
Mahreen berlari saat melihat Jansen tengah berdiri bersama Ganis tengah bersiap berpoto,Ia akan mengacaukan potonya agar Abangnya itu marah.
Mahreen memeluk erat tubuh Jansen yang mematung.tidak mematung bagaimana jika Istrinya yang tengah berdiri di sebelahnya menatap nya dengan tatapan marah.
Bruk
Aww
Mahreen terjatuh setelah ia di dorong cukup keras oleh Jansen.
Tuk
Mahreen membuang kaca matanya ke arah Jansen seraya meraung.
"Abang Jahat....hiks....Abang Jahat....hiks hiks Abang gak sayang lagi sama Mahreen."
Jansen dan Ganis saling tatap lalu segera membantu Mahreen berdiri.
Tangan Ganis di raih Mahreen tapi Tangan Jansen di tepisnya dengan sangat kasar.
"Hiks,,,,,hiks,,,,,,Sakit mbak"Keluh Mahreen "Abang jahat."
Jansen mendekat lalu memeluk dua wanita yang ia sangat ia sayang bersama-sama,Mahreen membalas pelukan itu begitupun Ganis,Mahreen menangis hingga tersedu-sedu dalam pelukan hangat itu,pelukan yang selalu di rindukannya.
"Anak nakal ini,kenapa berdrama hah"Ucap Jansen yang ikut menangis."Untuk tempat itu tak ramai hanya ada beberapa bodygart saja karena yang lain sudah mulai pergi ke mesjid.
"Mahreen kangen"
"Iya Abang juga"Ucap Jansen seraya mengecup pucuk kepala Ganis dan Mahreen bergantian.Jansen melepas pelukannya "Kamu tak apa"
"Bokong ku sakit abang"Ucap Mahreen seraya mendelik
Ganis menatap Mahreen dengan tatapan teduh,Ia tersenyum ini kali kedua ia meilhat Mahreen tersenyum setelah Dua tahun lalu ia melihat Mahreen yang amat sangat mengkhawatirkan.
Ganis mengusap pipi Mahreen dengan pelan,Mahreen tersenyum.
"Bagaimana kabarnya Mbak?"Tanya Mahreen.
"Baik,Bagaimana Teteh kabarnya Baik"
"Luar biasa,Alhamdulillah."
Ganis mengangguk"Tadi aku udah ketemu Zio dan Abang Syam mereka bilang bertemu Teteh.Gak nyangka tadi teteh berdrama disini,iseng sekali sih"
Tuing
Jidat Mahreen ditoyor Jansen "Drama mu sungguh membuat abang jantungan,istri kecil abang sampai melotot hingga matanya hampir keluar."
"Abang ikh"Rengek Ganis seraya memukul suaminya.
Mahreen menatap Jansen sengit.lalu merunduk membungkuk ke hadapan Jansen.
"Bapak Jansen yang terhormat"Ucapnya lalu mendongkak meluruskan lagi tubuhnya"Kepala saya ini di Fitrahin ya Pak,kalau kalau bapak lupa."
cup
__ADS_1
Jansen mencium kepala Mahreen yang tertutup Hijab"Maaf-maaf"
"Gak ada maaf bagi mu"Seru Ganis dan Mahreen bersamaan.
Jansen mematung,Sedangkan Ganis dan Mahreen saling tatap lalu tertawa pelan,Mahreen meraih tangan Ganis lalu mengajaknya meninggalkan tempay itu tanpa menghiraukan tatapan Jansen dan Hakim juga anak yang ada di sampingnya.
Di sepanjang perjalanan Mahreen dan Ganis terus mengobrol hingga sampai di Halaman Mesjid.
Mahreen berjongkok melebarkan kedua tangannya menyambut Larian Aslan,Arsan,Sintia dan Ciara setelah meyerukan namanya.
Syam,seperti Biasa anak itu terlihat kalem,duduk di kursi bersama Zio dan Sisi.
"Oh sayang nya tante Nda."
"Tante nda shalat baleng Cia."Ucap Sintia pada Mahreen.
Mahreen mengangguk.
"Mahreen"Panggil Vinsen dan Tania bersamaan.Seperti biasa Tania bercipika cipiki dengan Mahreen sedangkan dengan Vinsen hanya bertos biasa.
"Ma,Zio shalat berjama'ah dulu."
"Oke,Sini Sisi nya bareng Tante"Sisi tertawa lalu mengangguk dan mau di gendong oleh Mahreen."Faza mau sama Tante."Ucapnya pada Faza yang masih dengan Hakim.
"Zaza,Shalat sama Tante ya.Nanti ketemu lagi sama Ayah selepas shalat."
"Zaza mau pulang."
"Iya nanti Ayah antar kamu kerumah ibu.Tapi sekarang sama Tante dulu ya."
Semunya telah berlalu ke mesjid bahkan Sisi sudah di bawa Ganis kemesjid,anak itu tak rewel seperti kakaknya.
"Hay Sayang"Seorang wanita dengan pakaian kurang bahan berjalan ke arah Hakim yang tengah membujuk Zaza yang berjongkok terus berkata ingin pulang.
Hakim berdiri tegak saat Zaza bangun dan berlari kearah ibunya.
"Zaza mau pulang katanya,Kamu bawa dia dan urus dia."Ucap Hakim
"Mas"Panggil wanita itu.Hakim diam"Saya mau Sisi Mas yang urus dan Zaza akan saya berikan pada ayahnya.saya akan menikah lagi mas jadi saya tak mau membawa beban pada rumah tangga saya dengan suami saya yang baru nantinya."
"Itu terserah pada mu,Sisi akan saya urus dengan sangat baik."Ucap Hakim"Saya shalat dulu,Silahkan jika kamu ingin pergi."
Hakim membalikan badannya lalu menatap Mahreen yang melempar senyum,Mahreen membalikkan badannya lalu berlalu ke arah mesjid di ikuti Hakim meninggalkan dua wanita berbeda usia yang tengah menatapnya hingga ia sampai di mesjid.
"Zio mau naik Bus ya Bun,Bareng yang lain."Ucap Zio.
"Iya boleh"Zio menatap Sisi yang tengah di gendong Ibunya.
"Sisi biar naik mobil bareng Bunda,Bunda juga akan pergi kerumah Om Papap kok."
"Oh ok"Ucap Zio lalu mencium Pipi Sisi sebelum berlalu.
Disisi lain Jansen tengah duduk di berhadapan dengan Hakim.
"Apa kamu serius dengan Adik saya?apa propesi mu?"
__ADS_1
Hakim tersenyum menatap laki-laki berwajah dingin di hadapannya"Insya'alloh saya serius dengan Mahreen."hakim mengesap kopinya lalu berdehem"Saya seorang Dosen."
"Kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah,mencuci,mengepel,menyapu dan lainnya."
Hakim menyernyit tapi tak urung ia mengangguk.
"Tugas seorang laki-laki banyak,bukan hanya mencari nafkah tapi juga memberikan pendidikan,rumah dan kamu mungkin tau karena kamu bukanlah Bujang.dikeluarga kami laki-laki harus serba bisa karena jikapun perempuan mengerjakan pekerjaan rumah itu semata-mata hanya karena baktinya pada suami."
"Saya mengerti."
"Abang"panggil Ganis.
"Sayang"Ucap Jansen lembut.
Ganis melempar senyum kecil pada Hakim"Ayo pulang"
"Langsung pulang atau ke...
"Pulang,Anak-anak bilang capek.biar nanti malam saja keluar lagi,tapi jangan sewa bus lagi."Jansen tertawa lalu beranjak mengikuti kemauan istri nya.
Hakim berdiri lalu membayar kopi yang tadi ia dan Jansen minum.ia menghela nafas belum saja memulai sudah dapat pertanyaan yang menohok.
"Bu Mahreen memang wanita spesial,Dan salah satu wanita yang paling di sayangi oleh Tuan Jansen.maka dari itu anda harus siap mental menghadapi keluarga besar Bu Mahreen.Keluarga nya Cukup besar anda bisa cari tau nama Naina Nurbaya Pitaloka beliau adalah ibu kandung bu Mahreen"Ucap Pak Udin yang kebetulan ada disana.beliau salah satu orang yang mengabdi pada Jansen dari sebelum Jansen menikah.
Hakim mengangguk,Pak Udin pun pamit mengikuti Jansen dan Istrinya.
"Pak Hakim"
Mahreen berjalan dengan Sisi yang tidur di gendongannya.
"Sisi merepotkan sekali."Ucapnya seraya berjalan ke arah Mahreen,Mahreen mudar saat Hakim mendekat akan mengambil Sisi.
"Biar saya saja,Ayo kita pulang."
"Zio mana?"
"Zio ikut ke Vila.Jika Pak Hakim tak keberatan kita ke Vila dulu boleh"
"Oh saya tidak keberatan sama sekali.Ayo."
mereka pun berjalan beriringan,di perjalan terjadi keheningan.
"Bu,Boleh Saya tau lebih tentang ibu."Mahreen mengangguk"Apa,Keluarga ibu termasuk keluarga besar?"
"Ya,keluarga Ayah saya keluarga besar."
"Pak Jansen pun."
"Abang adalah anak dari mendiang sahabat Ibu saya,Kami kenal dekat bagai keluarga sedarah."Ucap Mahreen"Keluarga saya keluarga besar Pak,sangat besar.dan bila di kumpulkan mungkin bisa jadi satu atau kampung saking banyaknya."
"Wah sangat banyak ya."
"Iya."Ucap Mahreen "Tadi....
"Mantan istri saya,Saya dulu melakukan kesalahan dan tak lama saya menikahinya namun hanya bertahan hingga 5 bulan Sisi lahir.Mantan istri saya seperti yang Ibu lihat sering kesana kemari,Dia seorang Model."
__ADS_1
"Wah,Sama seperi mendiang Bunda saya."