
Saat ini Luna telah di pindahkan ke ruang inap, dan Brian menempatkan Luna di sebuah ruangan VVIP yang lengkap dengan ranjang single untuk tempat tidur yang menjaga.
Dan saat ini Reno baru selesai memeriksa keadaan Luna saat ini.
"Lo harus tahan bro emosi loe.. walau gimanapun Loni lagi hamil, dia sampai hampir mati karena perbuatan Lo.. telat aja Lo sedikit lagi, gue rasa dia tinggal nama".
" Hmmm... gue kebawa emosi dan.."
"*****??.."
"Bre....k lo"
" Lo boleh niduri dia tapi ada jeda buat ibu hamil bro, dan pastinya dia juga harus cukup makan karena dia juga harus kasih makan bayi Lo, dan dengan pukulan fisik yang Lo lakuin itu bisa buat dia tambah lemah,
dan luka dalam, dehidrasi parah, shock, dan asam lambung karena telat makan itu bisa ngerenggut nyawa 2 orang sekali gua bro".
" Gue gak yakin itu anak gue, dan gue kecewa dengan perselingkuhan yang dia lakuin ".
" Gimana kalau itu anak Lo??? menurut gue, mending Lo cerai in Loni Bri".
Seketika Brian memikirkan kemungkinan yang Reno bilang namun karena kekecewaanya yang besar membuat ia yakin bahwa itu bukan anaknya.
"Itu bakal gue lakuin tapi gak sekarang karena gue masih sakit hati ren".
" OK itu urusan Lo bro, tapi gue harap jangan menggunakan fisik Bri gue takut nanti Lo malah nyesal".
__ADS_1
"Hehehe..gue gak jamin .."
"Dasar loe..".
***
Keesokan harinya Brian telah kembali bekerja seperti biasanya, dia meninggalkan Luna di RS dengan di jaga oleh 2 orang body guard kepercayaan nya.
Saat jam menunjukan pukul 10 pagi Luna mulai membuka kedua matanya, Luna merasakan pusing dan sakit pada perutnya, ia mulai melihat sekelilingnya ternyata dia sedang berada di sebuah RS dan di tangannya telah terpasang sebuah selang infus.
"Aku harus pergi dari tempat ini, aku gak mau mas Brian menyakiti anak ku lagi".
Luna melepaskan selang infus dengan paksa, sehingga mengakibatkan tangannya mengeluarkan darah, ia berjalan mengendap endap, sampai di depan pintu kamar ia melihat ke kiri dan ke kanan, beruntung saat itu sang body guard hanya sendiri dan berdiri lumayan berjarak dari depan pintu, sehingga membuat Luna bisa keluar tanpa di ketahui.
***
Saat Luna terbangun dari pingsannya, dan melihat sekitarnya ternyata Luna telah kembali berada di penjara kembali.
"Huft.. aku gagal lolos.. Tuhan tolong aku dan selamatkan lah bayi ku.." lirih Luna sendu.
"kruk..kruk"
Sekarang kembali perutnya terasa lapar, karena sudah menunjukan jam makan malam.
" Nyonya ini saya membawa makanan untuk nyonya".
__ADS_1
Pak Yan datang dengan membawa nampan yang berisi beberapa makanan enak.
" Pak yan?? terimaksih pak Yan".
Luna tersenyum kepada pak Yan yang lumayan ia rindukan.
" Sama-sama nyonya, saya permisi nyonya".
" Pak Yan, tunggu mau kah bapak sedikit menolong ku??".
"Hmm..hmmm .... memang nyonya butuh bantuan apa dari saya kalau saya bisa bantu saya akan membantu nyonya".
Sambil berfikir dan perasaan yang bimbang pak yan mau membantu Luna karena merasa kasihan kepada istri tuannya yang dianggap sudah banyak berubah lebih baik di banding dulu awal pak yan kenal.
"Terimaksih sebelumnya pak Yan, bisa kah bapak meminjamkan saya mukenah salah satu ART di sini untuk saya sholat??".
"Owh tentu saja nyonya, sebentar lagi saya akan mengantarkan nya ke sini".
" Sekali lagi terimaksih pak Yan, ".
15 menit kemudian pak Yan datang dengan membawa sebuah mukenah yang di berikan nya kepada Luna, dan pak yan pun memberi tahukan Luna letak kamar mandi untuk Luna bebersih dan berwudhu.
Luna pun telah selesai melaksanakan ibadah sholatnya, namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan cengkraman yang kuat di kepalanya yang masih menggunakan mukenah dan ternyata itu...
"Loni sayang...."
__ADS_1