
Setelah kurang lebih 50 menit berkendara akhirnya Luna telah sampai di sebuah RS, di mana sang kakak sedang di rawat.
Brian yang memiliki banyak meeting yang tertunda sebelumnya memutuskan langsung menuju kantor nya seusai mengantar sang istri sampai pelataran RS.
Sambil membawa beberapa tentengan makanan dan buah-buahan Luna berharap pagi ini akan mendapatkan kabar yang baik tentang kondisi sang kakak.
"Tok"
"Tok"
"ceklek"
Luna melangkah masuk ke dalam ruangan di mana Loni sedang di rawat, di sana ia melihat sang ayah yang sedang duduk sambil membaca sebuah koran di tangannya,
"Luna, kau sudah datang nak??"
Luna mulai mendekat menuju ke tempat ayahnya berada, ia langsung mencium dengan khidmat tangan sang ayah.
"Iya yah, maaf kan Luna terlambat datang yah, karena Luna harus menunggu mas Brian mempersiapkan pekerjaannya dulu"
Owh, ayah mengerti nak, kau tidak perlu meminta maaf Luna, memang sudah seharusnya kamu menyelesaikan semua kebutuhan suami mu dahulu, baru melangkah keluar atas izinnya. Jangan sesekali membantah perkataan suamimu nak"
"Heem..yah, Luna akan mendengarkan semua perkataan ayah"
"Apa ayah sudah sarapan?"
"Ya ayah sudah sarapan tadi, "
"Baiklah, ini yah Luna telah membuat beberapa makanan untuk kita makan siang nanti, dan apa kah sudah ada kemajuan tentang kondisi kak Loni yah?"
Mendengar pertanyaan luna seketika wajah sang ayah berubah sedih, saat memorinya teringat akan perkataan dokter tadi pagi,
"Belum nak, tadi dokter sudah memeriksa keadaan Loni, dan ... kakak mu harus segera melakukan operasi pengangkatan kedua jaringan ovariumnya, dan rahim nya juga harus di lakukan pengangkatan nak, karena jaringan kanker sudah menyerang di beberapa bagian vital Loni."
Seketika Luna shok mendengar semua ucapan sang ayah, tanpa ia sadari air mata mulai menetes deras dari pelupuk matanya,
"Hiks..hiks.." Luna langsung memeluk tubuh sang kakak yang masih tidak memberikan respon sama sekali,
"Kakak harus kuat kak, Luna gak mau kakak pergi ninggalin Luna, kakak harus janji sama Luna untuk bangun ya kak."
"Kap-an operasinya di-lakukan yah..?"
"Secepatnya nak, kalau kondisi Loni sudah mulai stabil, operasi harus segera di lakukan, agar kankernya tidak menyerang organ yang lainnya nak,"
"Hiks..hiks... Luna..ga-k bisa bayangin yah, betapa berat cobaan yang menimpa kak Loni yah"
"Sudah nak, jangan menangis, sebaiknya kita berdoa untuk kesembuhan kakakmu"
Tak berapa lama terdengar seruan adzan dari mesjid yang dekat dengan RS itu, seketika Luna langsung menghentikan tangisannya, dan mulai melangkah kan kakinya menuju mushola yang ada di RS itu, tampak sang ayah bergegas mengikuti langkah sang putri dari belakang.
"Ayah??" Luna tampak ragu melihat ayah nya yang mengikuti langkahnya, karena sudah sekian tahun sejak sang ibunda meninggal sang ayah tidak pernah lagi melaksanakan sholat seperti sebelumnya.
"Ayah ingin sholat nak, sudah adzan bukan?"
__ADS_1
"Heeh yah"Luna kembali meneteskan air matanya, saat mendengar perkataan sang ayah"
Akhir nya kedua ayah dan anak itu mulai melangkah kan kaki mereka menuju mushola yang berada di dalam lingkungan RS.
Dengan khusuk pak Bram berdoa untuk kesembuhan putri sulungnya itu, rasa sakit di tinggalkan seorang istri di masa lalu, membuat ia tidak ingin kembali di tinggal oleh anak sulungnya itu, walau Loni tumbuh menjadi anak yang arogan namun dia selalu care terhadap sang ayah dengan caranya sendiri.
***
Tak terasa sore telah berganti senja, saat ini Brian sudah sampai di parkiran RS tempat Loni di rawat. Sedangkan Luna sudah bersiap-siap untuk segera pulang ke mansion nya.
"Ayah apakah tidak apa-apa jika Luna pulang??"
Luna merasa khawatir dengan kondisi sang kakak, yang tadi sempat drop saat mendapat penambahan dosis injeksi di tubuhnya.
"Jangan khawatir nak, nanti malam Sandra akan datang untuk menjaga kakak mu dan besok siang ayah akan kembali menjaga Loni di sini, setelah menyelesaikan beberapa meeting di kantor. Ayah juga telah menyewa seorang perawat, khusus untuk Loni, nanti malam dia akan mulai berjaga di sini".
"Sebenarnya Luna ingin menginap kak Loni malam ini yah, tapi Luna gak bisa meninggalkan Azka lama-lama,"
"Pulang lah nak, Sandra dan perawat yang ayah sewa akan mengabarkan kepada kita jika terjadi sesuatu terhadap Loni"
Tak berapa lama terdengar suara ketukan dari luar pintu ruang inap Luna, setelah di buka tampak Brian berdiri di luar pintu,
"Apa sudah siap sayang??"
"Iya mas, yah Luna pulang duluan ya"
"Hati-hati nak"
"Iya yah"
"Kak Luna pulang dulu ya, besok Luna datang ke sini lagi, kakak cepat buka matanya..karena Luna sudah sangat merindukan kakak.. "
"Sampai jumpa besok kak"
Setelah meminta izin kepada sang kakak Luna langsung berbalik arah mengikuti langkah Brian untuk pulang kembali ke mansion mereka, ia sudah tidak sabar untuk bertemu sang putra yang sudah setengah hari ia tinggal di mansion.
Hampir 1 jam mobil yang Brian kendarai akhirnya sampai di pelataran mansion, Brian keluar mobil sambil memegang tangan istri tercintanya masuk ke dalam mansion mereka.
"Maa maamamma" Azka yang telah menunggu kedatangan mamanya langsung berjalan tertatih mendekati mamanya.
"Azka udah bisa jalan nak??"
Luna dan Brian merasa bahagia melihat putra mereka telah mampu berjalan di usianya yang masuk 1 tahun dua Minggu lagi, Luna langsung menyambut kedatangan sang anak dan membawanya ke dalam gendongannya.
"Iya mama..papa...Azka
sudah bisa berjalan, Bahakan tidak mau berhenti" Bi Marni menjawab keterkejutan Luna dan Brian.
"Terimakasih Bi, karena udah membantu Luna selama ini, Bahakan kini Azka juga bisa berjalan berkat bantuan bibi."
"Jangan sungkan non, bukan bibi saja yang membantu Azka berjalan, namun nyonya Brata dan baby sitter juga selalu membimbing Azka untuk berjalan"
"Terimakasih mami...dan mbak Nun, terimaksih udah tolong Luna untuk jaga Azka, apa lagi sebentar lagi Luna bakal di sibukkan dengan aktifitas kuliah, pasti Luna akan kembali menyusahkan kalian"
__ADS_1
"Tidak perlu seperti itu Luna, Azka juga cucuku satu-satunya, tentu aku sangat menyayanginya, andai kau bisa memberikan aku banyak cucu, pasti mereka akan ku bawa ke negara J untuk menemani aku dan papi mu di sana, dan aku hanya akan meninggalkan 1 di sini untuk menemani kalian... "
Luna yang mendengar ucapan sang mami, langsung memasang senyum terpaksa nya.
"Satu aja Luna ngos-ngosan ngeluarin nya mi, apa lagi banyak... "
"Mami tenang aja kalau mau banyak cucu!! Karena anak mami ini seorang striker, jadi pasti Brian wujudkan keinginan mami itu, iya kan sayang??"
Luna yang merasa malu dengan jawaban sang suami langsung menyikut lengan suami nya itu lumayan keras.
"Haha"
"Hahaha"
Seketika mereka semua tertawa melihat wajah Luna yang memerah seperti ceri.
Dua jam telah berselang, Luna dan Brian telah menyelesaikan makan malam mereka yang di penuhi senda gurau bersama anggota keluarga yang lain, dan saat ini Brian dan Luna sudah berada di kamar mereka.
Brian yang mengingat akan perjanjian mereka tadi pagi, tanpa segan langsung menagih janji itu dari sang istri, namun Luna masih berpura-pura lupa dengan janji yang Brian maksud langsung pura-pura tidur sambil membelakangi Brian, sehingga membuat Brian langsung melakukan aksinya, yang tak pernah gagal.
Di mulai dari tangan jail yang nya yang sudah mulai berjalan-jalan mendaki gunung kembar, dan tangan sebelah nya sudah grasak grusuk ke area terlarang milik Luna, yang membuat Luna mengeluarkan suara yang sangat Brian sukai. Dan lama kelamaan aksi yang Brian lakukan itu sudah semakin jauh dan mendalam, membuat Luna di mabuk kepayang.
Namun tiba-tiba saat pedang mulai tertancap, terdengar tangisan Azka dari luar pintu, yang membuat Luna kelabakan dan dengan cepat langsung Kembali memakai jubah tidurnya, dan langsung membuka pintu kamarnya,
"Ma..ma..ma..ma hiks..hiks.." terlihat Azka yang sedang menangis di dalam gendongan sang baby sitter.
"Maaf nyonya tapi Azka nya terbangun, dan langsung menangis, dari tadi saya sudah mencoba untuk mendiamkan, dan sudah memberikan asi dari botolnya namun Azka tak berhenti menangis"
"Gak papa bi, mungkin Azka mau tidur sama papa dan mamanya? Ya sudah kamu kembali istirahat saja, biar Azka bersama saya"
"Baik nyonya, saya permisi,"
Azka langsung terdiam saat sudah berpindah tangan ke tangan Luna. Setelah kepergian sang baby sitter Luna kembali menutup pintu dan membawa Azka bersamanya.
Brian yang melihat kedatangan Luna bersama anaknya langsung memperlihatkan wajah masamnya.
"Azka papa, sayang papa bobok di dalam box ya?? karena mama masih ada urusan sama papa, ok sayan??"
"Wha...hahah..haha" mendengar perkataan sang papa bayi gembul yang sudah mulai mengerti itu langsung kembali menangis,
"Cup..cup diam sayang, gak kok Azka bobok sama mama dan papa ya, Azka gak bobok di box kok.."
Tiba-tiba tangisan itu berhenti, dan dengan anteng Luna mulai meletakan Azka di tengah antara dirinya dan Brian.
"Yang..gagal yang.." Brian yang kecewa langsung melihat ke arah sang istri yang sedang tersenyum melihat tingkahnya.
"Sabar ya mas, masih ada hari esok"
"Eheeemmm"
Brian yang masih kecewa dengan kegagalan malam ini akhirnya memilih untuk memejamkan matanya, namun sebelumnya ia mengecup dahi sang istri cukup lama dan beralih ke dahi sang putra yang sedang tersenyum kepadanya,
"Kamu pasti sedang ngejek papa ya nak"
__ADS_1
Brian kembali memanyunkan bibirnya sambil tidur menghadap sang anak yang masih tertawa melihatnya.
Bersambung....😅😅