lo gue tinggal bentar nggak apa-apa, kan?"
"Oh! Nggak apa-apa banget!" sahut Aldef girang. Lelaki itu sampai harus berdiri agar dirinya sejajar dengan Miko. "Adik lo aman sama gue," ucapnya sambil tersenyum lebar. Selebar mulut buaya.
Bukan buaya darat, ya!
Miko menatap tajam ke arah Aldef. "Gue nggak ngomong sama lo," ketusnya.
Aldef tersenyum nyengir, sementara Beby tertawa pelan.
"Emang lo mau ke mana, sih, Kak?" tanya Beby.
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
"Sama temen kuliah. Lo kepo banget, sih!"
Satu alis Beby terangkat. "Ya ... kali aja lo bohongin gue."
'Deg!'
Dari mana Beby tahu?
Apa sekentara itu jika Miko berbohong?
"Kali aja lo pergi kencan," lanjut Beby yang diakhiri ledakan tawa di ujung kalimat.
Helaan napas lega menguar dari saluran pernapasan Miko. Beruntung sebab angin di taman saat itu cukup kencang.
"Serius amat muka lo, Kak," ucap Aldef, membuat Miko lantas menormalkan ekspresinya.
Miko melirik Aldef sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke arah Beby. "Gue berangkat dulu, ya." Lelaki itu mengecup puncak kepala Beby singkat. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Beby dan Aldef secara bersamaan.
Sepeninggalan Miko, Aldef bangkit dari posisi duduknya. Membuat Beby lantas menatap Aldef heran.
"Mau ke mana?" tanya Beby.
Aldef menunduk, menatap Beby yang tengah duduk di kursi roda dengan begitu dalam. "Sky."
"Apa? Lo juga ada urusan? Mau pergi?"
Aldef menggeleng cepat.
"Terus?"
"Boleh nggak, sih, gue lakuin kayak yang kak Miko lakuin tadi?"
Kerutan di kening Beby semakin bertambah. Gadis itu berpikir keras tentang apa yang telah Miko lakukan hingga Aldef ingin meniru—
"NGGAK!" teriak Beby saat menyadari maksud dari kalimat Aldef.
__ADS_1
"Astagfirullah." Aldef terhempas kembali ke kursi taman. Tangan kanannya refleks mengusap dada, terkejut dengan teriakan Beby. "Lo kayaknya udah sehat banget, ya. Bisa teriak gitu."
"Elo, sih!" seru Beby dengan bibir mengerucut.
Melihat ekspresi gadis di hadapannya, Aldef tersenyum lebar.
"Ngapain senyum-senyum?!" ketus Beby sembari melayangkan tatapan waspada ke arah Aldef.
"Nggak apa-apa. Gemas aja lihat lo cemberut gini. Jadi pengin nyium."
"ALDEF!" Beby memukul-mukul Aldef dengan brutal. Sementara yang menjadi korban dari keganasan Beby malah terbahak-bahak.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi memerhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca. Seulas senyum getir menghiasi bibirnya.
Sebuah tangan hinggap di bahu kirinya, membuat orang itu menoleh sejenak.
"Belum terlambat kalau lo mau perbaiki semuanya," ucap si pemilik tangan.
"I know. Tapi kayaknya, Beby udah move on."
"Dari yang gue lihat, dia belum sepenuhnya move on. Lo masih punya kesempatan. Lo tahu itu."
"Iya. Tapi nggak adil buat Beby kalau gue pakai kesempatan itu."
"Terserah lo, deh."
***
"Jadi, ini tempatnya?" tanya Miko pada seseorang di samping kanannya.
Di depan sana, terlihat sebuah rumah minimalis yang tampak sedikit terbengkalai. Bola mata Miko menghunus tepat pada pintu rumah itu.
"Iya," jawab seseorang yang tengah berada di balik kursi kemudi.
"Terus, gimana soal info si brengsek itu bisa keluar dari penjara?"
"Kalau masalah itu, gue juga belum tahu. Tapi, kemungkinan besar ada yang menjamin."
Miko menoleh cepat. "Menjamin? Emang bisa?"
Seseorang di samping Miko tertawa getir. "Lo kayak nggak tahu Indonesia aja."
"Apa dia ada di dalam?" tanya Miko.
"Orang yang lo cari nggak ada di dalam. Tapi gue bisa pastikan, ada orang di dalam sana."
"Maksudnya?"
Rama menatap Miko lamat-lamat. "Kita punya lawan yang sebanding."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1