
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di salah satu Rumah Sakit terbesar di kota itu.
"Dirt..dirt".. beberapa kali hape Brian berdering , sampainya di lobi rumah sakit Brian meminta izin kepada Luna untuk mengangkat telponnya, Luna akhirnya memutuskan untuk membesuk sang ayah bersama Azka.
Lift yang Luna naiki berhenti di lantai 5 ruang President suite, Luna melangkah kan kakinya menuju kamar di mana ayahnya berada.
"Tok..tok"
"Ceklek" pintu itu terbuka seketika tampak Gilang berdiri di balik pintu itu
"Na!! tanpa ba-bi-bu Gilang langsung mendekat ke arah ibu dan anak itu, dan mendekap mereka erat,
"Aku merindukan kalian!!" lirih Gilang dalam hati sembari menghirup aroma tubuh Luna dalam, aroma yang sudah lama ia rindukan, "Ku mohon jangan pergi lagi Na..kembali lah.."
Luna yang awalnya sama sekali tidak pernah menduga akan bertemu Gilang, cukup kaget akan keberadaan Gilang di dalam kamar inap ayahnya,
"Gilang!!!" Luna yang tak mempunyai jawaban hanya diam membisu, sembari menatap wajah pria tampan itu, yang selama ini ia anggap sebagai sahabat terbaiknya.
"Lang!! makasih untuk menjaga ayahku" Luna mulai melerai pelukan itu, dan meninggalkan Gilang di sana." maafkan aku Lang, aku bukan wanita yang baik untukmu" Luna berucap di dalam hati, dan sekita pandangannya bralih kepada sosok sang ayah.
__ADS_1
"Ayah" luruh sudah air mata Luna membasahi pipi tirusnya, Luna yang di selimuti kerinduan luar biasa langsung berlari menuju di mana sang ayah berada, pelukan hangat yang Luna dapatkan mampu meredam rasa takut yang selama ini tanpa sengaja sering Luna rasakan.
Azka yang berada di pelukan Luna pun sudah berpindah ke dalam pelukan sang opa,
"Luna sayang akhirnya ayah bisa melihat mu lagi nak" terbit secercah senyuman dari bibir sang ayah. Wajah tua nya memperlihat beberapa kerutan yang semakin jelas.
Seperkian detik Luna terbayang kembali akan masa kecilnya bersama sang ayah, tubuh yang dulu tegap bisa menggendong Luna dan juga Loni berjalan-jalan di taman ria, mengajarkan mereka pertama kali untuk mengayuh sepeda roda dua tanpa ada kata lelah.
Tak bisa Luna bayangkan kini ia harus melihat ayah yang ia sayangi terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
"Ayahh... Luna rindu ayah" air mata itu kembali mengalir deras, "Hiks..hikss"
"Paaaaaaaaa" Azka yang sedari tadi melihat percakapan antara opa dan mamanya langsung berteriak histeris ketika pintu rawat inap VVIP itu kembali terbuka. Tampak lah sosok Brian berjalan dengan gaya arogan nya.
"EHEM.."pandangan Brian langsung menangkap keberadaan Gilang di dalam sana. Dengan tatapan yang tajam Brian memberikan sinyal ketidak sukaannya terhadap Gilang.
"Mas..." Luna yang mulai merasa hawa permusuhan dikamar itu langsung mencoba menetralisir keadaan. "Sudah selesai urusannya??". Brian mulai berjalan mendekat menuju Luna dan pak Bram berada, "Yupz.. sayang.. tadi Vino yang telp, bahas beberapa pekerjaan di kantor!!" Brian mulai melingkarkan tangannya di pinggang sang calon istri, seakan ia ingin menunjukan kepada sang rival bahwa ialah pemenangnya.
"Yah.." Brian langsung mencium tangan mertuanya itu dengan santun, dan mulai mengambil Azka dari pelukan sang opa setelahnya, karena ia mulai melihat gelagat usil sang bayi gembul yang berusaha menarik selang infus milik sang opa. "Ehem.. apa kabar nak Brian??" tanya sang ayah basa-basi
__ADS_1
"Baik yah!! apa lagi ada LUNA dan AZKA di sisiku aku jadi lebih baik" Brian memberi penegasan dari setiap perkataannya.
Sedangkan Gilang yang merasa kecewa dengan apa yang ia lihat di depannya, memilih untuk undur diri dari kamar itu.
Tinggallah mereka bertiga plus bayi kecil di kamar rawat inap itu.
Brian yang sedari awal berniat untuk menikahi Luna langsung memberitahukan keinginannya itu ke pada pak Bram.
"Yah, mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi saya mau minta maaf sebelumnya.. karena saya harus menceraikan Loni!! dalam hal ini mungkin ayah sudah tahu apa yang telah Loni perbuat dalam pernikahan kami. dan atas kesalahan Loni pula saya jadi mengenal Luna dan jatuh cinta kepadanya.
Dan karena perbuatan Loni juga sekarang kami memiliki Azka. maka saya berniat ingin menikahinya, dan bertanggung jawab atas Azka, bisa kah ayah memberi kesempatan itu??
Pak Bram lumayan shok dengan keterbukaan brian. dan permasalahan ini begitu mendadak menurutnya. Sebelum itu Loni telah datang kepadanya, dengan berderai air mata Loni meminta pak Bram untuk memperbaiki pernikahannya dengan Brian.
Di satu pihak pak Bram tak ingin menyakiti hati putri pertamanya, dan di sisi lain ia juga tidak ingin mengulang kembali kesalahan dengan tidak adil terhadap putri bungsunya.
Permasalah yang cukup komplit ini membuat pak Bram harus menelan ludah beberapa kali, sembari berpikir keras.
Bersambung💦💦
__ADS_1