ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
76


__ADS_3

Zio memeluk Mahreen dengan sangat erat"Makasih Bunda"Ucapnya


Mahreen menetes kan Air matanya saat kata sah dan pelukan hadir menghangatkan tubuhnya yang dingin.


Setelah Zio memintanya memacari kan Papa ia pun memberanikan diri berbicara pada adiknya dan memintanya mencarikan kandidat terbaik untuk di jadikan suami.


Hakim harus menelan pil pait karena dia tak bisa bersanding dengan Mahreen sebab adiknya tidak menyetujui.


Ada banyak hal negatif dari sosok Hakim,Bukan hanya mantan seorang Pecandu tapi juga laki-laki tersebut adalah seorang yang sering berganti-ganti wanita dan itu membuat Jansen Murka hingga membuat Mahreen harus keluar dari Apartemennya dan tinggal bersama adiknya.


Dua bulan lalu Mahreen bertemu dengan tetangga adiknya,Laki-laki pendiam dan pecinta anak kecil.


Ia di kenalkan oleh seorang ibu paruh baya yang bernama Bu Sekar,Ibu Sekar adalah Ibu RT disana yang kebetulan sering sekali berkunjung kerumah Fatiah karena anak adik iparnya itu berteman dengan Cucu Bu Sekar.


Bu Sekar mengenalkannya dengan tetangganya,warga disana yang bisa di katakan baik.


Gifari al Ashari yang sering di Panggil Gifari itu adalah seorang duda yang di tinggal meninggal oleh Istrinya.


Sejak Istrinya meninggal 8 tahun lalu ia menyibukkan diri di Rumah tahfiz yang di bangunnya dan juga mengajar mengaji di mesjid tak jauh dari rumah.ia benar-benar menutup diri dari hingar bingar dunia penuh tipu-tipu dan sibuk mengejar akhirat.


Hingga akhirnya di kenalkan dengan Mahreen,Entah bagaimana perasaan hati Gifari hingga suatu malam selepas Seminggu bertemu ia menyambangi rumah yang di tinggali Mahreen dan meminta Mahreen untuk menjadi istrinya.


Jansen ada di barisan paling depan saat Gifari datang,ia yang menyambutnya dengan tangan terbuka.Respon Jansen sungguh membuat siapa saja terheran-heran namun karena itu Mahreen pun menerima tanpa berpikir pajang,karena ia tau jika Jansen sudah seperti itu berarti Jansen sudah tau seluk beluk keluarga dan tingkah dari Gifari.


"Ayo"Ajak Fatiah.Mahreen tersenyum lalu menyambut uluran tangan Fatiah.


Pernikahan sederhana itu lah yang di pilih Mahreen,hanya akad yang di gelar di mesjid di hadiri beberapa orang dan selepasnya makan-makan di rumah Arsha.


Mahreen mencium tangan Gifari dengan hidmat,ia bisa merasakan jika tangan Gifari tengah bergetar.Gifari pun menyimpan sebelah tangannya di puncak kepala Mahreen lalu berdo'a.


Mahreen dan Gifari keluar dari mesjid dan langsung di kerumuni warga juga beberapa keluarga,mereka di Giring ke rumah Arsha untuk melaksanakan Acara sawer dan makan-makan.


Saweran telah selesai,makan-makan masih berlansung tapi Mahreen sudah sangat lelah ia pun menoleh pada suami barunya yang umurnya terpaut 3 tahun lebih muda dari nya.


Merasa di perhatikan Gifari pun menoleh"Ada apa?"

__ADS_1


"Saya mau kekamar dulu"Pamit Mahreen


Gifari mengangguk.Mahreen pun bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah Rumah.Acara di adakan di taman samping rumah Arsha


"Kenapa Teteh?"Tanya Arsha pada Gifari.


"Ke kamar katanya"


"Oh gitu"Jawabnya,Fadil mendekat


"Masya'alloh senior"Ucap Fadil


"Bisa aja kamu Gus"


Fadil tertawa renyah,Khadijah tak bisa datang jadi hanya Fadil suaminya yang datang.Fadil tak menyangka mempelainya adalah anak didik Abi nya di pesantren yang mendapatkan beasiswa kuliah S1 dan S2 di Mesir,Fadil juga hanya mengenal Gifari sebentar karena Gifari masuk setelah di pindahkan dari Tasik.namun yang ia tahu jika Gifari adalah anak yatim piatu yang tak memiliki sodara dan keluarga karena ayah dan ibunya pun anak tunggal sama seperti Gifari sendiri.


"Kabae khadijah gimana Dil?"Fadil berhenti tertawa lalu menatap kakak iparnya itu.


"Baik A,Tadi nangis-nangis pengen ikut lihat tapi Umi ngelarang karena baru lahiran beberapa hari belum 40 hari."


"Ya begitulah Bang,kasihan sih...


"Tapi lebih kasihan jika ia di bawa kemari"Ucap Arsha"Wanita itu di muliakan karena ia itu istimewa,salah satu keistimewaannya adalah ketika ia mengandung dan melahirkan."


"Sama ketika ia momong anak sehabis melahirkan,mengasihi dan menjaga"Ucap Jansen menyela,Arsha mengangguk mengiyakan begitupun Fadil dan Vinsen."Kamu Nanti pun akan merasakan."Ucap Jansen seraya menepuk pundak Gifari"Titip princess nya kami,keluarga di tasik nitip salam kenal dengan mu mereka semua tak bisa hadir karena ribet soalnya anak dari salah satu keluarga kami menikah 5 hari lagi"Ucapnya


"Wa'alaikum salam.Insya'alloh saya akan kesana sekalian ziarah ke makam Alm orang tua saya."


"Iya"


"Rencana Abang mau tinggal dimana Bang?"Tanya Arsha"Di sebelah gimana?"tanya nya lagi"Kebetulan itu rumah Saya juga"


"A....


"Kasih kuncinya,Itu kado pernikahan dari Abang"Ucap Jansen memotong,Arsha mengendus tak suka

__ADS_1


"Disini yang kaya bukan hanya Abang inget"Tegur Vinsen."Bagi dua"


"Itu urusan Gampang"


"Eh Bambang,Gampang-gampang pala lu peang.Itu rumah gue Ya Bang"Ucap Arsha.


"Emang itu rumah Lu kata siapa rumah gue,Cuma gue bilang kasihin kuncinya nanti soal nominal lu omongin ke gue bocah"Ucap Jansen kesal.


"STOP"ucap Mahreen seraya menjewer kuping Adiknya dan Jansen secara bersamaan."Kebiasaan banget sih,Inget Uban masih aja ribut kaya Bocah."


"Awwwww,Sakit Teh ampun"Ucap Arsha seraya menggosok kupingnya yang baru aja di lepas.


Jansen menghela nafas kasar,menatap Mahreen tajam.


"Colok aja tuh matanya"Ucap Seorang wanita bersyar'i Merah yang berjalan kearah mereka.


Jansen lansung kicep,menghela nafas pelan lalu menatap Mahreen"Jangan tinggal di Apartemen lagi,Tinggal di rumah sebelah ya"Ucap Jansen lembut.


Mahreen memeluk Abangnya itu sebentar lalu menatap abangnya dengan tulus"Aku sudah ada yang hak,Abang gak perlu khawatir ok."


"Tapi...


"Abang percayakan sama suami Mahreen?"Tanya Mahreen,Jansen mengangguk"Maka dari itu abang gak perlu khawatir karena Mahreen sudah ada di tangan yang tepat."


Jansen beralih menatap Gifari."Kamu sudah menjadi suami Mahreen,Kamu yang berhak atas dia,kamu boleh membawa dia dan putranya kemana pun,membangun rumah tangga dimana pun.Tapi Aku harap kamu jaga dia,cukupi kebutuhannya,sayangi dia,cintai dia dan buatlah dia selalu nyaman dan merasa aman bersama mu."Jansen tertunduk sebentar jujur ia tak rela jika Mahreen menghadapi kesusahan apalagi yang Mahreen nikahi sekarang bukanlah Milyarder seperti Alm Suaminya terdahulu.


Mahreen mengelus punggung Jansen,ia tau Abangnya sangat berat melepaskanya.Meski abangnya sesekali Acuh tapi ia bisa merasakan betapa Posesif nya abangnya.


"Aku bukan lah abang kandungnya,tapi Ibu nya dan Ibu juga Ayah ku mereka bersahabat dan terus sampai sekarang keluarga kami yang tak ada ikatan apapun saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.Saya serahkan Mahreen Adik saya yang saya dan seluruh keluarga sayangi pada mu,Saya Harap kamu bisa bertanggung jawab dunia akhirat atasnya.ingat Bunda dan Ayah membesarkan dan mendidik Mahreen dengan amat sangat baik,kami keluarganya Saksi bagaimana Baik budinya Bunda dan Ayah pada Mahreen,pada yang lain dan pada sesama.Saya harap kamu bisa menjadi imam yang baik untuknya......


Jansen menangis,Ganis mendekat lalu mendekap suaminya,Mahreen yang duduk di sebelahnya terus mengelus punggung Jansen


"A Gifari,Abang orang yang amat sangat sayang dan dia adalah kakak bagi kami."Ucap Arsha yang sudah ikut menangis"Keluarga kami dari Ibu hanya aku,Teteh dan Adek Khadijah.sedangkan Abang Jansen dan Vinsen adalah anak mendiang dari sahabat Bunda begitupun Tania istri Bang Vinsen.Kami memang tak sedarah tapi kami memang seperti ini detak bahkan sangat dekat."


"Iya saya senang ternyata istri saya begitu banyak yang menyayangi."Ucap Gifari"Saya tidak akan berjanji banyak hal,tapi saya akan usahakan yang terbaik untuk istri dan anak saya Zio"Ucap Gifari seraya tersenyum tulus"Saya tak akan sia-sia kan itu Bang karena Alloh akan meminta pertanggung jawabban saya bila saya ingkar dari apa yang menjadi tanggung jawab saya."

__ADS_1


__ADS_2