ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
45


__ADS_3

Sigit berdiri dengan tegap di depan kakak-kakaknya Hari ini ia akan menikahi Farisa Sifa salah satu tetangganya.Farisa Sifa adalah anak dari Bu Nenden salah satu tetangga yang super biang riweh, biang Gosif.


"Git" Panggil Pita."Apa kamu ikhlas dan sudah mantap menikahi Sasa?"


"Ya harus bagaimana lagi teh, Jika aku tak menikahinya mungkin sampai kapan pun Sasa tak akan ada yang menikahi karena pernah sekamar dengan ku." Jawab Sigit.Sigit duduk melantai di hadapan kakak iparnya, tangannya meraih dua tangan kakaknya"Tapi Teh sugguh Sigit tak pernah melakukan hal yang di tuduhkan orang tua Sasa.sedikitpun Sigit tak pernah menyentuhnya."


"Teteh percaya, sangat Percaya.namun benar apa yang kamu Ucapkan tadi, apalagi Bu Nenden pasti tak akan terima dan akan terus menyebarkan gosif buruk tentang Mu."


Sigit mengangguk, Calon ibu mertuanya sungguh bermulut pedas dan berprilaku kurang baik.ia rela melakukan segala cara demi Ambisinya.ya Ia tau Bu Nenden berambisi memiliki menantu Kaya, Namun apa ia pantas di sebut kaya.Dia hanya seorang maha siswa semester akhir yang memiliki Usaha kecil-kecilan dan itupun di modali oleh kakak iparnya.Entahlah saat ini Kepala Sigit serasa ingin pecah memikirkan hal yang akan terjadi Nanti setelah menikah dan memiliki mertua seperti Bu Nenden.


"Jangan banyak berpikir Dulu, setelah kamu menikah kamu ajak istrimu berdiskusi."


"Diskusi?"


"Iya, kamukan masih kuliah.meski kamu sudah berpendapatan tapi pendapatan kamu harus tertata dengan baik." Ucap Pita"Sigit, setelah menikah nanti kamu harus benar-benar mengurus keuangan dengan baik, Kenapa?karena jika kamu tidak bisa nengurus nya dengan baik usaha yang udah kamu bangun akan hancur."Pita memegang tangan Sigit "Maaf, Bukan apa.tapi teteh lihat jika Farisa dan Bu Nenden calon orang yang akan menuntut kamu supaya kamu bisa di kendalikan"


"Aku tau itu teh, tapi...


" Jangan khawatir, jika kamu tegas mendidik istri kamu kamu tidak akan di tuntut ini itu oleh Bu Nenden.kamu harus punya pendirian, Bagaimana pun Nanti kamu harus tetep pada pendirian Mu.Jadilah tegas dan teguh pendirian seperti kakak Mu."


Sigit berhambur memeluk kakak iparnya"Makasih Teh, teteh kakak terbaik Ku."


"Apapun yang terjadi nanti jangan pernah gampang tersulut emosi Yah" Wejang Pita"Pikirkan semuanya masak-masak sebelum bertindak."


"Iya , Insya'alloh."


"Kalau ada apa-apa bicara sama Teteh yah, jangan sungkan."


"Makasih"


Pita mengelus pelan Punggung Sigit, ia sudah sangat sayang pada seluruh keluarga Ardi.dia sudah sangat merasa memeliki keluarga setelah Uu nya meninggal Pita sangat jarang bahkan hanya sekali-kali bertemu Bibi dan paman nya itupun bila ia sekalian pergi ke dokter atau tempat belanja.selebihnya ia tak pernah bertemu mereka karena mereka tak pernah berkunjung kerumah nya.


Ayah dan Ibu Pita juga mereka sibuk dengan keluarga baru mereka tak pernah mengabari bahkan saat anak keduanya wafat pun mereka tak berkunjung juga tak berucap basa basi padanya.ia merasa di buang oleh keluarganya sendiri, Namun ia tak henti-hentinya bersyukur karena ia memiliki Ardi dan adik juga kakak-kakak iparnya.sungguh di sini di kampung yang cukup jauh dari kota ia memiliki rumah yang hangat penuh dengan kehangatan yang tak pernah ia dapat sebelumnya.


"Sudah siap semua nya ?" Tanya Ardi yang berdiri di ambang pintu dengan baju yang senada dengan yang di pakai Pita juga anak dalam gendongannya.


"Sudah" Jawab Pita mengurai pelukan.


"Ayo, Yang lain sudah Siap di luar."Ajaknya.Pita pun bangun di bantu Sigit setelah ia mengenakan kopiahnya Sigit menyusul kakak dan kakak iparnya keluar.


Diluar sudah banyak Orang mereka masing-masing membawa Hantara yang di beli beberapa hari lalu untuk acara Nikahannya hari ini.sungguh persiapan pernikahan yang sangat dadakan.hanya butuh 15 hari dari kejadian dimana ia masuk kedalam kamar Farisa saat menjenguk Farisa yang tengah sakit, Farisa adalah karyawannya di warung, ia datang ke rumah Farisa bersama Asep dan Nina karyawannya saat Asep mengangkat telpon Nina juga pamit ketoilet tak di sangka Bu Nenden datang dengan beberapa ibu-ibu memergokinya ada di dalam kamar sedang membantu Farisa bangun karena Farisa ingin duduk dari tidurnya.Karena kejadian itulah Sigit harus menikahi Farisa.


" Auri"Ucap Sigit terkejut saat mendapati Auri di depan pintu kamarnya.


Auri tersenyum lalu memberikan kotak berwarna Coklay pada Sigit"Aku gak bisa ngasih apa-apa, Aku hanya bisa ngasih ini.Di pakai ya kak"Ucapnya.


Sigit menerima kotak itu lalu membukanya, disana ada tasbih Digital berwarna Hitam dengan Banyak permata yang mempercantiknya.Sigit pun melihat Auri,ia tau Tasbih itu mirip seperti tasbih yang biasa Auri bawa kemana-mana namun dengan bermacam-macam warna"


"Pakai ya Kak." Pintanya"Aku pengen setiap langkah kakak, Kakak selalu mengingat Alloh.menyebut Asmanya dan menghitungnya dengan Alat itu.Targetin ya, Seperti apa yang aku lakuin"Jawabnya dengan memperlihatkan Tasbih Dijital berwarna Abu


"Makasih"


"Auri Sayang kakak" Ucap Auri seraya memeluk Sigit, Sigit terkesiap dengan perlakuan Auri"Jangan berubah ya, Auri udah gak punya siapa-siapa.Auri udah Anggep ka Sigit kakak Auri, Sayangi Auri seperti kakak sayangi Amma dan Alfi, Jangan bedain aku dengan mereka ya Kak, Aku sayang banget sama kakak."Ucapnya seraya terisak"Aku sayang Kakak, lebih dari ini"Ucapnya seraya mengecup Pipi Sigit lalu berbalik dan pergi meninggalkan Sigit yang mematung.


Sigit memegangi dadanya lalu beralih pada pipi nya, Jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya.Apa yang Auri lakukan itu adalah hal baru untuknya, ia pernah berpacaran namun ia belum bertah berlaku lebih selain bertemu dan berpegangan tangan.


Sigit membalikan badannya lalu bergegas masuk kedalam kamar untuk menyimpan kado dari Auri lalu ia menyambar Handphonenya yang berdering menandakan notipikasi pesan masuk.


#6289879.....


Git, jangan nikahin Dia.


Aku lagi di perjalanan dua jam lagi sampai.


Git, Please Bro.

__ADS_1


Dia lagi hamil anak Gue.


Git.


Bangsat.


Git.


Sigit.


Sigit menyernyit."maksudnya apa?"Sigit bermonolog.


Tok tok tok.


"Sigit aya keluar Dek, Yang lain udah pada Nunggu." Ucap Dewi.


"Bentar" Jawabnya lalu bergegas mengunci Pintu.


"Kenapa di Kunci?"


"Sigit mau benerin baju sigit Dulu"


"Ya udah jangan lama-lama"


Sigit pun mengabaikan apa yang di teriakan kakaknya.Ia segera menelpon no yang mengirimi nya pesan.


"As...


" Bangsat, Gue lagi di jalan"Upat keras dari orang di sebrang sana.


"Berapa jam lagi kamu sampai?" Tanya Sigit


"Satu jam lagi sampai, Lu gak usah keluar dulu dari rumah.mengingat Rumah lu gak jauh dari Rumah Riris."


"Riris?lu Hanan?" tanya Sigit.


"Ya udah gue bakal usahain.tapi lu usahain cepat."


"Oke."


tut tut


Sigit kembali gusar setelah bertelponan dengan Hanan, Hanan adalah teman SMA nya dulu yang sekarang bekerja di salah satu Supermarket yabg ada di Bandung.


"Apa yang harus Aku lakukan" Ucapnya"Tunggu tadi apa?Farisa Hamil."


Sigit keluar dari kamar dengan terburu-buru mencari kakak iparnya.


"Ada apa?"


"Bisa ikut Sigit sebentar"Ucapnya pada Pita, Pita pun mengangguk ia berjalan menuju kamarnya di ikuti Ardi dan Sigit.


" Ada apa Dek?"Tanya Ardi, Sigit pun sedikit mendorong Ardi masuk kedalam kamar dan mengunci kamar itu.


"Hanan barusan menelponku.Hanan lagi di perjalanan"


"Terus Apa hubungannya dengan Hanan?"


"Kata Hanan, Farisa tengah Hamil"


"Hamil?" tanya Pita.


"Katanya iya, aku juga tak tau teh.tapi ada lebih baiknya kita menunggu dulu Hanan dan mengumpulkan Farisa, Ibu dan juga Ayahnya.kita....


" Cari tespek"Potong Pita seraya menatap Ardi.

__ADS_1


"Hah?" Beo keduanya.


"Sigit kamu masuk WC, dan bilang sama kakak-kakak mu yang kamu lewati nanti kalau kamu sakit perut." Ucap Pita"Aku akan cari Dus tespek disini, mudah-mudahan masih ada, Dan Aa tunggu, , , siapa itu tadi namanya?"


"Hanan"


"Iya tunggu Hanan di depan, lalu suruh orang panggil Tere dan Dwi."


"Mau apa?"Tanya Sigit dan Ardi bersamaan.


" Suruh aja, nanti kalau udah ada Hanan, Bawa Pak Dadi dan Bu Nenden kemari biar Tere yang Urus tentang Farisa.Kita gak boleh di giniin, Aku gak ikhlas Sigit Nikah sama keluarga Bu Nenden."


"Ya udah kalau gitu, Aa keluar dulu.Awas hati-hati nyarinya teteh lagi hamil besar."Ucap Ardi lalu segera keluar meninggalkan Sigit dan Pita.


" Dimana Biar aku bantu cari Dulu"


"Gak tau di Laci lemari besar, gak tau di lemari stok sabun di WC teteh lupa."


"Aku cari di WC kamar mandi tth, teteh di sini."


"Ya udah cepet."


krek..


"Kak Pita" Panggil Auri"Lagi apa?"


"Miau" Ucapnya seraya menoleh"Tutup Pintunya"Tutah Pita"Bantuin teteh nyari Tespek dilaci itu"tunjuknya pada laci yang ada di sebelah meja rias


"Untuk apa?"


"Cari aja cepet"


"Gak usah nyari di Mobil aku ada kok" Ucapnya"waktu itu aku beli satu Dus buka Kakak, tapi ujungnya malah di marahin karena belinya kebanyakan "


Pita menatap Auri"Ya udah teteh minta tolong yah, Bawain Tespeknya kesini tapi jangan sampai ketahuan orang lain".


"Kenapa?"


"Pokonya jangan, Cepetan.teteh butuh banget"


"Yaudah Auri keluar dulu"


Tak beberapa lama setelah Auri keluar Sigit keluar dari WC"Gak ketemu"


"Sekarang kamu ke WC yang ada di luar, jangan keluar sebelum teteh Chat kamu.dan nanti kamu harus langsung kesini." Sigit pun mengangguk dan langsung berlalu.


"Sigit kamu dari mana aja Sih?Kamu, teh Pita sama A Ardi pada kemana sih, dicariin dari tadi.orang-orang udah pada Nunggu Git, Astagfirulloh"Omel Hani


"Iya, bapak dari KUA nya juga udah sampai, Ayo cepetan." Sambung Sinta.


Pret.


Suara Kentut Sigit menggelegar, dia bukan orang yang suka kentut sembarangan.biasanya ia selalu bisa menahannya namun karena sedang dalam keadaan genting dia pun mengeluarkannya dengan sengaja, meski ia harus malu di tatap banyak orang.


"Astaga kamu ngebom barusan, gak sopan banget" Ucap Santi.


"Sigit sakit perut, gak tahan" Jawabnya lalu bergegas ke WC.


"Gimana ini, Pak Soni udah beberapa kali kesini"


"lalu???" tanya Santi."Masa kita harus nyeret Sigit yang lagi mau buang hajat, gak Lucu banget."


"Bukan Lucu Kak, Tapi malu-maluin" Ucap Dwi.


"Kuy Dwi?" Ajak Tere

__ADS_1


"Ohhh oke, aku permisi dulu kak" Ucap Dwi lalu bergegas ke kamar Pita.


__ADS_2