
Ganis diam menatap pantulannya di Cermin ia baru di belikan beberapa potong baju oleh Jansen,bukan hanya itu Jansen juga membelikan beberapa Tas, Sepatu, Hijab dan juga membelikannya Kosmetik.
Tak Lupa Handphone, Jansen Membelikan Handphone Iphone 13 pro max untuknya dan juga membelikan Laptop dan tab untuk bermain atau lainnya itu katanya.
Black card, Yah Jansen juga memberikan nya Kartu itu untuk berbelanja dan membeli keperluan rumah.ia juga di ajarkan banyak oleh Jansen mulai dari cara memesan Ojek Online dan Taxi online, cara memesan makanam, belum lagi cara menggunakan sosial media.Ganis senang namun juga takut tak bisa Amanah.
"Kenapa Diam?Bajunya kamu tak suka?" Tanya Jansen menurutnya Ganis Cantik dengan Baju berbahan Katun dipadukan dengan hijab berwarna pink senada "Cantik" Ucapnya"Kalau kamu gak suka sama pakaian, Tas, Sepatu dan Make up nya besok kamu beli lagilah sesuai dengan apa yang kamu suka."
Ganis menunduk memainkam jemari tangannya"Abang"
"Kenapa?"
"Boleh gak kalau aku gak usah keluar-keluar.keluarnya cukup sama Abang aja."
"Memangnya kenapa?"
"Adek takut."
"Apa yang ditakutkan.?" Jansen tak mengerti dengan Jalan pikiran wanita di hadapannya ini.
Ganis menghela nafas Gusar"Abang, Adek tak tau kota ini, Adek buta jalan, dan adek takut melakuakn kesalahan yang membuat Abang marah, Karena Jika adek melakukan itu Alloh akan mengadzab adek, Adek takut."
Hati Jansen terasa sejuk saat mendemgar apa yang di Ucapkan Ganis, Ia merasa menjadi laki-laki beruntung yang bisa hidup dengan wanita seperti Ganis.
"Ya sudah, Mulai besok akan ada pembantu yang datang setiap siang untuk membereskan Rumah ini juga mencuci."
"Biar, Pakaian Abang Adek yang Cuci.Adek gak mau orang lain mencuci pakaian kita."
"Terserah." Ucap Jansen lalu kembali berlalu setelah mengambil berkas yang ia simpan di laci kamarnya.
Diluar kamar Jansen menghubungi Dimas dan Gandi supaya menyiapkan ruangan bersantai di kantornya.
...--------------------------------...
"Apa yang telah kita lakukan Tania?" Tanya Vinsen.
Tania menangis tersedu-sedu.
"Dimana kita saat ini Tania?" Tanya Vinsen lagi saat tak mengenali ruangan yang ditempatinya malam ini.
Ceklek
Pintupun terbuka menampakan dua insan yang terkejut karena melihat hal yang tak baik di depan mata nya.
"Kalian?" Ucap si laki-laki Dingin.
"Bang?"
"Kutunggu kalian di luar." Ucapnya lalu berlalu dengan menggandeng tangan istrinya.
"Tania" Panggil Vinsen
__ADS_1
"Aww" Ucap Tania saat ingin meraih pakaiannya yang tergeletak di bawah.
"Astagfirulloh, Apa Yang aku lakukan."
"Jangan pikirkan" Ucap Tania sengau"Aku gak papa, anggap aja ini tak pernah terjadi."
"Enggak Tania" Ucap Vinsen lalu meraih tangan Tania yang Dingin."Aku akan bertanggung jawab"
"Sonia?bagaimana dengan Tunangan mu Vinsen?Aku tak apa, Anggap aja ini tak pernah terjadi." Ucapnya.
Vinsen diam tak berkutik, ia mengingat-ngingat apa yang terjadi tadi malam hingga ia melakukan hal itu.Sedangkan Tania beranjak dan masuk kedalam kamar Mandi.
...Kak Ganis...
Kak Tania, Pakailah pakaian ku yang ada di lemari ujung semua nya masih baru kakak bisa gunakan itu.
Tania membuka pintu kamar mandi itu lalu menyernyit ia melihat Vinsen memegang Handphone nya.
"Apa yang kamu lakukan Vinsen"
"Ada Pesan" Ucapnya lalu memberikan Handphone pada Tania dan setelah itu berlalu menuju kamar Mandi.
Setelah berganti pakaian sepasang insan itu keluar dari kamar mereka berjalan sambil menunduk dengan Vinsen di depan dan Tania di belakang.
Jansen menatap Tajam sang adik apa lagi melihat Tania yang berjalan tak Wajar, tak seperti Biasa.
"Minunlah dulu teh nya, Supaya lebih segar kak" Ucap Ganis pada Tania.Tania pun meraih Minuman itu lalu meminumnya setegak.
"I'm Fine Bang"
"No, jangan katakan Itu." Ucap Jansen"Dek, Antarkan Tania ke kamar tamu."Ganis pun mengangguk lalu memapah Tania ke arah kamar lain.
Sedangkan Jansen ia berjalan dengan wajah Dingin nya menuju kamar nya yang telah di kotori oleh adiknya, Ia masuk lalu menyibak Selimut dengan gerakan cepat, Amarah nya memuncak saat melihat bercak darah di sprei yang putih itu.ia berbalik,lalu berjalan kembali ke tempat sang adik.
Bug
Pukulan keras itu tepat mengenai sudut Bibir Vinsen
"Abang akan Urus pernikahan mu.Satu minggu lagi kamu dan Tania akan menikah."
"Abang"
Jansen diam
"Abang bukankah itu Hari dimana Abang akan mempublikasikan pernikahan Abang."
"Iya, dan di hari itu pula kamu akan menikahi Tania, kamu sudah merenggut kesuciannya.kamu harus bertanggung jawab Vinsen."
"Bang"
"Kamu putuskan Sonia dan menikah lah dengan Tania.dia wanita yang lebih baik dari sonia." Ucapnya lalu segera meraih Handphonenya dan berlalu dengan Handphone di telinganya.
__ADS_1
...-----------------------------...
"Adek, Apa sudah membereskan kamar?"
"Sudah bang, Adek sudah mengganti nya dan sudah mencucinya." Ucap Ganis."Mau dibuatkan Kopi?"
Jansen duduk di meja makan"Tidak perlu."
"Abang, Bercak itu sangat sama seperti bercak...
Jansen tersenyum kecut" Iya"
"Inalillahi, Rumah ini telah....
" Ganis"Tegur Jansen.
Ganis seketika diam"Boleh Adek minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Adek gak mau tidur di kamar" Ucap Ganis
Jansen sadar mungkin Ganis merasa Jijik karena kamar itu telah dipakai oleh Adiknya meski sudah di bersihkan dan di ganti tapi masih ada rasa tak nyaman mengingat beberapa jam lalu ia melihat hal menjijikan di depan mata kepalanya sendiri.
"Ini sudah mendekati tengah malam, Badan Abang sudah sangat lelah.Kita tidur disini malam ini lalu besok kita akan pindah kerumah kita." Ucapnya.Ganis pun mengangguk seraya berjalan menyajikan sepiring Nasi goreng di depan Jansen, Jansen tersenyum lalu makan dengan Hidmat setelah Ganis duduk di hadapannya dan menikmati sepiring nasi goreng yang sama.mereka melewatkan makam malam karena masalah ini.
...----------------------------------...
Sah
Itulah kata yang terdengar jelas membuyarkan lamuanan Tania, Tania dengan balutan Gaun Putih tulang yang indah dipadukan dengan hijab senada dan Cantik sebagai pemanis di hijab yang ia pakai ia beranjak setelah mendapat pelukan dari Mahreen dan Khadijah.
"Ayo" Ucap Mahreen, Tania pun mengangguk lalu berjalan
"Tania?" Ucap Jansen.
"Bang" Panggil Tania seraya menunduk.
Jansen tersenyum lalu memeluk Tania"Maafkan Vinsen adik ipar."
"Abang apa aku bermimpi?"
Jansen melerai pelukannya"Tidak, kita sudsh jadi keluarga utuh, kita keluarga dan kita akan tinggal bersama."
Tania memeluk Jansen kembali,ia bahagia Jansen bukan hanya atasannya tapi sudah ia anggap sebagai saudara dan sekarang ia telah terikat sodara dengan Jansen karena ia menikah dengan Vinsen, teman bermainnya.
Ia masih ingat hari itu dimana ia tengah duduk menunggu kepulangan Jansen karena ia ingin memberikan laporan tentang keluarga Ganis yang sudah di ketahui keberadaannya.Ia ingat saat Vinsen datang dan duduk di sebelahnya lalu meracau tak jelas, ia membiarkan Vinsen meracau karena ia sering melihat hal itu namun tak terduga Vinsen menggendongnya seperti karung beras dan membawa nya ke kamar lalu menghempaskannya ke kasur saat itu ia panik, Vinsen terus meracau, mencumbuinya, hingga menggaulinya.
Sakit, itulah yang ia rasakan saat Vinsen nggaulinya dengan sesekali menyebut nama Sonia.apa lagi Vinsen berkata "Sonia kamu masih sempit seperti dulu." pikirannya kalut antara sakit dan sesak, ia bertanya-tanya apa Vinsen telah merenggut kesucian Sonia?.
"Jangan menangis, Ayo turun."
__ADS_1
Tania mengagguk lalu mengikuti yang lain setelah memeluk Ganis sekilas, Ganis tampak Cantik dengan Gaun berwarna Biru muda dengan hijab Syar'i senada dengan gaun yang ia kenakan tak lupa mahkota dikepalanya juga hiasan Make up sederhana di sampingnya Jansen dengan Balutan Jas berwarna Biru tua menggandengnya menampakkan senyum yang amat sangat jarang ia tampakkan di depan umum, Itu semua karena perbuatan Mahreen yang merajuk hingga menangis membuat Jansen tak tega dan menyetujui untuk memperlihatkan senyumannya di acara Resepsi sekaligus Nikahan adiknya Vinsen dan Tania.