
Akhirnya hari ini putusan sidang atas pembunuhan sengaja yang di lakukan oleh Rossa memasuki babak final, dengan
mengumpulkan semua bukti-bukti yang telah di kumpul kan oleh Vino dari anak buahnya,
berupa foto-foto serta rekaman video Rossa yang bertemu dengan James dan beberapa orang pengacara nya secara diam-diam, Tampak dari tekanan dan foto sama sekali Rossa tidak memperlihatkan seperti orang yang sedang dalam gangguan jiwa,
Dan di dalam sidang pihak kepolisian mengahdirkan beberapa saksi mata yang berada di TKP,
Serta di dukung oleh seorang ahli ilmu kejiwaan, maka diputuskan bahwa Rossa mendapatkan hukuman seumur hidup atas semua tindak kejahatan yang telah ia lakukan mulai dari penabrakan secara sengaja, serta kebohongan menjadi orang dalam gangguan jiwa,
Setelah mendengar semua putusan dari sang hakim, Rossa langsung berteriak menolak hukuman yang ia terima, namun nasi telah menjadi bubur, bagaimana pun ia menolak putusan itu, hukuman tetap berjalan.
Dengan sedikit pemaksaan akhirnya Rossa yang mulai sudah tidak terkendali langsung di bawa kembali oleh pihak keamanan untuk masuk kedalam jeruji besi sementara yang ada di salah satu ruang di dalam pengadilan tersebut.
Di dalam sidang itu tampak kedua orang tua Rossa hadir beserta papi dan mami Brian,
Sedangkan Luna, Brian dan sang ayah, juga menyaksikan jalannya persidangan dari layar tv yang ada di balik tembok persidangan, Semua itu Brian lakukan untuk melindungi Luna dari kegilaan Rossa, yang tampak terus ingin mencoba mencelakai istri tercintanya,
Hari itu menjadi hari penuh haru untuk Luna dan keluarga, di sisi lain Luna merasa senang karena Rossa mendapatkan hukuman yang setimpal atas kejahatan yang telah ia perbuat selama ini, namun di sisi lain ia merasa sedih melihat wajah sang mami dan om nya Brian, yang terlihat sangat terpukul atas kejadian yang menimpa Rossa,
Dengan perut yang sudah membuncit Luna pun mulai mendekati sang mami yang masih terduduk di ruang sidang tersebut,
"Mami...maafkan Luna ya mi"
"Sayang...wah perut kamu sudah besar Luna"
Luna langsung duduk di sebelah sang mami
"Iya mi, ini cucu mami,"
Sang mami pun mulai memeluk tubuh sang menantu sambil mengusap dindingnya dengan lembut,
" Pi...ini cucu kita Pi"
Luna yang baru pertama kali bertemu dengan mertua laki-lakinya itu langsung berdiri dan mencium tangan sang papi,
__ADS_1
"Sehat terus ya nak, jangan sedih lagi semua sudah berlalu, mungkin ini memang keputusan yang baik, jadi jangan merasa bersalah,"
"Iya Pi...Luna...minta maaf karena....."
"Nak...sudah lah...memang mami kasihan dengan hukuman yang di jatuhkan untuk Rossa, namun melihat tindak kejahatan yang ia lakukan maka hukuman itu pantas untuk Rossa, "
Tiba-tiba di tengah percakapan itu papa Rossa pun datang mendekati Luna dan keluarga,
Sedangkan mama Rossa yang masih kecewa dengan keluarga Luna dan putusan pengadilan memilih keluar dari ruang persidangan itu dan lebih memilih untuk menjenguk Rossa di dalam penjara.
"Luna.. Pak Bram...maafkan semua kesalahan yang telah di perbuat oleh Rossa selama ini....saya sangat menyesal karena tidak mampu mendidik putri saya untuk menjadi lebih baik.... dan disini saya juga berterimakasih karena Luna dan keluarga sudah mau meringankan hukuman yang harusnya Rossa terima,"
Dengan penuh penyesalan papa Rossa pun meminta maaf kepada Luna dan sang ayah dengan sungguh, karena sebelumnya memang Rossa di dakwa dengan hukuman mati, namun karena permohonan yang papa Rossa ajukan kepada pihak Luna dan Brian, maka hukuman itu di sedikit lebih ringan dari sebelumnya,
"Iya pak Lion, kami mengerti kesedihan yang anda rasakan saya pribadi juga sedih harus kehilangan anak sulung saya, tapi rasa kemanusiaan saya tidak ingin kalau bapak harus kehilangan putri bapak satu-satunya, makanya kami hanya ingin memberi efek jera pada Rossa semoga ke depannya Rossa bisa berubah lebih baik lagi pak Lion"
"Terima kasih pak Bram...terimaksih atas kemurahan hati dari pihak pak Bram sekeluarga,"
Akhirnya, hari itu pun menjadi hari yang bersejarah untuk Brian, Luna dan keluarga besar mereka.
Dengan kecepatan penuh, akhirnya mobil yang dikendarai sang papi akhirnya sampai di RS tujuan mereka,
Sambil menggendong sang istri Brian langsung membawa Luna ke ruang IGD RS tersebut,
"Tolong ....tolong istri saya dok.."
Brian yang baru pertama kali mendampingi proses kelahiran Luna merasa gugup dan takut, terlihat jelas dari tangan nya yang tak berhenti bergetar,
"Sabar ya pak, kami akan membawa Bu Luna dulu ke dalam ruang pemeriksaan, "
Dan tak berapa lama menunggu akhirnya Luna telah memasuki pembukaan 10 dengan di dampingi Brian di samping nya tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya, putri kecil yang mereka tunggu muncul ke dunia,
"Oekkk....oeek...oek..."
Brian yang bergetar hebat setelah melihat semua proses melahirkan Luna memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi, di sana ia mengeluarkan semua isi perutnya,
__ADS_1
"Uwekkkk...uwekkk...."
"Hehehe....ternyata buah jatuh gak jauh dari pohonnya, ...sama kaya kamu Pi...waktu mami melahirkan Brian papi juga muntahkan?"
"Hahaha...iya mi.."
Setelah melewati semua serangakaian yang mendebarkan akhirnya mereka semua bisa bernafas lega, saat melihat putri kecil yang berwajah mirip dengan Brian,
"Selamat sayang .. akhirnya putri kecil ini keluar juga.."
Brian memberikan sebuah kecupan hangat di dahi sang istri,
"Makasih karena sudah membawa kebahagian di dalam kehidupan ku.."
"Sama-sama mas...Luna yang seharusnya ber..."
Brian langsung menutup bibir Luna dengan jari nya dan ia pun meninggalkan sebuah ciuman di bibir istri cantiknya itu.
"Ehem.."
Seketika Brian langsung melepaskan ciumannya,
"Eh ayah...Pi...mi..."
"Ingat Brian istri mu baru saja melahirkan jangan macam-macam dulu.."
"Heheh iya mi" Brian merasa tertangkap basah oleh kedua orang tua dan mertuanya, sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal, ia mengambil Azka dari gendongan sang papi, dan mendudukkan dirinya di sofa yang tersedia di sana,
"Selamat ya nak, akhirnya kamu memberikan cucu kembali untuk mami... mami sudah tidak sabar untuk bisa memboyong mereka ke negara J nantinya,"
Luna merasa sangat bahagia melihat ekspresi orang-orang yang ada di sekitarnya, hari itu akhirnya semua penderitaan yang ia alami selama ini berbuah manis, sekarang ia kelilingi dengan orang-orang yang mencintainya,
"Bunda...kak Loni...Luna harap kalian juga merasakan kebahagian yang sama seperti yang Luna rasakan saat ini..."
Luna bermonolog di dalam hatinya hingga tak terasa ia meneteskan air mata kebahagiaan di pipinya.
__ADS_1
END