ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
69


__ADS_3

Dua tahun lalu adalah hal terberat bagi Mahreen dimana saat itu ia harus merelakan Suami dan kedua anaknya berpulang pada Sang pencipta meninggalkannya berdua dengan Zio anak Bungsunya.


Kecelakaan beruntun itu menewaskan Kekasih nya yang rela melindunginya dengan pelukan hangat juga pelukan terakhir.


3 hari setelah kejadian pahit itu ia terbagun dan mendapati kabar Buruk jika dua Anak nya dan Suaminya tewas di tempat kejadian sedangkan Zio Kritis.


Hidupnya serasa hancur seketika.


Satu tahun ini ia mulai kembali bangkiMahre ke kota dimana Adiknya tinggal,Meninggalkan kenangan nya di kota Penuh Polusi.


"Ayo turun"Ajak Hakim pada semuanya setelah sampai di tempat tujuan.


"Ayo Tante"Ajak anak kecil berusia 5 tahun


"Ayo Sayang"Ucap Mahreen dengan lembut.


"Bun,Aku makan dulu.perut ku perih"Ucap Zio.


"Ayo kita sama-sama."Ucap Mahreen"Kamu tidak apa kan?"Tanya nya khawatir saat melihat Zio meringis.


"Sedikit Sakit."


"Tahan sebentar,Kita makan disana"Ucap Hakim menunjuk kedai Soto."Sisi Ayah gendong ya"Balita itu mengangguk lalu Hakim menggandeng Fasa berjalan beriringan dengan Mahreen yang memegangi Zio.


"Zio tak apa Bun,jangan khawatir."


Mahreen mengangguk.


Bruk


Seorang anak kecil jatuh karena berjalan dengan menengok kebelakang.


"Tante nda?"


"Mahreen"Ucap Hakim.


"Boy"Panggil Zio.


Mahreen meraih Syam dan membantunya bangun"Syam,are you oke?"


"Yes,I'm ok."


"Ayo ikut Tante nda ke kedai."


Syam pun mengangguk lalu berjalan di sebelah Zio.


"Kamu mengenalnya?" Pertanyaan itu di lontarkan jelas oleh Hakim.saat setelah memesan makanan.


"Dia keponakan ku."


"Boy atau Syam namanya?"


"My Name is Syam Alibaba Arrasyid"Sela Syam"Abang makan lah ini,seperti nya sakit"Ucapnya setelah meminta kantung keresek pada Pak udin yang isinya Sisa gorengan yang tadi ia makan.


"Oh wow,ini kesukaan mu kan?"


Syam mengedikkan bahu,Zio memakan isi nya setelah menawari yang lain.


"Kamu sama siapa kemari?gak mungkin hanya dengan pak Udin kan?"


"Mama,Papap dan yang lainnya."

__ADS_1


Mahreen mengangguk lalu tersenyum"Pak Udin bagaimana kabarnya?"


Pak Udin yang duduk di sebelah meja yang di tempati Mahreen menjawab."Baik Bu Alhamdulillah,Bagaimana kabar Ibu dan keluarga?."


"Saya dan Zio baik,Alhamdulillah."


Wanita berhijab Merah marun yang cukup lebar itu mengusap Noda si bibir anak nya seraya tersenyum "Keluarga" kata itu menyiratkan luka pada hati nya dimana ia hanya tinggal memiliki Zio anaknya.


Makanan pun datang dan mereka segera memakannya.


Faza dan Sisi makan di bantu Hakim.Hakim terlihat begitu kerepotan karena Faza yang usianya 8 tahun masih harus di suapi.


"Faza tak bisa makan sendiri?"


"Ibunya terlalu memanjakannya jadilah seperti ini,Maaf Bu"


"Tidak apa-apa"


Hakim melirik Syam anak kecil itu begitu tenang memakan makanan di hadapannya begitu pun Zio,ia jadi penasaran bagaimana Orang tua mereka mengajarkan anaknya.


Mahreen tersenyum"Mereka di biasakan makan sendiri dari Usia 2 tahun.bahkan sebelum dua tahun mereka pun mulai makan sendiri meski kotor dan hasilnya tidak baik.begitupun Tidur,mereka sejak kecil sudah di pisah tidak bersama ayah dan ibunya hingga sekarang mereka bisa melakukan apa-apa sendiri."


Terjawab sudah apa pertanyaan Hakim,membuat Hakim mengangguk.


"Faza dan Sisi tinggal dengan Bapak?"


"Hanya malam kemarin dan malam ini,Besok pagi saya harus mengantarkan Faza pada Ibunya dan mengantarkan Sisi pada Ibu saya."


"Bapak mendapatkan Hak asuh Sisi?"


"Iya,karena Sisi darah daging saya.Sedangkan Faza anak mantan istri saya yang sudah saya anggap anak kandung saya sendiri."


"Oh begitu ya pak"


"Zio anak Bungsu saya pak,Suami dan kedua anak saya telah berpulang ke Rahmatullah"


Deg,Hakim tertegun lalu menunduk "Maaf,Saya..


"Tidak usah merasa begitu,itu sudah lalu dari dua tahu lalu."Ucap Zio saat melihat Raut wajah bersalah Hakim."Boy,Dimana Om Papap?"


"Jalan-jalan dengan Mama."Ucapnya setelah mengelap mulutnya.


"Makanan kamu sudah habis ya.Mau lagi"Tawar Hakim.


"Tidak om,Terima kasih."


"Setelah ini kita jalan-jalan."


"Aku mau pulang ,Bang"jawab Syam.


Syam turun dari tempat duduknya"Tante nda,Om,Bang Zio dan yang lain Syam harus pulang sudah lama Syam meninggalkan tempat tadi takutnya Mama khawatir"


"Dimana mereka Pak?"


"Di dekat Mesjid besar Buk,Bus kami tak jauh dari sana."


"Sampaikan salam saya,takut nya kalian sudah pulang saat saya kesana.Dan bilang pada Abang jika berkenan datanglah ke apartemen Bang Arsa bersama Ganis dan twins juga Boy."Ucapnya pada Pak Udin"Syam,minta gendong lah pada pak Udin agar kamu tak jatuh lagi."


"Tapi...


"Laki-laki boleh manja kok dan boleh ngaluh juga apa lagi anak kecil.Tante nda tau kamu cape jadi boleh minta tolong sama pak Udin."Syam menatap pak Udin dan Mahreen bergantian.

__ADS_1


"Ayo Den,Bapak Gendong"Ucap Pak Udin seraya membungkuk.


"Terima kasih Pak."


"Hati-hati Pak,Titip Syam"Ucap Mahreen,Pak Udin pun mengangguk.


Syam menyalami Mahreen dan lainnya lalu pamit.


"Orang tuanya mendidiknya dengan Baik"


Mahreen duduk kembali lalu melempar senyum"Ibunya hebat,Wanita tangguh dan kuat bisa meluluhkan Gunung Es yang kasar dan Dingin dengan Tangan Hangat nya."


"Wah,Sepertinya dia terlahir dari keluarga baik dan sangat baik."


"Tak ada yang tau sejarah hidup keluarga ibu nya Syam,Saya hanya tau ia memiliki dua Kakak yang telah menikah dan Ibunya yang berangkat ke luar negri.sedangkan Abang,orang yang cukup bertanggung jawab hangat hanya pada keluarga."


"Sepertinya cukup menarik."


"Om Papap hebat dan Tante Ganis pun sama bahkan Ayah sering bilang kalau ia bukan apa-apa jika di bandingkan dengan Om Papap."


"Seperti itu kah?"Zio mengangguk.


"Abang Jansen adalah pembisnis,Dia terjun saat ia masih di usia remaja."Jelas Mahreen."Ayo di lanjut makannya".


"Eh"seru Hakim,ia memperhatikan mangkuk-mangkuk di hadapan Zio dan Mahreen,Zio telah menyelesaikan makanan nya sedangkan Mahreen tinggl sedikit lagi."Maaf ya"


"Eh,Gak papa.Sisi sini sama Tante,Tante suapin mau?"


Sisi menggeleng namun mengulurkan tangan,Zio beranjak lalu mengambil Sisi dan membawanya duduk di tempat ia sebelumnya."Bunda dan Om lanjut saja biar aku bermain dengan Sisi."


Mahreen mengangguk"Sayang,Jalan lah ke arah dimana Om Papap berada.Nanti Bunda menyusul kesana."


"Oke,Sekalian sebentar lagi juga Dzuhur."


"Iya,Agar kamu berjama'ah disana."


Zio mengangguk lalu mengangkat Sisi tinggi-tinggi"Faza mau ikut?"Ajak nya.Faza melongoskan wajahnya,Zio pun mengedikkan bahu"Bun,Om Zio bawa Sisi dulu ya."


"Iya Zio hati-hati."Ucap Hakim"Maaf merepotkan anak Ibu."


"Tidak apa-apa memang Zio menyukai anak kecil soalnya keluarga kita sungguh sangat ramai dengan anak-anak."


"Oh seperti itu ya,kapan-kapan boleh saya kerumah keluarga Ibu."


Mahreen diam menunduk namun sebentar lalu menatap Hakim dalam"Boleh,Bapak bisa menghubungi Pilot Arsa atau Dokter Fatiah,beliau adik saya"Ucap nya tenang.


Hakim mengangguk"Ibu juga dokter kan? kenapa tak melanjutkan jadi Dokter?"


"Saya sibuk dengan mengurusi Bisnis mendiang Suami saya yang insya'alloh akan di kelola oleh Zio kedepannya."


"Zio barulah SMP"


"Iya,makanya saya dulu yang meneruskan."


"Jika Ibu menikah apa Ibu akan tetap bekerja?"


Mahreen diam sebenarnya jika ia memiliki jodoh kembali ia ingin berhenti bekerja dan kembali ke prospesi dulu tapi mengingat saat ini sepertinya."Iya saya akan tetap bekerja,Apalagi yang saya jalankan sekarang adalah hasil Ayahnya Zio yang ia bangun untuk masa depan anaknya."


"Apa Ibu bisa membagi waktu?"


"Kenapa Tidak,Dulu sewaktu Mendiang Suami saya dan kedua anak saya masih hidup Saya mengurus dan melayani mereka setiap Pagi dan malam.menemani mereka ketika mengerjakan pekerjaan rumah,membantu mereka,bekerja sama dengan suami dalam pekerjaan rumah dan selalu menyempatkan waktu tidur untuk berdiskusi bersama juga saling mendengarkan keluh kesah satu sama lain.karena menurut aku komunikasi dan kasih sayang wajid dan selalu harus ada."

__ADS_1


Hening beberapa saat namun Mahreen tersentak dengan Ucapan yang tidak ia duga keluar dari Hakim.


"Maukah Ibu menikah dengan saya....


__ADS_2