ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
94


__ADS_3

Mahreen duduk di ruang tunggu pasien ia baru saja keluar dari ruang Operasi.Sungguh melelahkan Untuknya yang sudah lama tidak menginjak kan kaki di ruang Operasi berkutat dengan penuh keseriusan agar bisa menyelamatkan Pasien.


"Dokter"Panggil seorang perawat.


Mahreen mendonggak"Ada apa?"


"Dokter Mahreen,Maaf."Ucapnya.


"Ada apa Suster Sevi?"


"Maaf Dok ada pasien yang membutuhkan pertolongan di ruang Cempaka."


Mahreen bangkit"Siapa dokter yang menangani nya?"


"Dokter Randi,Namun dokter masuk Siang."Jawab Suster tersebut.


Mahreen mengangguk dan berjalan cepat kearah Ruangan VIV yang di maksud Suster tersebut.


"Dokter,Pasien tersebut laki-laki"Ucap Suster saat Mahreen hendak membuka pintu.Mahreen diam sejenak ia sudah lama tidak menangani Pasien laki-laki sebab ia mendapatkan larangan dari suami nya,Namun


"Nyawa Pasien lebih Utama,Siapkan sarung tangan"


"Baik Dok"Ucap Suster tersebut.


Setelah itu Mahreen masuk kedalam Ruangan dimana Pasien tersebut berada,Dia terkejut saat mendapati Teman SMA nya yang terbaring dan mengeluh kesakitan.


Mahreen mendekat dan langsung mengecek semuanya"Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan,Dicoba terus ya atur dengan baik agar sakitnya perlahan berkurang."Ucap Mahreen pada Reyhan


Reyhan mengikuti petunjuk dari Mahreen hingga perlahan ia bisa kembali merasa tenang.


"Terimakasih Mahreen"Ucap Reyhan.


"Sama-sama Rey."Jawab Mahreen."Suster tolong simpan Catatan kesehatan Pasien atas Nama Bapak Reyhan Saputra di ruangan saya"Titahnya pada Suster Sevi


"Baik"Suster pun berlalu.


"Saya baru tau kamu ternyata seorang dokter hebat"


Mahreen tersenyum Tipis."Sepertinya kamu sudah pernah Operasi?"


"Iya,Saat itu Dokter Randi bilang pada Saja ada penebalan Otot Jantung yang membuat saya harus di Operasi.karena memang saat itu kondisi saya sudah sangat sulit."


Mahreen mengangguk"Istirahat lah,Nanti siang Dokter Randi kembali bertugas.Saya akan berkonsultasi dengan Beliau tentang kesehatan mu."


"Terimakasih Mahreen,Semoga Allah membalas kebaikan mu."


"Ngomong-ngomong mana keluarga mu."


Rey tersenyum kecut"Saya hanya memiliki satu Anak dan dia sekarang tinggal di Canada bersama Orang tua saya."


"Baik kalau begitu,Saya permisi."


Reyhan mengangguk,Mahreen pun keluar dari ruangan tersebut.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


"Bisa diam tidak sih Nay,Kamu itu Astagfirullah sekali."


"Ikh apa salah nya Coba mengagumi Kak Satria yang aduhhaiii....


"Bukannya kamu udah punya pacar Online?Yang wajahnya Plastik itu?"


"Kamu mah nyebelin banget sih"


Kartika melanjutkan berjalnnya dan menemukan orang yang ia rindukan.


"Assalamualaikum wanita kesayangan"Ucap Kartika,Membuat Mahreen tersenyum senang.


"Masya'alloh,Wa'alaikum Salah sayangnya Bunda."jawab Mahreen"Kenapa tidak langsung pulang?"


"mau ngajak Bunda makan bareng lalu pulang deh."


"Oh seperti itu,Sudah beli makanannya?"


"Ya sudah Yuk ke ruangan Bunda"Ajak Mahreen.


Mereka pun berjalan beriringan kearah Ruangan Mahreen.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Kenapa Kak Nino,Kak Riza dan Kak Zio kemari?"Tanya Naya yang terkejut karena melihat Kakak-kakaknya ada di depannya.


"Kakak ingin bertemu Bunda"Jawab Riza.


"Mau marahin Bunda lagi?"tanya Naya dengan nada takut.

__ADS_1


Nino dan Riza menggelengkan kepalanya"Bukan dek,Kami ingin minta maaf"Jelas Zio.


"Kasih waktu Bunda satu jam sebelum kakak menemui nya sebab Bunda tadi Pagi tidak sarapan dengan benar,dan sekarang aku sudah membeli makan Untuknya.Kami akan makan bersama,aku mohon."


"Iya Dek,Masuk lah kami akan menunggu dikantin."Jelas Riza dengan menepuk-nepuk kepala sang adik sambung.


Naya mengangguk lalu berlalu dari hadapan Riza,ia akan memastikan Bunda nya Makan dulu sebelum bertemu kakak-kakaknya.


"Assalamualaikum Bun"Ucap Naya seraya mendorong pintu.


"Wa'alaikum salam"


"Kenapa lama sekali?"tanya Kartika


"Enggak kenapa-kenapa,Tadi jalannya pelan aja."Jawab Naya berkilah"Emangnya Enggak boleh?kamu juga kadang muter-muter dulu"


Kartika menatap Naya dia dapat melihat ada yang di sembunyikan oleh Naya.


Mahreen yang duduk dikursi kebesaran nya segera bangkit"Jangan mempermasalahkan hal kecil menjadi besar Nak,Gak Baik"


"Iya Bun,Kartika tuh."


Kartika menghiraukan Ucapan Naya,Ia meraih kotak makanannya lalu mulai memakan makanan tersebut setelah berdo'a.


"Bun,kemarin lalu aku bertemu dengan Kak Leon dan Kak Zio di rumah sakit ini,Apa mereka ada mengabari Bunda?"Tanya Kartika,Mahreen yang ditanya menggeleng sedangkan Naya menegang.Kartika tersenyum miring di dalam hati.


" Bunda gak ada di kabari mereka."


"Kenapa kamu tegang Nay?"


"Eng-enggak a-ada"


"Gugup lagi"Ucap Kartika.Kartika dan Mahreen bersamaan meraih gelas minun dan meminum isinya."Kamu ada ketemu Mereka tadi kan?jadi kamu gugup"


"Sayang,Jangan sembarangan menuduh itu tidak baik"


Kartika tersenyum seraya mengangguk,ia tidak memberi pembelaan untuk nya,karena ia sadar jika ia salah.


"Mau ia ketemu atau tidak itu terserah Naya.mau Naya cerita atau tidak pun tidak masalah bagi Bunda."


"Nay memang bertemu mereka Bunda."Jawab Naya"Namun mereka berjalan ke arah kantin.''


"Oh seperti itu,Ya sudah kita lanjut makan saja."


Kartika menatap Naya seakan memastikan,Naya mengangguk pada Kartika."Ma...


"Habiskan makanannya sayang kalau sampai tidak habis"Sela Naya


"Kalian jangan khawatir,Bunda baik-baik saja."


"Makanya Bunda Makan yang banyak,Karena menghadapi sesuatu itu perlu tenaga yang cukup."Jawab Naya.


"Iya Bun,Tenang kami ada disini bersama Bunda.Kami akan melindungi bunda dan akan selalu ada Untuk Bunda."Sambung Kartika.


"Iya Sayang"


Mahreen menatap kedua anak-anak nya ia tersenyum senang hati nya menghangat saat anak-anaknya meyakinkan.


Ia tak pernah ada di posisi securam ini tapi dengan adanya kedua gadis ini ia yakin bisa bertahan dan melewati semua masalah yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2