ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
Tentang Alma


__ADS_3

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Author akui author bukanlah orang yang konsisten.. jujur saat ngetik ini author ngerasa dosa banget karena Author udah berkali-kali bilang sepertinya nggak akan ngelanjutin cerita ini. Tapi saat kemarin author lewat kampung puspahiang di mana author pilih kampung tersebut menjadi sebuah lokasi cerita yang Author maksud, kok author jadi pengen nulis lagi..


Jadi gimana nih? lanjut jangan ya? lanjut kali ya?


Oke semoga kalian suka dengan cerita baru menyambungkan cerita lama keluarga Ardi.


-


-


-


-


-


-


......................


Seorang gadis cantik berjalan sendiri di bawa jalan, gadis berseragam sekolah itu telah menyusuri jalan sendiri tanpa ditemani teman sebayanya.


Gadis tersebut menoleh saat ada motor yang berhenti tepat di sebelahnya, lemparan senyum tersebut membuatnya menampakkan wajah datar.


" Ayo aku antar?" kata itu keluar dari mulut laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan seragam yang sama.


" Nggak usah, nanti ngerepotin" jawabnya, lalu mulai kembali berjalan. penggaris tersebut membelokkan dirinya ke sebuah rumah yang berada di pinggir jalan.


" Aa Hanif" Panggil sang gadis" Anterin aku pulang" pinta gadis tersebut dengan membalas.


" Tumben Minta dianterin nggak bisa jalan sendiri?" tanya Hanif" Bawa motor itu tuh" tunjuk lelaki tersebut pada motor matic yang terparkir rapi di depan rumah" Bisa jalanin nya kan"


" Atuh anterin, nanti aku bilangin sama nenek" rajuk sang gadis tersebut.


Laki-laki yang dipanggil Hanif itu langsung berdiri tegak di hadapan sang gadis" Kenapa selalunya ngancem sih"


Gadis tersebut menampakan gigi putihnya yang rapi pada laki-laki yang bernama Hanif tersebut, Hanif mau tidak mau Ia pun bergegas menghampiri motor tersebut dan mengantarkan Gadis baru genap 17 tahun itu pulang.


" Embu Assalamualaikum" ucap gadis tersebut saat sudah sampai di depan rumah.


" Gak usah teriak ih"


" Biarin atuh Aa, Aa mah suka protes terus" jawab gadis tersebut sebelum ia berlari menjauh dari Hanif


" Waalaikumsalam warahmatullah, Hanif sini dulu masuk" ucap wanita paruh baya yang berdiri di ambang pintu


" Nggak usah Nek, langsung pulang saja."


" Nggak masuk dulu" ucap wanita paruh baya itu Seraya berlalu memasuki rumah tersebut.


Alma itu adalah adik mendiang almarhum Ardi. Alma Kini Tinggal hanya berdua dengan cucunya, cucu semata wayangnya.

__ADS_1


5 tahun Ia tinggal hanya berdua di rumah yang cukup sangat besar, rumah peninggalan almarhum Ardi kakaknya.


" Kartika" Panggil Hanif sebelum memasuki rumah


" Masuk ih, nanti nenek marah loh" ucap gadis tersebut menakut-nakuti.


Saat memasuki rumah Hanif langsung disuguhi dengan keadaan sunyi, di ruang tamu hanya ada Alma yang tengah duduk dengan handphone di tangannya.


" Nenek Besok mau pergi, nenek harus ke Jakarta. Wawa Arsya ada acara di sana. nah nenek mau nitipin Kartika ke kamu dan Siti."


Hanif duduk di kursi yang ada di sana" Teteh Siti Emang bisa?" tanyanya ragu-ragu" Soalnya kalau teteh Siti nggak bisa Hanif juga nggak bisa. Hanif mah gimana Teteh Siti aja, karena kan takutnya jadi fitnah."


" Ya sudah sekarang kamu jemput Siti ke sini nanti nenek omongin sama Siti kalau Siti harus nginep di rumah ini. rumah ini itu gak boleh kosong, jangan sampai kosong."


" iya Nek" jawab Hanif.


" Ya udah itu ada jinjingan" ucap Alma menuju kantong jinjingan yang ada di sebelah pintu" kasihin sama kakek Sigit 1 dan kakek Alfi 1" titahnya" Awas kasihin ke mereka, dan bilang kalau nenek mau pergi ke Jakarta."


Hanif mengangguk lalu berlalu setelah mengucapkan kata salam.


" Wih dapat bingkisan tuh" ucap Kartika saat mau memasuki rumah.


" Buat Kak Alfi dan kakak Sigit. tuh kan ujung-ujungnya aku harus pergi ke Salawu nganterin buat kakek Sigit. kamu mah nyebelin, apa-apa ngancem apa-apa ngancem, urusannya nanti jadi runyam"


" Nggak usah ngegerutu di belakang" tegur Alma dari dalam rumah,


Kartika pun tertawa pelan sedangkan Hanif mengendus.


" Ye emang aa itu harus ke rumah kakek Sigit, kan itu kakeknya Aa. bukan kakek aku"


" Ya udah Aa sekarang Tunggu dulu di sini bentar aja. Aku mau masuk dulu nanti kita ke sananya bareng, pengen jalan-jalan aku"


" Nggak atuh ah" tolak Hanif mentah-mentah.


" Neng Tika masuk" teriak Alma


" Iya Nek, sekedap" jawab Kartika( sebentar)


" Please lah aku itu ingin jalan-jalan"


" Sama Teh Mae aja lah jalan-jalannya jangan sama Aa, nanti aa digosipin pacaran lagi sama kamu. gak enak ah kita itu keluarga"


" Dih orang lain didengar" dengus Kartika.


" Udah sana masuk nanti nenek teriak lagi loh"


" Neng Tika masuk" teriak Alma kedua kalinya, membuat Kartika mengendus sedangkan Hanif memeletkan lidahnya. Hanif segera keluar dari rumah tersebut meninggalkan Kartika yang mencak-mencak karena tidak diajak pergi ke Salawu. kalau sudah pergi ke Salawu pasti ujung-ujungnya Iya harus menjajani anak gadis tersebut.


" Neng Tika Kenapa lama sekali masuknya?" tanya Alma pada cucu semata wayangnya.


" Pengen ikut ke Salawu nenek"


" Lain kali aja ya ke salawunya Jangan sekarang, Sekarang nenek mau beres-beres soalnya besok mau pergi." jelas Alma pada cucunya yang tengah duduk di kursi single

__ADS_1


" Ke mana?" tanya Kartika" Nenek nggak berniat tinggalin aku di rumah besar ini sendiri kan? Aku gak mau ah tinggal di sini sendiri Takut"


" Takut apa ari kamu neng?" tanya Alma" Nenek cuman mau ke Jakarta dua hari di sana. Wawa kamu ada acara di sana jadi nenek harus ke sana."


" Kenapa nggak sekalian Tika nya diajak?"


" Nggak bisa atuh kan kamu sekolah" jawab Alma" cuma dua hari atuh jangan marah"


" Terus nanti di sini Tika sama siapa?"


" Nenek barusan minta Siti ke sini, karena kalau Hanif aja yang jagain kamu nenek nggak percaya. karena Hanif itu meskipun keluarga tapi halal menikah denganmu."


" Emang boleh Aa Hanif nikah sama aku?"


Alma meminjamkan matanya"Kamu suka sama Hanif?"


Kartika membolakkan matanya" Nanya" jawabnya cepat.


" Kirain iya, tapi kalau dia juga nggak apa-apa. nanti kamu punya ibu lagi, sama punya ayah."


" Nenek, udah ah Kalau pembahasannya ke sana Aku nggak suka." jawab Kartika Seraya berlalu memasuki kamar.


Alma menatap kepergian Kartika, sudah 4 tahun Setelah meninggalnya Sartika Ibu dari Kartika, Kartika selalu berlaku seperti itu. ya pun tidak mau lagi mengerjakan kaki di Sulawesi, di mana Iya pernah tinggal menetap bersama ayah dan ibunya. Sartika bungsu dari Alma meninggal karena penyakit yang dideritanya, Alma sendiri tidak menyangka semua anaknya telah berpulang mendahuluinya.


8 tahun yang lalu terjadi kecelakaan yang merenggut kedua putranya dan juga suaminya. saat itu putrinya Sartika Tengah sakit di rumah sakit dan ia menjaga Sartika sedangkan kedua Putra dan suaminya memilih pulang namun di perjalanan mereka mendapatkan kecelakaan yang merenggut nyawa mereka. dari sana Alma hanya berharap pada Sartika Putri satu-satunya yang ia miliki, dan ia berharap Sartika tidak mengikuti suaminya pergi ke Sulawesi..


Kewajiban, mungkin itu yang dipegang Teguh oleh Sartika. membuat Sartika yang sudah kembali pulih berangkat kembali ke tanah Sulawesi hingga suatu ketika dikabarkan tutup usia di sana, dengan keadaan hidup Sebatang Kara Alma menghubungi Jansen dan Vincent meminta bantuan agar jasad anaknya bisa dikebumikan di kampung halaman.


Qodarullah, Allah mengizinkan dan memudahkan hingga akhirnya jasad Sartika bisa dibawa ke kampung halaman dan dikebumikan di sebelah makam kakak-kakaknya.


Alma pun meminta Kartika ikut dengannya, namun Kartika menolak karena ia masih memiliki ayah. namun setelah ayahnya menikah lagi Kartika menghubunginya dan meminta dijemput ke sana.


4 tahun sudah ia hidup di rumah besar peninggalan kakaknya bersama dengan cucu satu-satunya. Kartika Kumala Sari nama yang diberikan oleh mendiang anaknya Sartika Purnama Ningrum.


Alma hidup hanya mengandalkan apa yang ia dapatkan dari mengurus rumah ini, rumah besar peninggalan kakaknya. jika waktunya tiba semua keluarga dari kota pasti akan datang ke rumah ini, namun hari-hari biasa rumah ini hanya dihuni oleh dua orang wanita.


Alma berharap banyak pada Kartika, Iya ingin Kartika menikah dan tinggal di rumah ini. Iya ingin Kartika meneruskan mengurus rumah peninggalan mendiang kakaknya.


Maka saat Kartika bertanya tentang Hanif, Iya berharap Hanif bisa menikah dengan Kartika.


Muhammad Hanif adalah anak dari Niko anak bungsu kakaknya Sinta seorang dokter hebat di Kampung Sebelah yang menikah dengan tentara yang gugur beberapa tahun yang lalu di medan perang.


Semoga harapan Alma menjadi sebuah kenyataan, karena mau bagaimanapun harus ada penerus yang tinggal menetap di rumah peninggalan kakaknya.


Anak-anak kakaknya semuanya sukses di luar kota. mereka sukses di kota-kota besar dengan aset yang tidak sedikit.


Nasib baik membawa mereka Bukan Hanya mereka yang berlaku baik tapi juga mereka yang memiliki rezeki yang cukup baik. Iya berharap cucunya pun memiliki nasib baik seperti anak-anak mendiang kakaknya.


...****************...


Gimana nih ceritanya?


Lanjut nggak ?

__ADS_1


Kalau lanjut komen di bawah,.,...


__ADS_2