ALDEBY

ALDEBY
|87.| Kado Terakhir


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Aldef menatap kedua buku bersampul biru langit di atas meja belajarnya. Berulang kali lelaki itu menghela napas berat. Puas mengamati buku itu, Aldef mengambil salah satunya, kemudian ia membuka halaman pertama.


Ada yang bilang, terkadang masa sulit ada bukan untuk diselesaikan, tapi untuk dirasakan, dinikmati, lalu dilewati. Dan ternyata benar, aku merasakan itu saat kamu ada.


Andai hari itu aku nggak merasa ingin mati, mungkin sampai detik ini aku masih merasa sendiri. Nyatanya, semesta tahu kapan kisah kita harus diawali.


"Arka."


Tak perlu mungkin, Aldef sangat yakin bahwa 'kamu' dalam tulisan itu adalah Arka.


Dua buku bersampul biru langit di hadapan Aldef itu adalah milik Beby. Keduanya ditemukan di mobil Daren sehari setelah Beby dinyatakan meninggal.


Aldef tak menampik percikan api cemburu di hatinya saat ia membaca kata-kata dalam buku itu. Namun, Aldef memutuskan untuk membaca sampai akhir. Ia ingin tahu, seperti apa seorang Arka di mata Beby.


Belum tuntas Aldef membaca buku pertama, seseorang menekan bel apartemennya. Aldef pun bergegas menghampiri pintu. Sosok Miko dalam balutan kaus polos warna biru dongker berdiri di depan pintu apartemen Aldef sembari membawa sesuatu di tangannya.


"Kak Miko?"


Miko mengulurkan sebuah kotak berukuran besar warna biru langit. Lalu, kotak lain warna marun berukuran kecil di atasnya.


"Apa, nih?" tanya Aldef setelah mengambil alih benda dari tangan Miko.


"Kado ultah lo." Miko diam sejenak. Saat wajah Aldef menyiratkan ekspresi heran, Miko telah menduga hal itu. "Dari Beby."


"Beby?"


"Gue nemuin itu di kamarnya. Ada nama lo di sana, jadi, ya, ambil aja."


"Thank's, Kak."


"Dari yang gue tahu, Beby sengaja nggak kasih tahu lo di hari gue sama dia balik dari Surabaya. Katanya, dia mau ngasih surprise ke lo."


Surprise?


Jadi, kue yang jatuh di lantai hari itu ... punya Beby?


Aldef ingat, hari itu Celine datang ke apartemennya. Untuk beberapa saat, pintu apartemen Aldef terbuka. Tak salah lagi. Pasti hari itu Beby melihat kedekatan yang tak biasa antara Aldef dan Celine. Lalu ..., Beby kembali menemui Arka.


"Al?"


Aldef lantas tersadar dari lamunannya. Lelaki itu tersenyum kecil sambil berkata, "Thank's."


***


Sebuah jam tangan warna biru langit yang tertangkap indra pengelihatan Aldef saat ia membuka kotak kecil pemberian Beby. Aldef mengambil jam tangan itu dari dalam kotak, bola matanya mengamati lebih dekat.


"Ini ...."


Memori Aldef lantas terlempar di hari ia dan Beby melewati sebuah toko jam. Di sana, Aldef memberi tahu Beby soal jam tangan incarannya.


Dada Aldef terasa sesak seketika. Aldef menghirup oksigen banyak-banyak, menetralisir napasnya yang kian terhimpit seiring kedua mata memanas.


Aldef memejamkan mata. Tangan kanannya menggenggam benda warna biru langit itu kuat-kuat.


"Maaf, Sky."


Lagi-lagi, Aldef menghela napas berat. Kini, lelaki itu beralih pada kotak yang berukuran besar. Sebuah pigora yang terbuat dari stik es krim dengan beberapa foto di dalamnya. Tentu saja, foto-foto Aldef dan Beby.


Manis.


Kedua sudut bibir Aldef tertarik ke atas. Membentuk seulas senyum penuh makna. Tanpa menebak-nebak, Aldef tahu bahwa yang tengah ia amati saat ini adalah hasil karya Beby.


Indra pengelihatan Aldef tertarik pada secarik kertas di dalam kotak besar.


Hai, Al.


Jujur, ini pertama kalinya gue nulis surat. Bingung mau nulis apa. Hahaha. Lucu, ya? Padahal, gue udah ngabisin satu buku lebih buat nulis kata-kata.

__ADS_1


By the way, untuk kali ini aja, gue pengin ganti panggilan kita dengan aku-kamu. Di sini doang, Al.


Jangan geli!


Aldef mendongak. Lelaki itu tertawa getir seiring dengan air mata yang menetes. Aldef menghela napas keras, kemudian lanjut membaca.


Oke. Jadi, aku bakal ceritain semuanya di sini. Mungkin, kamu akan lebih suka sama jam tangannya? Of course. Itu, kan, jam merk incaran kamu.


Iya. Aku tahu hasil karyaku emang nggak sempurna. Jauh dari kata bagus dan rapi. Tapi, Al, aku bikin itu sampai begadang tahu.


Oh, iya. Kamu jangan marah, ya. Sebenernya, ide bikin pigora dari stik es krim itu idenya Arka. Kata dia, hadiah yang kita buat sendiri itu bakal lebih berkesan.


Aku ngaku, Al. Andai aku bisa kendalikan perasaan, aku mau stop mencintai kamu. Melihat cara kamu memperlakukan Celine, aku ngerasa kayak jatuh di lubang yang sama. Apalagi, waktu aku tahu kebenaran soal Arka yang ternyata nggak pernah selingkuh.


Sialnya, aku nggak bisa, Al. Kamu berhasil ngambil alih semua cintaku dalam waktu sekejap.


Tapi ..., kayaknya aku nggak, ya?


Aldef memejamkan mata rapat-rapat. Kalimat terakhir yang ia baca terasa sangat menohok hatinya. Andai saja, Aldef menyadari perasaannya sedikit lebih cepat.


"Kamu berhasil, Sky. Kamu berhasil bikin aku jatuh hati. Sejatuh-jatuhnya."


Happy Birthday, Al.


Maaf kalau aku belum bisa jadi seperti yang kamu mau. Maaf kalau aku terlalu banyak nuntut. Maaf kalau aku terkesan mengekang kamu. Aku sama sekali nggak berniat untuk membatasi dengan siapa kamu berteman.


Aku tahu, aku egois.


Tapi, boleh aku jujur satu hal?


Sakit, Al.


Sakit rasanya lihat pacar sendiri lebih perhatian ke mantannya.


But, it's oke. Aku tahu kamu orang baik. Aldefra Mahardika, orang yang terkenal ramah dan suka menolong. Aku akui, itu emang kamu banget.


Semoga kamu jadi pribadi yang lebih baik lagi, ya. Bahagia selalu, Al.


"Aku kangen kamu, Sky ...," lirih Aldef sembari meremas kertas dalam genggamannya yang sudah terkontaminasi beberapa tetes air mata Aldef sendiri.


***


Satu tahun kemudian.


"Hai, Kak. Maaf, ya, baru bisa datang. Sekarang, aku percaya kalau keajaiban itu ada, Kak. Buktinya, aku di sini sekarang. Kakak tahu nggak? Kak Aldef sedih banget waktu Kakak pergi. Waktu dia jenguk aku kemarin, badannya kelihatan kurus. Tapi Kakak tenang aja, banyak yang sayang Kak Aldef di sini."


Poppy tersenyum lebar. Jemarinya bergerak mengusap batu nisan bertuliskan Beby S.A di sana. Lalu, gadis itu berdiri. Indra pengelihatannya mendapati sosok Celine yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


"Udah?" tanya Celine.


Mendapat anggukan dari sang adik, kini giliran Celine yang mengambil posisi jongkok di samping makam Beby.


"Gue jadian sama Fahri, By." Celine terkekeh pelan. "Gue nggak nyangka, gue bisa beneran jatuh cinta sama dia. Berkat Fahri, gue sadar, bahwa rasa yang ada dalam diri gue untuk Aldef itu nggak lebih dari kenangan.


"Aldef kacau banget setahun ini, By. Susah buat kita semua untuk bantu dia semangat lagi. Kayaknya, tiap hari dia ke sini, ya?


"Maaf, By. Atas semua yang gue lakukan dulu. Gue janji, gue akan pastikan Aldef baik-baik aja."


Sentuhan di bahu kiri membuat Celine refleks mendongak. Tatapannya bertemu dengan seorang wanita cantik yang tengah menggendong balita perempuan.


"Celine, ya?"


Untuk sesaat, Celine merasa bingung. Wajah wanita di hadapannya tampak familiar, tapi Celine tak mengingatnya. "Siapa, ya?"


Wanita itu hanya tersenyum. Pandangannya mengarah ke belakang. Celine yang mengekori arah tatapan wanita itu melihat sosok lain yang ia kenal.


"Kak Indra?" Bola mata Celine kembali fokus pada wanita di hadapannya. "Berarti ini ... Kak Shinta?"


***

__ADS_1


'Tok tok tok!'


"Al, Mama masuk, ya?"


"Iya."


Fitri membuka pintu kamar Aldef perlahan. Semenjak kepergian Beby, Aldef memilih hengkang dari Apartemen Golden. Tadinya, ia ingin mencari apartemen lain yang jauh dari bayang-bayang Beby. Tapi, Fitri memintanya untuk tinggal di rumah bersama keluarga.


Begitu memasuki kamar sang anak, Fitri mendapati Aldef dalam balutan selimut tebal. Lelaki itu tampak menggigil.


"Kamu kenapa, Al?"


Usai meletakkan nampan berisi sarapan dan segelas teh hangat, Fitri mendekat ke arah Aldef.


"Astaga, Al! Kamu demam! Makan dulu, ya?"


Aldef menggeleng pelan. "Nggak mau, Ma. Nggak laper." Lelaki itu berusaha bangkit dari posisi baring. Keduanya matanya tampak begitu sayu. "Jam berapa sekarang, Ma?"


"Jam sembilan. Kenapa?"


"Aku harus berangkat sekarang. Ada kelas."


"Tapi, Al. Kamu lagi sakit."


"Bukannya kelas lo baru jam satu siang?"


Suara dari ambang pintu itu membuat Aldef dan Fitri kompak menoleh. Sosok Putri dalam balutan pakaian serba putih berdiri di sana.


"Iya, sih. Gue mampir ke Beby dulu."


Aldef hendak beranjak dari posisinya, namun dihalangi oleh Fitri. "Makan dulu. Mama suapin."


"Nggak keburu, Ma. Beby udah nungguin."


Putri menghela napas sejenak. Gadis itu memasuki kamar Aldef, lalu melempar ponsel Aldef yang semalam tertinggal di ruang tamu.


"Dari tadi handphone lo bunyi."


Benar saja. Dua detik berikutnya, ponsel Aldef kembali berdering. Sebuah panggilan dari kontak bernama 'Kak Miko'. Tanpa ragu, Aldef menekan tombol answer.


"Ya, Kak?"


"Bisa ke Lomera Cafe sekarang? Ada yang mau gue omongin. Penting."


"Soal apa?"


"Beby."


...-TAMAT-...


*


*


*


AKHIRNYA TAMAT JUGA, HAHAHA.


GIMANA ENDINGNYA NIH? BERHASIL BIKIN NYESEK GAK?


NEXT BIKIN CERITA APA, NIH?


ALDEBY SESION 2?


ATAU CERITA MIKO & LOLA?


KOMEN, YA!


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


SEE YOU!


__ADS_2