ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
54


__ADS_3

"Kenapa kamu menikahiku?jika hanya untuk mengasariku?" Tanya Muti lirih karena takut di bentak seperti tadi.


Jansen yang tengah dalam mood buruk menatap Istrinya itu dengan tajam.namun ia sadar ini bukan lah rumahnya jika Alm Bunda dan Ayah masih Ada ia pasti sudah di marahi habis-habisan, tapi ia juga tetap tak bisa semena-mena karena di bawah ada Mamang dan Bibi nya juga ada adik dan anak mendingan Ayah Ardi.


Khadijah, Satu nama yang membuat mood nya ancur seketika.ia melihat Khadijah di rangkul oleh suaminya dan bercanda hingga terlihat jelas oleh matanya mereka berdua tertawa.


"Kamu bisa diam, Saya sedang pusing?"


"Pusing?" tanya Muti lalu berjalan ke arah Jansen dan mengulurkan tangannya kejidat suaminya itu"Tak panas?"


"Pusing bukan berarti harus panas Ganis?" Ucap Jansen kesal melihat kelakuan istrinya yang polos itu."Buatkan Aku kopi, tanpa gula."


"Pahit donk?"


"Bisa keluar, ambilkan apa yang aku suruh" Ucapnya Dingin.


Ganis membalikkan badannya"Bisa gak sih minta sesuatu itu dengan baik"Ucapnya dengan kaki yang di hentak-hentakan.Mata Jansen tak sengaja melihat kaki Ganis yang bertelanjang, kakinya putih bersih tapi kenapa bertelanjang.


"Mana kaos kaki mu?"


Ganis menghentikan langkahnya lalu berbalik"Aku gak punya kaos kaki"


"Lalu kenapa kamu bercadar, sedangkan kaki kamu telanjang dan bisa di lihat oleh orang lain?"


Ganis membuka Cadarnya "Ini" Ucapnya seraya memberikan Cadar pada Jansen, Jansen terpaku 'Cantik' satu kata yang menggambarkan paras yang tengah ia tatap.


"Aku emang gak bercadar, Namun karena sekarang musimnya pake masker dan aku hanya punya ini peninggalan Kakak aku jadi aku pake ini, bahkan aku juga cuma punya baju bagus dua buah itu juga pemberian dari Kak Mahreen dan Kak Hana semuanya baju lusuh pemberian kak Safitri." Jawabnya polos.


"Umurmu berapa?" tanya Jansen


"17 tahun"


Jansen menganga di buatnya, ia tak percaya ia mengira perbedaan Usianya dengan Ganis berbeda 20 tahun namun nyatanya berbeda 22 tahun.tepat 3 bulan lagi ia berusia 39 tahun.


"Kamu tau Usia saya berapa?"


"25 atau 27."


"Salah Ganis" Ucapnya lalu duduk di pinggiran kasur di ikuti Ganis."Umur saya sudah 38 tahun, tiga bulan lagi Umur saya 39 tahun."


Ganis menatap suaminya itu lamat-lamat ia memperhatikan penampilan suaminya dari mulai rambut hingga pakaian yang di gunakan, Sangat tidak pantas jika di katakan berumur 39 tahun karena penampilannya sungguh sangat keren dan kelihatan sangat muda.


"Jangan menatap ku seperti itu." Ucap Jansen"Aku tak Bohong, kamu bisa lihat di surat nikah kita."


Ganis diam tak berkata apapun.namun masih mematap wajah Suaminya itu.


"Kamu bisa memanggil saya dengan panggilan Abang" Ucapnya"Jangan Aa, saya bukan orang Sunda Asli."


Ganis mengangguk"Kapan Abang akan bawa aku berkunjung ke rumah Orang tua Abang?Dan kapan Abang akan bawa Aku ke Jambi bertemu Kak Sani dan Ke Medan bertemu dengan Kak Putri.aku sudah sangat rindu pada mereka?"


"Orang tua saya sudah lama meninggal"


"Ayo kita jarah ke makamnya?"


Jansen terdiam lalu berkata lirih"Mereka tak di temukan , mereka meninggal di laut."


Ganis Diam tak berani bertanya


"Aku hanya punya Bunda Pita dan Ayah Ardi.Momy dan Dady yang berubah panggilan saat lahir Frinces Mahreen menjadi Ayah dan Bunda.jadi tempat ku jiarah hanya makam mereka sedangkan makam Papih dan Mamih Juga Ibu ada di semua penjuru Dunia."


"Laut?"


Jansen mengangguk"Dan apa kata mu tadi?"


"Yang mana?" Tanya Ganis."Yang bertemu dengan Kak Putri dan kak Sani."

__ADS_1


"Iya, Mereka siapa mu?"


"kakak-kakak kandung ku"


"Dan mereka?"


"Sudah menikah dan di bawa oleh suami-suaminya.Kak Putri di bawa ke Medan dan Kak Sani di Bawa ke Jambi."


"Itu tak mungkin."


"Ayolah aku sudah rindu pada mereka, terakhir aku bertemu dengan mereka saat aku kelas 1 SMA."


"Dimas atau Gandi akan mengantarmu jika kamu mau." Ucapnya lalu bangun dan meraih tangan Ganis membawanya berjalan menuju bawah.


"Masya'alloh Cantiknya Bidadari Jansen." Ucap Dewi membuat semua mata tertuju pada dua orang insan yang tengah berjalan menuruni tangga.


"Rengganis?" Tanya Khadijah"Abang?apa Abang tak sayang mempertontonkan wajah cantik Ganis?"


Jansen tersenyum"Aku tak akan memaksanya untuk bercadar, jika ia ingin bercadar terserah silahkan namun jika ingin seperti ini pun aku tak keberatan asal dia tidak membuka hijab dan Pakaiannya di hadapan Orang kecuali Aku."Ucapnya "Sana Buatkan kopi" Ucapnya lagi, Ganis pun berjalan menuju dapur.


Setekah menyeduh kopi ia pun berkumpul dwngan keluarga Alm Ardi.


...-----------------------------------...


Malam menjelang di kamar itu Jansen berdecak kesal karena melihat baju-baju lusuh yang di bawa oleh istrinya.


"Dimana baju hantaran pernikahan?"


"Semua di bawa oleh kak Safitri" Ucapnya.


"Kau" Ucapnya dengan Nada tinggi, Ia pun berjalan keluar menuju lantai bawah dimana ada Alma tengah bersantai bersama Mahreen.


"Frincess boleh pinjam baju tidur mu?"


"Istri mu tak mempunyai baju tidur?" tanya Mahreen.


"Semua di ambil oleh Nenek tua dan juga Nenek Sihir."Jawab Jansen ketus


Alma dan Mahreen saling tatap.lalu mereka beranjak" Tunggulah dengan sabar."Ucap Alma saat melihat Jansen akan kembali berucap, Jansen pun mengurungkan niatnya lalu duduk di Sofa.


Tak beberapa Lama Jansen melihat Alma dan Mahreen datang dengan membawa beberapa paperbag.


"Ini hadiah dari kita-kita Untuk Ganis." Ucap Mahreen.


"Terima kasih" Ucap Jansen.


"Yaudah sana Istirahat"


"Kalian juga istirahat." ucap Jansen lalu berlalu


Sesampainya Di atas ia memeberikan Paper bag itu pada Ganis dan menyuruh nya mengganti pakaian.


Ganis keluar dengan setelan Baju tidur satin.


"Berbaring lah" Ucap Jansen.Ganis menurut lalu berbaring namun sebelum ia menutup mata Jansen sudah mendekatkan diri padanya."Aku mau Hak ku."Ucap nya dengan suara beratnya.


"Hak?"


"Layani aku malam ini" Ucap Jansen lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Ganis, Ganis hanya diam tak merespon apapun hingga membuat Jansen menggigit bibir Ganis."Balas ciuman ku, kalau kamu tak bisa ikuti cara ku."Ucapnya lalu kembali mengulum bibir Ganis.


Mereka pun melakukan malam pertama mereka dan Jansen senang karena ia adalah laki-laki pertama yang mendapatkan Mahkota Ganis, ia tak menyangka akan menjadi laki-laki pertama untuk Gadis belia seperti yang polos dan lugu seperti Ganis.


Jansen akui ia belum mencintai Ganis, wanita cantik yang tengah tidur pulas di sebelahnya.ia hanya tertarik pada wanita bercadar yang mengobrol dengan Khadijah.


"Maafkan saya.buat saya jatuh cinta pada mu Rengganis, Buat saya melupakan wanita yang selalu mengganggu pikiran saya" Ucapnya lalu mengecup kening janis.

__ADS_1


Wanita cantik berkulit putih dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan beberapa tai lalat kecil di pipinya.Cantik, benar itu yang di lihatnya.dengan pengawakan yang kecil hanya sebatas dadany, badannya juga sangat kecil sesuai Usianya.


...-------------------------------------...


Ganis terbangun dari tidurnya ia mengingat apa yang di lakukan suaminya semalam membuatnya malu,ia bergerak menuju kamar mandi lalu membersihkan diri, badannya sangat sakit namun ia harus bangun supaya bisa melaksanakan shalat subuh.


Setelah mandi ia membangunkan Jansen, Jansen pun bangun lalu mandi dan berangkat ke mesjid.sedangkan Ganis selepas shalat ia mengaji itu adalah kebiasaan nya saat setelah di tinggal oleh kaka-kaka nya dan tinggal sendiri di rumah yang di Bilang Gubuk oleh suaminya.


Perjalanan hidung Ganis begitu miris ia tinggal bertiga bersama kakak-kakaknya setelah ibunya memilih berangkan jadi TKI ke negri Jiran Malaysia dan sampai saat ini tak kembali lagi,Lalu kakaknya dinikahkan oleh Uti Fitri adik mendiang ibunya setelah saat itu ia bisa sekolah SMA lagi namun tak lama karena Uti kembali lagi dan bilang jika Kakaknya akan di nikahkan kembali.lalu kakaknya meminta sarat supaya adiknya di sekolahkan hingga lulus SMA, Ya Ganis sekolah hingga lulus SMA namun baru beberapa minggu ia diminta menikah dengan laki-laki dan akan di jadikan istri ketiga namun beruntung nya itu tak terjadi karena ada Jansen yang sekarang menjadi suaminya memberi mahar lebih tinggi bukan itu yang menjadikannya senang tapi Jansen adalah keluarga Alm Ardi.keluarga yang selalu membantunya bahkan Khadijah selalu memberinya uang dan makanan bila bertemu.ia merasa beruntung bisa masuk kedala kelurga baik.


"Kamu tak membantu yang lain?" tanya Jansen mengejutkan Ganis.


Ganis yang tengah melamun pun terlonjak kaget, lalu bergegas bangun namun karena ada bagian tubuhnya yang sakit hingga ia menjerit dan limbung kembali terduduk.


Jansen mendekat"Ceroboh"Ucapnya.Ia melihat Ganis meringis"Kamu sakit?"


Ganis mengangguk"Sedikit"


"Ada apa?" tanya Mahreen yang bergegas ke kamar Jansen karena mendengar jeritan Ganis.Mahreen mendekat, "Bisa bangun?" tanyanya pada Ganis, Ganis pun mengangguk lalu beranjak.


Dugh


"Akhhh, Apa apa an sih Cess"


"Kenapa sih Bang?,tau ini yang pertama kenapa main nya lansgung kasar sih, kasihan tau Ganis" Ucapnya, Jansen yang mendengar itu menatap Ganis Iba.


"Nanti juga terbiasa."


Mahreen menatap Jansen berang.


"Sudah lah" Ucap Jansen lalu berjalan ke arah tas nya dan mengeluarkan satu gepok uang"Belikan baju, mukena, sandal, dan lainnya untuk Ganis."Ucapnya"Kamu juga bisa belanja untuk keperluan kamu."


"Kurang" Ucap Mahreen sambil menengadahkan tangan ke arah Jansen.


"Kemarin Alma belikan dia hantaran hanya habis 1.500.000." Jawabnya namun tak urung ia kembali mengeluarkan dua gepok uang dari tas nya


"Kan yang belanja beda bukan Bibi Alma." Jawabnya lalu mengambil uang itu."Terima kasih Abang"jawbnya.


"Sama-sama, namun ingat belikan Dres panjang, hijab, sandal,baju tidur lengan dan celana panjang juga teman-teman kecilnya."


"Oke siap"


"Belikan juga Dompet dan tas."Mahreen pun berlalu setelah memberi hormat pada Jansen.


Setelah Mahreen keluar, Jansen mengunci pintu lalu berjalan ke arah Ganis yang duduk dan melihat keluar jendela.


" Istirahatlah, saya tau kamu lelah."Ucap Jansen.


"Aku baik-baik saja."


Jansen membantu Ganis membuka mukenanya"Jangan pakai barang-barang itu lagi, saya tak suka."Ganis mengangguk."Sini tidur dengan saya"Ganis pun membenahi posisinya lalu berbaring di sebelah Jansen."Tidurlah, besok kita jalan-jalan."


"Kemana?"


"Apa ada yang ingin kamu Kunjungi?"


"Singaparna, Kata orang disana pusat pembelanjaan seperti sayur dan pakaian lebih besar dari pasar yang ada di sini. tapi aku gak pernah kesana."


"Oke." Jawabnya"Tidur lah."Ucap Jansen seraya mengelus surai Ganis.Ganis pun terbuai lalu menutup matanya,yang di butuhkan nya sekarang memang tidur karena semalam ia baru bisa tidur pukul 1 dini hari dsn itu adalah pertama dalam hidupnya ia tertidur hingga lewat tengah malam.


"Aku berharap ini bukan mimpi tidur saja bang, aku harap ini akan menjadi awal kebahagiaan bagiku" Ucap Ganis dalam hatinya.


...🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳...


Alhamdulillah Up lagi...

__ADS_1


See you


@nengyani64


__ADS_2