
Sesampainya di rumah mendiang Ardi yang kini di tinggali oleh Alma dan suaminya ia mendarat dengan mulus disana mengejutkan Alma dan para pekerja yang tengah membuat tangga.
Laki-laki Berjaket Jeans itu turun dengan membawa tas di pundak kanannya lalu di ikuti dua orang.
"Assalamu'alaikum Alma" Ucapnya.
Amma diam menatap pria di depannya lamat-lamat lalu berjalan dan melepas kaca mata laki-laki itu.
"Allohu Akbar." Takbir Alma saat mengenali siapa yang menyapanya"Wa'alaikum salam"Ucapnya.
"Kenapa Kaget Ma?"
"Aneh Aja, Biasanya liat kamu pake Kemeja dan berjas Namun sekarang malah kelihatan lebih muda dan.....
" Lebih tampan"
"Suami ku lebih tampan ya" Jawabnya dengan memutar bola matanya malas.
"Ya pantes suamimu tampan karena lebih muda Dua tahun dari mu." Jawab Jansen lalu merangkul Alma dan berjalan ke arah tangga."Nah ini yang sedari dulu aku mau."
" Almarhum Aa bilang, biar aja jangan di buatkan tangga soalnya waktu di kabari Buna kritis Kamu gak nyaut-nyaut."
"Waktu itu aku lagi ada acara Alma, kalau enggak ya gak mungkin lah."
"Tapi gak sampai matiin Handphone juga Atuh." Ucap Alma
Jansen diam namun tetap berjalan di ikuti 2 orang yang ikut mengantarkannya dan salah satunya membawa koper Jansen."Udah masak belum?"
"Kamu lapar?"Jansen tersenyum menampakan gigi nya yang rapih.
"Oke kita makan di saung"
"Suami mu mana?"
"Disana."
"Oh terus kamar ku?"
"Kamu nginep disini?"
"Iya, Beberapa hari kedepan gak papa kan?"
"Sama mereka?" tanya Alma sambil melihat ke arah dua orang di belakang nya.
"Tidak nyonya kami hanya ikut singgah sebentar." Ucap salah satu nya.
"Oh,Ya sudah silahkan duduk" Ucapnya karena mereka telah sampai di ruang keluarga Yang ada di lantai dua.
"Kamar ku mana Alma?"
"Pilihlah kamar yang mana saja, toh semua kamar di lantai ini kosong."
"Saya masuk dulu,jika kalian mau istirahat di kamar masuklah kekamar mana pun." Ucap Jansen yang diangguki oleh mereka,Jansen pun berjalan ke arah kamar paling pojok bekas kamar Alfi disana ia bisa melihat pemandangan yang indah sawah yang membentang luas.Iya tau Alma pindah ke sini atas permintaan Ardi setahun lalu dan mungkin sekarang kamar Ardi telah di isi oleh Alma dan suaminya karena kamar itu adalah kamar paling besar di rumah ini.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan nya ia pun bergegas membukanya dan ternyata anak Alma yang berumur 10 tahun memanggilnya untuk ikut bergabung makan di saung yang ada di tengah-tengah kolam ikan.
"Kalian tidak apa makan lesehan?" tanya Jansen
"Tidak apa-apa Bos"
"Ya sudah" Ucap Jansen lalu berlalu di ikuti mereka.
"Nah udah dateng" Ucap Alma pada Suaminya juga Sigit dan Alfi.
"Eh Mang, sudah pada kesini ternyata?" Ucap Jansen kedua orang yang mengikutinya merasa heran dengan sifat dan prilaku Jansen yang sangat-sangat berbeda tak seperti biasa Dingin dan arogan.
"Kami sengaja kesini karena kami tau kamu pasti akan langsung berangkat."
"Bagaimana?"Tanya Alfi, Alma dan Fuad hanya diam.mereka juga tau Niat Jansen kemari setelah kakaknya bercerita.
" Sarat dan maharnya?"tanya Jansen yang membuat kedua orang yang ikut dengan nya tersedak minuman yang di suguhkan Alma.
"Kenapa?"keduanya menggelengkan kepala secara bersamaan saat mendapat pertanyaan dari Sigit.
" Maharnya uang 150 juta dan saratnya harus di bawa ke luar daerah."
__ADS_1
"Oke."
"Uangnya kamu sudah bawa?"
"Sudah, lalu kapan akan di adakan akadnya?" tanya Jansen membuat semuanya tersedak apa lagi kedua orang yang mengikutinya.
"Vinsen?"
"Gampang, Dia biar Mereka yang jemput."
"Oke, kita ke rumah Uti Fitri saya dulu." Putus Sigit, Jansen pun mengangguk
"Soal Ke KUA siapa yang akan Urus?" tanya Alfi.
"Biar saya Hubungi Dimas, Pinjam Mobil dan supir untuk mengantar-ngantar Dimas."
"Mobil ada, Biar Saya saja yang mengantar."
"Mari makan" Ucap Alma pada kedua orang."Makan tuh bakar Ayam sama ikannya, Spesial pas kalian istirahat Kang Fuad langsung masak."
"Masih kaya dulu gak bisa masak?" tanya Jansen.
"Udah bisa cuma ya banyakan malesnya dari pada maunya." Jawab Alma.
Mereka pun kembali makan setelah mendengar jawaban dari Alma.
...-------------------------------...
Malam nya Jansen di antar Alma, Fuad, Sigit dan Alfi datang ke rumah Safitri anak bungsu Uti Fitri.dan mereka melamar Muti'ah, Muti'ah tak menjawab ia hanya Diam mendengar apa yang di utarakan oleh Uti Fitri Hingga Akhirnya.
"Saya minta besok malam semuanya sudah siap" Ucap Jansen
"Jadi besok malam akan menikahnya?"
"Iya, Dan saya akan bawa Muti ke Jakarta tinggal dan menetap bersama saya."
"Maharnya?"
Alfi mengeluarkan 15 gepok uang seratus ribuan yang masing-masing gepokan senilai 10 juta.
"Lalu untuk uang dapur saat nanti kalian datang?" Tanya Safitri
"Tidak perlu besok?bisakah hari ini?" tanyanya.Alma sudah ingin menjawab begitupun Sigit namun Alpi dan Fuad memegangi mereka.
Jansen mengeluarkan dompetnya,"Berapa?"
"15 juta" Ucap Safitri
"Teh" Ucap Muti'ah menegur kakak angkatnya.
Sigit merogoh sakunya begitupun yang lainnya dan terkumpullah uang lima juta lalu mereka langsung memberikannya.untung tadi Jansen memberikan uang 10 juta lagi pada Alfi jika tidak ia harus kembali lagi.
"Jangan lupa Hantaran dan perhiasan untuk adik saya nya yah."
"Kami permisi" Ucap Jansen dengan raut wajah dingin menatap Safitri yang memandangnya dengan pandangan meremeh.
"Gila itu orang" Ucap Alma
"Bukan gila lagi." Sambung Sigit.
"Kalau bukan wanita aku pukuli dia."
"Eh eh Sen, kamu gak mau lihat wajah Muti'ah dulu gitu?"Jansen hanya mengedikkan bahu ia berlalu begitu saja naik ke lantai dua meninggalkan Alma, Alfi, Sigit dan Fuad.
...--------------------------------...
Pernikahan yang akan dilaksanakan malam pun selesai pada pukul malam, pernikahannya hanya di hadiri beberapa orang jadi tidak menguras tenaga dan tak ada acara istimewa hanya ada acara akad.
"Istri mu menunggumu di dalam" Ucap Safitri setelah semuanya selesai makan.
"Saya tidur di sini malam ini?"
"Iya.mau dimana lagi?" Tanya Safitri.
Jansen melihat adiknya dan juga keluarganya.Adiknya memeletkan lidah sedangkan yang lainnya mengedikkan bahu.
__ADS_1
"Bisakah saya bawa istri saya malam ini ke rumah Alma"
"Tidak" Ucap Uti tegas."Kalian harus menghabiskan malam disini besok baru pergi."
Jansen membuang nafas kasar lalu bangkit karena sudah di panggil oleh Safitri namun sebelum ia berjalan ke Tirai kamar ia menoleh pada Dimas"Bawakan baju saya kemari Dimas, Sekarang juga."Dimas bergegas bangkit lalu pergi diantar Alfi
"Baju mu nanti disimpan disini, masuklah sekarang."Jansen mengangguk lalu masuk kedalam kamar.
" Rumah ini bak seperti Gubuk"Upatnya, ia bertanya-tanya mengapa ia di nikahkan di Gubuk reyot seperti ini, bahkan dinding-dinding rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu itu sudah usang dan banyak yang bolong.belum lagi kamar yang di tempati istrinya kamar yang paling ujung dekat dengan dapur.
"Assalamu'alaikum" Ucapnya saat membuka tirai
"Wa'alaikum salam" Ucap Muti'ah pada Suaminya.
Jansen disuguhi dengan istrinya yang menggunakan syar'i berwarna Putih dengan nikob hitam.duduk di ujung kasur.ia pun langsung duduk kamar itu hanya muat kasur saja."Ulurkan tangan mu?"
Muti'ah mengulurkan tangannya lalu Jansen memakaikan Cincin di jarinya.selepas itu ia memegang ubun-ubun istrinya lalu berdo'a tak lupa ia mengcup kening Muti'ah, meski bukan langsung pada kulit tapi itu membuat hatinya berdegub kencang.Muti'ah meraih tangan suaminya lalu menciumnya dengan hidmat,Jansen langsung membeku.
"Aa" panggil Muti'ah.
"Bawakan Baju ku di luar" Ucap Jansen dingin"Aku ingin berganti pakaian."Ucapnya.Lalu Muti'ah pun beranjak mengambil apa yang di maksud suaminya.
"Keluar" Ucap Jansen dingin, Muti'ah pun keluar lagi setelah memberikan barang yang di maksud Jansen.
"Aa sudah."
"Sudah, Masuklah" Ucapnya, "Tidurlah di pojok sana, besok kita pergi ke rumah Alma.Kita akan tinggal disana untuk beberapa hari."
"kenapa buru-buru sekali, Ka Putri dan kak Sani juga setelah menikah tinggal di sini dulu satu minggu."
Jansen menatap Muti'ah tajam"Saya tak akan bisa tidur nyenyak disini."Jawabnya
"Baiklah."
"Besok pagi saya mau kamu langsung berkemas, masukan barang-barang mu kedalam koper itu" tunjuknya pada koper silver yang di bawa Muti'ah.Muti'ah mengangguk.
...-------------------------------------------...
Alma di bantu Dewi dan Hani tengah membereskan kamar juga rumah tak lupa mereka pun memasak karena akan menyambut Muti'ah.
Dan tepat pukul 10 siang Jansen sampai dengan gerutuan nya karena di paksa mandi subuh oleh Uti Fitri yang beranggapan mereka bersetubuh malam tadi, nyatanya tidak bahkan Dia tak melihat wajah Muti'ah sama sekali karena Muti'ah tidak membuka nikobnya.mereka Tidur saling membelakangi bahkan Jansen tak bisa tidur karena Dinginnya cuaca malam itu.
"Maaf Bos, Saya tak tau bos akan pulang sepagi itu.kirain saya bos akan pulang ke rumah siangan." Jawab Dimas.
"Kamu itu Bodoh atau apa Dimas?kau tau sekali diriku?kau tau kan betapa muaknya aku dari tadi malam itu?" Ucapnya "Kita di bawa ke gunung lalu di nikahkan di Gubuk reyod itu,ditambah tak ada sinyal, kasur keras, selimbut hanya sehelai.pagi-pagi sudah di bangunkan dan harus mandi di air yang dingin...sangat memuakkan." upatnya.
"kamu tak pernah mandi pagi?" tanya Muti'ah.
"Diam kau" Bentak Jansen
"Jansen jaga bicara mu" Ucap Dewi lalu memeluk Muti'ah, "Sayangi Dia Jansen, Dia yatim piatu sama seperti Mu."
"Hah, Sudahlah" Jansen bergegas ke lantai dua meninggalkan Muti'ah dan yang lainnya.
"Bos itu memang selalu seperti itu, jika tak sesuai dengan apa yang diinginkannya."
"Sabar ya Muti'ah."
"Jangan panggil dia Muti'ah.Panggil dia Rengganis atau Ganis." Teriak Jansen.
"Begitulah mood Jansen, hah." Ucap Dewi.
"Pakiannya sudsh saya bawakan ke atas." Ucap Gandi.
"Terima kasih." Jawab Muti.lalu ia berlalu pergi kelantai dua mengikuti suaminya meninggalkan semua yang ada di sana.
_π³π³π³π³π³π³π³π³π³_
oke kita lanjut ya..
kasihan yang nungguin...
yang baca Alhamdulillah bertambah tapi kok ya yang like nya dikitπ
tapi gak papa....
__ADS_1
ok untuk next nya di tunggu aja ya
See you