ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
Nafkah


__ADS_3

"Yuda" Ucap Pita sambil berjalan ke arah tempat tidur dimana Ardi tengah duduk.


"Siapa Yuda?" tanya Ardi.


Pita tersenyum kecut"Yuda, laki-laki dimasa lalu ku"Ardi diam sejenak lalu mengangguk"Dia datang memberikan ini"beri tahu nya.


Pita mengeluarkan kotak budru berwarna Biru dari laci samping tempat tidur, lalu membukanya disana terdapat satu set perhiasan bertahtakan berlian.


Ardi menatap perhiasan itu, matanya membelalak saat melihat perhiasan yang berkilauan itu.Meskipun ia orang awam yang tak tau dunia fashion apa lagi jenis perhiasan, namun ia sangat yakin jika perhiasan yang ada di hadapannya bernilai puluhan juta bahkan mungkin ratusan juta.


"Bagus" Ucap Ardi seraya tersenyum.


Pita menunduk"Aku tak berhak menerimanya.ini terlalu berlebihan"


"Bukankah rejeki tak boleh di tolak?" tanya Ardi


Pita mendongkak menatap Ardi lamat-lamat"Aku bukan menolak rejeki tapi ini terlalu mahal A."Jawab Pita "Ini seharga dengan satu mobil Audy." Ardi mematung saat mengetahui hal itu.


"A"Panggil Pita sambil memegeng tangan Ardi.Ardi menatap Pita, Jujur saat ini Ardi syok dan juga serasa terpukul dan Malu saat tau ada yang memberi kado pernikahan bernilai Milyaran.Harga perhiasan itu tak akan setara dengan semua barang miliknya bahkan masih jauh.


Ardi menghela nafas panjang" Jika teteh mau mengembalikannya, tinggal teteh kembalikan"


Pita mendekat, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Ardi."Aku gak tau cara ngembaliin nya,aku gak mau ketemu dia"


"titipkan pada Ruli"


"Ya, sepetinya itu ide bagus" Jawab Pita."Meski awalnya ini juga di titipin sama dia."


Ardi mengangguk, Ardi meraih Tubuh Pita agar lebih mendekat lalu memeluknya dari samping.ia pun menenggelamkan kepalanya di Bahu Pita."Boleh seperti ini kan?"tanya Ardi.


Pita diam, tak menjawab.


"Maaf" Ucap Ardi lirih.


"Jangan di ulangi lagi Ya." Jawab Pita."Dan jangan pernah bahas itu di hadapan orang lain.itu gak baik"Pita melepas pelukan dari Ardi lalu membalikan badanya Jadilah Ardi dan Pita berhadap-hadapan.


Ardi memegang Tangan Pita memperhatikan Jari-jari pita yang memiliki Kuku yang agak sedikit Panjang tampa Hiasan.dulu ia masih ingat jelas saat bertemu dengan Pita beberapa kali, kuku-kuku itu selalu berwarna bahkan kadang hingga ada yang berpermata dan Bunga seperti saat pernikahan.


"Jangan dengarkan apa kata orang dan jangan melihat diriku hanya karena aku dulu sering keluar masuk restoran berbintang dan lain sebagainya.Aku bisa keluar masuk tenda kecil atau duduk di bangku yang di sediakan pedagang kaki lima bahkan Aa peenah lihat sendiri aku tanpa ragu masuk kedalam pasar yang bau dan becek lalu tanpa malu menawar bahan makanan disana.Asal Aa tau aku gak keberatan asal Aa selalu ada di sampingku." Pita melepaskan pegangan tangan Ardi lalu menangkup Pipi Ardi yang mulus itu"Jangan minder lagi Oke."pinta Pita.Ardi pun tersenyum lalu merengkuh tubuh Pita dalam pelukannya


"I love you" Ucap Ardi lirih.


"Love you to." Jawab Pita."Hari ini Aa gak kepasar?kol, Wortel, kentang dan Timun masih ada beberapa karung di kamar penyimpanan loh."


"Ini Minggu, Besok Aja.gak bakal busuk ko."


Pita mengangguk dalam pelukan Ardi."Oh gitu, besok aku boleh ikut Aa gak.males aku dirumah terus."


Ardi tersenyum sambil melepas pelukannya."Besok Aa mau keliling dulu, teteh di rumah aja nanti ba'da Ashar kita berangkat ke Taraju ambil Cabe lalu berangkat ke pasar."Jelas Ardi.


"Keliling kemana?" tanya Pita.


"Aa mau lihat kebun manggis kita, sekarang lagi berbuah jadi Aa mau lihat.Mudah-mudahan hasilnya gak mengecewakan.juga Aa mau ke sawah kata mang Ujang minggu-minggu ini udah bisa di Panen."


"Oh gitu ya.ya udah kalau gitu, Tapi aku mau mancing ya Besok mau bikin pepes ikan kayanya enak.bolehkan?"

__ADS_1


Ardi tersenyum"Boleh, Teteh mancing di kolam bekang aja nanti Aa bawa daun Pisang nya."


"Oke."


"Teh" Panggil Ardi setengah berbisik.


"Hem"


Hening itulah yang terjadi.


"Kita tidur yuk udah malam?" ajak Ardi"Tadi siang Teteh pasti capek, kan habis ngajak main anaknya teh Santi"


"Iya, Habisnya anaknya teh Santi gemesin pengen nyubit"


"Kayanya kalau Teteh punya anak sendiri lucu kali ya" Ucap Ardi lirih.


Pita mengengguk, lalu melepas pelukannya."Sepertinya Aa udah pengen punya Dede bayi ya?"


Ardi menggaruk tengkuknya yang tak gatal di iringi dengan senyum canggung.


"A" Panggil Pita seraya tersenyum."Aku udah siap kok, kalau Aa mau?"


Ardi diam mematung namun sesaat kemudian tersenyum.


"Aku malu"Cicit Ardi


" Aku juga"Saut Pita."Tapi kita kan udah suami Istri"


Ardi mendongkak.Lalu mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan Pita.


...___________________...


Seperti Biasa Selepas shalat subuh Pita sudah bergelut dengan alat-alat dapur sedang Ardi bertugas menyapu dan mengepel terlas rumah sebelum memberi makan ayam dan bebek nya.


"Teh masak apa?" tanya Alma.


"Masak nasi goreng"Jawabnya sambil menaruh semangkuk besar Nasi goreng buatannya.


" Teh, Uang bekal Aku mintanya sama teteh apa sama Aa?"


Pita menghentikan gerakannya."Memangnya Aa belum ngasih?"


"Belum, biasanya setiap hari Sabtu.Namun Sabtu kemarin Aa gak ngasih, Sama A Sigit dan A Alfi juga belum?"


"Oh gitu, nanti teteh tanyain sama Aa ya." Jawab Pita "Sekarang Adek makan dulu"


Alma pun mengangguk, lalu memulai makan makanan yang di Buat Pita.tak selang lama Sigit dan Alfi pun ikut bergabung.


Pita berjalan ke halaman samping dimana disana ada tempat ternaknya Ardi.


"A"panggil Pita, Ardi pun menoleh.ia kini tengah memegang Ayam Jantan berbulu Hitam legam.


" Jangan kesini, jijik banyak tai ayam."larang Ardi.


"Makan dulu"

__ADS_1


"Iya" Jawabnya lalu berdiri


"A"


Ardi berjalan ke arah Pita "Ada apa Teh?"


"Uang buat Sigit, Alfi dan Alma kenapa belum di kasihkan?" tanya Pita


"Astagfirulloh, Aa lupa.pake aja uang yang kemarin dulu teh, nanti dapet dari pasar Aa ganti."Ucap Ardi sambil mencuci tangan pada kolam ikan.


Pita menyernyit seingatnya Ardi belum memberi uang karena setiap kali membeli bahan masakan selalu Ardi yang membelikannya " Uang yang mana?"


Ardi mendongkak, lalu beranjak berdiri"Astagfirulloh, itu uang yang Aa simpen di laci nakas.teteh belum lihat?"


Pita menggelengkan kepalanya."Belum, Aku cuma buka nakas pas ambil Kotak perhiasan aja."


"Iya, di bagian atas nya itu Aa simpen uang disana Teh."


"Aa ini, ya mana aku tau A.kan Aa gak bilang, lagian kan itu uang Aa belum di kasihkan sama Aku.seandainya aku tau juga aku gak akan berani ngambil."


"Ya udah bentar, aa kedalam dulu ambilkan uang buat adik-adik ya" Ucap Ardi sambil beranjak ke dalam rumah.


Pita pun tersenyum seraya mengangguk.


Sepeninggal adik-adiknya tinggallah Ardi dan Pita.Ardi pun memberikan sejumlah uang kepada Pita.


"Uang apa ini A?"


"Itu hasil Aa kerja, kamu yang kelola ya?itu ada daptar buat adek-adek di kertas."


"Kenapa Aa ngasihin semuanya sama Pita?"


"Aa percaya kamu bisa mengelolanya dengan baik, biar Aa yang mencari nya dan kamu yang membagi-bagi hasilnya supaya cukup."


Pita tersenyum"Insya'alloh, kita kelola bareng-bareng ya A.Aku takut tak bisa mengelola nya dengan baik"


Ardi mengangguk mengiyakan."Kita saling saja teh, karena jujur Aa juga gak begitu handal dalam membagi-bagi pengeluaran."


"Ini yang Aa kasihkan, Apa sudah Aa jakat ti?"


"Emang harus?" tanya Ardi dengan polosnya.


"Sebaiknya kita bersihkan uang yang kita hasilkan sebelum kita memakainya, karena uang yang kita dapat ini ada hak orang lain A."


Ardi mangut-mangut paham"Aa hanya mengeluarkan jakat apa yang Aa simpan aja teh pas nanti Ramadan "


"lebih baik tanykan sama ustad A, Pita juga gak begitu tau.hanya saja dulu Pita selalu melakukan Hal itu karena katanya bila kita melakuakan hal itu niscaya rejeki kita bakal bertambah berkali-kali lipat."


"Subhanalloh, benarkah?"


"Iya A, berbagi kan bukan hanya bernilai pahala A"


"Ya udah kalau gitu kita jakat-ti saja setiap apa yang Aa dapat teh."


Pita pun mengangguk menyetujui

__ADS_1


__ADS_2