
"Hai, Manda."
Senyuman miring penuh akan sarat menantang dari gadis di hadapannya membuat Beby terpaku barang sesaat. Beby tak menyangka, dia akan dipertemukan lagi dengan perempuan ini.
"Fara?"
Wajah Fara membawa kembali memori kelam yang telah susah payah Beby kubur dalam-dalam. Butuh waktu dan proses yang panjang hingga Beby bisa melanjutkan hidupnya kembali. Tapi, ia sama sekali tak berpikir bahwa hanya dengan melihat wajah Fara, semua memori itu kembali.
Badai memang pasti berlalu, tapi banyak yang harus dibenahi akibat badai itu. Terlebih waktu dan proses yang harus dilalui dalam memperbaiki segalanya.
Tak mudah untuk Beby melewati badai dalam hidupnya yang dulu.
"Long time no see."
"Ngapain lo di sini?" tanya Beby sinis.
Fara menyipitkan kedua mata. "Bukannya gue ya, yang harusnya nanya gitu? Ngapain lo di sini? Gue kira lo kabur ke ujung dunia." Fara mengambil selangkah ke depan, membuat jarak yang tersisa antara dirinya dan Beby tinggal sejengkal. Kedua bola mata Fara menatap lurus ke dalam mata Beby. "Sepertinya, lo baik-baik aja."
Enggan terpancing emosi, Beby menghela napas sejenak. Kedua sudut bibirnya menukik ke atas, membentuk senyuman berjuta makna. Detik berikutnya, Beby kembali memasang ekspresi datar sembari berkata, "Bukan urusan lo."
Daripada membuang tenaga sia-sia, Beby memilih untuk enyah dari toilet itu. Namun, sepertinya Fara memang berniat untuk kembali mengusik hidup Beby.
Tepat di depan kolam renang, Fara berhasil menghentikan langkah Beby.
Beby tak berniat membuka suara. Gadis itu ingin melihat apa yang akan Fara lakukan.
"Udah lama nggak ketemu, masa gini sambutan lo ke gue? Lo nggak kangen sama gue? Sama masa-masa SMA kita." Fara memasang ekspresi melas yang dibuat-buat. "Oh, ya! Lo inget nggak waktu prom-night? Gila, ya, kalau ingat waktu itu. Lo pasti bahagia banget, 'kan?"
Beby masih bungkam. Ingin sekali Beby merobek mulut culas Fara dengan kuku jari-jarinya yang lentik.
Namun, alih-alih meladeni kegilaan Fara, Beby memilih beranjak dari tempat. Saat itu pula, Fara kembali mengadang langkahnya.
"Tunggu dong, Amanda."
Sungguh! Beby sangat-amat membenci panggilan itu.
"Nama gue Beby!"
Fara tampak terkejut. "Oh, lo ganti nama? Kenapa? Apa jangan-jangan ...."
Indra pengelihatan Beby semakin menajam. Fara ini benar-benar ....
"Santai dong, Manda," ucap Fara sambil tertawa mengejek. "Ups! Sorry. Maksudnya, Beby."
Ekspresi Fara mendadak berubah. Mata yang menatap nyalang, rahang terkatup rapat, serta napas memburu, menunjukkan adanya gejolak emosi dalam diri Fara.
"PEMOTRETAN ITU HARUSNYA JADI MILIK GUE!" teriak Fara secara tiba-tiba.
"Oh, ya? Emang lo siapa?"
"Gue?" Fara menunjuk dirinya sendiri. "Gue saudara kembarnya Fahri. Jadi, lo udah merebut hak gue!"
Kedua mata Beby memicing. Kali ini, Beby tak akan tinggal diam. Gadis itu mendesis keras. "Kasihan banget ya lo. Niat jadi model, tapi nggak punya bakat yang berkembang. Jadinya nggak laku, deh."
__ADS_1
"Lo—!"
Tak ingin lagi berurusan dengan orang gila di hadapannya, Beby mengambil langkah menyamping untuk melewati Fara. Baru tiga langkah Beby meninggalkan tempat, seseorang menarik kencang pergelangan tangannya dari belakang, membuat Beby hilang keseimbangan dan terhempas ke kolam renang.
"*****!"
Satu kata itu merasuki gendang telinga Beby sesaat sebelum raganya menyatu dengan air kolam.
'Byur!'
Saat itu, hanya ada Beby dan Fara di area kolam. Jelas saja, siapa yang bersedia berenang di tengah terik mentari siang bolong begini?
Beby yang berada di dalam kolam dengan kedalaman 3 meter itu terus berusaha untuk meraih apapun di atasnya. Namun, semakin keras Beby mencoba, ia malah semakin terdorong ke tengah kolam. Perlahan, Beby mulai merasakan sesak. Pasokan udara dalam rongga dadanya pun kian menipis. Ingin berteriak, tapi suaranya tertahan air.
Pada akhirnya, Beby hanya bisa pasrah dan membiarkan raganya tenggelam semakin dalam.
Di pinggir kolam, Fara sudah tak melihat adanya tanda-tanda pergerakan dari dalam air. Itu artinya, Beby sudah kehabisan napas.
Gadis itu tersenyum licik. Kali ini, Fara sangat berterimakasih pada keadaan yang membawanya bertemu Beby. Apalagi, lokasi pertemuan mereka di area kolam renang.
Ya. Air memang sudah lama menjadi kelemahan seorang Beby Skyla Amanda.
Fara menata emosi dalam dirinya. Ia mengubah ekspresi yang semula puas menjadi panik. Lalu, setelah semuanya dirasa sempurna, barulah Fara melancarkan beraksi.
"TOLONGGG!!! TOLONGGG!!! ADA YANG TENGGELAM!"
***
Akibat teriakan itu, semua orang di sekitar area kolam yang semula tenang mendadak berhamburan. Mereka berbondong-bondong ke sumber suara untuk melihat apa yang telah terjadi.
Melihat kejadian itu, perasaan Aldef mendadak gusar. Seperti ada firasat buruk yang membelenggu hatinya. Penasaran, Aldef pun memutuskan untuk mengampiri TKP.
"Mau ngapain lo?" tanya Aldef saat melihat Fahri tengah melucuti pakaiannya sendiri. Manik mata Aldef sempat beradu sejenak dengan seorang gadis yang berdiri di dekat Fahri.
"Ada yang tenggelam," ucap Fahri dengan ekspresi panik yang kentara.
"Siapa?"
"Beby."
"Oh, Beb—HAH?! BEBY?!" Tatapan Aldef menyisiri ke sekitar kolam. "Kenapa nggak ada yang nolongin?!"
Aldef bergegas melepas sepatu, kaos kaki, jaket, dan segala aksesoris yang melekat di tubuhnya.
"Eh, lo mau ngapain?" tanya Fahri.
"Nolongin Beby, lah!" tukas Aldef.
"Biar gue aja."
"Gue aja."
"Tapi—"
__ADS_1
"MINGGIR!"
Aldef mendorong Fahri yang semula mengadangnya. Lalu, lelaki dalam balutan kaos oblong warna kunyit dan celana ukuran seperdelapan terjun ke dalam kolam. Tak butuh waktu lama, indra pengelihatannya dapat menangkap sosok Beby yang tengah memejamkan mata.
Sementara Aldef sibuk menyelamatkan Beby, Fahri tak henti menatap heran ke arah sahabatnya itu. Dari cara Aldef menyelamatkan Beby, Fahri dengan jelas menangkap semburat cinta di dalamnya.
Masih dalam pengawasan banyak pasang mata di pinggir kolam, Aldef berhasil membawa Beby keluar dari air.
Usai memposisikan Beby dalam keadaan telentang, Aldef mulai memacu tenaganya untuk menekan-nekan dada Beby, berharap gadis itu segera membuka mata.
"Kasih napas buatan aja," ujar Fahri, ia merasa gemas dengan usaha Aldef yang tak kunjung membuahkan hasil.
"Gue?" Aldef menunjuk dirinya sendiri.
"Mau siapa lagi?"
Mendengar ucapan Fahri, Aldef diam sejenak. Bola matanya menatap lekat pada wajah pucat Beby. Tiga detik kemudian, Aldef melancarkan aksi yang sangat ia ketahui resikonya: kemarahan Beby—jika gadis itu mengetahuinya.
Aksi nekat Aldef itu disaksikan oleh beberapa pasang mata. Bahkan, orang-orang yang semula tak peduli dengan insiden di kolam renang pun mendadak tertarik.
"Uhuk! Uhuk!"
CPR yang Aldef berikan membuahkan hasil, Beby terbatuk dengan air yang keluar dari mulutnya. Masih setengah sadar, Aldef membantunya duduk.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Aldef.
Beby diam. Bayangan akan situasi di dalam air beberapa saat lalu sukses membuat sekujur raganya gemetar.
Persis seperti kejadian 12 tahun lalu—saat Beby berumur tujuh tahun, traumanya akan air kembali ke permukaan. Beby pikir, trauma dalam dirinya akan menghilang seiring berjalannya waktu. Tapi nyatanya, ia masih merasakan ketakutan yang sama.
Padahal, saat dirasa tak ada tempat untuk mencurahkan isi hati, saat kepalanya hampir pecah sebab jiwa dan raga yang saling baku hantam. Hanya penampakan air yang berhasil membuat seorang Beby Skyla Amanda merasa tenang. Dan bintang-bintang di atasnya, tentu saja.
Melihat gadis di hadapannya hanya diam, Aldef kembali bersuara. "Beby?"
Sang pemilik nama mendongak. Kini, Aldef dapat melihat jelas sarat akan ketakutan yang luar biasa terpancar dari bola mata Beby.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Aldef lagi.
Alih-alih menjawab pertanyaan Aldef dengan gerak tubuh atau kata-kata, setetes air mata meluncur dari indra pengelihatan Beby.
Melihat hal itu, Aldef lantas membawa Beby ke dalam dekapannya. "Sssttt ... tenang, ya. Ada gue di sini. Lo aman."
"Gue takut ...," lirih Beby di sela-sela isakan tangisnya.
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!
Thank you ❤️
__ADS_1