Anakku Anak Suami Kakak Ku

Anakku Anak Suami Kakak Ku
Part 82


__ADS_3

Setelah mendengar tentang penyakit sang kakak seketika Luna langsung hilang kesadaran, dan nyonya Brata yang berada di samping Luna dengan sigap langsung memeluk tubuh sang menantu, dan di bantu dengan Sandra, mereka membaringkan tubuh Luna di sebuah sofa yang tersedia di ruangan itu.


Dengan penuh perhatian nyonya Brata mulai mengambil minyak angin yang tersimpan di dalam tas nya, ia pun mulai meletakan minyak angin itu si depan hidung Luna.


Dan beberapa saat setelah mencium minyak angin yang di berikan sang mertua, akhirnya Luna pun mulai sadar, dengan perlahan ia mencoba membuka kedua matanya,


"Luna..akhirnya kau sadar juga.."


"mami....kak Loni mibhiks..hiks.." Luna langsung berhambur memeluk tubuh sang mertua,


"Sabar nak...Loni pasti bisa melewati ujian ini..mami yakin dia akan sembuh seperti sediakala."


"Luna takut mi...Luna gak mau kak Loni meninggalkan Luna seperti bunda...."


"Luna..kau jangan berkata seperti itu...istighfar... jangan pernah berfikir yang buruk dulu Luna.."


mendengar ucapan sang mertua, Luna langsung tersadar akan pikiran buruknya..


"Terimakasih mi ...karena sudah ngingatin Luna.. kak Loni pasti sembuh ya mi.."


"iya nak...kamu harus sabar Luna.."


"Kak San..apakah dokter ada mengatakan sesuatu tentang keadaan kak Loni?


"Ada Na..tadi pagi saat dokter memeriksa Loni..ia mengatakan bahwa penyakit Loni sudah berada di stadium akhir..dan kemungkinan ia untuk pulih hanya 35%, di tambah keinginan sembuh dari dalam diri Loni sudah tidak ada...sehingga hal ini memperburuk pengobatan Loni..Na..."


"Hiks..hiks...semua ini salah Luna kak...ini salah aku...hiks...hiks.."


Luna merasa bersalah atas kejadian yang menimpa sang kakak.


"Andai Luna tidak merebut kak Brian dari kak Loni pasti kak Loni tidak seperti ini..."


"Luna jangan berkata seperti itu ....semua sudah takdir dari yang maha kuasa nak ... ini semua diluar kemampuan kita nak. Lebih baik sekarang kita berdoa untuk kesembuhan kakakmu"


setelah mendengar perkataan sang mertua, seketika Luna teringat bahwa ia belum menjalankan sholat isya nya.


Dengan segera Luna pergi ke dalam toilet untuk mengambil wudhu, dan setelahnya Luna mulai mengambil mukenah di dalam baginya, dan dengan segara ia langsung melaksanakan sholatnya, sembari melafazkan doa untuk kesembuhan sang kakak.


Namun saat sedang khusyuk berdoa, tiba-tiba hp nya berdering. Luna pun menyelesaikan doanya dan langsung mengambil hp yang tersimpan di dalam tasnya.


Papa Azka calling..


"Siapa yang menelpon mu nak??"


"Mas Bri mi..boleh kah aku mengangkatnya sebentar??"


"Pergi lah nak..suami mu pasti sudah sangat mengkhawatirkan mu.."


Tanpa menunggu waktu yang lama Luna langsung keluar dari ruang inap sang kakak.


"Halo..mas"


"Sayang...apa kau baik-baik saja?"


"Iya mas..Luna dan mami baik mas"


"Syukurlah..mas senang mendengarnya.."


"Ehem.. mas sudah makan??"


"Iya mas sudah makan tadi...di temani Azka..gimana dengan kamu yang..apa sudah makan ??"


"Hmmm.....sebentar lagi mas ..."

__ADS_1


"Di sana sudah jam berapa yang kenapa kau belum makan??"


"Aku belum lapar mas..sebentar lagi aku pasti makan"


"jangan telat makan sayang..nanti kau bisa sakit.."


"Iya mas"


"Apa yang terjadi sayang..aku dengar suaramu seperti tidak bersemangat gitu .."


"Hiks..hikss...mas.."


Brian langsung merasa khawatir mendengar sang istri yang tiba-tiba terisak.


"Sayang....kenapa??"


"Mas kak Loni..mas..dia sakit parah mas..."


"Sayang.. yakin lah Loni akan segera sembuh.."


"Tapi dia tidak ingin sembuh mas..hiks..hikss.."


"Sayang..kamu sabar ya yang..mas akan membantu membiayai pengobatan Loni, agar dia mendapatkan pengobatan yang terbaik.. mas gak mau kau sedih sayang.."


"Tapi mas..ini semua salah Luna mas..kak Loni tidak ingin sembuh karena dia sudah kehilangan Mas Bri.."


"Tidak sayang...."


Tut


Tut


Tut


"Halo..halo..Luna sayang..." beberapa kali Brian Kembali mencoba menghubungi hp Luna namun tak tersambung, dan ia juga menghubungi no sang mami namun juga tidak di angkat.


"****..sayang..kenapa hp nya putus yang.."


seketika perasaan khawatir menyelimuti pikiran Brian.


***


Luna memutuskan untuk menginap di kamar rawat inap Loni, sedangkan nyonya Brata kembali menginap di hotel terdekat dengan letak RS Loni di rawat.


"Kak Sandra, terimakasih untuk selalu berada di samping kak Loni selama ini"


"Iya Na..Loni satu-satu nya sahabat yang aku punya. Dia sudah seperti keluarga buat aku Na."


Luna langsung memeluk sahabat kakaknya itu, dia merasa bersyukur karena Loni memiliki sahabat yang sangat menyayangi nya seperti Sandra.


"Ak-u ..aku minta maaf juga kepada mu ya Na!! Karena aku telah menjerumuskan mu.."


"Aku sudah maafin kakak..itu semua takdir yang sudah di atur sama yang di atas kak..sedangkan kita hanya melakoni saja"


mereka kembali berpelukan sambil menangis haru.


dirt


dirt..


stelah melepas rasa yang mengganjal di hati mereka, tiba-tiba dering hp Luna membuyarkan kehangatan antara Luna dan Sandra.


"Sebaiknya angkat dulu hp nya Na.."

__ADS_1


"Ehem kak" Luna berbalik dan mengambil hp dari atas nakas,


iya melihat panggilan dari sang mami di layar hp nya.


"Halo mi..."


"Halo Nak, apa kau masih di kamar Loni?"


"Iya mi..kenapa mi..?"


"Luna..sepertinya mami tidak bisa untuk ke sana pagi ini karena mami merasa sedikit tidak enak badan nak ."


"Apa mami sakit? Luna ke sana sekarang mi.."


"Tidak..tidak usah nak...kau tetap lah berada di samping Loni. Mami akan baik-baik saja setelah beristirahat."


"Baik lah mi..kalau ada apa-apa segera hubungi Luna mi.."


"Baik nak..kalau begitu mami istirahat dulu nak.."


Dan sambungan hp itu akhirnya terputus. Luna yang merasa khawatir dengan keadaan sang mertua langsung mencoba untuk menghubungi bodyguard yang sedang berada di dekat ruangan rawat inap Loni.


Luna meminta para body guard untuk senantiasa menjaga sang mami di hotel, karena dia akan seharian berada di ruangan sang kakak, jadi dia tidak perlu terus di lindungi.


Dengan berat hati para bodyguard yang di utus untuk melindungi Luna sudah menolak keinginan istri majikannya itu, namun Luna terus memaksakan keinginan nya, Karena rasa khawatirnya yang besar terhadap sang mami. Luna berfikir 2 orang body guard yang berada di dekat sang mami tidak akan cukup untuk menjaga sang mertua yang sedang sakit.


Akhirnya keputusan akhir Luna di jaga oleh salah seorang bodyguard yang paling handal sedangkan 3 orang lainnya, menyusul sang mami yang sedang sakit di hotel.


Tidak terasa hari sudah hampir berganti senja. Dan Luna masih senantiasa berada di samping sang kakak yang masih betah dengan tidur panjangnya.


"Kak San..aku sedikit khawatir dengan keadaan mami sekarang..bisa kah aku pergi menitip kak Loni sebentar..aku ingin melihat keadaan mami sebentar."


"Boleh Na..pergi lah...aku akan selalu di sini menjaga Loni.."


"Terima kasih kak"


"Hati -hati Na"


Luna mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Loni, di temani dengan seorang bodyguard yang bernama Toni Luna mulai melangkahkan kakinya.


"Toni apa kah kau tahu alamat hotel mami?"


"Tidak nyonya..tapi kita bisa menggunakan map menuju ke sana."


"Baiklah..Luna mulai melangkahkan kakinya keluar gedung RS, mereka berencana untuk menaiki MRT agar cepat sampai, karena mobil yang biasa mereka naiki sedang berada di hotel tempat nyonya Brata berada.


Satu jam kemudian MRT yang mereka gunakan Samapi di stasiun kota. Luna dan Toni pun mulai untuk berjalan kaki. Senja sudah semakin redup berganti malam, Luna yang belum menunaikan sholat Maghrib nya mencoba untuk mencari tempat ibadah terdekat yang ada di sana.


Namun saat kakinya melangkah lebih jauh dari keramaian, tiba-tiba dia di hadang oleh beberapa orang perpakaian preman.


"Waaaw...a beautiful girl..hy come on join with us sweety...we can play together..!!"


beberapa orang mulai menyentuh Luna, dengan sigap Toni yang sedang berada di sana langsung melawan semua orang yang telah bertindak kurang ajar terhadap sang nona.


"No..no please let me go...Help..help..me"


Luna yang merasa ketakutan mulai berteriak meminta tolong, beberapa kali ia mencoba untuk melawan pegangan laki-laki berbadan besar itu.


Sesaat Luna merasa tak akan tertolong saat melihat Toni mulai terjatuh ke tanah saat sebilah pisau menancap di perutnya.


"Ya Allah...aku berserah diri kepadamu.. lindungilah selalu orang-orang tersayang ku di manapun mereka berada.."


Bersambung...😱😱😰

__ADS_1


__ADS_2