ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
75


__ADS_3

Mahreen tengah berkutat di dapur anaknya memintanya membuatkan Pisang goreng dan Ubi Goreng.


Ya seperti Biasa keluarganya memberinya Pisang,Manggis,Durian,Ubi,ikan,ayam kampung dan makanan-makanan olehan disana sebagai buah tangan,itupun dia tak beli tapi di berikan oleh keluarganya disana.


Ada sedikit rasa kecewa di kepulangan nya kali ini karena Mahreen tak membawa buah Duku kesukaannya dikarenakan pohon-pohon peninggalan Ayah nya sudah tak berbuah dan di ganti dengan pohon-pohon baru yang entah kapan bisa di panen.


Ada sekitar beberapa pohon yang sudah besar juga sih namun pohonnya tak selebat pohon yang dulu,namun ada sedikit kelegaan karena Mamang nya bilang akan mengirimi nya bila pohonnya berbuah.


Selepas memasak Mahreen memberikan camilan itu pada Zio yang tengah bermain catur dengan Hakim.


"Pak Hakim gak ngampus?"Tanya Mahreen


"Saya ngajar pagi buk,tadi jam 11 sudah selesai."


"Oh,Bagaimana kabar Sisi?"Tanya Mahreen duduk di karpet sebelah Anaknya lalu membuka meja lipat dan membuka laptopnya.sudah banyak sekali laporan yang harus ia lihat,libur tiga hari membuatnya menumpukan pekerjaan.


"Dia baik,katanya ingin main lagi sama Zio."


"Main,Ayo kapan main lagi?"Tanya Zio dengan semangat"Dede Sisi lucu loh Bun,dan gak rewel,Zio suka"


Mahreen tersenyum menanggapi seruan anaknya.


"Nanti Minggu Om mau ambil Sisi dari rumah Neneknya,Kamu main di bawah sama Sisi."


"Berenang?"Tanya Zio.


"Iya."


"Boleh kan Bun?"Tanya Zio pada Mahreen yang langsung dapat jawaban anggukan.


Mahreen menghela nafas,ini bukan fashionnya tapi ia harus terjun pada dunia yang menguras pikiran nya ini demi masa depan anak nya nanti.


"Kenapa?"Tanya Hakim.


"Biasa lah ini pekerjaan."


"Oh,jangan terlalu di porsir kerjanya Bu.Nanti sakit"


"Sudah 3 hari saya gak berhadapan dengan nominal dan laporan-laporan seperti ini"Ucap Mahreen,Mahreen menepuk kepala Zio "Cepat besar Zio,Bunda pusing sama kerjaan mu"


Zio mendengus"Selalu aja."

__ADS_1


"Bunda Pusing Zio"


"Iya bu Dokter nanti Zio gantiin kalau Zio udah SMA."


"Oke,Tapi prestasinya jga pertahanin jangan sampai menurun."


Zio menatap bunda nya kesal"Bunda maruk"


Tawa Mahreen pecah"Udah ahhh bunda ke kamae,kalau mau makan panasin tuh Pepes Ayam buatan Bibi Ama"Ucap Mahreen seraya beranjak"Saya permisi kedalam dulu ya Pak"Pamit Mahreen


Hakim tersenyum menatap kepergian Wanita bergamis hitam tersebut.


"Om"Panggil Zio"Om mau jadi Papa Zio?"


..._________________...


Seminggu berlalu Mahreen tinggal sendiri karena Putranya pergi ke runah Arsa dan tinggal disana.


Ia sungguh sangat kesepian,tapi mungkin Zio pun merasakan hal yang sama.Dulu Zio sering dijahili Kakak keduanya,bahkan sebaliknya dan berakhir kakak pertamanya akan melerai.Namun sekarang....sekarang telah jauh berbeda.


Bel Apartemennya berbunyi,Mahreen pun bangun lalu membuka pintu Unit.


"Assalamu'alikum"


"Boleh minta tolong sebentar"Ucap Hakim setengah Panik"Ibu saya mengabari saya harus kerumahnya karena adek saya sakit,Saya tidak mungkin memba...


"Sisi biar sama saya saja"Potong Mahreen."Bapak pergi saja."


"Ibu tak keberatan"


"Tidak,pergilah"Ucapnya lalu meraih Sisi yang berdiri di samping Hakim.


Hakim mengangguk,lalu beralih pada Anak nya"Jangan nakal dan jangan merepotkan ok"


"Ok"Ucap Sisi.


"Saya titip Sisi"


"Iya"


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Wa'alaikum salam"


"Ayo Sisi masuk"Sisi mengangguk"Sudah makan?"tanya Mahreen lembut.


"Belum ate"


"Yuk tante masakin"Ajak Mahreen masuk,Mahreen memasak dan Sisi duduk di kursi meja makan yang telah di kasih bantal agar memudahkan Sisi menggambar disana.


Mahreen tersenyum melihat Sisi yang anteng sendiri,Ia pun dengan iseng mempoto Sisi dan mengirimkannya pada Zio.


Tak beberapa lama Zio membalas dengan hanya mengirimkan kata 'OTW' tanda ia akan kemari.


Ia bersyukur dengan adanya Sisi Zio bisa pulang tanpa di bujuk dan di paksa,karena memang Zio sangat susah jika sudah main bersama keluarganya bahkan jika ia bertemu keluarga yang sedikit asing pun seperti keluarga yang ada di tasik ia bisa cepat berbaur dan akrab,bermain tanpa canggung dan malu.Entah Zio memiliki sifat seperti itu dari siapa sedangkan Ayahnya orang yang cukup Dingin dan irit bicara,Apakah dari dirinya.Tapi ia tak merasa itu karena dirinya pun sangat sulit bersosialisasi dengan orang lain,kecuali dengan tetangganya ini mungkin......


"Sisi,Sisi"Panggil Zio nyaring.


"Salam Zio"Tegur Mahreen.


"Aka"Seru Sisi.


"Woah"Serunya kencang saat mendapati Sisi tengah makan dengan lahap di suapi ibunya"Assalamu'alikum Bunda"Ucapnya lalu menyalami Mahreen."Aaa Bunda"Ucapnya Minta di Suap.


"Wa'alaikum salam"Jawab Mahreen dan Sisi


"Bunda A"


"Ini makanan Sisi Zio"Ucap Mahreen"Kamu ambil lagi sana"


"Enggak Bunda aku mau di suap juga"


Mahreen menatap Zio heran"Kamu kesambet apa Zio,Kenapa Pulang dari Om Arsha kamu jadi gini?Gak mungkin Tante Fatiah nyuapin kamu?"


???


?"Bunda"Rengek Zio,dengan Posisinya yang masih berjongkok di hadapan Bundanya.


Mahreen mengambil Tahu lalu menyodorkannya pada Zio."Gak baik Zio makan satu piring dengan orang lain"


"Sisi Bukan orang lain Bunda"Ucap Zio seraya beranjak lalu menggendong Sisi agar Sisi duduk di lahunannya"Sisi itu adeknya Zio"


"Zio"

__ADS_1


"Zio mau Papa Bunda,Ayah sudah lama gak pulang dan sekarang Zio Minta sama Bunda.Zio minta Papa Bunda"


__ADS_2