ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
17


__ADS_3

Suasana di dalam kamar sangat sunyi tak ada yang bersuara.Ardi sibuk dengan rasa bersalahnya sedang Pita sibuk dengan buku yang ia baca.


Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.Pita pun menyimpan bukunya pada laci, lalu menaiki kasur dan merebahkan diri.sedangkan Ardi masih tetap diam di ujung ranjang.


Ardi menghela nafas panjang lalu beranjak.


Ceklek.


"Mau kemana?" Tanya Pita.membuat Ardi menoleh.


"Mau ngunci dulu Pintu, takutnya sigit belum menguncinya." Jawab Ardi.


Terlihat di luar kamar lampu sudah pada mati, mana mungkin Sigit belum mengunci Pintu sedangkan lampu-lampu sudah di ganti dengan lampu-lampu kecil.


Pita bangun dari tidurnya lalu duduk bersila"Sebenarnya Aa kenapa?ada yang mengganggu pikiran Aa?"tebak Pita.


Ardi pun menutup Pitunya kembali tak lupa menguncinya."Maaf"


"Untuk?"


"Tadi"


"Gak papa, Gak usah di bahas.Aa lebih baik, lebih menjaga tutur kata ketika berbicara dengan orang lain.jangan buka Aib Aa sendiri karena yang akan malu Aa sendiri, jujur akupun malu karena aku yakin apa yang di pikirkan oleh satu dan yang lainnya tak akan sama dengan suatu hal yang terjadi yang telah berlalu itu."


"Iya Maafin Aa ya Teh."


"Is oke,gak papa."Jawab Pita " Lebih baik Tidur A, udah malam"


"Iya" Jawabnya.


"Jangan minta jatah ya.Tamu bulanan ku baru dateng habis Isya tadi"Ucap Pita saat Ardi tengah mendekat.


" Aa cuma mau nyium aja"Jawab Ardi seraya mengecup Pipi Pita.


"Kirain?"


"Kamu kali yang mau?" Goda Ardi.


Pita memukul pelan tangan Ardi"Apa sih, orang aku lagi dateng bulan juga"


"Ya udah yuk tidur" Ajak Ardi seraya merebahkan Diri lalu menepuk-nepuk tangan nya yang selalu di jadikan bantal ketika malam oleh Pita.


"Aa gak pegel tangannya di jadiin bantal terus sama Aku"


Ardi tersenyum, lalu mengecup pucuk kepala Pita"Apa sih yang enggak buat kamu, Asal kamu nyaman insya'alloh Aa pun nyaman."


"Tangannya di lipat aja, Aku gak usah pake bantal"


"Emang bakal enak tidurnya" Goda Ardi seraya mengeratkan pelukannya pada Pinggang Pita.


"Asal Di Peluk pasti nyenyak"


"Uhhhhhh kalau bicara sama kamu aku gak bisa menang."Keluh Ardi.

__ADS_1


" Kan Aa pernah bilang Asal bahagia Aa pun akan ikut bahagia."


"Hubungannya?"


"Aa bahagia gak Aku peluk"


"Ya ia donk, kan memeluk istri saat tidur itu bernilai pahala."


Pita mencibik"Perhitungan"


"Teteh udah ya, gak udah depat.kita baru aja baikan loh"


"Emangnya kita marahan?Marahan karena Apa?"goda Pita


Ardi menghela nafas panjang, kejahilan Pita tengah Mode On.Ia harus benar-benar berhati-hati jika ia salah bicara siap-siap lah ia di diam kan Pita seharian.Ardi pun memutuskan untuk menutup matanya.


" Cape?Ngantuk?atau lari dari Pembicaraan?"


"Cape iya, Ngantuk lumayan, Aa lagi rebahan teh masa lari?"Jawabnya dengan mata masih tertutup


"Love you Hubby"


"Love you to Hummy"


..._____________________...


Pertengkaran Hebat pun tengah terjadi antara Hana dan Erik.Hana kesal karena Erik datang dengan membawa minuman keras, Ia tak menyangka suaminya peminun.


"Adek" Panggil Santi.


"Teh, Hana?" Ucap Dewi seraya memeluk kakaknya.mereka kini tengah di halaman rumah Santi untung rumah tetengga mereka agak sedikit jauh.beda halnya dengan Rumah Ardi dan Hani yang berada di dekat Jalan masuk kampung yang sudah mulai lumayan padat dengan bangunan.


"Astagfirulloh, sebenarnya ada apa sih dengan mereka berdua" Ucap Rahman.


"Aku gak tau A"


"Ini udah malem banget, kalau ngehubungi A Ardi pasti akan mengganggu mereka"keluh Dewi.


" Kita perdengarkan saja dulu, kita gak berhak ikut Campur.namun bila terdengar makin panas kita datangi"Ucap Rahman yang di angguki suami Dewi


"Dewi, Bawa anak mu.Biar ia tidur dirumah teteh" Ucap Santi.Dewi pun mengangguk dan bergegas ke rumahnya.


Pranggg


Brukkkkkk


Suara bak Piring Pecah terdengar nyaring di ikuti dengan suara kursi yang sepertinya terjatuh, membuat Santi, Rahman, dan Dian saling tatap mengisyaratkan suatu ke khawatiran.


"A?"


"Teteh" Teriak Dewi dengan tubuh yang bergetar hebat.


Santi pun berjalan cepat di ikuti Rahman dan Dian mata mereka terbelalak saat melihat pintu Rumah yang agak sedikit terbuka.disana mereka bisa melihat rumah yang kacau balau.

__ADS_1


"A?"


"Kalau Aa masuk, Apa tak akan Apa?"Ucap Rahman penuh dengan keraguan


"A lebih baik kita masuk.Dek, teh kalian masuk kerumah.kalian orangnya panikan lebih baik kalian dirumah tenangkan dulu hati dan pikiran kalian.biar Aku dan A Rahman yang masuk" Ucap Dian, Dian pun mendekat pada Istrinya lalu mengelus pucuk kepalanya"Jangan khawatir"Dewi pun mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah Santi.lalu mereka pun berlalu.


Setelah menguatkan hati dan Diri Rahman dan Dian pun mengetuk Pintu namun tak ada sautan apapun dari dalam membuat keduanya bingung antara masuk atau pulang.


Namun samar-samar mereka mendengar suara Desahan orang yang tengah bersenggama.hingga membuat mereka berdua mengurungkan niatnya untuk memasuki rumah itu.


Mereka pun kembali dan menjelaskan pada istri-istri mereka apa yang mereka dengar.


..._____________________...


Paginya Santi dan Dewi di kejutkan dengan kedatangan Bu Romlah


"Ada apa Buk"


"Itu Neng Hana" Ucapnya sambil terus menunjuk-nunjuk rumah yang di tempati Hana.


"Kenapa Hana?" tanya Dewi."A, A dian"Panggil Dewi, yap Dewi memutuskan untuk menginap.


"Ada apa dek?" Ucap Dian yang berlari bersama dengan Rahman


"Bu, Ada apa?"Tanya Santi


"Itu Neng Hana"


Karena tak kunjung mendapat jawaban yang jelas, Santi pun berlari namun ketika Dian dan Rahman akan ikut berlari segera di hentikan oleh bu Romlah.


"Jang Dian, Jang Rahman jangan kesana" Cegah Romlah.


"Kenapa?"


"Lebih baik telpon jang Ardi suruh bawa mobil kesini dan Bawa neng Hana kerumah sakit" Ucap Romlah."Biar Neng Santi dan Neng Dewi aja yang kesana sama Ibu."


"Sebenarnya ada apa?" tanya Dian


"Ahhhh duka, ibu ge teu terang." (entahlah, ibu juga gak tau"


"Ibu kan udah kesana" Geram Rahman.


"Udah tebih baik telpon Ardi suruh kesini, sekalian bawa mobil" Ucap Bu Romlah tegas.Bu Romlah pun bergegas pergi menuju rumah yang di tempati Hana mengikuti Dewi dan Santi yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah itu.


Dewi dan Santi tak bisa menahan tangisnya, Dengan pelan ia mendekat Ranjang dimana Hana tidur terlentang tanpa sehelai benangpun dengan matayang terus meneteskan air mata dan isak yang sangat memilukan.


"Astagfirulloh" Ucap Dewi seraya membekap mulutnya.


"Na" Panggil Santi.Hana pun mengerjap, lalu menatap Santi dan Dewi ia pun bangun lalu berhambur pada pelukan kakaknya.Dewi segera menyelimuti Tubuh Hana dengan selimut.


"Apa yang terjadi dek"


"Erik hiks hiks"

__ADS_1


__ADS_2