ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
Pangkuan sang pencipta


__ADS_3

Hidup Ardi terasa Hampa setelah Pita tiada ia memang bahagia dan selalu setiap harinya tertawa karena banyak cucu-cucu yang selalu menemaninya dan menghiburnya namun tetap itu tak membuatnya cukup bahagia.


Dulu ia selalu dilayani, makan di temani, pakaian di siapkan, kemana-mana selalu di dampingi, selalu di do'akan, selalu bermanja namun sekarang meski makan dia disiapkan di rumah tak pernah sepi tapi tetap lah beda karena ia tak bersama orang yang selalu mebuat lelucon membuatnya tertawa.


Sedih, sangat itulah yang dirasakan nya bahkan sampai saat ini tepat setahun meninggalnya Pita ia masih sering menangis sendiri


"Bunda Ayah Rindu" Ucanya seraya mencium poto Pita yang selalu menemaninya tidur.


"Bunda, apa Bunda tau betapa Ayah sangat Cinta sama Bunda, Bunda segala nya bagi Ayah, Bunda Hidup ayah."Ardi pun terlelap dengan masih memeluk poto Pita.


Mahreen menangis dalam Diam saat ia melihat Ayah nya menitikan Air mata.


" Bukan hanya Ayah, Akupun rindu"Ucap Mahreen setelah menutup pintu kamar sang Ayah.


"Kenapa?"


"Ayah bilang Rindu Bunda. hiks"


Arsa menunduk, Bukan hanya Ayah, kakaknya dan adiknya ia juga rindu tapi apalah daya jika Alloh sudah mengambil apa yang dia miliki manusia hanya bisa pasrah dan menerima dengan ikhlas.


Arsa berjalan lalu masuk kedalam kamar Ayahnya, Ia melihat Ayahnya memeluk Photo sang Bunda.


"Ayah, Boleh Arsa tidur dengan Ayah?"


Ardi membuka matanya lalu sedikit tersenyum"Jangan, Tidurlah dengan istri mu, belailah dia niscaya Pahala akan mengalir terus untukmu."


"Ayah" Ucap Arsa tertahan dia tak kuat melanjutkan ucapannya.Ardi beranjak duduk.


"Kenapa? tidur lah sana, bersama istri dan anakmu, kecuplah kening mereka dan lantunkan ayat-ayat suci al-qur'an supaya mereka tenang dan nyaman"


"Ayah....


" Sana,Ayah tak suka melihat kamu menangis"


Arsa memeluk Ardi dan menangis di pundak sang Ayah. Ayah yang selalu ada untuknya, penyemangatnya,lelaki gagah yang selalu menyayangi Anak-anaknya, tak pernah memperlihatkan kelelahhannya kini tengah terluka membuatnya ikut terluka.


Ardi menepuk pundak anaknya "Kamu jagoan satu-satunya ayah, Dipundak kamu ada tanggung jawab yang besar.jaga tanggung jawab itu dan jangan sekalipun kamu ingkar dari tanggung jawab itu.kamu laki-laki kan?" tanya Ardi, Arsa pun mengangguk.


"Jangan menangis, jadilah yang terkuat.karena kamu laki-laki"

__ADS_1


"Ayah....


"Kamu pengharapan Ayah dan Bunda.jaga rumah tangga mu, jaga anak-anak mu, jaga kakak dan adikmu, jaga juga keponakan-keponakannya."


"Ayah...


Ardi melepaskan pelukannya lalu menepuk dua bahu Arsa beberapa kali" Sana, Ayah sudah mengantuk"Ucapnya mengusir.


"Ayah ngusir Arsa?"


"Iya" Jawab Ardi dingin.Arsa pun beranjak setelah mencium kedua Pipi ayahnya sambil tersenyum jahil karena jika ia mencium Ayahnya otomatis Ayahnya akan marah..namun ini tidak Ayahnya malah tersenyum kecil


"Ya sudah Ayah tidur lah, Biar photo bunda di simpan di nakas" Ucap Arsa


"Jangan, Simpanlah disini" Ucapnya lalu meraih photo yang di pegang Arsa dan menyimpannya di sebelah Ardi"Ayah selalu merasa jika Bunda ada disini dan mengelus rambut Ayah hingga ayah terlelap."Ucap Ardi membuat Arsa ingin kembali menangis.


Ayah nya membalikkan badan memunggungi nya lalu kembali mendekap photo sang Bunda. karena tak kuat ia pun beranjak setelah mengucap salam dan langsung di jawab oleh sang Ayah.


Pagi ini Arsa di buat tercengang melihat sang ayah berjubah putih akan pergi kemasjid menunaikan ibadah shalat Subuh.


"Ck, Mahreen kenapa baju Ayah tak kamu licin dengan benar" keluh Ardi "Jika Bunda mu ada dia akan memarahimu"


"Ayah....


"Sa"Arsa menoleh" Kamu gak kemesjid?"


"Ini mau berangkat, Abang sama Mas Fadli?


" Sudah berangkat, tadinya mau nunggu Ayah tapi ayah lama"


"Ya sudah aku pamit" Ucapnya lalu beranjak meninggalkan Istri dan kakak juga adiknya yang tengah bersiap membuat makanan.


Setelah shalat semuanya di kejutkan dengan tak bangunnya Ardi dari pengsujudan saat roka'at pertama shalat Subuh.Arsa yang ada di belakang Ardi menangis salam shalat nya, hingga setelah salam ia langsung mendekat dan menyerukan nama ayahnya berkali-kali.


"Inalillahi wainailaihi Roji'un" Ucap Ustad jaja


"Ayah" Teriak Arsa bersamaan dengan Fadli dan Heru


"Ayah" Ucap Fadli"Insya'alloh Surga"Ucapnya lalu mengecup kening jasad Ardi yang menampakkan senyum kecil.

__ADS_1


"Kita segera urus jasadnya" Ucap Fadli.


"Mas" Panggil Arsa.


"A, Ayah sudah tenang.jangan bebani beliau"


Arsa pun di bawa oleh beberapa pemuda ke pinggir mesjid karena ia terus meraung memanggil sang Ayah.


Sesampainya di Rumah Mahreen,Khadijah dan Fatiah di kejutkan dengan kedatangan jasad Ayahnya.


Mahree dan Fatiah mendekat lalu mengecek kondisi Ardi secara bergantian, mereka saling tatap lalu menangis bersama.


"Kak"


"Inalillahi waina ilaihi rojiun" Ucap Mahreen dan Fatiah bersamaan.


Khadijah membekap mulutnya lalu berucap sama dengan lirih.ia tak menyangka kecupan tadi adalah kecuapan terakhir yang di layangkan ayahnya untuknya.


"Dek, Cadarnya" Ucap Fadli sambil mengikatkan Nikob Hitam pada Khadijah.karena memang Khadijah satu-satunya anak Pita dan Ardi yang menggunakan Nikob sama seperti yang sering di lakukan Pita, namun bedanya jika Khadijah kemana pun bahkan di rumah juga ia memakainya namun bila Pita hanya keluar rumah saja.


"Mas"


Fadli mengusap kepala Khadijah lembut"Ayah meninggal di Sujud kedua Raka'at pertama shalat subuh."


"Subhanalloh walhamdulillah" Ucapnya "Surga untuk mu Ayah" Ucapnya.Fadli tersenyum seraya mengangguk


"Ayah dan Bunda sama-sama orang baik."


...---TAMAT---...


Sekian dan terima kasih...


insya'alloh di tahun baru nanti Author akan lanjut cerita Istri Siri dan akan ada cerita baru


Setelah baca ini yuk mampir ke cerita Teman ke Surga dan cerita lainnya...


bay bay


Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh

__ADS_1


__ADS_2