
Setelah mengetahui akan kehamilan sang istri, Brian yang memang sejak awal menginginkan memiliki banyak anak selalu mengukirkan senyum di bibirnya, sembari mengendarai kuda besinya.
Sedangkan Luna yang masih merasakan sedikit kebimbangan hanya termenung melihat keluar jendela mobil.
Hingga tak terasa mobil mewah itu mulai memasuki pelataran mansion mereka.
Brian yang sudah di tunggu oleh asisten rumah tangga kepercayaannya pak Yan, langsung memberikan tas kerjanya kepada pak Yan, dan dengan cepat dia langsung menggendong sang istri yang baru saja turun dari mobilnya.
"Selamat malam tuan"
"Malam Pak Yan, tolong bawakan paper bag yang ada di kursi belakang ya pak Yan"
"Baik tuan"
Dan beberapa saat kemudian Brian langsung berjalan ke arah sang istri yang baru saja turun dari mobilnya.
"Mas?? kamu apa-apaan mas??"
Luna langsung terkejut melihat perlakuan tiba-tiba dari suaminya itu,
"Kamu tenang aja yang, mas tahu kamu pasti udah lelah banget seharian ini, jadi mas akan memberikan triatment terbaik untuk ratu mas"
"Tapi Luna malu mas, "
"Kamu istri aku yang, jadi gak ada yang salah kalau aku gendong istri aku sendiri."
Akhirnya Luna pasrah dengan perlakuan Brian terhadapnya, ia sempat terkesima melihat wajah sumringah dari wajah tampan Brian.
__ADS_1
"Kau terlihat begitu senang dengan kehamilan ini mas" Luna bermonolog di dalam hati, sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Brian.
Saat sampai di dalam kamar Luna langsung turun dari gendongan Brian dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Brian langsung menuju ruang bacanya, setelah mendapatkan pesan dari Vino.
Seusai mandi, Luna langsung memakai baju daster selutut dengan bermotif bunga, ia pun mulai keluar kamar dan pergi menuju kamar sang anak yang terletak di sebelah kamar mereka.
"Ceklek"
Luna mulai membuka pintu kamar Azka,
dan melihat sang putra yang sudah terlelap, di atas kasurnya, Luna langsung mendekat ke arah kasur dan membuka pagar pelindung kasur Azka, ia pun membaringkan tubuhnya di samping sang putra.
"Anak mama, kamu sudah tumbuh semakin besar.. sebentar lagi Azka akan di panggil Abang, karena ada adek Azka di perut mama. Mama harap Azka nanti sayang ya sama adek..jangan nakal ya nak!! mama akan terus menyayangi Azka sayang,"
Luna memeluk pelan tubuh Azka, agar tidak terbangun, ia pun menciumi pipi chubi putra semata wayang nya itu, hingga ia mulai tertidur di samping sang putra.
Sambil tersenyum Brian kembali meninggalkan Luna dan Azka, ia pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan dirinya lalu menyusul Luna dan Azka masuk ke dalam mimpi yang indah.
Keesokan paginya, setelah memandikan dan menyuapkan Azka, Luna telah bersiap-siap untuk berangkat ke kampusnya, dengan memakai sebuah dress yang di padu dengan sebuah kardigan rajut selutut.
"Sayang kau mau kemana?? kok sudah cantik begini??" Dengan jubah mandi yang masih melekat di tubuhnya Brian langsung memeluk tubuh sang istri dari belakang, sambil menghirup aroma shampo yang masih melekat di rambut panjang Luna.
"Mau kuliah mas?? memang Luna mau kemana lagi??"
"Kuliah ?? gak perlu repot-repot yang, karena hari ini dan sampai kamu lahiran mas udah urus untuk kamu cuti dulu!!"
"Maksud mas apa??" Luna yang mulai tersulut emosi mulai bertegak pinggang di hadapan sang suami, yang sudah siap dengan setelan jas.
__ADS_1
Brian yang melihat perubahan emosi sang istri langsung mendekat dan memegang kedua pipi sang istri dengan lembut.
"Sayang, mas hanya ingin terus melindungi kamu dan anak kita, dan mas merasa aman kalau kamu hanya berada di rumah sayang, tapi kalau kamu di kampus mas gak bisa melindungi kamu, mas sangat khawatir dengan kamu dan calon anak kita sayang"
"Luna tahu, ini semua pasti masih ada kaitannya dengan kejadian kemarin kan mas?? mas pasti gak percaya sama Luna kan mas??, sehingga mas menjadikan kehamilan Luna sebagai alasan mas untuk menyetop kuliah Luna kan?"
"Sabar Brian..sabar jangan terpancing emosi..ingat saat ini Luna sedang mengandung" sambil menarik nafas panjang Brian kembali memeluk tubuh sang istri dan mengelus punggung nya pelan.
"Sayang, jujur mas masih terpikir atas kejadian kemarin, tapi mas melakukan ini semua bukan karena hal itu. Tapi ini murni karena kekhawatiran mas sebagai suami dan ayah."
" Mas tidak mau kejadian siang kemarin terjadi lagi, gimana kalau kamu pingsan lagi di kampus yang dan mas tidak ingin kejadian waktu kamu mengandung Azka dulu terulang lagi, mas tidak mau menjadi suami yang bodoh karena menyia-nyiakan kamu dan calon bayi kita."
"Mas, Luna janji Luna tidak akan terlalu kecapekan, sehabis kuliah Luna akan langsung pulang ke rumah. Luna akan makan siang tepat waktu. Dan peraturan apapun yang mas buat untuk Luna, akan Luna dengar dan lakukan"
"Tapi Luna mohon sama mas, biarkan Luna tetap kuliah mas, paling tidak sampai nanti Luna lahiran, baru Luna akan mengambil cuti kuliah. Dan mas gak perlu khawatir lagi dengan laki-laki di kampus yang bakal dekati Luna, karena mana ada cowok naksir sama ibu-ibu hamil mas!!"
Brian hanya diam sembari mendengarkan semua ucapan istrinya yang keras kepala itu.
"Sayang, maafkan mas, tapi keputusan mas sudah bulat. Mas harap kamu mau menjadi istri patuh sayang!!"
Setelah mengucapakan keputusannya, Brian langsung keluar untuk berangkat kerja meninggalkan Luna seorang diri.
"Kamu egois mas, kenapa kamu gak memikirkan perasaan aku. Seharusnya kamu bisa bilang dulu sama aku, bukan membuat keputusan sepihak. Padahal kamu tahu kalau aku dari dulu pingin belajar disain"
Luna mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepala nya sembari menangis.
"Bersambung....😁😁
__ADS_1