
Plak
Tania tersungkur ke lantai saat tangan itu melayang ke pipi nya.
"Pelakor" Ucap Wanita
Tania menunduk
Plak
Tania mendongkak saat mendengar suara seseorang yang kena tampar.
"Jangan sekali-kali anda Bilang Adik ipar saya Pelakor, Dia wanita terhormat."
"Terhormat?"Sonia tertawa sumbang" Semua Tamu juga tau kalau Dia adalah Pelakor, Aku Tunangan Vinsen.Aku kekasih Vinsen sudah 4 tahun aku dan Vinsen berhubungan."
Dengan tubuh bergetar Ganis menatap Sonia.Ada rasa takut di hatinya, tapi dia tak mungkin diam, Tania sekarang adalah adik iparnya mau bagaimana pun Tania adalah keluarganya.
Ganis tertawa "Berarti kamu menjaga jodoh orang donk" Ucapnya lalu terdengar galak tawa dari yang melihat kejadian itu "Ada loh lagunya, Dan kamu yang merasakan nya?Sakit gak rasanya?" Tanyanya Remeh.
Sonia tersulut Emosinya, Ia menatap Ganis dengan Tatapan Benci.
"Asal kamu tau Menikah adalah bukti seorang laki-laki serius ingin mengemban Tanggung Jawab di pundaknya.Bukan Pacaran, Pacaran hanya memupuk Dosa dan memupuk perasaan yang tak tau akhirnya."
"Vinsen, Sayang" Ucap Sonia dengan memelas.
Vinsen berdiri di sebelahnya ada Mahreen dan Khadijah juga Arsa.sedangkan Jansen berjalan menuju Tania dan membantu Tania Bangun, Ini adalah acara party yang di adakan Jansen untuk orang terdekatnya.
"Sonia" Ucap Vinsen lirih, Tangan Vinsen di pegang oleh Arsa dan Mahreen membuat Vinsen yang berniat maju terhenti.Mahreen menggelengkan kepala sedangkan Vinsen memandang sendu pada kekasihnya.
"Kalau kamu punya Malu, kamu gak akan datang kesini" Ucap Jansen.
"Mau kemana?" Tanya Ganis tepat di hadapan Sonia yang ingin berjalan ke arah Vinsen
"Minggir" Bentak Sonia.Membuat Vinsen menatap Wanita itu, Wanita yang selalu bersikap lemah lembut.sedangkan Ganis dadanya sakit saat mendengar bentakkan itu, namun dengan segera ia membuang rasa sesak dan takutnya.
"Untuk apa aku minggir, Jalan masih banyak."
Sonia mendorong Ganis dengan kuat, Namun wanita itu hanya mundur beberapa langkat.
"Wih. Ada ya Wanita udah pakaiannya kurang bahan, dateng marah-marah, Berbuat kasar, Main tampar, Dengan wajah memelasnya malah bilang sayang sama suami orang" Ucap Ganis sambil berjalan ke arah tempat dimana ada Jansen dan Tania, Namun sebelum itu ia menyambar botol Air dan membawanya ke arah Tania.
Sonia diam ia tak lagi berjalan ke arah Vinsen.
"Wajah nya Cantik, tapi kok murah ya." Sindir Ganis, Jansen sedikit tersenyum melihat dan mendengar apa yang di ucapkan istrinya.Ternyata istrinya yang pendiam dan penurut itu bisa berucap kasar dan menyindir.
__ADS_1
"Maksudmu?" Tanya Sonia dengan Nada tingginya, Wajahnya sudah memerah karena Amarah.
"Suami ku tadi Bilang.Kalau kamu punya Malu, Kamu gak akan datang kesini?" Ucapnya lalu berjalan kembali kearah Sonia setelah memberikan Minum pada Tania yang menangis di pelukan Jansen."Lalu untuk apa kamu datang kemari? mau cari Simpati?atau mau memelas?mencari pembelaan?siapa yang mau bela kamu?kamu orang asing disini?"Ucapnya dengan lembut namun kata-katanya menusuk"Meski kamu ada di hati adik ipar ku, tapi bukan berarti kamu lebih penting dari Tania, Dia istri Sah di mata hukum dan Agama.Ijab kabulnya juga di saksikan banyak orang, Banyak saksi Mata yang melihat jika mereka telah terantai oleh ikatan Suci, bukan ikatan Haram seperti Pacaran."
"Sayang" Ucap Sonia"Aku sudah berikan semuanya pada Mu, tapi kenapa kamu menghianatiku"Ucapnya memelas.
"Maaf" Ucap Vinsen Lirih.
"Aku gak Butuh Maaf mu Vinsen, Aku butuh kamu."
"Tapi aku gak bisa"
"Kenapa?Apa karena si Pelakor itu?Sayang" Ucapnta melemah"Sayang Aku sudah memberikan semua, kepuasan dan kesetiaan.kenapa sekarang kamu malah seperti ini."
"Ingat satu hal Sonia Aku...
Tangan Vinsen di pegang erat oleh Mahreen, Dia tau apa yang ingin di ucapkan Vinsen.Bukan waktu yang tepat dan Baik di sana bukan hanya ada keluarga inti namun banyak rekan-rekan juga yang datang.
Mahreen menggeleng lalu melepaskan genggaman itu dan berjalan maju." Lebih baik kamu pulang Sonia, Bukan kami tak menghargai kehadiran mu disini tapi kamu sudah membuat kekacauan, kamu sudah menampar Tania."
"Dia juga menamparku" Tunjuknya pada Ganis, Ganis yang berdiri di sebelah Alma diam.Di hatinya ia menyupah nyerapahi tangannya yang berani menampar karena seumur hidup ia baru kali ini melakukan hal itu.
Mahreen menatap Ganis, Ganis pun berkata"Maaf, Tapi perlakuannya dan kata-katanya yang ia lontarkan kepada Tania cukup membuat Hati saya sakit."Ucapnya lirih.
Mahreen mengangguk"Minta maaf lah Dek?"
"Munafik, Di hadapan ku tadi kamu dengan bangganya membully ku dan sekarang tunduk pada Mahreen....Cih" Ucapnya seraya mendecih.
"Saya hanya tak suka dengan kata-kata kotor Mbak yang menyupah nyerapahi Tania dan bilang Tania wanita Hina."
Mahreen mengangguk"Keluarlah, sebelum semuanya tau tentang siapa dirimu yang sebenernya Sonia."Ucap Mahreen Dingin.
Sonia tertegun lalu mundur.
"Husain apa...
" Saya permisi"Ucap Sonia saat mendengar nama laki-laki yang pernah mengancam nya.Sonia pun pergi dengan berbagai pertanyaan.
...-----------------------------------...
Ganis tertidur di pangkuan Jansen setelah menangis, Jansen bertanya-tanya kenapa istri kecilnya tiba-tiba menangis hingga tertidur.
Jansen perlahan memindahkan istrinya ke kasur, dan menyelimutinya.
"Allohu akbar, Pegalnya" Ucap Jansen setelah menidurkan Ganis.Ia pun beranjak keluar dan menemukan sepasang suami istri yang tengah berdiam, keduanya diam tak ada yang berbicara.
__ADS_1
Treng.suara gelas yang beradu membuyarkan dua manusia yang saling berdiam."Diam tak akan menyelesaikan masalah, Bicaralah karena kalian bukan cenayang yang bisa menebak apa yang ada di pikiran orang sebelah kalian"Ucap Jansen tanpa berdosa.
"Abang" Seru mereka berdua secara bersamaan.
"Kalau kalian mau berdiam terus akan lebih baik kalian keluar dan temui ustad terus cari solusinya." Ucapnya lalu berlalu begitu saja.
"Dasar Abang GJ."
Tania tertawa sumbang"Abang selalu aja peduli"Ucapnya, Vinsen tertegun lalu menunduk.
"Aku gak tau akhir cerita kita ini bakal kaya gimana?"
"Memang siapa yang bisa memprediksi?" Tanya Tania "Hidup itu hanya ada 3 waktu, kemarin yang memberi kita motivasi untuk lebih baik, hari ini dan esok.esok yang gak tau akan bagaimana, apakah hari ini akhir atau esok akhir.Bunda pernah Bilang, Manfaatkan Waktu, karena waktu gak akan keulang lagi, Umur gak akan bekurang yang ada bertambah."
"Terus apa rencana mu kedepannya."
"Menikmati Hidup, Bunda dulu pernah bilang sama Aku dan Mahreen saat ijab di gelar dan kata sah menggema itu artinya kita sudah bukan wanita bebas lagi,bukan wanita yang bisa terbang kemana pun seperti dulu namun kita telah menjadi seorang wanita yang tempatnya di rumah menjadi pendidik bagi anak-anak kita, menjadi pelepas Penat suami."
"Hati aku masih.....
" Aku tau kok,Gara-gara hari laknat itu kita jadi terjebak pada pernikahan."
"Maaf, Itu karena aku Mabuk.dan sebelum mabuk aku bertengkar dengan Sonia."
"Kamu sering setubuhi Sonia?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Tania.
Vinsen diam, lalu melirik Tania yang tampak tenang "Gak sering, Hanya saat ingin aja."
"Berapa kali?"
"Yang jelas aku baru ngelakuin itu setelah tunangan."
"Setahun ini?"
"Lebih tepatnya aku ngelaukin itu dari 6 bulan lalu dan terakhir saat pulang dari Inggris dua minggu sebelum ke Tasik."
"Boleh aku nanya lagi?" Tanya Tania hati-hati, Vinsen mengangguk"Apa Sonia merasakan Sakit yang sama?jujur aku takut melakukannya kembali karena aku dengar dari Ganis rasanya masih sama hanya tak sesakit saat pertama."
"Mau coba?" Goda Vinsen.
Tania menampakan wajah datarnya pada Vinsen."Tau gak Vin, Gue sebel banget sama Lu..Mimpi apa gue sampe-sampe nikah sama orang kaya Lu.gak ngerasa bersalah sama sekali lagi tuh muka, njoy aja."
Vinsen menggaruk tengkuknya yang tak gatal"Mau di coba gak, Gue kan waktu itu sadar gak sadar ngelakuinnya"
Tania melempar bantal tepat ke wajah Vinsen"Ya lah gak sadar sampe-sampe manggil-manggil gue dengan sebutan Sonia.Dasar gak punya hati."Ucapnya lalu berlalu begitu saja.
__ADS_1
Vinsen menatap Tania sendu, ia sendiri tak sadar akan hal itu.
"Segerin dulu otak lu Vin, Jangan ajakin dulu Tania olahraga pasti dia masih trauma atau masih takut." Ucap Alma"Emang siapa sih yang seneng kesuciannya di ambil dengan Paksa,Ngebuat diri nya harus nikah sama Cowok brengsek kaya lo"Sambung Alma, Vinsen menatap Alma sengit"Emang iya kan, Dan lagi dengan gak tau dirinya bicara kalau dia udah gak perjaka dan ngasih ke perjakaannya sama Si Sonia Sonia itu.Tania ngasih lo kesuciannya sekarang tinggal lo kasih kesetiaan lo dan kasih sayang yang lo punya Untuk Tania,Mulailah hidup yang sehat dan belajar menerima.Lo emang cintanya sama Si Sonia tapi lo harus kubur tuh perasaan dan Ganti perasaan yang ada di hati lo itu buat Tania, Tania lebih berhak atas itu dari pada Sonia."