
Jarak yang terbentang jauh antara negara K dan negara I membuat badan Luna terasa sangat lelah, setelah hampir 18 jam berada di dalam jet akhirnya Luna dapat kembali menghirup udara hangat dari kota kelahirannya itu.
Saat Luna mulai turun dari dalam jet yang di ikuti Brian di belakangnya, tampak sebuah ambulance telah terparkir di sana, beberapa perawat tampak sudah bersiap untuk memindahkan tubuh sang kakak yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang masih setia menempel di beberapa bagian tubuhnya.
Luna serasa mati rasa sesaat melihat tubuh sang kakak yang tinggal kulit membalut tulang, wajahnya yang dulu cantik dengan full make up yang selalu menghiasi wajahnya kini terlihat pucat seperti tak berdarah.
"Kakak lihatlah kita telah kembali. Semoga di sini kamu bisa kembali membuka matamu kak," mendengar perkataan istri nya membuat hati Brian terenyuh
"Hati mu sungguh mulia sayang..padahal kakak kandung mu sendiri telah menjerumuskan kamu ke dalam kesengsaraan ... tapi kau tetap menyayangi nya dengan sepenuh hatimu"
Brian berbisik di telinga sang istri yang masih termenung melihat ambulance yang mulai berjalan meninggalkan landasan.
"Darah lebih kental dari air mas, setidak nya itu yang membuat aku selalu ingin berkumpul dengan kak Loni. Jika saja waktu bisa berputar..Aku ingin kembali ke masa kecil ku dulu. Aku bisa berkumpul bersama kak Loni, ayah dan bunda kami waktu itu saling menyayangi dan mengasihi."
Tak terasa air mata mulai terjatuh dari pelupuk mata Luna. Brian yang melihat air mata di mata sang istri langsung membawa Luna ke dalam pelukannya, dan menghapus air mata dari wajah cantik sang istri.
"Mari kita pulang sayang, besok baru kita ke RS, paling tidak kau bisa istirahat dengan tenang di rumah kita sendiri yang"
"Benarkah malam ini aku bisa istirahat mas??" Luna menelisik ke arah mata Brian, yang terkadang lain di mulut lain di hati.
"Heheh...iya malam ini aku tidak akan mengganggu istirahat mu, tapi kalau aku tidak khilaf yang"
"Haha"
"Haha"
Luna langsung memukul tubuh sang suami yang tak henti menggodanya.
"Plak"
"Hahaha"
Brian tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah ketus sang istri yang terlihat manyun.
Tak lama berselang mobil yang mereka tumpangi telah memasuki pelataran mansion Brian, dua pasang suami istri itu langsung masuk ke dalam kamar, dan nyonya Brata yang juga terlihat sudah sangat kelelahan juga memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dan malam ini, seperti yang Brian ucapakan dia membebaskan sang istri untuk beristirahat dengan tenang. Luna tertidur sambil memeluk tubuh gembul Azka sang anak yang terlihat sudah sangat merindukan ibunya itu.
***
Panggilan untuk menyembah sang khalik seketika membangunkan Luna dari tidurnya, namun ada sesuatu yang berbeda ia rasakan pada tubuhnya. Luna yang masih merasa sangat mengantuk tiba-tiba merasa sulit untuk bernafas, dan ia merasakan perutnya seperti ada yang menekan dengan sangat kencang.
Karena merasakan sakit pada perutnya, Luna langsung membuka mata lebar-lebar, dan seketika ia dapat rasa kan hembusan nafas yang teratur dari balik telinganya.
"Ternyata benda besar ini yang membuat aku hampir kehabisan nafas, " terbit sebuah senyum di bibir merah Luna, ia begitu merasa di sayangi dua pria yang saat ini masih sama-sama memeluknya.
Brian dengan erat memeluk sang istri dari belakang, sedangkan Azka masih terlelap dalam pelukan sang mama. Dengan hati-hati Luna mulai melepaskan diri dari kedua pria posesifnya itu.
Dan saat terbebas, Luna langsung turun dari ranjangnya, dan mulai membenahi diri untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Selama 15 menit kurang lebih Luna habiskan untuk sholat dan berdoa kepada sang khalik. Setelahnya ia mulai merapikan kembali mukenah nya seperti semula.
Pagi ini Luna berencana akan membuat beberapa jenis makanan untuk sarapan suami dan mertuanya, berada beberapa hari di negara orang membuat ia sangat merindukan makanan buatan nya sendiri.
Dengan perasaan yang tidak sabar ia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, namun sebelum keluar ia kembali melihat ke arah kasur di mana Brian dan Azka tertidur,
Seketika tersembur senyum dari bibir Luna, saat melihat sang suami dan anaknya yang tertidur sambil berpelukan. Seketika Luna langsung mengambil hp dari dalam tasnya, dan mulai mengambil beberapa foto ayah dan anak itu.
"Lihatlah mas, begitu miripnya dirimu dengan Azka, aku tak bisa bayangkan, kalau dulu kita tidak bertemu kembali. Mungkin saat ini aku tidak bisa melihat hal manis seperti pagi ini"
Luna kembali melihat foto yang baru saja dia ambil, dan ia pun mulai menukar profil hp nya dengan gambar Brian dan Azka yang tertidur sambil berpelukan.
"Baik lah, aku tak bisa lama-lama berada di sini, karena matahari sebentar lagi akan segera terbit, aku memiliki banyak resep yang harus di selesaikan pagi ini."
"SEMANGAT LUNA..."
Luna pun mulai Menyemangati dirinya sendiri sebelum melaksanakan misi yang ingin ia selesaikan segera.
Luna mulai melangkah ke dapur, di sana dia melihat beberapa orang pelayan yang sudah sibuk mempersiapkan sarapan sesuai menu yang telah tertulis setiap harinya.
__ADS_1
"Pagi pak Yan..pagi bibi semua..."
semua Art di sana merasa terkejut saat melihat sang majikan yang sudah berada di dapur di pagi buta itu.
"Selamat pagi nyonya" secara serempak pak Yan dan yang lainya menjawab sapaan Luna
"Nyonya ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak pak Yan..aku tidak memerlukan bantuan, hanya saja bisakah hari ini aku yang membuat sarapannya?" dengan wajah puppy Luna mencoba bertanya kepada pak Yan sang kepala pelayan.
"Maaf nyonya, ta-pi.."
"Please pak Yan..aku sudah sangat rindu untuk memasak, selama di negara K, aku hanya bisa memakan roti dan stek. Hari ini aku ingin membuat makanan yang lagi aku pingin pak Yan"
"Nyonya tinggal bilang apa yang nyonya inginkan, Para art di sini akan memasak sesuai, keinginan nyonya"
"Aku tidak mau pak Yan, paling tidak bibi semua bisa membantu ku di dapur, ok?"
"Baiklah nyonya, semua sesuai yang nyonya minta..tapi kalau"
"Aman, kalau mas Brian marah akan yang akan menjelaskan."
"Baik lah nyonya, kalau anda butuh apa-apa, anda bisa langsung bilang nyonya"
"Ok pak Yan..terimaksih.."
Setelah melihat kepergian pak Yan, Luna langsung memulai aksinya, sambil memakai sebuah apron berwana pink di tubuhnya.
Setelah 1 jam 30 menit berkutat di dapur dengan di bantu 3 orang pelayan, Luna telah menyelesaikan misinya. Dengan piawai ia mulai menyusun piring demi piring makanan yang telah ia buat pagi ini.
"Sayang..aku mencari mu kemana-mana ternyata kau berada di sini" Brian turun dari tangga sambil membawa Azka yang menangis di gendongannya, di sana juga tampak baby sitter Azka mencoba untuk menghibur Azka.
"Mas..maaf tapi aku tidak dengar saat kau memanggil"
Dengan sigap ia mengambil Azka dari gendongan Brian. Dan bayi gembul itu seketika menghentikan tangisnya,
"Maaf nyonya, saya juga heran kenapa Azka tidak mau sama saya, tadi setelah tuan membawa Azka kepada saya dia langsung saja menangis." sambil menundukkan wajahnya tampak sang baby sitter merasa bersalah karena tangisan Azka.
"Mami rasa Azka itu takut kalau kamu tinggal lagi Luna, makanya dia langsung mencari kamu"
Sang mami yang mulai turun menuju meja makan ikut bersuara setelah mendengar keributan pagi ini.
"Iya mi, Luna rasa Azka takut kalau Luna pergi lagi"
Luna langsung membawa Azka kembali ke kamarnya untuk memandikan Azka,
"Maafin mama ya sayang..mama gak akan pergi tinggalin Azka lagi sayang"
Seperti mengerti bayi gembul itu mengeluarkan senyum nya saat sang mama berkata kepadanya.
Setelah beberapa saat, semua sarapan yang telah Luna buat telah ludes di meja makan, Brian terlihat yang paling di antara semua anggota keluarga, hingga keluar sendawa dari mulutnya.
"Sepertinya aku harus kembali nge-gym sayang, kalau kau masak makanan seperti ini terus"
Luna hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu,
"Jam berapa kalian akan berangkat ke RS?"
"Sebentar lagi mi, Brian masih menunggu email dari Vino dulu, karena nanti setelah mengantar Luna, Brian akan langsung ke kantor untuk meeting, yang sempat tertunda kemarin"
"Gak papa kan sayang?"
"Iya mas, lagian ayah juga udah ada di sana"
"Baik lah kalau gitu mami mau pergi belanja hari ini, mungkin Minggu depan mami akan Kemabli ke negara J, karena papi mu sudah beberapa kali menelpon mami untuk segera pulang"
"Kenapa kita gak tinggal sama-sama aja di sini mi?"
"Mami mau nya lama Luna, mami pingin main sama Azka terus, tapi usaha papi mu di sana banyak yang harus di selesaikan, paling tidak 6 bulan lagi baru kami bisa lama stay di negara I"
__ADS_1
"Baik lah mi, Luna sudah tidak sabar untuk kita berkumpul secara lengkap, apalagi Azka belum pernah melihat opanya sejak lahir"
"Pasti nak, papi juga sudah tidak sabar ingin bertemu Azka secepatnya, dia selalu meminta mami untuk mengirim foto-foto Azka"
"Papi tu agak susah buat ninggalin kerjaannya sayang, dia tu work holic sejati. Jadi ya harus sabar tunggu papi kalau sudah kerja"
"Apa bedanya dengan kamu mas?? buah jatuh tak jauh dari pohonnya"
"Hehehe..berarti Azka kaya aku dunk yang"
Luna langsung mendekatkan duduknya di samping Brian, sambil berbisik ia menjawab pertanyaan suaminya itu,
"Ya ia lah, asal jangan mesumnya yang sama"
"Wkwkwk..wkwkwk"
tersembur tawa dari bibir Brian mendengar ucapan sang istri,
"Tapi kamu suka kan"
"Pletak"
Luna langsung memukul tangan Brian dengan garpu yang ia pegang.
Sedangkan sang mami yang masih bisa mendengar ucapan Luna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah anak dan mantunya itu.
Selang 1 jam Luna telah siap untuk berangkat, ke RS, dia sangat berusaha untuk menidurkan Azka yang sudah mulai sangat manja kepadanya.
Beberapa saat ia mulai meninggalkan bayi gembul nya itu di dalam kamar milik Azka, sambil di jaga oleh seorang baby sitter. Dan Luna yang sudah tidak sabar untuk bertemu sang kakak mulai mencari keberadaan Brian di dalam ruang kerjanya,
tok
tok
"Masuk "
"Mas, apa kau masih sibuk?"
"Ya sebentar sayang..Vino belum menyelesaikan proposal nya, jadi mas harap kamu sabar sebentar ya yang"
Luna hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Brian terlihat sibuk membaca berita melalui komputernya. Tiba-tiba Luna tidak sengaja menjatuhkan beberapa buku yang diletak di atas meja milik Brian, dengan cekatan ia kembali menyusun buku-buku itu seperti semula, namun tanpa sengaja ada sebuah foto yang terjatuh dari dalam sebuah buku yang Luna pegang.
Luna melihat dengan seksama foto yang ada di tangannya. Terlihat foto itu sudah lama tersimpan di sana. Foto yang menampilkan Loni dan Brian sedang berpelukan mesra, di sana Luna dapat melihat sang kakak masih berumur belasan tahun,
"Apa yang kamu pegang yang??" Brian mulai penasaran dengan benda yang sedang Luna pegang, karena benda itu telah membuat wajah sang istri terlihat gusar.
"Ini mas" Luna langsung memperlihatkan sebuah foto yang ia temukan,
"Owh.. bakar aja yang, aku gak berniat untuk menyimpannya"
"Mas..bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu sayang..tapi aku harap kamu tidak cemburu dengan foto itu"
"Tidak mas, Luna tidak perduli dengan foto ini, Luna percaya mas kok!!"
"Makasih yang, memang kamu mau tanya apa??"
"Mas dulu gimana awal ketemu sama kak Loni??"
Mendengar pertanyaan Luna seketika Brian menghentikan aktifitas nya membaca berita,
"Hmmm"
"Ceritakan mas, Luna janji gak akan cemburu, Luna hanya penasaran..gimana dan di mana awal kalian berjumpa??"
*Apakah Brian mau menceritakan masa lalunya bersama Loni?? dan apakah ia akan bercerita bagaimana awal dia berjumpa dengan sang kakak ipar, yang juga mantan istrinya itu??? 🤔🤔
__ADS_1
Bersambung...😜😜*