
Ardi yang baru saja mengecek adik-adiknya dikejutkan dengan Pita yang berlarian dengan membawa Handphone.
"Ini, A Rahman telpon."Ucapnya sambil menyerahkan Handphone.Ardi pun menerimanya lalu sedikit menjauh dari Pita.
Tak lama Ardi pun menghampiri Pita yang tengah menyisir Rambut Alma dengan Wajah yang menandakan jika ia tengah Panik.
" Ada Apa A"
"Hana" Ucapnya dengan suara Parau.
"Kenapa Teh Hana?"tanya Sigit.
"Kita kesana sekarang" Ucap Ardi, Pita dan yang lain pun mengikuti Ardi.
Ardi membawa mobil pik up nya bersama Pita,dan Alma sedangkan Sigit membonceng Alfi dengan motor mengikuti Ardi dari belakang.
Rahman dan Dian duduk bersama Pak Ginanjar suami dari Bu Romlah adik ibu Erik.mereka tengah berbincang-bincang Ringan di terlas rumah.
Suara mobil berhenti di halaman pun membuat ketiganya berdiri.Ardi keluar dari mobil nya dengan tergesa-gesa di ikuti adik dan Istrinya.
"Ada apa ini?" tanya Ardi.
"Kami gak bisa menjelaskan, lebih baik Pita dan yang lain lihat saja ke dalam."Jawab Rahman
Ardi pun bergegas masuk, Dada nya sesak seketika saat melihat Hana yang menangis tersedu-sedu di pelukan Santi dan Dewi.
" Dek"Panggil Ardi.
Hana, Dewi dan Santi pun melihat ke arah suara.Santi melepas pelukannya, digantikan dengan Ardi yang memeluk erat adiknya yang terbalut Selimbut.
"Kenapa kamu dek?"
"Erik A hikss Erik..."
"Kenapa dengan Erik" Ucap Ardi seraya emngelus Rambut Hana.
Alma, dan Alfi sudah menangis dalam pelukan Pita sedangkan Sigit matanya telah memerah sama halnya seperti Ardi.
Hani dan Santi pun datang langsung menerobos masuk.
"A....sakit" Keluh Hana seraya memegengi area perutnya.
"Hana, mana yang sakit?". Ucap Ardi panik.yang lain pun ikut panik saat mendengar keluh dan Rintihan Hana
__ADS_1
" Jangan di buka"Cegah Santi, "Hana tak berpakaian Di"
"Astagfirulloh" Ucapnya lalu keluar kamar menggiring Sigit yang tengah memukul-mukul tembok.sedang Alfi dan Alma karena mereka yang terus menangis Pita pun langsung membawa mereka ke luar kamar.
Sinta pun bergegas mengecek sang Adik, Lalu mereka bantu membantu Adiknya berpakaian.
"Ada apa A?" tanya Pita.
"Aku gak tau Teh" Ucap Ardi"Aku gagal teh"Ucapnya seraya duduk di lantang dengan tangan memegangi Tangan Pita yang kini duduk bersama kedua adiknya di kursi kayu yang ada di ruang tamu.
Pita seakan tau apa yang di maksud gagal oleh suaminya itu pun segera mengelus Pipi suaminya lalu tersenyum kecil"Aa gak gagal, ini musibah.musibah itu akan datang kapan pun meski kita sangat hati-hati.A jika Alloh berkehendak manusia tidak akan bisa apa-apa."
Ardi pun bangun lalu memeluk Pita erat seraya menangis.
"Aa,Hana" Ucap Dewi, Ardi pun melepas pelukan lalu bergegas ke kamar.
"Kenapa?"
"Hana pendarahan, Siapin mobil.kita ke rumah sakit sekarang"
"Aku bawa mobil Pik up"
Sinta menatap tajam kakaknya lalu berjalan cepat dan menendang tulang kering nya"Jangan becanda."
"Mobil Apa?"
"Mobil yang ada di garasi, kan tadi baru manasin mobil"Ucap Pita, Ya karena selepas shalat subuh Ardi selalu memanaskan semua kendaraan yang ada di garasi.
"Gak tau di Meja makan, gak tau di kamar"
"Ya udah Aa disini dulu, kaki Aa sakit kan" Ucap Pita yang di Angguki Ardi
Pita pun berjalan ke arah luar samar-samar ia dengar Sigit tengah berbicara dengan pemuda yang ada disana seraya menyupah nyerapahi Erik yang dengan keji menyakiti Hana.Pita pun mendekat lalu menarik jaket yang di kenakan Sigit membuat Sigit menoleh, Sigit yang awalnya ingin marah seketika nyalinya hilang saat melihat tatapan dingin dari kakak iparnya.
"Udah?"tanya Pita, Sedang Sigit yang menerima pertanyaan diam menunduk" Ingat mulutmu harimau mu Sigit"
"Maaf" Cicit Sigit.
"Kunci motor.lebih baik kamu ikut teteh" Ucap Pita seraya menengadahkan tangan pada adiknya.
Sigitpun menelan salivanya susah payah, lalu merogoh kantong celananya mengambil kunci motor yang di Pinta Kakak iparnya.
Pita menyambar kunci motornya lalu berjalan ke arah motor besar adik iparnya, Tanpa Ragu ia menaikinya lalu menstaternya.
__ADS_1
"Sigit, Naik" Teriak Pita.Sigit yang di panggil pun tersentak saat melihat kakak iparnya membelokan motornya dengan cepat seperti orang yang telah Ahli mengendarai motor, bukan hanya sigit pemuda yang ada disana dan juga Suami-suami dari kakak ipar dan adik iparnya beserta Pak Ginajar pun terkaget-kaget melihat Aksi Pita.
"Biar Sigit aja teh yabg bawa" Ucap Sigit Ragu.
Pita menoleh kebelakang"Naik, atau lari"Ucap Pita dengan tatapan yang sangat menusuk.
Sigit pun mau tak mau naik, karena jika ia berjalan ke rumah jaraknya cukup jauh.ia bisa menghabiskan waktu 8menit hingga 10menit sampai rumah bila ia memutuskan dengan berjalan kaki.
Sigit replek memegang pundak Pita dan memejamkan Matanya saat Pita mulai membelah jalanan kampung dengan kecepatan lumayan tinggi.
Sesampainya di rumah sigit lansung mencari kunci mobil sedang Pita langsung bergegas mengganti Baju tak lupa dua tas kecil miliknya dan Ardi yang berisi dompet dan handphone.
"Sigit"Panggil Pita." Mana?"tanyanya seraya menengadahkan tangan.
"Ini" Jawabnya.
"Sigit, jagalah ucapanmu.jangan buka aib keluargamu pada orang lain, jika Hana dan Erik bersatu lagi itu akan menjadi bumerang untuk rumah tangga nya." Ucapnya memperingati adik iparnya"Lebih baik diam, kamu gak tau kan masalahnya apa hingga Hana sampai seperti itu?"Tanyanya pada Sigit yang diam menunduk."Lebih baik diam karena ini bukan urusan kita"Sigit seketika mendongkak ingin menyela namun Pita langsung melanjutkan ucapannya"Kita memang keluarga nya, keluarga dekat Hana namun Hana telah memiliki Suami, Hana telah jadi tanggung jawab Suaminya bukan tanggung jawab keluarganya lagi.Sigit, Dalam rumah tangga Pasti akan selalu ada Masalah yang menerpa begitu pun yang terjadi pada Hana.kekecewaan mu pada Erik sama dengan teteh dan yang lain, tapi sebelum kita tau permasalah yang sebenarnya lebih baik kita diam jangan dulu menyimpulkan yang tidak-tidak karena itu akan memperkeruh keadaan"
Sigit diam mencoba mencerna apa yang kakak iparnya sampaikan.
"Teteh pamit dulu." Ucapnya "Kamu parkirkan motor mu, ngalangin jalan"
Pita pun mengendarai mobil Avan*za milik sigit, lalu setelah sampai di halaman ia pun segera memanggil Ardi.dengan sigap Ardi mengendong Hana diikuti Sinta dan Santi.
"Aa yang bawa"
"Gak, Aa aja di belakang sama teh Santi pegangin Hana.Aku gak berani, aku parnoan" Ucap Pita lalu bergegas masuk duduk di kursi kemudi.
Ardi pun menghela nafas panjang lalu masuk kedalam menyusul Hana dan Sinta. sedangkan Santi dan yang lain karena memiliki balita mereka hanya akan menunggu kabar di rumah.
ceklek
Alma"Ucap Pita
"Alma mau ikut boleh?Alma gak akan ngerepotin kok.janji" Ucapnya seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
Pita pun mengelus rambut Alma yang tadi akan ia ikat.Ia pun mengecup kepala Alma lalu memasangkan sabuk pengaman.
"Kenapa harus pake ini?" Tanya Alma setelah mobil mulai melaju.
Pita tersenyum"Biar selamat sampai tujuan dan gak di tilang polisi"Jawab nya "Kita kerumah sakit mana?"tanyanya pada Sinta yang terus menenangkan Hana.
" Ke rumah sakit Rancamaya aja."
__ADS_1
"Oke."