
Sepanjang perjalanan menuju RS, tak hentinya calon papa beranak 2 itu menyentuh perut sang istri yang masih rata, sesekali dia juga menciumi perut sang istri.
Sang sopir yang sedari tadi melihat tingkah sang majikan hanya tersenyum, ia merasa ikut bahagia melihat interaksi kedua pasangan bos nya itu yang terlihat saling mencintai.
"Sayang...nanti kalau udah sampai RS aku cuma ngantar kamu sampai depan ruangan aja ya, terus aku lanjut ke kantor."
"Kenapa mas?? kamu gak ikut masuk ??"
Brian langsung menyandarkan pundaknya di kursi mobil, sembari menarik nafas panjang dan meniupnya kembali.
"Gak papa mas kalau kamu belum siap untuk ketemu kak Loni, aku bisa mengerti mas"
Brian yang mendengar perkataan sang istri langsung tersenyum, ia sangat bersyukur karena sang istri dapat memahaminya, sehingga ia tidak perlu menjawab pertanyaan Luna.
Karena jika ia harus menjawab pertanyaan itu pasti perkataan yang akan ia ucapakan nantinya sedikit banyak pasti akan menyakiti hati sang istri, dan ia tidak mau membuat istrinya yang sedang mengandung itu dilema dengan jawaban yang akan ia berikan.
Tak berapa lama mobil mereka telah sampai di parkiran RS, Brian yang turun duluan dari dalam mobil langsung membantu sang istri yang baru keluar dari mobil.
Dengan hati-hati Brian berjalan sambil menggenggam tangan sang istri dengan lembut.
Setelah menaiki sebuah lift, akhirnya Luna dan Brian telah sampai keruangan yang mereka tuju, sesaat Brian menghentikan langkahnya, dan mengelus lembut beberapa wajah sang istri.
"Yang aku antar sampai sini aja ya, kamu gak boleh kecapekan,"
__ADS_1
"Iya mas, kamu hati-hati ya"
"Ingat jangan capek, jangan lupa makan, nanti sore aku jemput kamu di sini, "
"Iya mas, aku pasti ingat semua yang kamu katakan, "
Brian langsung sedikit membungkukkan kepalanya ke perut Luna, ia lalu meninggalkan sebuah kecupan untuk sang calon buah hati.
"Aku pergi dulu ya yang" Brian langsung mengecup singkat dahi Luna dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari depan kamar Loni. Setelahnya Luna pun mulai mengetuk pintu dan langsung masuk kedalam ruang rawat itu.
Sesaat sampai di dalam Loni sang kakak yang sedang duduk membelakangi Luna langsung terkejut mendengar suara adik kembarnya itu,
"Kakak..Alhamdulillah akhirnya kamu sadar kak," Luna langsung berjalan mendekat di mana Loni berada, tanpa ada kata, Luna langsung berhambur memeluk tubuh sang kakak yang terasa sangat kurus.
Sedangkan Loni yang tak tahu harus berkata apa-apa hanya bisa diam, dan tak melakukan apa-apa.
Luna yang sangat merindukan kakaknya itu, tak hentinya menitikan air mata, sambil mendekap erat tubuh kurus sang kakak.
Loni yang mendengar perkataan sang adik sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun, ia langsung melepaskan dekapan sang adik dan kembali membaringkan tubuhnya sambil memalingkan mukanya.
Pak Bram yang melihat respon Loni terhadap Luna, langsung memeluk tubuh putri bungsunya itu.
"Jangan sedih nak, kakak mi mungkin masih belum siap untuk banyak berbicara. Apakah kamu mau menemani ayah ke kantin? Ayah sedikit merasa lapar"
__ADS_1
Luna mengganggukkan kepalanya, ia mulai menghapus sisa air mata yang ada di wajahnya, dan mulai jalan mengikuti langkah sang ayah.
Tinggallah Loni di dalam ruang inap itu bersama suster yang senantiasa menjaganya hingga ia sadar dari komanya.
Luna dan sang ayah yang telah sampai di kantin RS langsung duduk di sebuah kursi dan langsung memesan beberapa makanan dan minuman, yang tersedia.
"Nak..ayah harap kamu tidak lagi menyalahkan diri kamu atas kejadian yang menimpa kakak mu. Karena itu semua bukan salah kamu nak, dan kamu harus lebih sabar untuk menunggu sampai Loni siap menerima kamu dan Brian, "
"Tapi yah, Luna sedih lihat kak Loni seperti itu, dia sampai mau berhenti berobat karena ...."
"Nak itu bukan karena kamu, itu semua adalah takdir, penyakit yang di derita Loni saat ini adalah penebus dosa atas kesalahannya kepada kamu selama ini. Kamu putri ayah yang baik nak, jadi jangan pernah katakan semua salah kamu!!"
"Tapi yah..."
"Stssss...sebaiknya kita jangan bahas ini lagi nak, ayah cuma mau kamu sabar dalam menghadapi sikap Loni, ayah yakin suatu saat dia akan menerima takdir yang sudah di gariskan untuk dirinya"
Luna menganggukan kepalanya, ia langsung berdiri dari kursinya dan menghambur memeluk sang ayah.
Dari kejauhan Brian, yang masih berada di RS dengan jelas melihat interaksi ayah dan anak itu. Seketika terukir sebuah senyum di bibir nya, ia sangat senang perlakuan sang mertua yang bisa menenangkan istri kecilnya itu.
"Aku baru tenang untuk meninggalkan mu sayang..setidaknya ayah mu akan membela mu jika ular siluman itu mencoba menyakitimu lagi"
Setelah merasa tenang untuk meninggalkan sang istri, Brian pun kembali melangkahkan kakinya menuju perusahaanya.
__ADS_1
Bersambung......😥😥😢
Segini dulu up nya yak.....karena othor abz vaksin jadi badan masih kurang stabil..🙏🙏