
Setelah kurang lebih 2 jam nya lamanya, akhirnya cairan infus yang terpasang di tangan Luna pun habis. Dengan hati-hati Reno mulai membuka jarum infus yang terpasang di lengan tangan kanan Luna,
Ia pun menuliskan beberapa resep vitamin untuk memulihkan stamina Luna seperti sediakala, "Ini Bri, beberapa vitamin yang bisa Lo beli di apotik, karena gue sama sekali gak ada bawa stok vitamin saat ini"
Brian mengambil secarik kertas yang Reno berikan kepadanya, ia mulai membaca satu persatu vitamin yang harus dia beli di apotik,
"Oke bro, gue bakal beli semua obat-obat ini, dan thanks bro untuk bantuannya,"
"Siap bos, apa yang gak buat Lo!!"
"Bisa aja Lo!!"
"Ya udah karena urusan gue udah siap, gue balik dulu bro..pokoknya kalau ada apa-apa sama istri lo, kontak gue langsung..tapi mudah-mudahan setelah ini udah mulai membaik sih..."
"Siiiippp" Brian pun mengantarkan sahabatnya itu sampai pintu di lantai satu mansion mereka, dan ia pun langsung meminta pak Yan untuk menebus resep vitamin untuk Luna, setelah itu ia pun kembali masuk kedalam kamar untuk menemani istrinya yang masih terbaring lemah,
"Sayang, kamu tiduran aja ya, kalau mau apa-apa kamu bisa bilang sama aku yang"
"Makasih ya mas, untuk semuanya, Luna gak tahu kalau gak ada mas di samping Luna"
"Gak perlu bilang makasih sayang, karena mas lakukan semua nya karena mas cinta sama kamu, mas yang gak bisa kalau gak ada kamu yang..."
Sebuah senyuman langsung tercetak jelas di bibir Luna sesaat setelah Brian mengatakan isi hatinya.
" Aku tresno Karo Kowe mas..."
"Apa yang??? kamu tadi bilang apa mas gak dengar yang??"
"Aku tresno Karo Kowe mas..."
"Tresno..?????" Brian yang merasa tidak mengerti dengan perkataan Luna langsung mengerutkan keningnya sambil memasang wajah penuh tanda tanya??"
__ADS_1
"Itu apa artinya yang???"
"Hahahahahh..... Kamu benaran gak tahu artinya mas??"Seketika Brian menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tak mengerti,
"Cari di kamus ya mas.."
"Aduh sayang... kasih tahu aja Napa yang?? masa pakai pr segala ..."
Luna yang mendengar jawaban Brian hanya melengos dan memalingkan wajah nya dari Brian, tak berapa lama ia pun kembali tertidur karena pengaruh obat yang di berikan oleh Reno kepadanya.
"Hmmm... selamat istirahat sayang.. cepat sembuh ya yang, " Brian pun langsung mengecup kening Luna cukup lama, lalu ia pun keluar meninggalkan Luna di kamar untuk berisitirahat.
***
Hari demi hari pun silih berganti, tak terasa 3 Minggu pun telah berlalu, saat ini Luna telah pulih seperti sediakala.
Hari ini awal ia kembali kepada aktifitasnya sebagai seorang mahasiswi, seorang ibu, dan juga seorang istri. Sambil duduk di depan komputer kesayangannya, Luna mulai menyelesaikan satu persatu tugas kampus yang telah cukup lama ia tinggalkan, beberapa kali ia berkirim email kepada Rency sang sahabat untuk saling sharing dan bertukar pikiran tentang desain rancangan yang mereka buat masing-masing.
"Sayang mama, mau susu ya?? bibi nun mana nak??"
Tampak dari jauh bi Marni dengan tergopoh-gopoh dari dapur membawa sebotol susu untuk Azka,
"Azka sayang jangan ganggu mama dulu ya nak...ini susunya udah eyang bikin untuk Azka.." Azka pun langsung mendekati sang eyang yang sudah tampak sangat tua dan lemah,
" Bibi?? kenapa bibi yang bikin susu Azka? bi Nun mana bi?" Luna langsung mendekati tubuh tua bi Marni, ia membantu bi Marni untuk duduk di sampingnya.
"Gak papa non, bibi udah lama gak gerak... biar sementara Azka bibi yang jaga, karena bi Nun sedang sakit non, dari tadi malam badannya panas, jadi bibi suruh dia untuk berobat, ... awalnya dia mau izin ke non...tapi tadi malam den Brian pulang cepat, jadi dia segan untuk izin sama non malam-malam. Jadi bibi aja yang sampaikan izinnya.. non gak marah kan?"
"Gak bi...Luna tu percaya sama bibi.. tapi Luna gak mau bibi capek aja.. "Dengan seksama Luna mulai memperhatikan garis-garis kerutan yang telah menghiasi wajah keriput sang ibu angkat, tampak di sana wajah lelah, walau pun Luna tidak pernah membiarkan bi Marni untuk berkerja di mansion mereka, namun terlihat kehampaan di wajah tua bi Marni, dengan terbata Luna pun akhirnya menguatkan hatinya untuk bisa mengeluarkan isi hatinya.
Bi..maafkan Luna yang udah egois selama ini...tapi Luna sadar, kalau sekarang Luna sudah menikah dan Luna harus mandiri....jadi gimana kalau sebaiknya bibi istirahat aja, Luna gak marah kalau bibi mau pulang ke paviliun lagi..Lu-na juga kasi-han sama bibi dan mang dirman harus hidup terpi-sah karena Luna,"
__ADS_1
air mata yang tadi nya tertahan langsung menganak sungai setelah Luna menyampaikan isi hatinya, sejujurnya ia tak sanggup tanpa BI Marni di sisinya, hal itu di karenakan kebersamaan yang selalu Luna rasakan bersama bi Marni selama ini,
"Hiksss"
"Hiksss.."
"Pokoknya Luna pingin..bibi senang di mana pun bibi mau, Luna gak mau ...kalau Luna jadi beban bibi terus, Lu-naa... sa..yang sama bibi..."
Bi Marni langsung memeluk anak asuhnya itu, ia merasa sangat sedih melihat tangisan dari wajah anak asuh kesayangannya itu, sedari kecil ia sudah merawat Luna dengan kasih sayang, hingga saat ini gadis kecil nya dulu sudah tumbuh menjadi seorang istri dan seorang ibu, ia merasa telah usai masanya untuk menjaga putri majikannya itu, ini saat nya ia kembali untuk berkumpul dengan suaminya di masa tua mereka,
"Non, gak pa-pa kalau bi-bi pulang ke rum-ah tuan?? apa non bisa bibi tinggal sendi-rian??"
"Ehemmm..iya Bi...lu-na gak papa kalau bibi pulang ke paviliun..seka-rang .. Luna udah besar..Luna gak lemah kaya dulu lagi.."
"hiks...hiks... Luna kuat bi....."
Bi Marni kembali memeluk tubuh putri angkat kesayangannya, dengan penuh kasih sayang ia mengusap lembut punggung putri angkatnya itu,
"Makasih non...karena udah sayang sama bibi selama ini, bibi juga sangat sayang sama non seperti anak kandung bibi sendiri..... Tapi kalau memang non mengizinkan..bibi memang mau pulang ke rumah tuan non, bibi rasa memang ini sudah saatnya bibi pulang... karena bibi kasihan sama mamang, dia udah mulai sering masuk angin..."
"Non baik-baik aja ya di sini... kalau bibi rindu sama non dan Azka apa boleh bibi main ke sini ???"
"Ehemmm..." Luna langsung mengangguk kan kepalanya "Bahkan bibi bisa nginap sepuasnya disini, atau bibi dan mang dirman tinggal di sini sama-sama??"
"Tidak non, bibi sudah nyaman dengan paviliun yang tuan Brata berikan untuk kami, Bahkan mang Dirman sudah menanam banyak sayuran di sana, bibi sudah tidak sabar untuk panen besar non" sekilas tampak sebuah senyuman di bibir tua bi Marni, dari sana Luna dapat melihat bahwa keputusannya itu baik untuk bi Marni,
"Rasanya aku gak sanggup untuk di tinggal bi Marni, aku gak siap hari-hari tanpa bisa melihat wajah bi Marni....tapi... ini untuk bi Marni...bunda Luna kangen..."
Luna langsung kembali memeluk tubuh tua sang ibu angkat, dia ingin merasakan pelukan ibunya itu sedikit lebih lama.
Bersambung......😥ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1